Ketika Perbedaan Bukan Masalah: Cerita Toleransi Shasya Rajendra



Oleh Sri Wahyuni

Shasya Rajendra merupakan individu yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang majemuk. Lahir dan besar di Kota Bandung, Shasya menjalani proses pendidikan di institusi yang beragam, mulai dari SD Merdeka, SMP Negeri 28, SMA swasta BPI, hingga melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran melalui jalur diploma dan ekstensi di Widyatama. Lingkungan pendidikan dan sosial yang plural tersebut membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman agama, budaya, dan nilai-nilai sosial.

Dalam pengalaman hidupnya, Shasya menyampaikan bahwa hingga saat ini ia tidak pernah merasakan konflik nilai agama secara langsung dalam relasi lintas agama. Perbedaan antara Islam, Kristen, Buddha, maupun keyakinan lainnya tidak pernah ia rasakan sebagai sumber pertentangan. Justru, relasi lintas agama berjalan secara harmonis dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan toleransi. Bagi Shasya, perbedaan keyakinan merupakan kenyataan sosial yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.

Menariknya, menurut Shasya, konflik yang kerap muncul dalam masyarakat justru sering kali terjadi bukan antaragama, melainkan di dalam agama yang sama. Ia menyoroti adanya perbedaan praktik keagamaan, kebiasaan, maupun mazhab—seperti perbedaan penggunaan qunut, penyebutan tertentu dalam doa, dan tradisi ibadah lainnya—yang terkadang memicu ketegangan antar sesama pemeluk agama. Dalam pandangannya, konflik semacam ini menjadi ironi yang patut dikaji secara lebih mendalam, khususnya oleh kalangan akademisi, karena bertentangan dengan nilai dasar agama yang menjunjung perdamaian dan persaudaraan.

Dalam menyikapi keberagaman, Shasya memegang teguh nilai toleransi yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia meyakini bahwa sebagai warga negara Indonesia, sikap toleran bukan hanya pilihan moral, melainkan tanggung jawab sosial. Ia menekankan pentingnya menghargai perbedaan agama, kepercayaan, budaya, dan bahasa sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang plural.

Komitmen Shasya terhadap nilai toleransi juga tercermin melalui keterlibatannya dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor, yang memiliki visi dan misi menegakkan toleransi demi persatuan. Melalui organisasi tersebut, Shasya terlibat langsung dalam praktik toleransi nyata di masyarakat, salah satunya dengan ikut menjaga dan mendukung kelancaran perayaan Natal di gereja bersama rekan-rekan yang berbeda keyakinan. Bagi Shasya, tindakan sederhana seperti saling membantu dan menjaga keamanan dalam perayaan keagamaan merupakan wujud toleransi yang paling nyata dan bermakna.

Belajar Toleransi dari Cerita Iman Sri Wahyuni alias Enci

Oleh: Syarif Hidayatullah

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial menjadi realitas sehari-hari yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah kemajemukan itu, toleransi sering kali hanya berhenti sebagai slogan, belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Di sinilah kisah iman Sri Wahyuni, atau yang akrab disapa Enci, memberi pelajaran berharga tentang makna toleransi yang tumbuh dari pengalaman hidup.

Sejak kecil, Enci tumbuh di lingkungan yang beragam. Ia terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang agama yang berbeda, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap iman dan keberagaman. Bagi Enci, perbedaan keyakinan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan hidup yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.

Iman, dalam pandangan Enci, tidak berdiri sebagai identitas yang kaku dan eksklusif. Ia memaknainya sebagai proses yang terus bertumbuh seiring perjalanan hidup. Keyakinan agama justru menjadi sumber nilai yang menuntun sikap empati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama. Dari sini, toleransi tidak lahir dari paksaan atau formalitas, tetapi tumbuh secara alami dari kesadaran kemanusiaan.

Pengalaman Enci bergaul dalam komunitas yang multireligius semakin memperkaya pemahamannya. Ia merasakan bagaimana diterima tanpa label agama menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Relasi lintas agama yang terbangun tidak selalu melalui dialog formal atau diskusi teologis, melainkan melalui interaksi sederhana: bekerja sama, berbincang santai, dan saling mendengarkan. Justru dari relasi sehari-hari inilah toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.

Kisah Enci menunjukkan bahwa toleransi bukan berarti mengaburkan iman atau melemahkan keyakinan. Sebaliknya, iman yang dipahami secara dewasa justru mendorong seseorang untuk bersikap lebih humanis. Enci tetap teguh pada keyakinannya, namun pada saat yang sama mampu menghormati keyakinan orang lain. Di sinilah toleransi menemukan maknanya sebagai sikap aktif untuk menjaga relasi yang harmonis di tengah perbedaan.

Di tengah maraknya polarisasi dan narasi kebencian yang kerap mewarnai ruang publik, cerita iman Enci menjadi pengingat bahwa toleransi dapat dipelajari dari pengalaman hidup yang sederhana. Toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari kesediaan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan semata sebagai "yang berbeda".

Belajar dari kisah Enci, kita diajak untuk merefleksikan kembali cara kita memaknai iman dan keberagaman. Apakah iman kita mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari sesama? Toleransi sejatinya bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan secara bermartabat. Dan dari cerita iman Enci, kita belajar bahwa toleransi yang tulus selalu berangkat dari kemanusiaan.

UIN Bandung Peringati Hari Amal Bhakti Kemenag ke-80, Tegaskan Kerukunan sebagai Energi Kebangsaan

Vokaloka, Bandung - UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Lapang Guest House Kampus 2, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Sabtu (3/1/2026).

Upacara ini dipimpin oleh Rektor dan dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, para Kepala Biro, Direktur serta Wakil Direktur I, II, dan III Pascasarjana, para Dekan dan Wakil Dekan I, II, dan III, Kepala dan Sekretaris Satuan Pengawasan Internal (SPI), para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala dan Sekretaris Pusat, Wakil Koordinator, Sekretaris, Kepala Bidang, dan Sekretaris Bidang pada Kopertais, para Ketua dan Sekretaris Jurusan/Program Studi jenjang S1, S2, dan S3, para Ketua Laboratorium Fakultas, para Kepala Bagian dan Ketua Tim Kerja, para Kepala Subbagian, serta para Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang meliputi PNS, PPPK, BLU, dan tenaga kontrak, serta Dharma Wanita Persatuan di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam sambutannya, Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag menyampaikan amanat Menteri Agama Prof. Nazarudin Umar. Menag menegaskan bahwa peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” sebagai arah gerak bersama, sekaligus penegasan bahwa kerukunan harus dipahami sebagai energi kebangsaan yang produktif.

“Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekedar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dilanjut menjadi kekuatan kolaborasi untuk menggerakkan kemajuan bangsa,” ujar Prof. Nazarudin Umar dalam amanat yang dibacakan Rektor.

Menag juga mengulas akar historis Kementerian Agama yang hadir sebagai kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Ia menekankan bahwa republik ini dibangun melalui sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan, sehingga Kemenag berperan menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan sekaligus membina kehidupan keagamaan yang damai serta mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera.

“Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga dan nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa,” kata Prof. Nazarudin Umar.

Sepanjang 2025, Kementerian Agama disebut telah membangun pondasi Kemenag berdampak melalui kerja nyata yang mulai dirasakan masyarakat. Menag menyinggung transformasi digital untuk mempercepat layanan keagamaan, penguatan ekonomi umat melalui pesantren dan filantropi keagamaan seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, dan program sejenis, peningkatan kualitas madrasah serta perguruan tinggi keagamaan, hingga penguatan praktik kerukunan lewat program “Desa Sadar Kerukunan” agar kerukunan hadir nyata di tengah masyarakat.

Menghadapi tantangan kecerdasan buatan (AI) yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Menag menekankan pentingnya kedaulatan literasi dan keilmuan agar institusi keagamaan tidak sekadar menjadi penonton.

 “Menghadapi tantangan besar bernama AI atau kecerdasan buatan, kita hidup di era yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini kita tidak boleh sekedar menjadi penonton. Setiap ASN Kementerian Agama dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang lincah dan sigas, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Prof. Nazarudin Umar mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama memperkuat pondasi pengabdian yang berdampak dan penguasaan teknologi yang beretika, seraya menyerukan, “Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya cerah bangsa.”

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Pemerintah Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam’iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

“Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan,” ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

“Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin,” tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

“Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

“Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana,” ujar Dr. Uwes Fatoni.

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam'iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

"Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan," ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

"Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin," tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

"Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk," ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

"Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana," ujar Dr. Uwes Fatoni.

Bakti KPI untuk Desa, Wujud Nyata Pengabdian Mahasiswa kepada Masyarakat

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan kegiatan Bakpau Desa KPI (Bakti KPI untuk Desa) sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Program ini menjadi ruang aktualisasi peran mahasiswa tidak hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen sosial yang hadir dan berkontribusi langsung dalam kehidupan desa.

Kegiatan Bakpau Desa KPI dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai agenda edukatif dan sosial. Mulai dari kegiatan literasi keagamaan, pendampingan anak-anak, hingga diskusi ringan seputar komunikasi dan nilai-nilai sosial keislaman, seluruh rangkaian kegiatan disusun untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa secara kontekstual.

Ketua pelaksana Bakpau Desa KPI menyampaikan bahwa program ini merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui Bakpau Desa, mahasiswa KPI belajar memahami realitas sosial secara langsung, sekaligus menerapkan ilmu komunikasi dan dakwah yang diperoleh di bangku perkuliahan dalam kehidupan nyata.

Antusiasme masyarakat desa terlihat dari partisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Kehadiran mahasiswa KPI disambut hangat sebagai mitra belajar dan berdialog, bukan sekadar tamu sementara. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang humanis dan persuasif mampu membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat.

"Kami sangat seneng dengan kedatangan adik-adik mahasiswa,semoga dengan kedatangan semuanya disini bisa dapat membawah ke bermanfaatan bagi masyarakat di desa ini" Ujar Irwan Salah Satu Prangkat Desa

Melalui Bakpau Desa KPI "Bakti KPI untuk Desa", diharapkan terjalin hubungan berkelanjutan antara kampus dan masyarakat desa. Program ini tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif, menumbuhkan semangat kolaborasi, serta memperkuat peran mahasiswa KPI sebagai komunikator dan dai yang peka terhadap realitas sosial.

Reporter : Rizki Hidayat / KPI 5B Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati



Rebutan Kursi di TransJakarta, Kenapa Viral?

"Dek, berdiri aja ya. Yang muda ngalah."

Suara itu muncul dari arah depan, cukup kenceng sampai orang-orang yang tadinya fokus HP langsung nengok.

Si anak muda yang duduk di kursi tengah—kursi biasa, bukan kursi warna khusus—ngangkat kepala.

"Maaf, Bu… ini kursi reguler."

"Reguler juga tetap etika, dong."

Ada yang nyeletuk, "Iya bener, harusnya ngerti."

Tiba-tiba bus jadi terasa sempit, bukan karena penuh, tapi karena atmosfernya.

Anak muda itu menarik napas.

"Saya juga lagi nggak enak badan, Bu. Cuma nggak kelihatan aja."

Hening sebentar.

Lalu muncul bisik-bisik, tatapan, dan… kamera. 

Seseorang mulai merekam. Dan seperti kita tahu, yang begini biasanya berakhir: viral.

Beberapa hari terakhir, media sosial memang ramai memperbincangkan video perselisihan penumpang di bus TransJakarta tentang isu yang sebenarnya klasik: perebutan kursi di transportasi umum.

Netizen terbelah jadi dua kubu:
yang menuntut anak muda "wajib" memberi kursi pada orang yang lebih tua, dan
yang membela penumpang muda karena kursi yang diduduki adalah kursi reguler (non-prioritas), serta mengingatkan bahwa tidak semua kondisi kesehatan terlihat (invisible illness / disabilitas tak terlihat).

Yang sering luput: banyak orang masih rancu soal kursi prioritas vs kursi reguler, dan akhirnya debat melebar ke moralitas padahal akar masalahnya lebih sederhana: aturan + komunikasi + empati.
 
Artikel ini akan jadi "peta" biar kamu paham:
- kursi prioritas itu apa dan siapa yang berhak
- kursi reguler itu gimana aturannya
- gimana bersikap kalau kamu yang butuh kursi / kamu yang lagi duduk

Kenapa Topik Kursi Bisa Jadi Ribut?

Karena kursi itu bukan cuma benda. Di ruang publik, kursi = simbol:
"hak"
"kepantasan"
"kekuatan sosial" (siapa yang berani ngomong, siapa yang disorot)
dan yang paling sering: asumsi

Masalahnya, asumsi orang di transportasi umum sering banget berbasis tampilan:
muda = kuat
tua = selalu butuh
yang kelihatan sehat = pasti sehat

Padahal realitanya nggak sesimpel itu.
Kursi Prioritas vs Kursi Reguler: Bedanya Apa?

1) Kursi Prioritas (Biasanya Warnanya Beda + Ada Tanda)
Kursi prioritas biasanya berada dekat pintu/area depan, warnanya mencolok dan ada penanda. Secara fungsi, ini kursi untuk penumpang yang membutuhkan akses lebih:
Lansia
Ibu hamil
Orang tua/pendamping yang membawa balita
Penyandang disabilitas
Kursi prioritas itu konsepnya akses yang adil. Jadi bukan "siapa paling tua" doang, tapi "siapa yang paling membutuhkan keselamatan dan kenyamanan".

2) Kursi Reguler (Non-Prioritas)
Kursi reguler adalah kursi untuk umum. Biasanya berlaku prinsip: yang dapat duluan, duduk. Tapi bukan berarti etika hilang.
Kursi reguler itu "hak umum", sedangkan kursi prioritas itu "hak berbasis kebutuhan".
Kalau mau dibuat gampang:
Prioritas = kebutuhan
Reguler = kesempatan
Plot Twist yang Sering Dilupakan: Invisible Illness / Invisible Disability
Salah satu pemicu konflik paling besar adalah "miskomunikasi tentang kondisi".

Ada orang yang kelihatan fit, tapi sebenarnya:
nyeri haid parah (dysmenorrhea)
habis operasi (pemulihan)
asma akut / gampang sesak
vertigo, anemia, migrain
cedera otot/sendi yang nggak terlihat kondisi tertentu yang bikin berdiri lama berbahaya
Karena itu, budaya "wajib jelasin sakitmu biar dipercaya" itu problematik. Kita bisa minta pengertian, tapi jangan maksa orang buka privasi.

Etika Realistis: Biar Situasi Adem, Bukan Drama
Kalau kamu duduk (di kursi reguler) dan ada yang minta
Respons paling aman:
Dengar dulu (jangan defensive)
Jawab singkat, jelas, tanpa debat
Contoh:
"Maaf Bu, ini kursi reguler. Tapi kalau Ibu butuh banget, saya bisa bantu cariin kursi lain atau panggil petugas."
"Maaf ya, saya juga sedang kurang sehat jadi perlu duduk. Tapi saya bisa minta bantuan petugas supaya Ibu dapat tempat."

Ini cara ngomong yang nggak mempermalukan siapa pun.

Kalau kamu yang butuh kursi
Cara paling efektif:
minta sopan + spesifik, jangan menyerang
Contoh:
"Maaf kak, boleh saya duduk? Saya hamil / bawa anak / kondisi saya nggak kuat berdiri lama."

Kalau penumpang lain nggak respons atau situasi memanas:
panggil petugas. Debat jarang menang, yang ada capek dan makin panas.

Kalau kamu jadi saksi Jangan jadi bensin. Kalau mau bantu:
"Kak, mungkin bisa dibantu ya. Kalau nggak memungkinkan, kita panggil petugas aja biar aman."

Pelajaran dari Kasus Viral TransJakarta

Kasus viral ini ngasih 3 pelajaran:
- Aturan perlu dipahami, bukan cuma perasaan.
- Banyak orang debat padahal nggak tahu mana kursi prioritas, mana kursi reguler.
- Empati tanpa memaksa orang membuka privasi.

Kamu bisa minta kursi. Tapi kamu nggak berhak menginterogasi kondisi orang.
Cara ngomong itu menentukan hasil.

Kalimat yang sama bisa jadi damai atau jadi viral tergantung nadanya.

Jadi kalau sekiranya kamu tidak dalam kondisi sakit, atau sangat lelah, sedang duduk di transportasi umum seperti Transjakarta berikan jatah kursimub ke orang yang lebih membutuhkan. Simpel tanpa drama.




Banjir Cibago Mayang, 65 KK Terdampak Warga Mengungsi di Aula Desa

Subang — Banjir menerjang Kampung Cibago, Desa Mayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, pada Kamis, 4 Desember 2025 siang. Peristiwa tersebut dipicu oleh tingginya curah hujan disertai angin kencang yang melanda wilayah setempat.
Hujan deras menyebabkan longsor di sekitar aliran Sungai Cikandai. Material longsoran sempat menahan aliran sungai hingga akhirnya jebol dan meluap, sehingga air masuk ke permukiman warga sekitar pukul 14.00 WIB.
Kepala Desa Mayang, Usman Suhendi, mengatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, banjir mengakibatkan ratusan warga terdampak.
"Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 212 jiwa dari 65 kepala keluarga terdampak banjir," ujar Usman saat diwawancarai Info Cisalak.
Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga. Tercatat sebanyak enam rumah mengalami rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan. Sejumlah areal persawahan serta kebun milik warga turut terdampak.
Untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, Pemerintah Desa Mayang bersama pihak terkait telah melakukan evakuasi warga, khususnya di wilayah paling terdampak, yakni RT 13 RW 04 Kampung Cibago. Warga dievakuasi ke Aula Mayang Maslahat, Desa Mayang.

"Kami sudah melakukan evakuasi warga ke aula desa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk potensi banjir susulan, mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi," jelas Usman.

Usman menambahkan, saat ini warga terdampak masih membutuhkan sejumlah bantuan mendesak, seperti alat kebersihan untuk membersihkan material banjir, tenda darurat, peralatan medis, logistik makanan, serta perlengkapan makan dan minum.

Di akhir keterangannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penanganan bencana tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dan menyalurkan bantuan bagi warga kami yang terdampak musibah ini," pungkasnya.

Reporter : Info Cisalak 
Editor : Jajang Shofar Khoerudin 


Ketika Subang Berpesta, Subang Fest sebagai Ruang Ekspresi dan Kebanggaan

Senja belum sepenuhnya turun ketika Alun-Alun Subang di kawasan Tugu Pancasila mulai dipenuhi langkah-langkah warga. Dari anak kecil yang digandeng orang tuanya, remaja dengan ponsel di tangan, hingga para orang tua yang ingin sekadar menikmati suasana, semuanya bergerak menuju satu titik yang sama: Subang Fest. Di ruang terbuka itulah, Subang seakan sedang berpesta merayakan kebersamaan, kreativitas, dan identitasnya sendiri.

Lampu-lampu panggung menyala bergantian, memantul pada wajah-wajah penuh antusias. Dentuman musik terdengar bersahutan dengan sorak penonton, sementara aroma jajanan tradisional dan kuliner kekinian berbaur di udara. Subang Fest bukan sekadar festival hiburan, melainkan ruang pertemuan berbagai ekspresi masyarakat.

"Acara seperti ini bikin Subang terasa hidup. Kita bisa menikmati hiburan sekaligus kumpul bareng keluarga," Ujar Rizkun
 
Di sepanjang area alun-alun, deretan stan UMKM menjadi denyut ekonomi kecil yang hidup. Para pelaku usaha lokal dengan ramah menawarkan produk mereka dari makanan khas Subang hingga kerajinan tangan. Bagi mereka, Subang Fest adalah panggung kesempatan.

Tugu Pancasila yang berdiri kokoh di tengah alun-alun seakan menjadi saksi bisu perayaan ini. Di bawah simbol persatuan itu, berbagai latar belakang masyarakat menyatu tanpa sekat. Tak ada perbedaan usia, profesi, atau status sosial. Semua larut dalam suasana yang sama tertawa, bertepuk tangan, dan saling berbagi ruang.

Bagi para seniman lokal, Subang Fest adalah ruang ekspresi yang jarang mereka dapatkan. Panggung terbuka memberi mereka kesempatan untuk menunjukkan karya, menguji keberanian, dan merasakan apresiasi langsung dari masyarakat.

Ketika malam semakin larut, keramaian tak juga surut. Cahaya lampu, suara musik, dan riuh tawa membentuk satu irama yang hangat. Subang Fest menjelma menjadi cermin wajah kota: sederhana, ramah, namun penuh semangat.

Di Alun-Alun Subang, tepat di sekitar Tugu Pancasila, pesta itu mungkin akan usai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun rasa kebersamaan dan kebanggaan yang lahir dari Subang Fest akan tinggal lebih lama mengendap dalam ingatan, menjadi cerita, dan terus hidup sebagai identitas sebuah kota yang tahu cara merayakan dirinya sendiri.

Reporter : Jajang Shofar Khoerudin

Posyandu RW 10 Fokus Cegah Stunting Lewat Program Tri Bina




Cigending – Posyandu RW 10 terus menunjukkan perannya dalam menjaga kesehatan masyarakat dengan menggelar kegiatan rutin setiap bulan. Program utama yang dijalankan adalah pencegahan stunting dan gizi buruk melalui penimbangan serta pembinaan keluarga, balita, hingga lansia, Senin (06/10/2025).

Kegiatan posyandu di RW 10 dilaksanakan setiap bulan sekali, tepatnya pada hari Senin di minggu pertama. Warga sekitar pun antusias mengikuti berbagai layanan yang diberikan, mulai dari penimbangan, klasifikasi kesehatan, hingga program Tri Bina yang terdiri dari Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga, dan Bina Keluarga Lansia.

Meski demikian, masih terdapat kendala dalam pelaksanaannya. "Kendalanya hanya satu, yaitu setiap warga pasti ada saja yang tidak datang, tidak full 100% hadir. Tapi selalu kita ingatkan lewat grup warga," ujar salah satu pengurus posyandu.

Fokus utama dari program posyandu ini adalah pencegahan stunting, gizi buruk, serta menjaga stabilitas berat badan anak agar tetap meningkat setiap bulan. "Tujuannya menjaga kadar itu. Makanya ada penimbangan, supaya berat badan anak-anak stabil dan meningkat tiap bulan, jangan sampai ada penurunan," tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, posyandu RW 10 juga menjalin kerjasama dengan pihak puskesmas. Segala kegiatan puskesmas selalu melibatkan peran posyandu sebagai fasilitator tempat.
Harapan besar pun disampaikan agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga dengan balita. "Mudah-mudahan masyarakat mau sadar diri betapa pentingnya menjaga kehamilan, pola makan, sampai pendidikan anak. Karena kalau bukan dari posyandu, dari mana lagi," pungkasnya.

Reporter: Evi Safitri & Salma Zakia Sholeha

Kepedulian Nyata: Cigending Bagikan Cadangan Beras Untuk Warga

Cigending – Lurah Cigending bersama Kasi Kesos memantau langsung pendistribusian Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kepada warga, Minggu (05/10/2025). Kehadiran mereka menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan masyarakat.

Pendistribusian Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Kelurahan Cigending, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, berlangsung lancar dan tertib. Kegiatan ini disambut antusias warga penerima manfaat yang hadir sejak pagi untuk mendapatkan beras bantuan.

Lurah Cigending menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya bersama dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

"Kami memastikan distribusi bantuan berjalan tertib dan tepat sasaran. Bantuan pangan ini diharapkan bisa meringankan kebutuhan sehari-hari warga," ujarnya saat ditemui di lokasi.

Hal senada disampaikan Kasi Kesos Cigending yang turut hadir memantau jalannya kegiatan.

"Kami terus berkoordinasi agar distribusi bantuan ini tidak hanya lancar, tetapi juga adil. Setiap penerima terdaftar akan mendapatkan haknya," katanya.

Salah satu warga penerima bantuan, Ibu Aisyah, mengaku bersyukur mendapat bantuan beras dari pemerintah.

"Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu kami. Setidaknya kebutuhan dapur bisa tercukupi beberapa hari ke depan," tuturnya dengan senyum.

Melalui program CBP, pemerintah berharap mampu menjaga stabilitas pangan dan memperkuat daya tahan masyarakat terhadap gejolak harga kebutuhan pokok. Dengan pengawasan langsung dari aparat kelurahan, distribusi di Cigending berjalan sesuai harapan.


Reporter: Evi Safitri & Salma Zakia Sholeha

Penyuluh Agama Antapani Tekankan Ekoteologi dan Kerukunan di MTKD

Bandung – Penyuluh Agama Kecamatan Antapani, Kota Bandung, menggelar orientasi santri baru sekaligus silaturahim Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) di Masjid Nurul Huda pada Selasa, 7 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan bagi para warga dengan penekanan pada nilai ekoteologi dan kerukunan antarumat beragama sebagai bekal dakwah yang relevan dengan tantangan zaman.

Dalam arahannya, penyuluh agama menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah. Hal ini sejalan dengan gagasan ekoteologi yang menempatkan alam sebagai amanah Allah SWT yang harus dijaga keberlanjutannya. Para warga diajak untuk tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, penyuluh juga menggarisbawahi pentingnya merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan bimbingan para mudaris, santri diarahkan untuk memiliki akhlak yang terbuka, toleran, dan mampu menjadi agen perdamaian. "Kita bukan hanya pewaris ilmu, tapi juga harus jadi teladan dalam menjaga harmoni sosial," tegas salah satu penyuluh.

Kegiatan ini turut menghadirkan pembicara dari kalangan tokoh agama dan pendidik MTKD. Mereka memperkuat pesan bahwa sinergi antar lembaga keagamaan perlu dibangun demi ketahanan moral masyarakat. Penyuluh berperan aktif dalam memfasilitasi dialog, diskusi, serta perumusan program yang selaras dengan visi Islam rahmatan lil 'alamin.

Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan itu ditutup dengan perumusan program kerja MTKD, salah satunya gerakan sadar lingkungan berbasis majelis taklim. Dengan pendampingan penyuluh Kemenag, agenda ini diharapkan mampu menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.


Reporter: Muhammad Natsir Saefudin, Rohmatika Denis Karina dan Sayyyidah Nafisa Almarwan

Bantuan Sembako Disalurkan kepada Masyarakat Desa Terdampak Banjir di Kabupaten Sumedang




SUMEDANG – Pada Senin, 15 Desember 2025, masyarakat yang terdampak bencana banjir di tiga desa di Kabupaten Sumedang, yaitu Desa Sayang, Desa Mekargalih, dan Desa Cipacing, menerima bantuan sembako sebagai bagian dari upaya pemulihan setelah banjir yang terjadi pada Jumat, 12 Desember 2025. Banjir yang melanda wilayah tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga dan fasilitas umum, sehingga banyak warga yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Bantuan sembako yang disalurkan meliputi bahan makanan dasar seperti beras, mie instan, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini diberikan secara langsung kepada warga yang paling terdampak di ketiga desa tersebut, dengan melibatkan perangkat desa setempat serta relawan yang membantu proses distribusi. Warga desa menyambut bantuan tersebut dengan penuh rasa terima kasih, mengingat banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah bencana.

Menurut keterangan dari perangkat desa setempat, kegiatan distribusi sembako berlangsung lancar dengan bantuan dari sejumlah relawan yang turut mengantarkan paket sembako ke rumah-rumah warga yang terdampak. Salah seorang warga Desa Sayang mengungkapkan, "Kami sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan. Sembako ini sangat membantu kami untuk bertahan sementara waktu, apalagi pasca-banjir, banyak kebutuhan kami yang tidak tercukupi."

Selain itu, pemberian bantuan sembako ini juga menjadi bagian dari langkah-langkah pemulihan yang lebih besar yang sedang dilakukan oleh pemerintah setempat. Pembagian bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga dan memberikan sedikit ketenangan di tengah kesulitan yang mereka alami. Pemerintah desa juga terus memantau situasi di lapangan dan memastikan bahwa kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi selama masa transisi menuju pemulihan pasca-banjir.

Dengan adanya bantuan sembako ini, diharapkan proses pemulihan di Desa Sayang, Desa Mekargalih, dan Desa Cipacing dapat berjalan lebih cepat. Masyarakat berharap bisa segera kembali ke aktivitas sehari-hari mereka setelah keadaan kembali stabil. Ke depannya, pemerintah setempat berencana untuk mengadakan kegiatan lanjutan, seperti perbaikan fasilitas umum yang rusak akibat banjir, serta membantu warga untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut dalam memperbaiki rumah-rumah mereka yang terdampak.

Pemerintah desa juga menyampaikan harapan bahwa kedepannya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dapat terus berjalan dengan baik untuk mempercepat pemulihan dan meminimalkan dampak bencana yang serupa di masa depan. Bantuan yang diterima bukan hanya membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dalam menghadapi bencana bersama-sama.

Pembinaan Perangkat Desa Cintamulya untuk Meningkatkan Pelayanan Publik




JATINANGOR – Camat Jatinangor, Herman Suwandi, S.IP., M.Si memimpin kegiatan pembinaan perangkat Desa Cintamulya yang digelar di kantor Desa setempat pada Senin (12 Desember 2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas aparatur pemerintahan desa dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Rapat tersebut dihadiri oleh perangkat desa dari Desa Cintamulya serta beberapa tokoh masyarakat setempat yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Herman Suwandi, S.IP., M.Si dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pembinaan seperti ini sangat penting dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman perangkat desa tentang berbagai kebijakan dan prosedur baru. "Pembinaan ini adalah upaya untuk memastikan bahwa perangkat desa dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih baik dan profesional, serta dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi perangkat desa untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan pengetahuan lebih dalam mengenai pengelolaan pemerintahan desa. Beberapa peserta rapat mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru dan memperluas pemahaman tentang cara menjalankan tugas administratif yang lebih efektif. "Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan seperti ini, karena kami mendapatkan arahan langsung yang meningkatkan kemampuan kami dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat," ujar salah satu peserta rapat.

Dengan adanya kegiatan pembinaan ini, diharapkan seluruh perangkat desa di Kecamatan Jatinangor, khususnya Desa Cintamulya, dapat semakin siap menghadapi tantangan dalam mengelola pemerintahan yang semakin berkembang. Camat Jatinangor berharap pembinaan serupa dapat dilaksanakan secara rutin agar setiap perangkat desa terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman demi tercapainya pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.

Pengiriman Berita

Ketidakhadiran Termohon di Nilai Ciptakan Stigma Negatif terhadap Keterbukaan Informasi Publik

Bandung - Ruang sidang utama Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat kembali menjadi saksi denyut transparansi yang tak pernah padam. Hal tersebut merupakan salah satu bukti perjuangan warga untuk mendapatkan hak atas informasi publik. Persidangan berlangsung pada Hari Kamis (9/10/25), di Kantor Komisi Informasi Jawa Barat.

Sidang sengketa informasi publik Kamis (9/10) digelar dalam dua bentuk: persidangan pemeriksaan awal kedua (PA2) dan mediasi lanjutan. Persidangan PA2 dipimpin oleh Ketua Majelis Erwin Kustiman, didampingi anggota majelis Yadi Supriadi dan Nuni Nurbayani, dengan Panitera Pengganti U Maman Suparman. Sementara itu, proses mediasi lanjutan dipimpin oleh mediator Husni Farhani Mubarok.

Dalam agenda hari itu, terdapat delapan sengketa informasi publik: Lima perkara diajukan oleh Asep Moh. Yusuf dengan kuasa hukum Ubaidillah terhadap beberapa Pemerintah Desa di Kabupaten Bogor. Tiga perkara lainnya diajukan oleh Achmad Qodir terhadap Pemerintah Desa di Kabupaten Indramayu.

Dari lima perkara pemohon Asep, dua di antaranya terhadap Pemerintah Desa Sukamaju dan Sadeng memperlihatkan Pemohon hadir dan Termohon tidak hadir. Sidang tetap dilanjutkan sesuai tahapan. Namun tiga perkara lainnya terhadap Pemerintah Desa Cigudeg, Leuwiliang, dan Pabangbon berakhir dengan penetapan pencabutan sengketa, karena Pemohon sebelumnya menyatakan pencabutan sengketa tiga register tersebut melalui email KI Jabar. Persidangan tiga register tersebut berakhir tanpa dihadiri Pemohon maupun Termohon.

Sementara itu, dalam tiga sengketa Achmad Qodir terhadap Pemerintah Desa Kebulen, Tambi Lor, dan Budak Lor — Pemohon hadir namun Termohon absen. Mediasi yang dipimpin Husni Farhani Mubarok berujung Pemohon undur diri dari mediasi. Tiga register tersebut akhirnya dijadwalkan SAP dengan jadual ditentukan kemudian.

Wakil Ketua KI Jabar, Dadan Saputra,mengungkapkan: "Sidang sengketa informasi publik bukan sekadar formalitas hukum. Ia adalah ruang dialog antara masyarakat sebagai pemegang hak dan badan publik sebagai pihak yang berkewajiban membuka informasi. Dalam konteks ini, kehadiran para pihak merupakan kunci. Ketika salah satu pihak absen, terutama badan publik, proses menjadi timpang: dialog kehilangan suaranya, dan penyelesaian sengketa pun melambat".

Komisioner bidang PSI, Erwin Kustiman, mengatakan bahwa ketidakhadiran Termohon juga meninggalkan pesan negatif: seolah keterbukaan informasi hanya sepihak. Padahal, semangat Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik dibangun atas tanggung jawab bersama: warga berhak tahu, pemerintah berkewajiban menjawab.

Nuni Nurbayani selaku Komisioner bidang SEKOM, mengungkapkan: "Sidang Kamis hari ini, menyisakan pelajaran penting: transparansi tidak akan terwujud jika hanya satu pihak yang berjalan. Keterbukaan membutuhkan kehadiran, komitmen, dan dialog yang nyata"

Lebih lanjut, Ketua KI Jabar, Husni Farhani Mubarok, menegaskan bahwa ketika warga hadir memperjuangkan haknya, pemerintah desa pun semestinya menunjukkan tanggung jawab moral dan administratifnya dengan hadir di ruang sidang. Sebab pada akhirnya, hak untuk tahu bukan sekadar hak warga melainkan juga tolak ukur integritas pemerintahan di tingkat akar rumput.

Reporter, Azzahwa Raisa dan Ismi Asita

Muskerkab II Forum Komunikasi BPD




JATINANGOR – Musyawarah Kerja Kabupaten (Muskerkab) II Forum Komunikasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kecamatan Jatinangor berlangsung pada Rabu, 10 Desember 2025. Acara yang digelar di aula kantor kecamatan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan kerja antara pemerintah kecamatan dan BPD, serta membahas berbagai isu penting terkait pembangunan desa dan peran BPD dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam musyawarah ini, hadir perwakilan BPD dari berbagai desa di Kecamatan Jatinangor. Mereka berdiskusi mengenai berbagai kebijakan yang dapat mendukung proses pembangunan desa, dengan fokus pada peningkatan kualitas komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Selain itu, peserta juga membahas tentang peran BPD dalam mengawasi jalannya pemerintahan desa serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran desa.

Salah satu agenda penting dalam Muskerkab ini adalah penguatan kapasitas BPD dalam menjalankan fungsi mereka sebagai mitra pemerintah desa. Ketua Forum Komunikasi BPD Jatinangor mengatakan, "Muskerkab ini sangat penting untuk mempererat kerja sama antar desa dan memperkuat peran BPD dalam mengawasi jalannya pemerintahan desa, terutama dalam hal pengelolaan dana desa dan pengawasan kebijakan publik."

Dengan adanya Muskerkab II ini, diharapkan komunikasi yang lebih baik dapat terjalin antara pemerintah kecamatan, BPD, dan masyarakat. Pembahasan mengenai kebijakan serta peningkatan peran BPD diharapkan dapat membawa dampak positif bagi kemajuan pembangunan di Kecamatan Jatinangor, khususnya dalam menciptakan pemerintahan desa yang lebih transparan dan akuntabel.

Gotong Royong Cegah Abrasi di Sungai Cikeruh Desa Sayang




SUMEDANG – Warga Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang, melaksanakan kegiatan gotong royong pada Rabu, 10 Desember 2025, untuk mengatasi masalah abrasi yang terjadi di Sungai Cikeruh. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat penahanan tebing dan tembok di sepanjang aliran sungai yang mengalami erosi akibat cuaca ekstrem dan aktivitas manusia.

Para warga bekerja sama dengan apparat Desa Sayang membersihkan daerah sekitar sungai dan memperbaiki struktur penahan di tebing sungai, guna mencegah lebih lanjut kerusakan yang bisa mengancam pemukiman sekitar. Kegiatan ini melibatkan banyak warga setempat yang turun langsung ke lokasi, dengan semangat gotong royong yang tinggi untuk melindungi lingkungan mereka. "Kegiatan ini sangat penting untuk mencegah abrasi yang dapat merusak tebing sungai, sehingga kami bisa menjaga keselamatan dan kenyamanan masyarakat," ujar salah satu warga yang turut serta. 

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan mengurangi dampak negatif dari abrasi yang bisa mengancam kawasan pemukiman serta ekosistem di sekitar sungai. Warga Desa Sayang berharap kegiatan gotong royong ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menjaga lingkungan mereka dari kerusakan alam.

Ke depannya, masyarakat Desa Sayang bersama dengan Arapat Desa Sayang dan Forkopimcam Jatinangor berencana untuk terus melaksanakan kegiatan serupa, guna memperkuat upaya penanggulangan abrasi dan memperbaiki kondisi sungai secara berkelanjutan, serta berencana untuk melakukan pemeliharaan lebih lanjut terhadap struktur penahan yang telah diperbaiki.

Pengiriman Berita

Komisi Informasi Jabar Gelar Sidang Delapan Kasus Sengketa Informasi Bandung - Komisi Informasi Jawa Barat lakukan persidangan dengan memproses delapan register sengketa informasi publik, dengan rincian satu register dalam kategori PA1 dan tujuh register dalam kategori PA2. Persidangan tersebut dilaksanakan pada (01/09/2025) di Kantor Komisi Informasi Jawa Barat.


Rapat pertama membahas satu register PA1 dengan pemohon Anwar Rustandi dan termohon dari Pemerintah Desa Nanggala Mekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Objek perselisihan berkaitan dengan data Galian C di Blok Pasir Muncang serta dokumen MOU. Persidangan diketuai oleh Husni Farhani Mubarok bersama anggota Nuni Nurbayani dan Erwin Kustiman, serta Panitera U Maman Suparman. Dalam analisis, unsur legal standing, kewenangan absolut, dan relatif dinyatakan telah tercapai, tetapi batas waktu dianggap terlalu awal. Majelis pada akhirnya memutuskan untuk menolak permohonan pemohon.


Sidang kedua membahas empat register PA2 antara pemohon Cecep Hendra dan Haidy Arsyad melawan termohon Pemerintah Kabupaten Bogor Kecamatan Rancabungur serta empat desa, yaitu Mekarsari, Candali, Bantarsari, dan Pasir Gaok. Objek yang dipersengketakan adalah laporan serta pelaksanaan penggunaan APBDes tahun anggaran 2021–2023. Rapat yang dipimpin oleh Dadan Saputra bersama anggota Erwin Kustiman dan Nuni Nurbayani, serta Panitera Agus Suprianto, tidak dihadiri oleh pemohon maupun termohon. Karena beberapa elemen tidak lengkap, majelis memutuskan untuk menunda sidang dan akan dilanjutkan pada agenda PA3.


Sidang terakhir membicarakan tiga pendaftaran PA2 dengan pemohon Haidy Arsyad terhadap tiga sekolah negeri di Kabupaten Bogor: SMPN 1 Pamijahan, SMPN 1 Tenjolaya, dan SMAN 3 Cibungulang. Objek sengketa terkait laporan pelaksanaan penggunaan Dana BOS untuk tahun anggaran 2022 dan 2023. Sidang dikendalikan oleh Nuni Nurbayani bersama anggota Erwin Kustiman dan Yadi Supriadi, serta Sekretaris Agus Suprianto. Sidang dihadiri oleh pihak pemohon, namun termohon tidak hadir. Karena pemohon tidak hadir dua kali, majelis memutuskan permohonan tersebut tidak berlaku.


Oleh karena itu, dari delapan daftar sengketa informasi yang diperiksa hari ini, satu daftar PA1 diputuskan tak diterima, empat daftar PA2 ditunda, dan tiga daftar PA2 dinyatakan tidak berlaku. Rijalul selaku asisten komisioner pun menyampaikan alasan terkait kejelasan sengketa yang dinyatakan gugur, beliau mengatakan :  "Bisa jadi sengketa dianggap gugur putusannya karena kedua belah pihak tidak menghadiri sidang seperti sidang kedua yang sudah dilaksanakan hari ini,  sebagaimana prosedur yang seharusnya dilakukan dimana kedua belah pihak harusnya dapat menghadiri sidang untuk melangsungkan keberlanjutan putusan sidang"


Reporter, Azzahwa Raisa dan Ismi Asita

Bantuan Sembako Disalurkan kepada Masyarakat Desa Terdampak Banjir di Kabupaten Sumedang

SUMEDANG – Pada Senin, 15 Desember 2025, masyarakat yang terdampak bencana banjir di tiga desa di Kabupaten Sumedang, yaitu Desa Sayang, Desa Mekargalih, dan Desa Cipacing, menerima bantuan sembako sebagai bagian dari upaya pemulihan setelah banjir yang terjadi pada Jumat, 12 Desember 2025. Banjir yang melanda wilayah tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga dan fasilitas umum, sehingga banyak warga yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

Bantuan sembako yang disalurkan meliputi bahan makanan dasar seperti beras, mie instan, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini diberikan secara langsung kepada warga yang paling terdampak di ketiga desa tersebut, dengan melibatkan perangkat desa setempat serta relawan yang membantu proses distribusi. Warga desa menyambut bantuan tersebut dengan penuh rasa terima kasih, mengingat banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah bencana.

Menurut keterangan dari perangkat desa setempat, kegiatan distribusi sembako berlangsung lancar dengan bantuan dari sejumlah relawan yang turut mengantarkan paket sembako ke rumah-rumah warga yang terdampak. Salah seorang warga Desa Sayang mengungkapkan, "Kami sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan. Sembako ini sangat membantu kami untuk bertahan sementara waktu, apalagi pasca-banjir, banyak kebutuhan kami yang tidak tercukupi."

Selain itu, pemberian bantuan sembako ini juga menjadi bagian dari langkah-langkah pemulihan yang lebih besar yang sedang dilakukan oleh pemerintah setempat. Pembagian bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga dan memberikan sedikit ketenangan di tengah kesulitan yang mereka alami. Pemerintah desa juga terus memantau situasi di lapangan dan memastikan bahwa kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi selama masa transisi menuju pemulihan pasca-banjir.

Dengan adanya bantuan sembako ini, diharapkan proses pemulihan di Desa Sayang, Desa Mekargalih, dan Desa Cipacing dapat berjalan lebih cepat. Masyarakat berharap bisa segera kembali ke aktivitas sehari-hari mereka setelah keadaan kembali stabil. Ke depannya, pemerintah setempat berencana untuk mengadakan kegiatan lanjutan, seperti perbaikan fasilitas umum yang rusak akibat banjir, serta membantu warga untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut dalam memperbaiki rumah-rumah mereka yang terdampak.



Pemerintah desa juga menyampaikan harapan bahwa kedepannya, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dapat terus berjalan dengan baik untuk mempercepat pemulihan dan meminimalkan dampak bencana yang serupa di masa depan. Bantuan yang diterima bukan hanya membantu kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya solidaritas dalam menghadapi bencana bersama-sama.

Pembinaan Perangkat Desa Cintamulya untuk Meningkatkan Pelayanan Publik

JATINANGOR – Camat Jatinangor, Herman Suwandi, S.IP., M.Si memimpin kegiatan pembinaan perangkat Desa Cintamulya yang digelar di kantor Desa setempat pada Senin (12 Desember 2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas aparatur pemerintahan desa dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Rapat tersebut dihadiri oleh perangkat desa dari Desa Cintamulya serta beberapa tokoh masyarakat setempat yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Herman Suwandi, S.IP., M.Si dalam sambutannya mengungkapkan bahwa pembinaan seperti ini sangat penting dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman perangkat desa tentang berbagai kebijakan dan prosedur baru. "Pembinaan ini adalah upaya untuk memastikan bahwa perangkat desa dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih baik dan profesional, serta dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi perangkat desa untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan pengetahuan lebih dalam mengenai pengelolaan pemerintahan desa. Beberapa peserta rapat mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan wawasan baru dan memperluas pemahaman tentang cara menjalankan tugas administratif yang lebih efektif. "Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan seperti ini, karena kami mendapatkan arahan langsung yang meningkatkan kemampuan kami dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat," ujar salah satu peserta rapat.



Dengan adanya kegiatan pembinaan ini, diharapkan seluruh perangkat desa di Kecamatan Jatinangor, khususnya Desa Cintamulya, dapat semakin siap menghadapi tantangan dalam mengelola pemerintahan yang semakin berkembang. Camat Jatinangor berharap pembinaan serupa dapat dilaksanakan secara rutin agar setiap perangkat desa terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman demi tercapainya pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.
© all rights reserved
made with by templateszoo