Tampilkan postingan dengan label Vokapendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vokapendidikan. Tampilkan semua postingan

Hari Kunjung Perpustakaan Jabar 2026 Hadirkan Bazar dan Wakaf Buku

image.png

 

Vokaloka, Bandung– Bazar Buku Murah dan wakaf buku digelar dalam rangka Festival Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan Jawa Barat 2026 di Lobby Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Rabu  (16/09/2026).

Bazar Buku menghadirkan beragam pilihan buku untuk berbagai kelompok usia. Kegiatan ini menyediakan buku dari sejumlah penerbit, di antaranya Gramedia, Mizan, Akselerasi, Graha, dan Andi.

Penerbit Gramedia, Regina berharap pelaksanaan bazar buku tersebut dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh dan membaca buku dengan harga yang lebih terjangkau.

“Paling harapan aku buat bazar ini tuh bisa membantu memberi peluang ke orang-orang, kalau orang-orang bisa baca buku dengan harga yang murah juga,” ujar Regina.

Selain bazar, kegiatan ini juga menghadirkan Program Wakaf Buku yang mengajak masyarakat menyumbangkan buku yang masih layak baca. Program tersebut bertujuan mendukung pemerataan akses terhadap bahan bacaan dan meningkatkan budaya literasi masyarakat.

Buku yang didonasikan akan disalurkan ke perpustakaan desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan pojok baca. Buku yang diterima meliputi terbitan maksimal lima tahun terakhir, seperti buku pengetahuan, teknologi, agama, dan sastra. Sementara itu, buku pelajaran, buku paket, dan LKS tidak termasuk dalam kategori yang dapat didonasikan.

Kegiatan bazar dan wakaf buku menjadi bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan Provinsi Jawa Barat 2026 yang berlangsung pada 15–29 September 2026, dengan berbagai kegiatan yang bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan serta mendorong peningkatan literasi.

Reporter: Raiqatul Mardhiyah & Adit Tiya Lingga R.S

Dukung Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKN UIN Bandung Gandeng DLH Kabupaten Bandung, Olah Sampah Organik Jadi Pupuk

image.png

Vokaloka, Bandung – Mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung menggelar sosialisasi pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik di Aula PAUD Mawar, RW 17, Desa Tenjolaya, pada Jumat (21/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat, kelompok tani, mahasiwa KKN serta perwakilan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Pupuk Organik untuk Mendukung Kemandirian Pertanian yang Berkelanjutan”. Pemilihan tema disesuaikan dengan kondisi Desa Tenjolaya yang memiliki karakteristik agraris, termasuk warga RW 17 yang sebagian melakukan kegiatan bertani dan berkebun.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, mengatakan bahwasanya program pengolahan sampah organik menjadi pupuk merupakan salah satu usulan program kerja yang dirumuskan mahasiswa setelah melakukan pemetaan melalui tahapan siklus dan rembug warga. Proses tersebut dilakukan untuk menggali masalah, potensi, dan harapan warga di RW 17.

 “Awalnya kami mengusulkan pengolahan sampah organik menjadi salah satu program kerja. Setelah dibahas dalam rembug warga, ternyata warga juga memiliki keinginan untuk bisa mengolah sampah menjadi pupuk sendiri. Dari situ kami mencoba merealisasikan program ini dengan menggandeng DLH Kabupaten Bandung,” jelasnya.

Setelah program ditetapkan, mahasiswa KKN Tirta Merta kemudian berkoordinasi dengan DLH Kabupaten Bandung untuk menghadirkan narasumber yang dapat memberikan pemahaman sekaligus praktik kepada warga. Kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan, penyampaian materi, praktik pengolahan, kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab, dokumentasi dan penutupan.

Narasumber dari DLH Kabupaten Bandung, Nezar Pamungkas, menjelaskan bahwa sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Menurutnya, pemanfaatan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kesuburan tanah, terutama bagi masyarakat yang memiliki kegiatan bertani dan berkebun.

“Kalau tanahnya subur, maka tumbuhannya pun subur. Sampah organik rumah tangga ini sebenarnya bisa kita manfaatkan menjadi pupuk organik. Oleh karena itu, baiknya jangan menggunakan pupuk kimia terlalu banyak karena bisa berbahaya bagi kesuburan tanah dan tumbuhan,” jelasnya.

Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik pengolahan sampah organik secara langsung. Praktik dilakukan menggunakan galon bekas yang telah diberi lubang, sampah sisa makanan, dan EM4. Bahan tersebut kemudian diolah melalui proses penguraian selama kurang lebih dua minggu hingga satu bulan sebelum dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Ketua RW 17 mengapresiasi kegiatan tersebut karena materi yang diberikan berkaitan dengan kebutuhan warga. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh warga tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Terima kasih adik-adik KKN yang sudah menyelenggarkan kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan warga di sini. Selain membantu mengurangi sampah rumah tangga, warga juga jadi tahu bagaimana sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Mudah-mudahan setelah kegiatan ini warga bisa menerapkannya secara mandiri,” ujarnya.

Salah satu peserta, Deden, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan sampah organik yang sebelumnya hanya dibuang sebagai limbah rumah tangga. Menurutnya, pengetahuan tersebut dapat menjadi alternatif bagi warga yang membutuhkan pupuk tanpa harus selalu membelinya.

“Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat. Soalnya kalau pupuk harus beli terus, ya kalau sedang ada uang alhamdulillah, tapi kalau tidak ada uang kan jadi kendala. Setelah mengikuti praktik tadi, ternyata sampah organik di rumah juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Jadi kedepannya bisa kami coba di rumah dan digunakan untuk tanaman,” ungkapnya.

Setelah praktik, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta dapat menyampaikan pertanyaan mengenai proses pengolahan sampah, bahan yang digunakan, hingga cara pemanfaatan pupuk organik. Kegiatan kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama dan pemberian Topi Dudukuy sebagai kenang-kenangan dan bentuk dukungan bagi warga dari mahasiswa KKN yang memiliki aktivitas bertani dan berkebun.

Nezar mengapresiasi langkah mahasiswa KKN Tirta Merta yang menyusun kegiatan berdasarkan kebutuhan warga sekaligus membangun kolaborasi dengan pemerintah dalam merealisasikan program tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa KKN yang sudah mengadakan kegiatan sesuai dengan kebutuhan warga. Menurut saya, ini langkah yang bagus karena mahasiswa tidak hanya membuat kegiatan, tetapi juga melihat apa yang memang dibutuhkan warga. Mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan pemerintah, sehingga pengetahuan yang dimiliki bisa disampaikan kepada warga,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tirta Merta berharap warga RW 17 dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengolah sampah organik rumah tangga secara mandiri dan memanfaatkannya sebagai pupuk. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu warga dalam mengelola sampah sekaligus mendukung kemandirian pertanian yang berkelanjutan di Desa Tenjolaya terkhusus lingkungan RW 17.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.

KKN Tirta Merta UIN Bandung Gandeng PT Meval, Empat PJU Panel Surya Terpasang di RW 17 Desa Tenjolaya

image.png

Vokaloka, Bandung – Mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 2 Tirta Merta bersama PT Mitra Amertha Sejahtera (Meval) memasang empat unit Penerangan Jalan Umum (PJU) panel surya di RW 17, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bandung, pada Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa, Ketua RW, Ketua RT, mahasiswa KKN Tirta Merta, serta perwakilan PT Meval yang datang langsung dari Jakarta.

Pemasangan empat PJU tersebut merupakan bagian dari program kerja KKN Tirta Merta yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat. Sebelum menentukan program, mahasiswa melakukan pemetaan melalui tahapan siklus dan rembug warga untuk menggali masalah, potensi, dan harapan warga RW 17.

Hasil pemetaan kemudian dirumuskan menjadi tiga usulan program kerja, yaitu pengolahan sampah organik menjadi pupuk, PJU, dan tempat pembakaran sampah. Ketiga usulan tersebut dibahas dalam rembug warga kedua bersama stakeholder untuk menentukan kebutuhan yang menjadi prioritas. Dari pembahasan tersebut, PJU dipilih sebagai salah satu program yang perlu direalisasikan.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, mengatakan penentuan PJU sebagai program kerja dilakukan berdasarkan hasil penggalian kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata berdasarkan keputusan mahasiswa.

“Program ini berawal dari proses kami menggali masalah, potensi, dan harapan masyarakat melalui siklus satu sampai tiga. Hasilnya kemudian kami rumuskan menjadi beberapa program dan dibahas kembali melalui rembug warga. Dari pembahasan bersama warga dan stakeholder, PJU menjadi salah satu prioritas yang kami sepakati,” ujarnya.

Setelah program ditetapkan, mahasiswa kembali melakukan rembug warga untuk membahas teknis pelaksanaan, termasuk kebutuhan dan titik pemasangan. Pada tahap awal, KKN Tirta Merta merealisasikan tiga unit PJU menggunakan dana kelompok mahasiswa.

Untuk menambah jumlah PJU yang dapat direalisasikan, mahasiswa kemudian mencari peluang kerja sama dengan pihak eksternal. Upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi dengan sejumlah pihak hingga KKN Tirta Merta mendapat dukungan dari PT Mitra Amertha Sejahtera melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Ketua Bidang Analisis Spasial KKN Tirta Merta, Hasbi Nurwahid, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut dibangun setelah mahasiswa mencari alternatif dukungan untuk merealisasikan kebutuhan PJU di RW 17.

“Setelah PJU menjadi prioritas, kami memikirkan bagaimana program ini bisa direalisasikan dengan sumber daya yang ada. Kami sudah merealisasikan tiga PJU dari dana mahasiswa, kemudian kami mencoba membangun kolaborasi dengan pihak eksternal. Alhamdulillah, PT Meval memberikan respons positif dan mendukung empat PJU panel surya melalui program CSR,” jelasnya.

Dukungan tersebut kemudian direalisasikan melalui pemasangan empat PJU panel surya oleh perwakilan PT Meval yang hadir langsung dari Jakarta bersama mahasiswa KKN Tirta Merta dan perwakilan masyarakat RW 17.

Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin, mengapresiasi penambahan PJU yang dilakukan melalui kolaborasi tersebut. Ia berharap keberadaan penerangan tambahan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, terima kasih adik-adik KKN dan PT Meval Indonesia. Saya merasa senang dan bangga karena adik-adik sudah mau membantu kami dalam masalah penerangan jalan ini. Mudah-mudahan PJU ini bisa memberikan manfaat bagi warga RW 17,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Tenjolaya, Ismawanto Somantri. Ia mengapresiasi kolaborasi PJU yang dilakukan KKN Tirta Merta bersama PT Meval dan menyebut program tersebut menjadi program pertama di Desa Tenjolaya yang melibatkan mahasiswa KKN dalam kolaborasi pemasangan PJU bersama pihak swasta.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN Tirta Merta bersama PT Meval, karena hal ini merupakan yang pertama di Desa Tenjolaya, dimana mahasiswa KKN mampu berkolaborasi dengan pihak swasta untuk pemasangan PJU. Mudah-mudahan kolaborasi seperti ini bisa terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

“Program CSR ini akan kami langsungkan dan akan kami teruskan perjuangan ini untuk Indonesia. Ini adalah bentuk bakti dari PT Mitra Amertha Sejahtera terhadap Indonesia. Untuk di RW 17 sendiri, insyaallah kami akan menambah dua PJU lagi melihat kondisi di lapangan, karena jarak penerangannya masih cukup jauh. Mudah-mudahan dengan tambahan ini bisa membantu mobilitas warga, khususnya pada malam hari,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Tirta Merta berharap keberadaan PJU dapat mendukung aktivitas dan mobilitas warga, khususnya pada malam hari, serta menciptakan lingkungan RW 17 yang lebih aman dan nyaman. Semoga kolaborasi pentahelix antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah dan pihak swasta dapat terus terjalin dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.

Dorong UMKM Go Digital, Mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung Fasilitasi Pembuatan QRIS di RW 17, Desa Tenjolaya

image.png


Vokaloka, Bandung – Mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 2 Tirta Merta memfasilitasi pembuatan QRIS bagi sejumlah warung kelontongan di RW 17, Desa Tenjolaya, pada Kamis (20/8/2026). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya mendorong digitalisasi UMKM sekaligus mendukung arah pengembangan digitalisasi di Desa Tenjolaya.

Fasilitasi QRIS dilakukan dengan mendampingi pelaku usaha dalam proses pembuatan layanan pembayaran digital. Program ini menyasar warung-warung kelontongan di lingkungan RW 17 agar pelaku UMKM memiliki alternatif pembayaran yang lebih praktis bagi konsumen.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam mendorong digitalisasi UMKM di RW 17. Menurutnya, perkembangan teknologi digital perlu diikuti oleh masyarakat, termasuk pelaku UMKM.

“Kami ingin merealisasikan program kerja yang sudah disusun. Sekarang juga sudah zaman digitalisasi, jadi warga juga perlu mulai mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Salah satu pelaku UMKM yang mendapatkan fasilitas pembuatan QRIS, Yaris, mengaku terbantu dengan pendampingan yang diberikan mahasiswa KKN. Sebelumnya, ia juga sempat ingin membuat QRIS, tetapi belum berhasil melakukannya secara mandiri.

“Alhamdulillah, terima kasih para mahasiswa, sangat membantu. Karena sebelumnya saya juga pernah mau bikin, tapi tidak bisa. Kadang di kampung juga ada yang ingin bayarnya transfer,” ungkapnya.

Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap fasilitas QRIS dapat memberikan manfaat bagi pelaku UMKM sekaligus membantu mereka beradaptasi dan bersaing dalam perkembangan ekonomi digital.

“Alhamdulillah, terima kasih bantuannya adik-adik mahasiswa. Semoga bermanfaat untuk pelaku UMKM di RW 17 dan bisa bersaing secara sehat di dunia digital,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Tirta Merta berharap penggunaan QRIS dapat membantu pelaku UMKM di RW 17 memberikan pilihan pembayaran yang lebih praktis bagi konsumen sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.

Penegak Bantara MAN 1 Darussalam Ciamis Ikuti Alfaro Camp

 

CIAMIS — Sebanyak 117 siswa MAN 1 Darussalam Ciamis yang tergabung dalam Pramuka Penegak Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra mengikuti kegiatan Alfaro Camp di Lapangan MAN 1 Darussalam Ciamis, 1–3 Mei 2026. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari proses pelantikan anggota Pramuka Penegak Bantara dengan fokus pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.

Selama tiga hari, peserta menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan kelompok. Kegiatan diawali dengan pengecekan perlengkapan dan upacara pembukaan, dilanjutkan sesi materi tentang organisasi Pramuka oleh Bapak Iing Kuswandi. Ia menekankan bahwa Pramuka merupakan satu-satunya organisasi dengan landasan undang-undang tersendiri yang sekaligus membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya.

Pembina Pramuka MAN 1 Darussalam, Fani Rahman, S.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak semata diukur dari kelulusan sebagai Penegak Bantara, melainkan dari perubahan sikap dan kedewasaan setiap peserta. Menurutnya, proses belajar dalam kepramukaan justru terletak pada keberanian menghadapi tantangan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya.

"Hari ini adalah awal dari perjalanan kalian. Mungkin terasa melelahkan, tetapi setiap langkah yang kalian ambil akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat," tutur Fani Rahman dalam arahannya saat pembukaan.

Hari kedua diisi sesi materi administrasi kepramukaan oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang membahas administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan satuan. Sore harinya, semangat peserta semakin membara dalam Alfaro Festival yang mempertandingkan lomba pionering, P3K, dan jejak petualang. Ketiga lomba tersebut dirancang untuk melatih kekompakan, pengetahuan, dan ketangkasan peserta. Malam harinya, suasana berubah meriah dengan pentas seni yang menampilkan dance, drama, iklan, dan acapella dari masing-masing sangga.

Puncak kegiatan berlangsung dini hari ketika peserta menjalani jurit malam dengan mata tertutup kain kacu, dituntun para senior melewati lorong gelap untuk menemukan "blok bantara" sebagai simbol kelulusan. Suasana menegangkan sekaligus diwarnai gelak tawa, termasuk ketika seorang peserta salah membawa paving block dari jalanan karena keliru memahami instruksi. Setelah jurit malam, seluruh peserta yang berhasil resmi dilantik sebagai Pramuka Penegak Bantara melalui upacara khidmat yang berlangsung pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari.

Hari ketiga ditutup dengan hiking rally sejauh sekitar tiga kilometer yang melewati lima pos tantangan, mulai dari sandi morse, baris-berbaris, pengetahuan kepramukaan, uji kemampuan indera, hingga pos basah-basahan yang diwarnai guyuran air dan teriakan yel-yel kelompok.


 

Syamil Irfan Fatoni, peserta kelas 10, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Baginya, setiap tantangan yang dihadapi selama tiga hari justru menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

"Hari pertama cukup menegangkan, terutama saat pengecekan barang. Tapi dari situ saya belajar pentingnya persiapan dan tanggung jawab," ujarnya.

Alfaro Camp diharapkan menjadi wadah efektif dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di lingkungan Pramuka MAN 1 Darussalam Ciamis.


 


Harmoni Beragama: Kisah Mahasiswa Katolik Timor Leste di Kampus Vokasi Berbasis Islam Cirebon

 



Vokaloka. Cirebon - Suara azan Subuh berkumandang merdu, memecah keheningan pagi di Desa Panambangan, Kecamatan Sedong. Di sebuah kontrakan sederhana, Aquelino da Costa Tilman, mahasiswa asal Timor Leste, terbangun. Dulu, suara panggilan salat itu terasa asing, namun kini menjadi alarm rutinitas kesehariannya. Sementara tak jauh darinya, teman-teman Muslimnya bersiap menunaikan salat.

"Kalau di sini mereka salat, kita kasih waktu untuk mereka bisa salat dulu," ujar Aquelino, mahasiswa yang akrab disapa Aquelino, yang telah hampir setahun menimba ilmu di Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI). "Salah satu bentuk toleransi saya itu, ketika mereka salat di dalam kontrakan, saya di luar dulu tunggu habis (selesai salat)".

Kisah Aquelino dan enam mahasiswa lain dari Timor Leste adalah cerminan toleransi sejati. Mereka semua beragama Kristen Katolik, namun memilih menimba ilmu di Poltek SCI, sebuah kampus vokasi internasional berbasis Islam yang berdiri sejak 2023 di tengah persawahan Cirebon. Lima di antaranya baru tiba pada tahun 2025 ini.

Ekspektasi vs Realitas: Menemukan Keindahan Azan


Jaquelina Amaral Da Silva, mahasiswi Katolik lainnya, mengaku sempat hanya mengenal Islam lewat televisi. Ia sempat mengira suara azan subuh yang ia dengar adalah rekaman.

"Ternyata dari orangnya langsung. Jadi suaranya kok merdu banget, bagus," tuturnya, menceritakan realitas yang ia temukan di Cirebon.

Namun, kedatangan mereka tidak lepas dari kekhawatiran. Stigma negatif tentang ajaran agama Islam sempat menghantui pikiran mereka. Aquelino berterus terang, secara emosional dan fisik ia merasa takut. Sebagai satu-satunya mahasiswa Katolik di tengah ratusan mahasiswa Muslim, ia khawatir akan adanya perlakuan diskriminasi. Apalagi, ia datang dengan penampilan khas Timor Leste—masih memakai anting dan gaya berpakaian yang belum formal menurut standar kampus.

"Tapi sekarang udah biasa," kata Aquelino sambil tersenyum. "Saya belajar lah dari teman-teman. Satu persatu".

Tidur di Mushala, Ikut Tahlil, dan Mengenakan Kopiah

Toleransi yang mereka rasakan jauh melampaui ekspektasi. Salah satu pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika Aquelino pernah diizinkan untuk tidur dan beribadah di mushala.

Kisah ini bermula saat ia tinggal di Kemarang, Cirebon, dengan jarak yang cukup jauh ke gereja. Ia memberanikan diri meminta izin kepada mahasiswa Poltek SCI yang juga seorang pamong desa. "Bang, saya bisa (beribadah) di sini?" tanyanya ragu.

"Ah, enggak apa-apa, boleh," jawab temannya.

Jawaban itu menjadi penilaian toleransi yang paling tinggi bagi Aquelino. Ia merasa sangat bersyukur. Baginya, yang terpenting adalah bisa berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Keterlibatan mereka bahkan semakin mengejutkan. Mahasiswa Katolik ini tak hanya menjadi penonton, tetapi peserta aktif dalam kegiatan keislaman. Aquelino mengaku pernah ikut tahlil, berselawat bersama, dan terlibat dalam kurban, bahkan ikut menjaga dan menyaksikan proses penyembelihan kambing.

Momen paling berkesan lainnya adalah saat ia diminta mengenakan kopiah dalam acara tahlil di kampus. Ia sempat kaget dan khawatir dengan pandangan orang. Namun, teman-temannya meyakinkan bahwa tidak ada larangan, asalkan diizinkan dalam agamanya. Aquelino memahami ini sebagai bentuk toleransi dan keterbukaan yang luar biasa.

Batas Toleransi: Prinsip yang Tak Berubah

Keterlibatan dalam ritual keagamaan lain memunculkan pertanyaan krusial tentang batas toleransi. Aquelino menjawab bahwa ia merasa sudah melampaui batas, tetapi ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya di Cirebon demi pendidikannya.

Ia segera menambahkan prinsip teganya: "Bukan saya menjual kepercayaan gue. Tapi saya punya prinsip".

Bagi para mahasiswa ini, batas toleransi yang sebenarnya adalah ketika keyakinan berubah.

"Kalau saya sudah mengubah keyakinannya, berarti itu sudah melampaui batas," jelas Aquelino.

"Masih normal-normal aja. Karena itu belum benar-benar mengubah keyakinan," tambah Jaquelina.

Keterbukaan mereka berakar kuat pada ajaran Katolik itu sendiri. Aquelino menjelaskan bahwa Katolik bersifat universal atau umum; terbuka untuk berteman dengan orang Muslim, Buddha, Protestan, atau agama lainnya.

"Dia tidak ada larangan untuk orangnya dia itu bisa beribadah di, ikut beribadah di agama lain," tegasnya. Prinsip penting yang mereka pegang adalah baptis hanya satu kali. Mereka juga menganut filosofi kemanusiaan universal: "Prinsipnya kita sesama manusia. Manusia itu sesama saling melengkapi satu sama lain. Karena manusia itu semua orang itu makan nasi, makan makanan. Darah itu satu, cuma darah merah".

Dialog Terbuka sebagai Kunci Harmoni

Dari kegiatan keislaman yang diikuti, mereka mengambil banyak pelajaran positif. Kegiatan seperti tahlil menjadi ruang untuk berbagi cerita, saling terbuka, dan menyelesaikan masalah.

Kunci keberhasilan toleransi ini adalah dialog terbuka sejak awal. Teman-teman Muslim mereka juga sangat komunikatif. Jaquelina mengaku sempat bertanya, "Emang boleh ya kalau saya ikutan gitu?". Ternyata tidak ada halangan. "Komunikasi yang itu terbuka lah, tidak rasis," tegas Jaquelina. Bahkan dalam organisasi kampus, mereka selalu diajak untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Lingkungan Muslim yang adaptif ini juga membawa transformasi personal bagi Aquelino. Ia mengaku telah berhenti minum alkohol sejak datang ke Poltek SCI. Hal ini bukan paksaan, melainkan adaptasi, mengutip pepatah, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijungjung".

"Selama saya masih menitipkan diri untuk bisa mencari ilmu di sini, kita harus ikut budaya dan ilmu di sini seperti apa," katanya.

Harapan dan Pelajaran Penting

Aquelino berpandangan bahwa semua kegiatan yang diikuti bernilai positif. "Agama itu kan sebagai jembatan untuk bisa membawa kita ke jalan yang benar, untuk bisa mengenal Yang Maha Pencipta itu siapa," ujarnya.

Harapannya, teman-teman di luar lingkungan Poltek SCI juga bisa saling menghormati dan menghargai, serta membangun dialog terbuka. "Karena kita, biarpun kita ini berbeda agama, tapi kita cuma tujuan itu satu aja. Percaya pada Yang Maha Kuasa, atau Yang Maha Pencipta".

Kisah mahasiswa Katolik Timor Leste di Poltek SCI mengajarkan bahwa toleransi sejati adalah toleransi aktif. Ini adalah keberanian untuk terlibat, belajar memahami, tanpa kehilangan identitas. Aquelino merangkumnya: "Saya fokus bukan saya membandingkan agama, ... Tapi saya berfokus bisa tahu gimana si orang Muslim itu seperti apa".

Kampus vokasi kecil di pedesaan Cirebon ini membuktikan bahwa harmoni lahir dari keberanian keluar dari zona nyaman, kesediaan untuk memahami yang berbeda, dan kepercayaan bahwa perbedaan agama dapat saling melengkapi.

Penulis: Rokibullah
Mahasiswa Pasca Sarjana KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia



Dedikasi Tanpa Henti Teti Ismawati Kepala Sekolah yang Berjuang untuk Pendidikan Anak Bangsa


Vokaloka, Bandung - Ibu Teti Ismawati, Kepala Sekolah SMP Muslimin 5 Bandung, adalah gambaran nyata dari seorang pendidik sejati, yang memilih jalur pengabdian, bukan sekadar karir. Beliau kini berusia 58 tahun dan akan memasuki masa pensiun pada tahun 2027, sebuah momen yang ditunggunya setelah 36 tahun mengabdi. Meskipun berstatus PNS (DPK) dan merupakan angkatan terakhir yang langsung mendapat SK penugasan di SMP Negeri Jatiluhur, Ibu Teti justru mengukir kisah pengabdian yang mendalam di sekolah swasta.

Perjalanan Ibu Teti di SMP Muslimin 5 dimulai pada tahun 1991, setelah ia memutuskan pindah dari Purwakarta untuk dekat dengan suami yang berada di Bandung. Awalnya, kepindahan ke sekolah swasta ini terasa seperti ujian berat. Ia merasakan perbedaan yang sangat kontras dengan saat mengajar di sekolah negeri, terutama karakter siswa. "Awal gilirnya dulu merasa berat ngajar di sini kenapa karena kan di negeri di negeri itu ternyata, apalagi di daerah ya, di daerah itu sudah meradangan diri. Jadi tidak terlalu untuk disuapi ... Ibu hampir menyerah nih buah anak-anaknya kok gini gitu ya," kenangnya, menceritakan kesulitan di awal masa adaptasi tersebut. 

Ditambah lagi, pada saat itu, duka yang paling terasa adalah kesulitan transportasi dan harus jauh dari keluarga, sendirian di Purwakarta bersama anak kecil. Di tengah segala keterbatasan itu, profesionalitasnya sebagai guru diuji. Ibu Teti harus siap mengajar apapun, bahkan pernah mengampu hingga tiga mata pelajaran sekaligus (maksimal) seperti seni budaya, bahasa Indonesia, dan biologi, karena kebutuhan sekolah. Dedikasi ini menunjukkan bahwa fokusnya adalah pada kebutuhan pendidikan murid.

Titik paling dramatis dalam perjalanan Ibu Teti terjadi sekitar 20 tahun yang lalu, ketika isu gencar beredar bahwa guru PNS yang ditempatkan di sekolah swasta harus kembali ke sekolah negeri. Rekan-rekan sejawatnya pun berbondong-bondong mencari tempat pindah. Namun, Ibu Teti mengambil keputusan kontras yang sangat menyentuh. "Tapi nggak tahu ya hati ibu masih tetap di sini," ujarnya, dengan ketulusan yang mengalahkan logika birokrasi.

Keputusannya ini didukung penuh oleh suami, dan yang paling mengharukan, Yayasan mengirimkan surat yang menyatakan bahwa Ibu Teti masih dibutuhkan di sekolah tersebut. Perasaan kekeluargaan, nyaman, dan merasa diterima menjadi jangkar yang kuat. Perjuangannya dipermudah oleh takdir, sementara rekan-rekannya harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa pindah.

Sejak diangkat menjadi Kepala Sekolah pada tahun 2018 atas dasar kepercayaan Yayasan, Ibu Teti memimpin sekolah dengan penuh empati di tengah persaingan ketat SMP negeri di sekitarnya. Sekolah ini menghadapi tantangan besar jumlah siswa yang kecil serta mayoritas murid berasal dari kalangan menengah ke bawah. Banyak di antaranya memiliki latar belakang keluarga yang rentan, seperti tinggal bersama nenek, atau orang tua berpisah.

Pencapaian terbesarnya adalah kemampuannya mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Jumlah siswa yang sedikit justru dilihat sebagai berkah; Ibu Teti bangga bisa memperhatikan satu demi satu siswa secara personal. Sekolah menerapkan iuran yang sangat rendah, hanya Rp 75.000 per bulan (infak), dan berencana membebaskan uang bangunan sepenuhnya di tahun depan. Prinsip Ibu Teti sangat sederhana: "Pokoknya niatnya sama-sama kita ini ingin mencerdaskan ingin memberikan ilmu itu ya kalau bersama niatnya sama, meskipun banyak tantangan-tantangan..."

Di usianya yang mendekati purna tugas, semangat pengabdian Ibu Teti tidak surut. Beliau bahkan berkeinginan untuk tetap mengabdi di SMP Muslimin 5, meskipun hanya sebagai guru biasa, setelah pensiun sebagai PNS. "Ibu tidak ingin meninggalkan sekolah ini... karena disini pun ternyata masih harus banyak membutuhkan pelajar ya masih membutuhkan kasih jadi ada rasa kesian gitu ya kalau ditinggalkan," tutupnya, sebuah pengakuan yang menyentuh tentang betapa dalam ikatan batinnya dengan sekolah dan anak-anak didiknya.

Reporter : Syifa Nur Fauziah (KPI/5B)

MABIT UPI 2025 di Pesantren Idrisiyyah, Mahasiswa Baru Diajak Mondok Sehari

Vokaloka, Tasikmalaya — $ Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) $ Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya kembali digelar pada 15–16 November 2025 dan tahun ini menghadirkan nuansa berbeda. Bertempat di $ Pesantren Idrisiyyah$ , kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa baru, tradisi pesantren, serta pendekatan spiritualitas Sufi yang telah menjadi ciri khas Idrisiyyah sebagai salah satu tarekat yang aktif di bidang dakwah dan pemberdayaan umat. Melalui konsep mondok sehari, peserta diajak mengenal kehidupan pesantren, spiritualitas, serta nilai-nilai pendidikan Islam.
 
MABIT UPI 2025 merupakan kegiatan kolaborasi antara $ Sufi Training Center $ (STC) Idrisiyyah dan $ DEMA Idrisiyyah$ , yang sejak awal dirancang untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami pembinaan ruhani secara langsung melalui praktik pesantren. Kolaborasi ini semakin memperkuat hubungan antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga keagamaan tradisional, sebuah model sinergi yang mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah. Program pembinaan karakter seperti MABIT UPI menjadi lebih bermakna ketika dilaksanakan di lingkungan spiritual seperti Pesantren Idrisiyyah, karena mahasiswa dapat merasakan langsung pengalaman mondok dan praktik ibadah bersama santri.
 
Suasana Penyambutan dengan Nuansa Khas Pesantren
Rombongan mahasiswa UPI tiba di lingkungan $ Pesantren Idrisiyyah $ pada Sabtu siang. Mereka disambut hangat oleh penampilan hadroh santri yang membawakan shalawat secara syahdu, merdu dan penuh semangat. Kesan religius dan khidmat langsung terasa sejak langkah pertama peserta memasuki area pesantren, menandai awal rangkaian kegiatan yang mengedepankan nilai spiritual.
Acara pembukaan dipusatkan di $ Masjid Al-Fattah$ , salah satu pusat aktivitas spiritual pesantren. Ismail Fadhilah, mahasantri semester 3 program Tasawuf Ma'had Aly Idrisiyyah, memandu jalannya acara dengan hangat dan khidmat.
 
Ketua Yayasan Idrisiyyah, Ust. Adang Nurdin, M.Pd, menyampaikan sambutan pembuka dengan menekankan bahwa pembinaan ruhani merupakan pilar penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, integritas moral dan ketenangan spiritual adalah fondasi yang perlu dibangun sejak masa pendidikan tinggi.
 
Sementara itu Pembimbing Tutorial UPI, Bapak H. Anggi Maulana Rizki, Dip. LC, MA, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kolaborasi ini. Ia menilai, kemitraan antara UPI dan Pesantren Idrisiyyah mampu memperkaya pemahaman mahasiswa tidak hanya dalam aspek ibadah ritual, tetapi juga dalam dinamika sosial keagamaan.
 
Tiga Materi Inti Menyelami Spiritualitas Sufi dan Peran Sosial Tarekat
Hari pertama diisi dengan tiga materi yang memperkenalkan mahasiswa pada tradisi ruhani Idrisiyyah dan relevansinya dalam kehidupan modern.
 
1. Menguatkan Ruhani: Wirid & Amaliyah Ubudiyah Idrisiyyah
Materi pertama disampaikan oleh Ust. Ahmad Faqih, S.Pd yang menjelaskan pentingnya tazkiyatun nafs, disiplin dzikir, serta adab-adab dasar dalam perjalanan spiritual. Mahasiswa dikenalkan dengan struktur wirid serta bagaimana amaliyah ubudiyah berperan dalam menjaga ketenangan mental.
2. Tarekat Idrisiyyah sebagai Manhaj dan Organisasi Dakwah
Pada sesi kedua, Ust. Asep Deni, M.Pd memaparkan peran tarekat dalam konteks sejarah dan sosial. Ia menekankan bahwa Idrisiyyah bukan hanya jalur spiritual individual, melainkan juga lembaga sosial keagamaan yang aktif membina masyarakat melalui pendidikan, pengajian, dan gerakan pemberdayaan.
3. Pemuda Qur'ani dan Kebangkitan Bangsa
Materi ketiga disampaikan kembali oleh Ust. Adang Nurdin, M.Pd, yang mengajak mahasiswa memahami hubungan antara akhlak Qur'ani, kemajuan bangsa dan peran pemuda Muslim sebagai agen perubahan.
Materi-materi ini memberikan wawasan kepada mahasiswa baru UPI Kampus Tasikmlaya bahwa spiritualitas dan pembangunan karakter tidak dapat dipisahkan dari tantangan generasi muda di era modern.
 
Hadroh, Mahalul Qiyam dan I'tikaf
Menjelang malam, suasana semakin syahdu. Hadroh santri kembali mengalun mengiringi pembacaan mahalul qiyam, sebuah tradisi khas pesantren yang menggugah semangat kecintaan kepada Rasulullah
SAW. Lantunan doa dan shalawat mengajak mahasiswa memasuki ruang perenungan yang lebih dalam. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Malam Keakraban (MAKRAB) bersama DEMA dan HIMA Idrisiyyah. Momen ini menjadi forum pertukaran pengalaman antara mahasiswa dan Mahasantri mengenai kehidupan kampus, dinamika kepesantrenan, hingga perjalanan spiritual pribadi masing-masing.
Malam pertama ditutup dengan i'tikaf dan sesi refleksi diri, memberikan ruang bagi peserta untuk mengevaluasi kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka di tengah rutinitas perkuliahan.
 
Hari Kedua: Tahajud, Ziarah, dan Literasi Dakwah Digital
Hari kedua dimulai sejak pukul tiga dini hari melalui kegiatan tahajud dan subuh berjamaah, dilanjutkan tausiyah oleh Ust. Jalaluddin, S.Pd yang menekankan pentingnya kedisiplinan ibadah dalam membentuk karakter pemimpin masa depan.
 
Setelah sarapan dan persiapan penutupan, peserta mengikuti studi lapangan dan ziarah ke sejumlah titik penting di sekitar pesantren, dipandu oleh panitia dari Tim STC. Studi lapangan ini menghubungkan mahasiswa dengan realitas sosial dan budaya pesantren secara langsung.
 
Dakwah Digital: Tema Relevan untuk Mahasiswa Gen-Z
Materi berikutnya adalah sesi diskusi "Dakwah Digital", disampaikan oleh Ustadz Muhammad Abdullah, S.Kom, dan Ustadz Yudi Ginanjars, S.Si, selaku Tokoh Ahli Idrisiyyah di Bidang Dakwah Digital, didampingi Asisten Trainer yakti Tya Putri Aisyah dari Mahasantri semester 5 Program Tasawuf, Ma'had Aly Idrisiyyah.
 
Keduanya menjelaskan bagaimana dakwah dapat dikemas secara kreatif dan bertanggung jawab melalui platform digital. Mahasiswa baru diperkenalkan pada etika bermedia, strategi dakwah kontemporer dan tantangan ruang digital yang sering kali memunculkan hoaks, ujaran kebencian, hingga kekerasan simbolik.
 
Sesi ini menjadi salah satu yang paling relevan karena bersentuhan langsung dengan kehidupan mahasiswa di dunia maya.
 
Penutupan dan Harapan
Kegiatan diakhiri dengan sambutan panitia serta pesan penutup dari Bapak H. Anggi Maulana Rizki, yang menegaskan pentingnya kesinambungan kegiatan pembinaan ruhani bagi mahasiswa. Ia berharap MABIT bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengembangan program serupa yang lebih masif ke depan.
 
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan antara kampus dan pesantren.

Lewat Pekan Literasi, SMK Bandung Timur Dorong Budaya Baca Siswa

Vokaloka, Bandung – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Bandung Timur menggelar Pekan Literasi pada Senin, 6/10/2025, sebagai bentuk nyata upaya menumbuhkan budaya membaca di lingkungan sekolah. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum Iis, dan menjadi pelaksanaan perdana yang diadakan secara khusus tahun ini.

Menurut Iis, tujuan utama dari pekan literasi adalah menanamkan kesadaran pentingnya membaca di kalangan siswa agar tidak kehilangan kemampuan memahami informasi secara mendalam.

"Tujuan pekan literasi agar anak-anak tidak kekurangan literasi, meningkatkan minat baca, dan rasa ingin tahu mereka supaya pemahaman dalam membaca semakin baik," ujarnya.

Ia menambahkan, kemampuan literasi menjadi dasar sebelum numerasi, sebab kemampuan berpikir logis dan memahami angka biasanya diawali dari kemampuan membaca dan menafsirkan teks.

"Kemampuan numerasi anak biasanya berawal dari literasi terlebih dahulu, sehingga literasi menjadi dasar penting sebelum numerasi," jelasnya.

Selama pelaksanaan pekan literasi, sekolah menerapkan sejumlah cara kreatif agar siswa lebih fokus membaca. Salah satunya dengan menyediakan kotak khusus di setiap kelas untuk menyimpan gadget. Dengan begitu, siswa bisa lepas sejenak dari layar ponsel dan menumbuhkan konsentrasi penuh saat membaca buku.

"Kami menyediakan box di setiap kelas untuk menyimpan gadget, supaya anak-anak benar-benar fokus membaca buku," tambahnya.

Kegiatan pekan literasi dilaksanakan setiap hari Senin selama Bulan Bahasa, menggantikan sebagian waktu upacara bendera dengan kegiatan membaca dan diskusi buku. Setiap pekan, sekolah menyiapkan berbagai jenis buku dari perpustakaan sekolah, mulai dari buku pelajaran seperti bahasa dan matematika, hingga buku umum seperti hukum, sains, hingga novel-novel ringan yang disesuaikan dengan minat siswa.

Setiap kelas mendapat giliran mengikuti kegiatan secara bergantian. Guru dan wali kelas bertugas sebagai pembina, sementara perwakilan siswa menjadi panitia pelaksana kegiatan. Siswa diminta membaca buku pilihan mereka selama waktu yang telah ditentukan, kemudian menuliskan resume atau ringkasan singkat isi buku. Beberapa perwakilan dari setiap kelas kemudian dipilih untuk mempresentasikan hasil bacaannya di depan teman-teman.

Kegiatan ini menjadi momen interaktif di mana siswa belajar mengungkapkan pendapat dan menyampaikan kembali isi bacaan dengan gaya mereka sendiri. Guru juga memberikan bimbingan agar siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna dan pesan dari setiap bacaan.

Dari sisi siswa, kegiatan ini mendapat tanggapan positif. Sofi, siswi kelas XI Akuntansi, mengatakan bahwa pekan literasi memberikan pengalaman baru yang seru sekaligus menantang.

"Seru banget, soalnya kita bukan cuma baca tapi juga ngeresum dan review buku yang dibaca. Jadi kayak tantangan, gimana caranya biar kita paham dan bisa nyeritain lagi isi buku itu," ungkapnya.

Sementara itu, Mutia, rekan satu kelasnya, mengaku kegiatan ini membuat siswa lebih semangat dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

"Terasa banget manfaatnya. Jadi bisa ngembangin lagi literasi di sekolah, bisa ngasah otak biar cepat nyerap isi bacaan sebelum pembelajaran dimulai. Seru juga karena bisa sharing sama temen-temen tentang cerita yang dibaca," katanya.

Mutia menuturkan bahwa buku yang ia baca berjudul Bumi Murka, sebuah buku bertema sains yang bercerita tentang fenomena alam seperti gempa bumi dan tsunami. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tapi juga melatih keberanian siswa untuk berbicara di depan umum.

Melalui kegiatan ini, SMK Bandung Timur berharap siswa dapat membangun kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Iis menegaskan bahwa Pekan Literasi menjadi langkah awal untuk memperkuat Gerakan Literasi Sekolah yang selama ini sudah berjalan dalam kegiatan pembelajaran harian.

"Harapannya kegiatan ini bisa jadi budaya, bukan hanya di bulan bahasa, tapi juga di hari-hari biasa," tutupnya.

Dengan semangat Bulan Bahasa, Pekan Literasi di SMK Bandung Timur tidak hanya menjadi ajang membaca bersama, tetapi juga wadah untuk mengasah kemampuan berpikir, berbicara, dan menulis. Sekolah berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai sarana membangun generasi muda yang gemar membaca, kritis, dan berdaya pikir luas.

Reporter: Dhia Disti Salsabila, KPI 5/B


SMK Bandung Timur Tanamkan Nilai Disiplin Lewat Program PDKS

Vokaloka, Bandung –  SMK Bandung Timur menggelar kegiatan Pelatihan Dasar Kedisiplinan Siswa (PDKS) pada tanggal 11/10/2025. Kegiatan ini berbarengan dengan penerimaan rapor siswa oleh orang tua, sehingga suasana di sekolah terasa lebih semarak. Para siswa tampak antusias sejak pagi, mengenakan seragam rapi dan bersiap mengikuti rangkaian kegiatan yang dipandu langsung oleh instruktur dari TNI, yang dianggap ahli dalam hal kedisiplinan.

Kegiatan dimulai dengan apel pembukaan di lapangan sekolah. Terlihat para siswa berdiri rapi sambil mendengarkan arahan instruktur. Suasana menjadi hidup ketika instruktur memberikan simulasi kedisiplinan, mulai dari baris-berbaris hingga latihan fisik ringan. Beberapa siswa tampak semangat penuh, mengikuti setiap arahan dengan tekun, sementara beberapa siswa dengan kondisi fisik lemah harus meninggalkan latihan lebih awal. Namun, kegembiraan tetap terasa di seluruh lapangan, terlihat dari sorak-sorai siswa yang berhasil menyelesaikan setiap tantangan.

Salah satu siswa, Mutia, mengaku kegiatan ini sangat menarik sekaligus menantang.

"Awalnya saya sedikit terkejut karena ini pertama kali dididik langsung oleh TNI. Nada keras dan disiplin ketat membuat kaget, tapi kegiatan ini seru dan menantang. Rasanya berbeda banget dari pelajaran biasa di kelas," ungkapnya.

Selain kegiatan fisik, siswa juga diberikan pengarahan tentang pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Para instruktur menjelaskan bahwa disiplin bukan hanya soal fisik, tetapi juga menyangkut sikap, tanggung jawab, dan kesadaran diri.

Menurut Kepala Sekolah, Surya A.Md. Komp, SH, M.M, PDKS diadakan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter disiplin siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Program ini termasuk dalam kurikulum pendidikan dan dirancang selama satu tahun, dimulai dari tahap pra-PDKS, kemudian kegiatan inti selama tiga hari, dengan pemantauan disiplin setiap minggu dan laporan bulanan.

"Program ini dibuat karena disiplin merupakan salah satu pintu menuju kesuksesan. Kami ingin siswa memiliki kesadaran disiplin yang tumbuh, menjadi pribadi berkarakter baik, dan siap menghadapi tantangan lingkungan," jelasnya.

Surya menambahkan, siswa yang melanggar disiplin akan mendapatkan penanganan khusus, termasuk kerjasama dengan psikolog untuk menelusuri penyebab pelanggaran. Selain itu, nilai sikap siswa juga menjadi bagian dari penilaian rapor, sehingga pembentukan karakter siswa tidak hanya bersifat formal, tetapi juga diukur dan dipantau secara konsisten. Program ini juga merupakan implementasi dari kebijakan Panca Wulya provinsi, sebagai langkah nyata membentuk karakter siswa sejak dini.

Suasana kegiatan PDKS semakin hidup ketika siswa mengikuti simulasi situasi nyata, seperti latihan baris-berbaris sambil menjaga ketertiban dan disiplin. Beberapa siswa saling memberi semangat, sementara instruktur TNI menegur dengan nada tegas namun tetap memberi arahan yang jelas. Para orang tua yang hadir untuk menerima rapor juga menyaksikan kegiatan ini, memberi dukungan moral bagi anak-anak mereka.

Melalui kegiatan ini, SMK Bandung Timur berharap siswa dapat menjadi pribadi yang berkarakter baik, disiplin, hormat kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, dan mampu menghadapi lingkungan negatif dengan sikap bijak. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar kemandirian, kerja sama, dan keberanian dalam menghadapi tantangan fisik maupun mental. Dengan semangat membangun generasi muda yang disiplin dan berkarakter, PDKS di SMK Bandung Timur menjadi kegiatan penting yang tidak hanya menekankan fisik, tetapi juga pembentukan sikap, karakter, dan mental siswa.

Reporter: Dhia Disti Salsabila, KPI 5/B

Pembina Pramuka MTs Baabussalaam Tanamkan Nasionalisme Lewat Lagu dan PBB



Vokaloka.com, Bandung – Anggota Pramuka MTs Baabussalaam Bandung menumbuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme melalui kegiatan menyanyikan lagu wajib, lagu nasional, lagu daerah, serta latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan Buku SKU (Syarat Kecakapan Umum) Pramuka.

Pembina Pramuka MTs Baabussalaam, Herna Wati, S.Pd.I., MG., mengatakan peserta didik sangat bersemangat dalam mengikuti kegiatan. "Anggota Pramuka sangat antusias sekali, bahkan mereka minta tambahan waktu Pramuka," ujarnya, Jumat (3/10/2025).

Selain sebagai kewajiban dalam kegiatan kepramukaan, menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah dinilai mampu memperkuat rasa cinta tanah air serta mengenalkan budaya bangsa kepada generasi muda. Latihan PBB juga menjadi sarana membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab siswa.

Namun demikian, Herna Wati, mengakui ada kendala yang dihadapi dalam pembinaan Pramuka, terutama soal pendanaan. "Kadang merasa sulit untuk mengadakan kegiatan di luar lingkungan sekolah seperti perlombaan, perkemahan, dan lain-lain," jelasnya.

Meski menghadapi keterbatasan, pihak sekolah dan pembina tetap berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan Pramuka secara rutin, agar siswa semakin terlatih, berkarakter, serta memiliki jiwa nasionalisme yang kuat.


Lutfiah Nurrahma Faisal KPI 5 B

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka