ad, Senin (1/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan universitas, rektor, wakil rektor, dekan, wakil Dekan, ketua lab fakultas, ketua prodi sampai sekretaris prodi di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


CIAMIS — Sebanyak 117 siswa MAN 1 Darussalam Ciamis yang tergabung dalam Pramuka Penegak Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra mengikuti kegiatan Alfaro Camp di Lapangan MAN 1 Darussalam Ciamis, 1–3 Mei 2026. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari proses pelantikan anggota Pramuka Penegak Bantara dengan fokus pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.
Selama tiga hari, peserta menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan kelompok. Kegiatan diawali dengan pengecekan perlengkapan dan upacara pembukaan, dilanjutkan sesi materi tentang organisasi Pramuka oleh Bapak Iing Kuswandi. Ia menekankan bahwa Pramuka merupakan satu-satunya organisasi dengan landasan undang-undang tersendiri yang sekaligus membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya.
Pembina Pramuka MAN 1 Darussalam, Fani Rahman, S.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak semata diukur dari kelulusan sebagai Penegak Bantara, melainkan dari perubahan sikap dan kedewasaan setiap peserta. Menurutnya, proses belajar dalam kepramukaan justru terletak pada keberanian menghadapi tantangan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya.
"Hari ini adalah awal dari perjalanan kalian. Mungkin terasa melelahkan, tetapi setiap langkah yang kalian ambil akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat," tutur Fani Rahman dalam arahannya saat pembukaan.
Hari kedua diisi sesi materi administrasi kepramukaan oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang membahas administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan satuan. Sore harinya, semangat peserta semakin membara dalam Alfaro Festival yang mempertandingkan lomba pionering, P3K, dan jejak petualang. Ketiga lomba tersebut dirancang untuk melatih kekompakan, pengetahuan, dan ketangkasan peserta. Malam harinya, suasana berubah meriah dengan pentas seni yang menampilkan dance, drama, iklan, dan acapella dari masing-masing sangga.
Puncak kegiatan berlangsung dini hari ketika peserta menjalani jurit malam dengan mata tertutup kain kacu, dituntun para senior melewati lorong gelap untuk menemukan "blok bantara" sebagai simbol kelulusan. Suasana menegangkan sekaligus diwarnai gelak tawa, termasuk ketika seorang peserta salah membawa paving block dari jalanan karena keliru memahami instruksi. Setelah jurit malam, seluruh peserta yang berhasil resmi dilantik sebagai Pramuka Penegak Bantara melalui upacara khidmat yang berlangsung pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari.
Hari ketiga ditutup dengan hiking rally sejauh sekitar tiga kilometer yang melewati lima pos tantangan, mulai dari sandi morse, baris-berbaris, pengetahuan kepramukaan, uji kemampuan indera, hingga pos basah-basahan yang diwarnai guyuran air dan teriakan yel-yel kelompok.
Syamil Irfan Fatoni, peserta kelas 10, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Baginya, setiap tantangan yang dihadapi selama tiga hari justru menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
"Hari pertama cukup menegangkan, terutama saat pengecekan barang. Tapi dari situ saya belajar pentingnya persiapan dan tanggung jawab," ujarnya.
Alfaro Camp diharapkan menjadi wadah efektif dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di lingkungan Pramuka MAN 1 Darussalam Ciamis.
Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial menjadi realitas sehari-hari yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah kemajemukan itu, toleransi sering kali hanya berhenti sebagai slogan, belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Di sinilah kisah Sri Wahyuni, atau yang akrab disapa Enci, memberi pelajaran berharga tentang makna toleransi yang tumbuh dari pengalaman hidup.
Sejak kecil, Enci tumbuh di lingkungan yang beragam. Ia terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang agama yang berbeda, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap iman dan keberagaman. Bagi Enci, perbedaan keyakinan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan hidup yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.
Iman, dalam pandangan Enci, tidak berdiri sebagai identitas yang kaku dan eksklusif. Ia memaknainya sebagai proses yang terus bertumbuh seiring perjalanan hidup. Keyakinan agama justru menjadi sumber nilai yang menuntun sikap empati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama. Dari sini, toleransi tidak lahir dari paksaan atau formalitas, tetapi tumbuh secara alami dari kesadaran kemanusiaan.
Pengalaman Enci bergaul dalam komunitas yang multireligius semakin memperkaya pemahamannya. Ia merasakan bagaimana diterima tanpa label agama menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Relasi lintas agama yang terbangun tidak selalu melalui dialog formal atau diskusi teologis, melainkan melalui interaksi sederhana: bekerja sama, berbincang santai, dan saling mendengarkan. Justru dari relasi sehari-hari inilah toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.
Kisah Enci menunjukkan bahwa toleransi bukan berarti mengaburkan iman atau melemahkan keyakinan. Sebaliknya, iman yang dipahami secara dewasa justru mendorong seseorang untuk bersikap lebih humanis. Enci tetap teguh pada keyakinannya, namun pada saat yang sama mampu menghormati keyakinan orang lain. Di sinilah toleransi menemukan maknanya sebagai sikap aktif untuk menjaga relasi yang harmonis di tengah perbedaan.
Di tengah maraknya polarisasi dan narasi kebencian yang kerap mewarnai ruang publik, cerita iman Enci menjadi pengingat bahwa toleransi dapat dipelajari dari pengalaman hidup yang sederhana. Toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari kesediaan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan semata sebagai "yang berbeda".
Belajar dari kisah Enci, kita diajak untuk merefleksikan kembali cara kita memaknai iman dan keberagaman. Apakah iman kita mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari sesama? Toleransi sejatinya bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan secara bermartabat. Dan dari cerita iman Enci, kita belajar bahwa toleransi yang tulus selalu berangkat dari kemanusiaan.