Pada awal abad ke-20, ribuan tahanan politik dipaksa bekerja keras di bawah pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Penjara Karanganyar yang berdiri sejak 1908 bahkan dijuluki "Siberia Tropis", menggambarkan betapa kerasnya penderitaan para tahanan di tengah isolasi dan kerja paksa.
Ironisnya, kisah ini masih jauh dari pengetahuan banyak generasi muda. Kurikulum sejarah yang lebih menonjolkan tokoh besar membuat ribuan korban tanpa nama di Nusakambangan seakan hilang dari memori bangsa. Pulau tersebut kini lebih dikenal sebagai tempat penjara modern, bukan sebagai situs yang memuat jejak penderitaan dan pergulatan kemanusiaan. Ketika ingatan sejarah memudar, identitas kolektif bangsa turut terancam.
Menghidupkan kembali sejarah Nusakambangan penting dilakukan melalui museum kemanusiaan, akses riset arsip yang lebih terbuka, kurikulum sejarah tematik, serta pengembangan kawasan edukasi publik. Mengingat sejarah bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang.
Reporter: Mila Aulia/Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung/KPI 5B
4 komentar
Setuju banget! Sejarah Nusakambangan jangan sampai hilang. Penting banget buat edukasi dan ingatan kolektif bangsa! Jangan sampai terulang!
Ngeri bangett gakuat yaa allah🥺
sejarah ini harus selalu diingat sih, dengan adanya postingan ini jdi bisa bnyak org taui
serem yaa
Posting Komentar