Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

NEWS

Indeks →
Memuat NEWS...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Agama

Indeks →
Memuat Agama...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Tokoh

Indeks →
Memuat Tokoh...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Life Style

Indeks →
Memuat Life Style...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Beasiswa

Indeks →
Memuat Beasiswa...

Trending

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Perkuat Tata Kelola Koperasi, Dinas KUKM Kabupaten Bandung Selenggarakan Workshop Penyusunan SOM dan SOP Koperasi

Vokaloka, Bandung — Sebanyak 50 peserta yang berasal dari 25 koperasi di Kabupaten Bandung mengikuti Workshop Penyusunan Standar Operasional Manajemen (SOM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengawasan Internal Koperasi Tahun 2026, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kabupaten Bandung tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Workshop digelar untuk memperkuat kapasitas pengurus, pengawas, dan pengelola koperasi dalam membangun tata kelola organisasi yang sehat. Melalui kegiatan ini, peserta didorong tidak hanya memahami prinsip pengawasan internal, tetapi juga mampu menyusun SOM dan SOP yang sesuai dengan karakteristik dan proses bisnis koperasi masing-masing.

Wini Arsianti, SP., M.Si., pejabat fungsional/pengawas koperasi pada Dinas KUKM Kabupaten Bandung menyampaikan dalam laporannya sebagai panitia bahwa workshop diarahkan pada sejumlah tujuan utama.

"Tujuan kegiatan workshop ini meningkatkan kapasitas pengelolaan koperasi, mendorong penyusunan dokumen SOM dan SOP internal, meningkatkan kualitas tata kelola dan kesehatan koperasi, serta meningkatkan kesejahteraan anggota dan pelayanan ekonomi melalui sistem pengawasan yang efektif," ungkapnya.

Kegiatan dibuka oleh Heintje Herlando, S.E., Kepala Bidang Penilaian dan Pengawasan Koperasi Dinas KUKM Kabupaten Bandung. Dalam sambutannya, Heintje menekankan bahwa ukuran keberhasilan koperasi tidak semata-mata dilihat dari berjalannya kegiatan usaha, tetapi juga dari tingkat kesehatan organisasi dan kualitas tata kelolanya.

“Koperasi yang baik adalah koperasi yang sehat, koperasi yang memiliki tata kelola administrasi yang baik, tertib keuangan, pengeluaran yang benar, pembagian tugas yang jelas, serta sistem pengawasan yang baik,” kata Heintje saat membuka kegiatan.

Menurut Heintje, pengawas koperasi tidak seharusnya hanya menyampaikan laporan pengawasan pada waktu tertentu. Seorang pengawas juga harus memahami proses bisnis koperasi, ketentuan yang berlaku, berbagai risiko yang mungkin muncul, serta memastikan pengurus dan pengelola menjalankan tugas sesuai aturan dan keputusan yang telah ditetapkan organisasi.

Ia menambahkan bahwa sistem pengawasan yang baik harus mampu mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Karena itu, paradigma pengawasan koperasi perlu diubah dari sekadar kegiatan untuk mencari kesalahan menjadi bagian integral dari sistem manajemen koperasi.

“Pengawasan harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem manajemen koperasi untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, sesuai ketentuan, dan sesuai kepentingan koperasi serta anggotanya,” ujarnya.

Salah satu fondasi penting untuk mewujudkan sistem tersebut, lanjut Heintje, adalah tersedianya SOM dan SOP yang jelas serta dapat diterapkan. SOM dan SOP tidak seharusnya berhenti sebagai kelengkapan administrasi, tetapi harus benar-benar menjadi pedoman dalam menjalankan kegiatan operasional sehari-hari.

“SOM dan SOP bukan hanya dokumen yang disimpan di dalam lemari atau dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi. SOM dan SOP harus menjadi pedoman kerja yang benar-benar digunakan dalam kegiatan operasional koperasi,” tegas Heintje.

Melalui SOM dan SOP yang baik, koperasi diharapkan mempunyai kepastian dalam bekerja, mengambil keputusan, membagi kewenangan, dan menjalankan fungsi pengawasan. Namun, penyusunannya juga tidak dapat diseragamkan karena setiap koperasi memiliki bidang usaha, karakteristik anggota, proses bisnis, serta persoalan yang berbeda.

Workshop menghadirkan Widdy Rizaldi Rabbani dari Becoop, Cubic Inkubator, dan Rumah Kesejahteraan sebagai narasumber. 

Peserta workshop adalah para pengawas koperasi yang berasal dari 25 koperasi, yakni Primer Koperasi Wredatama Padaringan Cicalengka, Koperasi Konsumen Kebon Kapas Sejahtera, Koperasi Serba Usaha Ikatan Mitra Usaha Cileunyi, Koperasi Konsumen Warga Sacil Sejahtera, Koperasi Konsumen Sauyunan Warga Sejahtera, Koperasi Konsumen Sadulur Mitra Sejahtera, Koperasi Konsumen Bintang Sembilan Citra Kabisa, Koperasi Simpan Pinjam Cahaya Nararay, Koperasi Pemasaran Galumpit Jaya Abadi, Koperasi Konsumen Goah Samping Ambu, Koperasi Produsen Sinar Jagung Priangan, Koperasi Simpan Pinjam Linggar Riksa Amanah, serta Koperasi Konsumen Wahana Sejahtera Mandiri.

Selain itu, peserta berasal dari Koperasi Jasa Angkutan Umum Chakra Manunggal Sejahtera, Koperasi Konsumen Perempuan Kencana Rancaekek, Koperasi Pegawai Republik Indonesia SMKN 1 Rancaekek Bakti, Koperasi Konsumen Industri PT Indoneptune Net Manufacturing, Koperasi Konsumen Andalas SMP Negeri Cikancung, Koperasi Pegawai Pendidikan Mandiri Kecamatan Cikancung, Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu'min, KPRI Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Cilengkrang Melati, Koperasi Konsumen Sehati Bukit Padjajaran, Koperasi Konsumen Primkop Kartika Vyata Pinaka Yudha, Koperasi Konsumen Aneka Usaha Puspa, dan Koperasi Desa Merah Putih Cileunyi Wetan.

Uwes Fatoni, Ketua Pengawas Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu'min, Salah seorang peserta workshop menilai workshop tersebut penting karena SOM dan SOP dapat menjadi instrumen nyata bagi pengawas dalam menjalankan tugasnya secara lebih sistematis. Menurutnya, dokumen pengawasan akan lebih bermanfaat jika benar-benar diterapkan dalam kegiatan koperasi dan dievaluasi sesuai perkembangan organisasi.

“Bagi kami sebagai pengawas koperasi, SOM dan SOP jangan berhenti menjadi dokumen administratif. Keduanya harus menjadi alat kerja yang membantu pengurus, pengelola, dan pengawas mengetahui siapa melakukan apa, bagaimana prosedurnya, serta bagaimana pengawasan dilakukan. Dengan sistem yang jelas, persoalan bisa dideteksi lebih awal sebelum menjadi masalah yang lebih besar,” kata Uwes.

Lewat Program Pengajian yang Interaktif, Mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung Tumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak-anak RW 17 Desa Tenjolaya

image.png

Vokaloka, Bandung – Pengajian khusus anak-anak kembali digelar melalui program Gerakan Mengajar Ngaji yang diinisiasi mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 2 Tirta Merta. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) di Masjid Jami Al-Furqon, RW 17, Desa Tenjolaya. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak RW 17 jenjang SD hingga SMP.

Program tersebut dilaksanakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat sebagai upaya menghadirkan kegiatan pengajian yang interaktif khusus bagi anak-anak di lingkungan RW 17. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, dan Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin.

Kegiatan diawali dengan doa bersama. Anak-anak kemudian dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu kelas 1–3 SD, kelas 4–6 SD, dan SMP. Pembagian tersebut dilakukan agar materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing kelompok.

Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, storytelling, sesi tanya jawab, dan kuis. Materi keagamaan disisipkan dalam cerita agar pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Kuis juga diberikan untuk mendorong anak-anak lebih aktif berpartisipasi, dengan hadiah sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang berani menjawab.

Salah satu peserta, Salwa, mengaku senang dengan kehadiran mahasiswa KKN. Menurutnya, kuis yang diberikan saat mengaji membuat dirinya lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan, termasuk ketika berada di sekolah.

“Seneng ada kakak-kakak KKN, apalagi ada kuis pas ngaji jadi percaya diri di sekolah juga, yang awalnya takut kalau mau jawab,” ujarnya.

Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN membuat kegiatan pengajian anak-anak kembali berjalan di masjid.

“Alhamdulillah, dengan adanya mahasiswa KKN bisa ada pengajian lagi untuk anak-anak. Terima kasih, semoga menjadi ladang pahala,” ungkapnya.

Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin, turut mengapresiasi kegiatan yang diadakan mahasiswa KKN bagi anak-anak di wilayahnya.

“Alhamdulillah, terima kasih adik-adik KKN. Semoga berkah dan bermanfaat,” ujarnya.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, menjelaskan bahwa program tersebut digelar berdasarkan kondisi yang ditemukan mahasiswa selama menjalankan KKN di RW 17. Menurutnya, anak-anak perlu memiliki akses pembelajaran agama yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kami melihat di sini untuk akses belajar ilmu agama cukup jauh, harus ke RW tetangga. Oleh karena itu, program Gerakan Mengajar Ngaji menjadi proker pendukung yang penting untuk direalisasikan untuk memberikan dan menguatkan pemahaman agama adik-adik di sini,” jelasnya.

Menurut Rahadian, penggunaan metode interaktif menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kuis dan sesi tanya jawab digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong anak-anak agar lebih berani bertanya dan menjawab.

Setelah seluruh rangkaian pembelajaran dan kuis selesai, kegiatan ditutup dengan doa kafaratul majelis dan melaksanakan salat Isya berjamaah di Masjid Jami Al-Furqon.

Melalui Gerakan Mengajar Ngaji, mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung berharap kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman agama anak-anak RW 17, tetapi juga membantu mereka menjadi lebih berani bertanya, menjawab, dan menyampaikan pendapat dalam proses pembelajaran.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.

Alumni KPI UIN Bandung Terpilih sebagai Ketua PWI Jawa Barat 2026–2031

VOKALOKA.COM, BANDUNG — Alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Tantan Sulthon Bukhawan, terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026–2031.

Tantan Sulthon Bukhawan merupakan alumni KPI UIN Bandung angkatan 1996. Kiprahnya di dunia kewartawanan mengantarkannya mendapat kepercayaan untuk memimpin organisasi profesi wartawan di Jawa Barat selama lima tahun ke depan.

Terpilihnya Tantan mendapat apresiasi dari keluarga besar KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Nase, M.M., didampingi Sekretaris Jurusan Dr. H. Uwes Fatoni, M.Ag., menilai capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus menunjukkan kiprah alumni KPI dalam dunia jurnalistik.

“Terpilihnya Tantan menjadi kebanggaan bagi keluarga besar KPI UIN Bandung. Ini menunjukkan bahwa alumni memiliki kapasitas untuk berkontribusi dan mengambil peran penting dalam dunia jurnalistik. Semoga amanah dan dapat membawa PWI Jawa Barat semakin maju, profesional, serta tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik,” ujarnya.

Kepemimpinan Tantan diharapkan semakin memperkuat peran PWI Jawa Barat dalam mendorong praktik jurnalistik yang berkualitas, profesional, dan beretika di tengah perubahan lanskap industri media.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat terpilih, Tantan, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia juga menegaskan komitmennya untuk membawa organisasi kewartawanan tersebut menjadi lebih responsif, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Secara khusus, Tantan menyampaikan rasa terima kasih kepada almamaternya, Universitas Islam Negeri (UIN), yang menjadi tempatnya menimba ilmu sekaligus membangun landasan awal dalam dunia jurnalistik.

“Amanah ini adalah tanggung jawab besar. Landasan etik dan nilai-nilai dasar jurnalistik yang saya pegang hari ini tidak lepas dari proses belajar saya saat menimba ilmu di Kampus UIN. Pondasi itulah yang menjadi modal utama saya dalam berkarya hingga dipercaya memimpin PWI Jawa Barat," ungkap Tantan.

Menurut Tantan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dunia pers. Di tengah derasnya arus informasi, wartawan dituntut tetap menjaga profesionalisme dan marwah jurnalistik.

"PWI Jawa Barat harus menjadi rumah yang inklusif, profesional, dan mampu melindungi seluruh anggotanya", ujar Tantan.

Di era keterbukaan informasi, lanjut Tantan, kecepatan bukan satu-satunya tuntutan bagi wartawan. Praktik jurnalistik juga harus tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Terpilihnya Tantan menambah rekam jejak kontribusi alumni KPI UIN Bandung di tengah masyarakat, khususnya dalam bidang media dan jurnalistik. Capaian tersebut juga diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda KPI untuk terus mengembangkan kompetensi serta mengambil peran dalam kehidupan profesional dan publik.

Dengan amanah sebagai Ketua PWI Jawa Barat periode 2026–2031, Tantan diharapkan mampu membawa organisasi tersebut semakin maju sekaligus menjaga integritas dan profesionalisme pers di tengah dinamika industri media dan perkembangan teknologi informasi.

UIN Bandung Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026


Bandung, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Upacara Bendera Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Upacara depan Gedung Anwar Musadd
Uploaded Image

ad, Senin (1/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan universitas,  rektor, wakil rektor, dekan, wakil Dekan, ketua lab fakultas, ketua prodi  sampai sekretaris prodi di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan pidato resmi Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., 

Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia,”  menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi jawaban atas tantangan global dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Dalam amanatnya disampaikan bahwa Pancasila telah terbukti menjadi bintang penuntun bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Di tengah kondisi dunia yang diwarnai ketidakpastian, konflik, dan ancaman fragmentasi sosial, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau serta ratusan suku dan budaya.

Pancasila juga disebut sebagai jangkar moral bangsa dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika politik global. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia untuk tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.
Dalam pidato tersebut ditegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam percaturan dunia.

Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk turut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi bagian dari Pancasila dipandang sebagai instrumen diplomasi yang relevan untuk menjembatani perbedaan dan membantu penyelesaian berbagai konflik internasional. Hal ini tercermin melalui kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran aktif dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih mengalami penjajahan.

Lebih lanjut, disampaikan  bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus selalu disertai dengan arah moral yang kuat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, diajak untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simbol atau teks yang tertulis dalam buku sejarah.

“Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi persatuan, kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya, dan mampu menjadi teladan dalam membangun perdamaian dunia,” demikian pesan yang disampaikan rektor.

Upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk memperkuat komitmen dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Selamat Hari Lahir Pancasila. Jayalah Indonesia” menutup amanat yang menggema di tengah pelaksanaan upacara. Rektor mengajak seluruh civitas akademik UIN SGD Bandung untuk terus menjaga persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan damai.
Uploaded Image Uploaded Image

Penegak Bantara MAN 1 Darussalam Ciamis Ikuti Alfaro Camp

 

CIAMIS — Sebanyak 117 siswa MAN 1 Darussalam Ciamis yang tergabung dalam Pramuka Penegak Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra mengikuti kegiatan Alfaro Camp di Lapangan MAN 1 Darussalam Ciamis, 1–3 Mei 2026. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari proses pelantikan anggota Pramuka Penegak Bantara dengan fokus pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.

Selama tiga hari, peserta menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan kelompok. Kegiatan diawali dengan pengecekan perlengkapan dan upacara pembukaan, dilanjutkan sesi materi tentang organisasi Pramuka oleh Bapak Iing Kuswandi. Ia menekankan bahwa Pramuka merupakan satu-satunya organisasi dengan landasan undang-undang tersendiri yang sekaligus membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya.

Pembina Pramuka MAN 1 Darussalam, Fani Rahman, S.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak semata diukur dari kelulusan sebagai Penegak Bantara, melainkan dari perubahan sikap dan kedewasaan setiap peserta. Menurutnya, proses belajar dalam kepramukaan justru terletak pada keberanian menghadapi tantangan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya.

"Hari ini adalah awal dari perjalanan kalian. Mungkin terasa melelahkan, tetapi setiap langkah yang kalian ambil akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat," tutur Fani Rahman dalam arahannya saat pembukaan.

Hari kedua diisi sesi materi administrasi kepramukaan oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang membahas administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan satuan. Sore harinya, semangat peserta semakin membara dalam Alfaro Festival yang mempertandingkan lomba pionering, P3K, dan jejak petualang. Ketiga lomba tersebut dirancang untuk melatih kekompakan, pengetahuan, dan ketangkasan peserta. Malam harinya, suasana berubah meriah dengan pentas seni yang menampilkan dance, drama, iklan, dan acapella dari masing-masing sangga.

Puncak kegiatan berlangsung dini hari ketika peserta menjalani jurit malam dengan mata tertutup kain kacu, dituntun para senior melewati lorong gelap untuk menemukan "blok bantara" sebagai simbol kelulusan. Suasana menegangkan sekaligus diwarnai gelak tawa, termasuk ketika seorang peserta salah membawa paving block dari jalanan karena keliru memahami instruksi. Setelah jurit malam, seluruh peserta yang berhasil resmi dilantik sebagai Pramuka Penegak Bantara melalui upacara khidmat yang berlangsung pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari.

Hari ketiga ditutup dengan hiking rally sejauh sekitar tiga kilometer yang melewati lima pos tantangan, mulai dari sandi morse, baris-berbaris, pengetahuan kepramukaan, uji kemampuan indera, hingga pos basah-basahan yang diwarnai guyuran air dan teriakan yel-yel kelompok.


 

Syamil Irfan Fatoni, peserta kelas 10, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Baginya, setiap tantangan yang dihadapi selama tiga hari justru menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

"Hari pertama cukup menegangkan, terutama saat pengecekan barang. Tapi dari situ saya belajar pentingnya persiapan dan tanggung jawab," ujarnya.

Alfaro Camp diharapkan menjadi wadah efektif dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di lingkungan Pramuka MAN 1 Darussalam Ciamis.


 


Ketika Perbedaan Bukan Masalah: Cerita Toleransi


Shasya Rajendra merupakan individu yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang majemuk. Lahir dan besar di Kota Bandung, Shasya menjalani proses pendidikan di institusi yang beragam, mulai dari SD Merdeka, SMP Negeri 28, SMA swasta BPI, hingga melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran melalui jalur diploma dan ekstensi di Widyatama. Lingkungan pendidikan dan sosial yang plural tersebut membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman agama, budaya, dan nilai-nilai sosial.

Dalam pengalaman hidupnya, Shasya menyampaikan bahwa hingga saat ini ia tidak pernah merasakan konflik nilai agama secara langsung dalam relasi lintas agama. Perbedaan antara Islam, Kristen, Buddha, maupun keyakinan lainnya tidak pernah ia rasakan sebagai sumber pertentangan. Justru, relasi lintas agama berjalan secara harmonis dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan toleransi. Bagi Shasya, perbedaan keyakinan merupakan kenyataan sosial yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.

Menariknya, menurut Shasya, konflik yang kerap muncul dalam masyarakat justru sering kali terjadi bukan antaragama, melainkan di dalam agama yang sama. Ia menyoroti adanya perbedaan praktik keagamaan, kebiasaan, maupun mazhab—seperti perbedaan penggunaan qunut, penyebutan tertentu dalam doa, dan tradisi ibadah lainnya—yang terkadang memicu ketegangan antar sesama pemeluk agama. Dalam pandangannya, konflik semacam ini menjadi ironi yang patut dikaji secara lebih mendalam, khususnya oleh kalangan akademisi, karena bertentangan dengan nilai dasar agama yang menjunjung perdamaian dan persaudaraan.

Dalam menyikapi keberagaman, Shasya memegang teguh nilai toleransi yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia meyakini bahwa sebagai warga negara Indonesia, sikap toleran bukan hanya pilihan moral, melainkan tanggung jawab sosial. Ia menekankan pentingnya menghargai perbedaan agama, kepercayaan, budaya, dan bahasa sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang plural.

Komitmen Shasya terhadap nilai toleransi juga tercermin melalui keterlibatannya dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor, yang memiliki visi dan misi menegakkan toleransi demi persatuan. Melalui organisasi tersebut, Shasya terlibat langsung dalam praktik toleransi nyata di masyarakat, salah satunya dengan ikut menjaga dan mendukung kelancaran perayaan Natal di gereja bersama rekan-rekan yang berbeda keyakinan. Bagi Shasya, tindakan sederhana seperti saling membantu dan menjaga keamanan dalam perayaan keagamaan merupakan wujud toleransi yang paling nyata dan bermakna.
 

Oleh Sri Wahyuni
 

Sri Wahyuni : Perbedaan Keyakinan Bukanlah Ancaman

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial menjadi realitas sehari-hari yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah kemajemukan itu, toleransi sering kali hanya berhenti sebagai slogan, belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian. Di sinilah kisah Sri Wahyuni, atau yang akrab disapa Enci, memberi pelajaran berharga tentang makna toleransi yang tumbuh dari pengalaman hidup.

Sejak kecil, Enci tumbuh di lingkungan yang beragam. Ia terbiasa berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang agama yang berbeda, baik di sekolah maupun dalam pergaulan sosial. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap iman dan keberagaman. Bagi Enci, perbedaan keyakinan bukanlah ancaman, melainkan kenyataan hidup yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.

Iman, dalam pandangan Enci, tidak berdiri sebagai identitas yang kaku dan eksklusif. Ia memaknainya sebagai proses yang terus bertumbuh seiring perjalanan hidup. Keyakinan agama justru menjadi sumber nilai yang menuntun sikap empati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama. Dari sini, toleransi tidak lahir dari paksaan atau formalitas, tetapi tumbuh secara alami dari kesadaran kemanusiaan.

Pengalaman Enci bergaul dalam komunitas yang multireligius semakin memperkaya pemahamannya. Ia merasakan bagaimana diterima tanpa label agama menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Relasi lintas agama yang terbangun tidak selalu melalui dialog formal atau diskusi teologis, melainkan melalui interaksi sederhana: bekerja sama, berbincang santai, dan saling mendengarkan. Justru dari relasi sehari-hari inilah toleransi menemukan bentuknya yang paling nyata.

Kisah Enci menunjukkan bahwa toleransi bukan berarti mengaburkan iman atau melemahkan keyakinan. Sebaliknya, iman yang dipahami secara dewasa justru mendorong seseorang untuk bersikap lebih humanis. Enci tetap teguh pada keyakinannya, namun pada saat yang sama mampu menghormati keyakinan orang lain. Di sinilah toleransi menemukan maknanya sebagai sikap aktif untuk menjaga relasi yang harmonis di tengah perbedaan.

Di tengah maraknya polarisasi dan narasi kebencian yang kerap mewarnai ruang publik, cerita iman Enci menjadi pengingat bahwa toleransi dapat dipelajari dari pengalaman hidup yang sederhana. Toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari kesediaan untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan semata sebagai "yang berbeda".

Belajar dari kisah Enci, kita diajak untuk merefleksikan kembali cara kita memaknai iman dan keberagaman. Apakah iman kita mendekatkan atau justru menjauhkan kita dari sesama? Toleransi sejatinya bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita bisa hidup berdampingan secara bermartabat. Dan dari cerita iman Enci, kita belajar bahwa toleransi yang tulus selalu berangkat dari kemanusiaan.

Oleh: Syarif Hidayatullah

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Tokoh

Tokoh

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka