Tampilkan postingan dengan label Unggulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unggulan. Tampilkan semua postingan

Perkuat Tata Kelola Koperasi, Dinas KUKM Kabupaten Bandung Selenggarakan Workshop Penyusunan SOM dan SOP Koperasi

Vokaloka, Bandung — Sebanyak 50 peserta yang berasal dari 25 koperasi di Kabupaten Bandung mengikuti Workshop Penyusunan Standar Operasional Manajemen (SOM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengawasan Internal Koperasi Tahun 2026, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kabupaten Bandung tersebut berlangsung di Aula Kantor Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Workshop digelar untuk memperkuat kapasitas pengurus, pengawas, dan pengelola koperasi dalam membangun tata kelola organisasi yang sehat. Melalui kegiatan ini, peserta didorong tidak hanya memahami prinsip pengawasan internal, tetapi juga mampu menyusun SOM dan SOP yang sesuai dengan karakteristik dan proses bisnis koperasi masing-masing.

Wini Arsianti, SP., M.Si., pejabat fungsional/pengawas koperasi pada Dinas KUKM Kabupaten Bandung menyampaikan dalam laporannya sebagai panitia bahwa workshop diarahkan pada sejumlah tujuan utama.

"Tujuan kegiatan workshop ini meningkatkan kapasitas pengelolaan koperasi, mendorong penyusunan dokumen SOM dan SOP internal, meningkatkan kualitas tata kelola dan kesehatan koperasi, serta meningkatkan kesejahteraan anggota dan pelayanan ekonomi melalui sistem pengawasan yang efektif," ungkapnya.

Kegiatan dibuka oleh Heintje Herlando, S.E., Kepala Bidang Penilaian dan Pengawasan Koperasi Dinas KUKM Kabupaten Bandung. Dalam sambutannya, Heintje menekankan bahwa ukuran keberhasilan koperasi tidak semata-mata dilihat dari berjalannya kegiatan usaha, tetapi juga dari tingkat kesehatan organisasi dan kualitas tata kelolanya.

“Koperasi yang baik adalah koperasi yang sehat, koperasi yang memiliki tata kelola administrasi yang baik, tertib keuangan, pengeluaran yang benar, pembagian tugas yang jelas, serta sistem pengawasan yang baik,” kata Heintje saat membuka kegiatan.

Menurut Heintje, pengawas koperasi tidak seharusnya hanya menyampaikan laporan pengawasan pada waktu tertentu. Seorang pengawas juga harus memahami proses bisnis koperasi, ketentuan yang berlaku, berbagai risiko yang mungkin muncul, serta memastikan pengurus dan pengelola menjalankan tugas sesuai aturan dan keputusan yang telah ditetapkan organisasi.

Ia menambahkan bahwa sistem pengawasan yang baik harus mampu mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Karena itu, paradigma pengawasan koperasi perlu diubah dari sekadar kegiatan untuk mencari kesalahan menjadi bagian integral dari sistem manajemen koperasi.

“Pengawasan harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem manajemen koperasi untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, sesuai ketentuan, dan sesuai kepentingan koperasi serta anggotanya,” ujarnya.

Salah satu fondasi penting untuk mewujudkan sistem tersebut, lanjut Heintje, adalah tersedianya SOM dan SOP yang jelas serta dapat diterapkan. SOM dan SOP tidak seharusnya berhenti sebagai kelengkapan administrasi, tetapi harus benar-benar menjadi pedoman dalam menjalankan kegiatan operasional sehari-hari.

“SOM dan SOP bukan hanya dokumen yang disimpan di dalam lemari atau dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi. SOM dan SOP harus menjadi pedoman kerja yang benar-benar digunakan dalam kegiatan operasional koperasi,” tegas Heintje.

Melalui SOM dan SOP yang baik, koperasi diharapkan mempunyai kepastian dalam bekerja, mengambil keputusan, membagi kewenangan, dan menjalankan fungsi pengawasan. Namun, penyusunannya juga tidak dapat diseragamkan karena setiap koperasi memiliki bidang usaha, karakteristik anggota, proses bisnis, serta persoalan yang berbeda.

Workshop menghadirkan Widdy Rizaldi Rabbani dari Becoop, Cubic Inkubator, dan Rumah Kesejahteraan sebagai narasumber. 

Peserta workshop adalah para pengawas koperasi yang berasal dari 25 koperasi, yakni Primer Koperasi Wredatama Padaringan Cicalengka, Koperasi Konsumen Kebon Kapas Sejahtera, Koperasi Serba Usaha Ikatan Mitra Usaha Cileunyi, Koperasi Konsumen Warga Sacil Sejahtera, Koperasi Konsumen Sauyunan Warga Sejahtera, Koperasi Konsumen Sadulur Mitra Sejahtera, Koperasi Konsumen Bintang Sembilan Citra Kabisa, Koperasi Simpan Pinjam Cahaya Nararay, Koperasi Pemasaran Galumpit Jaya Abadi, Koperasi Konsumen Goah Samping Ambu, Koperasi Produsen Sinar Jagung Priangan, Koperasi Simpan Pinjam Linggar Riksa Amanah, serta Koperasi Konsumen Wahana Sejahtera Mandiri.

Selain itu, peserta berasal dari Koperasi Jasa Angkutan Umum Chakra Manunggal Sejahtera, Koperasi Konsumen Perempuan Kencana Rancaekek, Koperasi Pegawai Republik Indonesia SMKN 1 Rancaekek Bakti, Koperasi Konsumen Industri PT Indoneptune Net Manufacturing, Koperasi Konsumen Andalas SMP Negeri Cikancung, Koperasi Pegawai Pendidikan Mandiri Kecamatan Cikancung, Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu'min, KPRI Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Cilengkrang Melati, Koperasi Konsumen Sehati Bukit Padjajaran, Koperasi Konsumen Primkop Kartika Vyata Pinaka Yudha, Koperasi Konsumen Aneka Usaha Puspa, dan Koperasi Desa Merah Putih Cileunyi Wetan.

Uwes Fatoni, Ketua Pengawas Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu'min, Salah seorang peserta workshop menilai workshop tersebut penting karena SOM dan SOP dapat menjadi instrumen nyata bagi pengawas dalam menjalankan tugasnya secara lebih sistematis. Menurutnya, dokumen pengawasan akan lebih bermanfaat jika benar-benar diterapkan dalam kegiatan koperasi dan dievaluasi sesuai perkembangan organisasi.

“Bagi kami sebagai pengawas koperasi, SOM dan SOP jangan berhenti menjadi dokumen administratif. Keduanya harus menjadi alat kerja yang membantu pengurus, pengelola, dan pengawas mengetahui siapa melakukan apa, bagaimana prosedurnya, serta bagaimana pengawasan dilakukan. Dengan sistem yang jelas, persoalan bisa dideteksi lebih awal sebelum menjadi masalah yang lebih besar,” kata Uwes.

Lewat Program Pengajian yang Interaktif, Mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung Tumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak-anak RW 17 Desa Tenjolaya

image.png

Vokaloka, Bandung – Pengajian khusus anak-anak kembali digelar melalui program Gerakan Mengajar Ngaji yang diinisiasi mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 2 Tirta Merta. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) di Masjid Jami Al-Furqon, RW 17, Desa Tenjolaya. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak RW 17 jenjang SD hingga SMP.

Program tersebut dilaksanakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat sebagai upaya menghadirkan kegiatan pengajian yang interaktif khusus bagi anak-anak di lingkungan RW 17. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, dan Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin.

Kegiatan diawali dengan doa bersama. Anak-anak kemudian dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu kelas 1–3 SD, kelas 4–6 SD, dan SMP. Pembagian tersebut dilakukan agar materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing kelompok.

Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, storytelling, sesi tanya jawab, dan kuis. Materi keagamaan disisipkan dalam cerita agar pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Kuis juga diberikan untuk mendorong anak-anak lebih aktif berpartisipasi, dengan hadiah sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang berani menjawab.

Salah satu peserta, Salwa, mengaku senang dengan kehadiran mahasiswa KKN. Menurutnya, kuis yang diberikan saat mengaji membuat dirinya lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan, termasuk ketika berada di sekolah.

“Seneng ada kakak-kakak KKN, apalagi ada kuis pas ngaji jadi percaya diri di sekolah juga, yang awalnya takut kalau mau jawab,” ujarnya.

Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN membuat kegiatan pengajian anak-anak kembali berjalan di masjid.

“Alhamdulillah, dengan adanya mahasiswa KKN bisa ada pengajian lagi untuk anak-anak. Terima kasih, semoga menjadi ladang pahala,” ungkapnya.

Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin, turut mengapresiasi kegiatan yang diadakan mahasiswa KKN bagi anak-anak di wilayahnya.

“Alhamdulillah, terima kasih adik-adik KKN. Semoga berkah dan bermanfaat,” ujarnya.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, menjelaskan bahwa program tersebut digelar berdasarkan kondisi yang ditemukan mahasiswa selama menjalankan KKN di RW 17. Menurutnya, anak-anak perlu memiliki akses pembelajaran agama yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kami melihat di sini untuk akses belajar ilmu agama cukup jauh, harus ke RW tetangga. Oleh karena itu, program Gerakan Mengajar Ngaji menjadi proker pendukung yang penting untuk direalisasikan untuk memberikan dan menguatkan pemahaman agama adik-adik di sini,” jelasnya.

Menurut Rahadian, penggunaan metode interaktif menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kuis dan sesi tanya jawab digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong anak-anak agar lebih berani bertanya dan menjawab.

Setelah seluruh rangkaian pembelajaran dan kuis selesai, kegiatan ditutup dengan doa kafaratul majelis dan melaksanakan salat Isya berjamaah di Masjid Jami Al-Furqon.

Melalui Gerakan Mengajar Ngaji, mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung berharap kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman agama anak-anak RW 17, tetapi juga membantu mereka menjadi lebih berani bertanya, menjawab, dan menyampaikan pendapat dalam proses pembelajaran.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.

UIN Bandung Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026


Bandung, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Upacara Bendera Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Upacara depan Gedung Anwar Musadd
Uploaded Image

ad, Senin (1/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan universitas,  rektor, wakil rektor, dekan, wakil Dekan, ketua lab fakultas, ketua prodi  sampai sekretaris prodi di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan pidato resmi Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., 

Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 dengan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia,”  menegaskan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi jawaban atas tantangan global dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Dalam amanatnya disampaikan bahwa Pancasila telah terbukti menjadi bintang penuntun bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Di tengah kondisi dunia yang diwarnai ketidakpastian, konflik, dan ancaman fragmentasi sosial, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau serta ratusan suku dan budaya.

Pancasila juga disebut sebagai jangkar moral bangsa dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika politik global. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia untuk tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.
Dalam pidato tersebut ditegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam percaturan dunia.

Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk turut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi bagian dari Pancasila dipandang sebagai instrumen diplomasi yang relevan untuk menjembatani perbedaan dan membantu penyelesaian berbagai konflik internasional. Hal ini tercermin melalui kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peran aktif dalam mediasi konflik regional, serta konsistensi dalam menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih mengalami penjajahan.

Lebih lanjut, disampaikan  bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus selalu disertai dengan arah moral yang kuat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, diajak untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simbol atau teks yang tertulis dalam buku sejarah.

“Mari kita teguhkan kembali komitmen kebangsaan. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi persatuan, kuat karena nilai-nilai kemanusiaannya, dan mampu menjadi teladan dalam membangun perdamaian dunia,” demikian pesan yang disampaikan rektor.

Upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk memperkuat komitmen dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Selamat Hari Lahir Pancasila. Jayalah Indonesia” menutup amanat yang menggema di tengah pelaksanaan upacara. Rektor mengajak seluruh civitas akademik UIN SGD Bandung untuk terus menjaga persatuan dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan damai.
Uploaded Image Uploaded Image

Penegak Bantara MAN 1 Darussalam Ciamis Ikuti Alfaro Camp

 

CIAMIS — Sebanyak 117 siswa MAN 1 Darussalam Ciamis yang tergabung dalam Pramuka Penegak Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra mengikuti kegiatan Alfaro Camp di Lapangan MAN 1 Darussalam Ciamis, 1–3 Mei 2026. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari proses pelantikan anggota Pramuka Penegak Bantara dengan fokus pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.

Selama tiga hari, peserta menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan kelompok. Kegiatan diawali dengan pengecekan perlengkapan dan upacara pembukaan, dilanjutkan sesi materi tentang organisasi Pramuka oleh Bapak Iing Kuswandi. Ia menekankan bahwa Pramuka merupakan satu-satunya organisasi dengan landasan undang-undang tersendiri yang sekaligus membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya.

Pembina Pramuka MAN 1 Darussalam, Fani Rahman, S.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak semata diukur dari kelulusan sebagai Penegak Bantara, melainkan dari perubahan sikap dan kedewasaan setiap peserta. Menurutnya, proses belajar dalam kepramukaan justru terletak pada keberanian menghadapi tantangan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya.

"Hari ini adalah awal dari perjalanan kalian. Mungkin terasa melelahkan, tetapi setiap langkah yang kalian ambil akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat," tutur Fani Rahman dalam arahannya saat pembukaan.

Hari kedua diisi sesi materi administrasi kepramukaan oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang membahas administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan satuan. Sore harinya, semangat peserta semakin membara dalam Alfaro Festival yang mempertandingkan lomba pionering, P3K, dan jejak petualang. Ketiga lomba tersebut dirancang untuk melatih kekompakan, pengetahuan, dan ketangkasan peserta. Malam harinya, suasana berubah meriah dengan pentas seni yang menampilkan dance, drama, iklan, dan acapella dari masing-masing sangga.

Puncak kegiatan berlangsung dini hari ketika peserta menjalani jurit malam dengan mata tertutup kain kacu, dituntun para senior melewati lorong gelap untuk menemukan "blok bantara" sebagai simbol kelulusan. Suasana menegangkan sekaligus diwarnai gelak tawa, termasuk ketika seorang peserta salah membawa paving block dari jalanan karena keliru memahami instruksi. Setelah jurit malam, seluruh peserta yang berhasil resmi dilantik sebagai Pramuka Penegak Bantara melalui upacara khidmat yang berlangsung pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari.

Hari ketiga ditutup dengan hiking rally sejauh sekitar tiga kilometer yang melewati lima pos tantangan, mulai dari sandi morse, baris-berbaris, pengetahuan kepramukaan, uji kemampuan indera, hingga pos basah-basahan yang diwarnai guyuran air dan teriakan yel-yel kelompok.


 

Syamil Irfan Fatoni, peserta kelas 10, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Baginya, setiap tantangan yang dihadapi selama tiga hari justru menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

"Hari pertama cukup menegangkan, terutama saat pengecekan barang. Tapi dari situ saya belajar pentingnya persiapan dan tanggung jawab," ujarnya.

Alfaro Camp diharapkan menjadi wadah efektif dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di lingkungan Pramuka MAN 1 Darussalam Ciamis.


 


UIN Bandung Peringati Hari Amal Bhakti Kemenag ke-80, Tegaskan Kerukunan sebagai Energi Kebangsaan

Vokaloka, Bandung - UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama di Lapang Guest House Kampus 2, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Sabtu (3/1/2026).

Upacara ini dipimpin oleh Rektor dan dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, para Kepala Biro, Direktur serta Wakil Direktur I, II, dan III Pascasarjana, para Dekan dan Wakil Dekan I, II, dan III, Kepala dan Sekretaris Satuan Pengawasan Internal (SPI), para Ketua dan Sekretaris Lembaga, para Kepala dan Sekretaris Pusat, Wakil Koordinator, Sekretaris, Kepala Bidang, dan Sekretaris Bidang pada Kopertais, para Ketua dan Sekretaris Jurusan/Program Studi jenjang S1, S2, dan S3, para Ketua Laboratorium Fakultas, para Kepala Bagian dan Ketua Tim Kerja, para Kepala Subbagian, serta para Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang meliputi PNS, PPPK, BLU, dan tenaga kontrak, serta Dharma Wanita Persatuan di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam sambutannya, Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag menyampaikan amanat Menteri Agama Prof. Nazarudin Umar. Menag menegaskan bahwa peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” sebagai arah gerak bersama, sekaligus penegasan bahwa kerukunan harus dipahami sebagai energi kebangsaan yang produktif.

“Tema ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekedar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dilanjut menjadi kekuatan kolaborasi untuk menggerakkan kemajuan bangsa,” ujar Prof. Nazarudin Umar dalam amanat yang dibacakan Rektor.

Menag juga mengulas akar historis Kementerian Agama yang hadir sebagai kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Ia menekankan bahwa republik ini dibangun melalui sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan, sehingga Kemenag berperan menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan sekaligus membina kehidupan keagamaan yang damai serta mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera.

“Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga dan nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa,” kata Prof. Nazarudin Umar.

Sepanjang 2025, Kementerian Agama disebut telah membangun pondasi Kemenag berdampak melalui kerja nyata yang mulai dirasakan masyarakat. Menag menyinggung transformasi digital untuk mempercepat layanan keagamaan, penguatan ekonomi umat melalui pesantren dan filantropi keagamaan seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, dan program sejenis, peningkatan kualitas madrasah serta perguruan tinggi keagamaan, hingga penguatan praktik kerukunan lewat program “Desa Sadar Kerukunan” agar kerukunan hadir nyata di tengah masyarakat.

Menghadapi tantangan kecerdasan buatan (AI) yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Menag menekankan pentingnya kedaulatan literasi dan keilmuan agar institusi keagamaan tidak sekadar menjadi penonton.

 “Menghadapi tantangan besar bernama AI atau kecerdasan buatan, kita hidup di era yang berlangsung cepat, sulit diprediksi, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Di era ini kita tidak boleh sekedar menjadi penonton. Setiap ASN Kementerian Agama dituntut bertransformasi menjadi pribadi yang lincah dan sigas, adaptif, terbuka terhadap teknologi dan inovasi, serta responsif melayani kebutuhan umat dengan empati dan integritas,” tegasnya.

Menutup amanatnya, Prof. Nazarudin Umar mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama memperkuat pondasi pengabdian yang berdampak dan penguasaan teknologi yang beretika, seraya menyerukan, “Teruslah mengabdi, teruslah menjadi cahaya cerah bangsa.”

Pengurus Al-Washliyah Jawa Barat Hadiri Doa Bersama Lintas Agama Pemerintah Provinsi Jawa Barat


Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam’iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.

Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.

“Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan,” ujar Herman Suryatman.

Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.

“Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin,” tutur Ustaz Asep.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.

Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.

Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.

“Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk,” ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.

Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.

Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.

“Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana,” ujar Dr. Uwes Fatoni.

Harmoni Beragama: Kisah Mahasiswa Katolik Timor Leste di Kampus Vokasi Berbasis Islam Cirebon

 



Vokaloka. Cirebon - Suara azan Subuh berkumandang merdu, memecah keheningan pagi di Desa Panambangan, Kecamatan Sedong. Di sebuah kontrakan sederhana, Aquelino da Costa Tilman, mahasiswa asal Timor Leste, terbangun. Dulu, suara panggilan salat itu terasa asing, namun kini menjadi alarm rutinitas kesehariannya. Sementara tak jauh darinya, teman-teman Muslimnya bersiap menunaikan salat.

"Kalau di sini mereka salat, kita kasih waktu untuk mereka bisa salat dulu," ujar Aquelino, mahasiswa yang akrab disapa Aquelino, yang telah hampir setahun menimba ilmu di Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI). "Salah satu bentuk toleransi saya itu, ketika mereka salat di dalam kontrakan, saya di luar dulu tunggu habis (selesai salat)".

Kisah Aquelino dan enam mahasiswa lain dari Timor Leste adalah cerminan toleransi sejati. Mereka semua beragama Kristen Katolik, namun memilih menimba ilmu di Poltek SCI, sebuah kampus vokasi internasional berbasis Islam yang berdiri sejak 2023 di tengah persawahan Cirebon. Lima di antaranya baru tiba pada tahun 2025 ini.

Ekspektasi vs Realitas: Menemukan Keindahan Azan


Jaquelina Amaral Da Silva, mahasiswi Katolik lainnya, mengaku sempat hanya mengenal Islam lewat televisi. Ia sempat mengira suara azan subuh yang ia dengar adalah rekaman.

"Ternyata dari orangnya langsung. Jadi suaranya kok merdu banget, bagus," tuturnya, menceritakan realitas yang ia temukan di Cirebon.

Namun, kedatangan mereka tidak lepas dari kekhawatiran. Stigma negatif tentang ajaran agama Islam sempat menghantui pikiran mereka. Aquelino berterus terang, secara emosional dan fisik ia merasa takut. Sebagai satu-satunya mahasiswa Katolik di tengah ratusan mahasiswa Muslim, ia khawatir akan adanya perlakuan diskriminasi. Apalagi, ia datang dengan penampilan khas Timor Leste—masih memakai anting dan gaya berpakaian yang belum formal menurut standar kampus.

"Tapi sekarang udah biasa," kata Aquelino sambil tersenyum. "Saya belajar lah dari teman-teman. Satu persatu".

Tidur di Mushala, Ikut Tahlil, dan Mengenakan Kopiah

Toleransi yang mereka rasakan jauh melampaui ekspektasi. Salah satu pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika Aquelino pernah diizinkan untuk tidur dan beribadah di mushala.

Kisah ini bermula saat ia tinggal di Kemarang, Cirebon, dengan jarak yang cukup jauh ke gereja. Ia memberanikan diri meminta izin kepada mahasiswa Poltek SCI yang juga seorang pamong desa. "Bang, saya bisa (beribadah) di sini?" tanyanya ragu.

"Ah, enggak apa-apa, boleh," jawab temannya.

Jawaban itu menjadi penilaian toleransi yang paling tinggi bagi Aquelino. Ia merasa sangat bersyukur. Baginya, yang terpenting adalah bisa berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Keterlibatan mereka bahkan semakin mengejutkan. Mahasiswa Katolik ini tak hanya menjadi penonton, tetapi peserta aktif dalam kegiatan keislaman. Aquelino mengaku pernah ikut tahlil, berselawat bersama, dan terlibat dalam kurban, bahkan ikut menjaga dan menyaksikan proses penyembelihan kambing.

Momen paling berkesan lainnya adalah saat ia diminta mengenakan kopiah dalam acara tahlil di kampus. Ia sempat kaget dan khawatir dengan pandangan orang. Namun, teman-temannya meyakinkan bahwa tidak ada larangan, asalkan diizinkan dalam agamanya. Aquelino memahami ini sebagai bentuk toleransi dan keterbukaan yang luar biasa.

Batas Toleransi: Prinsip yang Tak Berubah

Keterlibatan dalam ritual keagamaan lain memunculkan pertanyaan krusial tentang batas toleransi. Aquelino menjawab bahwa ia merasa sudah melampaui batas, tetapi ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya di Cirebon demi pendidikannya.

Ia segera menambahkan prinsip teganya: "Bukan saya menjual kepercayaan gue. Tapi saya punya prinsip".

Bagi para mahasiswa ini, batas toleransi yang sebenarnya adalah ketika keyakinan berubah.

"Kalau saya sudah mengubah keyakinannya, berarti itu sudah melampaui batas," jelas Aquelino.

"Masih normal-normal aja. Karena itu belum benar-benar mengubah keyakinan," tambah Jaquelina.

Keterbukaan mereka berakar kuat pada ajaran Katolik itu sendiri. Aquelino menjelaskan bahwa Katolik bersifat universal atau umum; terbuka untuk berteman dengan orang Muslim, Buddha, Protestan, atau agama lainnya.

"Dia tidak ada larangan untuk orangnya dia itu bisa beribadah di, ikut beribadah di agama lain," tegasnya. Prinsip penting yang mereka pegang adalah baptis hanya satu kali. Mereka juga menganut filosofi kemanusiaan universal: "Prinsipnya kita sesama manusia. Manusia itu sesama saling melengkapi satu sama lain. Karena manusia itu semua orang itu makan nasi, makan makanan. Darah itu satu, cuma darah merah".

Dialog Terbuka sebagai Kunci Harmoni

Dari kegiatan keislaman yang diikuti, mereka mengambil banyak pelajaran positif. Kegiatan seperti tahlil menjadi ruang untuk berbagi cerita, saling terbuka, dan menyelesaikan masalah.

Kunci keberhasilan toleransi ini adalah dialog terbuka sejak awal. Teman-teman Muslim mereka juga sangat komunikatif. Jaquelina mengaku sempat bertanya, "Emang boleh ya kalau saya ikutan gitu?". Ternyata tidak ada halangan. "Komunikasi yang itu terbuka lah, tidak rasis," tegas Jaquelina. Bahkan dalam organisasi kampus, mereka selalu diajak untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Lingkungan Muslim yang adaptif ini juga membawa transformasi personal bagi Aquelino. Ia mengaku telah berhenti minum alkohol sejak datang ke Poltek SCI. Hal ini bukan paksaan, melainkan adaptasi, mengutip pepatah, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijungjung".

"Selama saya masih menitipkan diri untuk bisa mencari ilmu di sini, kita harus ikut budaya dan ilmu di sini seperti apa," katanya.

Harapan dan Pelajaran Penting

Aquelino berpandangan bahwa semua kegiatan yang diikuti bernilai positif. "Agama itu kan sebagai jembatan untuk bisa membawa kita ke jalan yang benar, untuk bisa mengenal Yang Maha Pencipta itu siapa," ujarnya.

Harapannya, teman-teman di luar lingkungan Poltek SCI juga bisa saling menghormati dan menghargai, serta membangun dialog terbuka. "Karena kita, biarpun kita ini berbeda agama, tapi kita cuma tujuan itu satu aja. Percaya pada Yang Maha Kuasa, atau Yang Maha Pencipta".

Kisah mahasiswa Katolik Timor Leste di Poltek SCI mengajarkan bahwa toleransi sejati adalah toleransi aktif. Ini adalah keberanian untuk terlibat, belajar memahami, tanpa kehilangan identitas. Aquelino merangkumnya: "Saya fokus bukan saya membandingkan agama, ... Tapi saya berfokus bisa tahu gimana si orang Muslim itu seperti apa".

Kampus vokasi kecil di pedesaan Cirebon ini membuktikan bahwa harmoni lahir dari keberanian keluar dari zona nyaman, kesediaan untuk memahami yang berbeda, dan kepercayaan bahwa perbedaan agama dapat saling melengkapi.

Penulis: Rokibullah
Mahasiswa Pasca Sarjana KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia



Dedikasi Tanpa Henti Teti Ismawati Kepala Sekolah yang Berjuang untuk Pendidikan Anak Bangsa


Vokaloka, Bandung - Ibu Teti Ismawati, Kepala Sekolah SMP Muslimin 5 Bandung, adalah gambaran nyata dari seorang pendidik sejati, yang memilih jalur pengabdian, bukan sekadar karir. Beliau kini berusia 58 tahun dan akan memasuki masa pensiun pada tahun 2027, sebuah momen yang ditunggunya setelah 36 tahun mengabdi. Meskipun berstatus PNS (DPK) dan merupakan angkatan terakhir yang langsung mendapat SK penugasan di SMP Negeri Jatiluhur, Ibu Teti justru mengukir kisah pengabdian yang mendalam di sekolah swasta.

Perjalanan Ibu Teti di SMP Muslimin 5 dimulai pada tahun 1991, setelah ia memutuskan pindah dari Purwakarta untuk dekat dengan suami yang berada di Bandung. Awalnya, kepindahan ke sekolah swasta ini terasa seperti ujian berat. Ia merasakan perbedaan yang sangat kontras dengan saat mengajar di sekolah negeri, terutama karakter siswa. "Awal gilirnya dulu merasa berat ngajar di sini kenapa karena kan di negeri di negeri itu ternyata, apalagi di daerah ya, di daerah itu sudah meradangan diri. Jadi tidak terlalu untuk disuapi ... Ibu hampir menyerah nih buah anak-anaknya kok gini gitu ya," kenangnya, menceritakan kesulitan di awal masa adaptasi tersebut. 

Ditambah lagi, pada saat itu, duka yang paling terasa adalah kesulitan transportasi dan harus jauh dari keluarga, sendirian di Purwakarta bersama anak kecil. Di tengah segala keterbatasan itu, profesionalitasnya sebagai guru diuji. Ibu Teti harus siap mengajar apapun, bahkan pernah mengampu hingga tiga mata pelajaran sekaligus (maksimal) seperti seni budaya, bahasa Indonesia, dan biologi, karena kebutuhan sekolah. Dedikasi ini menunjukkan bahwa fokusnya adalah pada kebutuhan pendidikan murid.

Titik paling dramatis dalam perjalanan Ibu Teti terjadi sekitar 20 tahun yang lalu, ketika isu gencar beredar bahwa guru PNS yang ditempatkan di sekolah swasta harus kembali ke sekolah negeri. Rekan-rekan sejawatnya pun berbondong-bondong mencari tempat pindah. Namun, Ibu Teti mengambil keputusan kontras yang sangat menyentuh. "Tapi nggak tahu ya hati ibu masih tetap di sini," ujarnya, dengan ketulusan yang mengalahkan logika birokrasi.

Keputusannya ini didukung penuh oleh suami, dan yang paling mengharukan, Yayasan mengirimkan surat yang menyatakan bahwa Ibu Teti masih dibutuhkan di sekolah tersebut. Perasaan kekeluargaan, nyaman, dan merasa diterima menjadi jangkar yang kuat. Perjuangannya dipermudah oleh takdir, sementara rekan-rekannya harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa pindah.

Sejak diangkat menjadi Kepala Sekolah pada tahun 2018 atas dasar kepercayaan Yayasan, Ibu Teti memimpin sekolah dengan penuh empati di tengah persaingan ketat SMP negeri di sekitarnya. Sekolah ini menghadapi tantangan besar jumlah siswa yang kecil serta mayoritas murid berasal dari kalangan menengah ke bawah. Banyak di antaranya memiliki latar belakang keluarga yang rentan, seperti tinggal bersama nenek, atau orang tua berpisah.

Pencapaian terbesarnya adalah kemampuannya mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Jumlah siswa yang sedikit justru dilihat sebagai berkah; Ibu Teti bangga bisa memperhatikan satu demi satu siswa secara personal. Sekolah menerapkan iuran yang sangat rendah, hanya Rp 75.000 per bulan (infak), dan berencana membebaskan uang bangunan sepenuhnya di tahun depan. Prinsip Ibu Teti sangat sederhana: "Pokoknya niatnya sama-sama kita ini ingin mencerdaskan ingin memberikan ilmu itu ya kalau bersama niatnya sama, meskipun banyak tantangan-tantangan..."

Di usianya yang mendekati purna tugas, semangat pengabdian Ibu Teti tidak surut. Beliau bahkan berkeinginan untuk tetap mengabdi di SMP Muslimin 5, meskipun hanya sebagai guru biasa, setelah pensiun sebagai PNS. "Ibu tidak ingin meninggalkan sekolah ini... karena disini pun ternyata masih harus banyak membutuhkan pelajar ya masih membutuhkan kasih jadi ada rasa kesian gitu ya kalau ditinggalkan," tutupnya, sebuah pengakuan yang menyentuh tentang betapa dalam ikatan batinnya dengan sekolah dan anak-anak didiknya.

Reporter : Syifa Nur Fauziah (KPI/5B)

MABIT UPI 2025 di Pesantren Idrisiyyah, Mahasiswa Baru Diajak Mondok Sehari

Vokaloka, Tasikmalaya Kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya kembali digelar pada 15–16 November 2025 dan tahun ini menghadirkan nuansa berbeda. Bertempat di Pesantren Idrisiyyah, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara mahasiswa baru, tradisi pesantren, serta pendekatan spiritualitas Sufi yang telah menjadi ciri khas Idrisiyyah sebagai salah satu tarekat yang aktif di bidang dakwah dan pemberdayaan umat. Melalui konsep mondok sehari, peserta diajak mengenal kehidupan pesantren, spiritualitas, serta nilai-nilai pendidikan Islam.
 
MABIT UPI 2025 merupakan kegiatan kolaborasi antara Sufi Training Center (STC) Idrisiyyah dan DEMA Idrisiyyah, yang sejak awal dirancang untuk memperluas pengalaman mahasiswa dalam memahami pembinaan ruhani secara langsung melalui praktik pesantren. Kolaborasi ini semakin memperkuat hubungan antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga keagamaan tradisional, sebuah model sinergi yang mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah. Program pembinaan karakter seperti MABIT UPI menjadi lebih bermakna ketika dilaksanakan di lingkungan spiritual seperti Pesantren Idrisiyyah, karena mahasiswa dapat merasakan langsung pengalaman mondok dan praktik ibadah bersama santri.
 
Suasana Penyambutan dengan Nuansa Khas Pesantren
Rombongan mahasiswa UPI tiba di lingkungan Pesantren Idrisiyyah pada Sabtu siang. Mereka disambut hangat oleh penampilan hadroh santri yang membawakan shalawat secara syahdu, merdu dan penuh semangat. Kesan religius dan khidmat langsung terasa sejak langkah pertama peserta memasuki area pesantren, menandai awal rangkaian kegiatan yang mengedepankan nilai spiritual.
Acara pembukaan dipusatkan di Masjid Al-Fattah, salah satu pusat aktivitas spiritual pesantren. Ismail Fadhilah, mahasantri semester 3 program Tasawuf Ma'had Aly Idrisiyyah, memandu jalannya acara dengan hangat dan khidmat.
 
Ketua Yayasan Idrisiyyah, Ust. Adang Nurdin, M.Pd, menyampaikan sambutan pembuka dengan menekankan bahwa pembinaan ruhani merupakan pilar penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, integritas moral dan ketenangan spiritual adalah fondasi yang perlu dibangun sejak masa pendidikan tinggi.
 
Sementara itu Pembimbing Tutorial UPI, Bapak H. Anggi Maulana Rizki, Dip. LC, MA, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kolaborasi ini. Ia menilai, kemitraan antara UPI dan Pesantren Idrisiyyah mampu memperkaya pemahaman mahasiswa tidak hanya dalam aspek ibadah ritual, tetapi juga dalam dinamika sosial keagamaan.
 
Tiga Materi Inti Menyelami Spiritualitas Sufi dan Peran Sosial Tarekat
Hari pertama diisi dengan tiga materi yang memperkenalkan mahasiswa pada tradisi ruhani Idrisiyyah dan relevansinya dalam kehidupan modern.
 
1. Menguatkan Ruhani: Wirid & Amaliyah Ubudiyah Idrisiyyah
Materi pertama disampaikan oleh Ust. Ahmad Faqih, S.Pd yang menjelaskan pentingnya tazkiyatun nafs, disiplin dzikir, serta adab-adab dasar dalam perjalanan spiritual. Mahasiswa dikenalkan dengan struktur wirid serta bagaimana amaliyah ubudiyah berperan dalam menjaga ketenangan mental.
2. Tarekat Idrisiyyah sebagai Manhaj dan Organisasi Dakwah
Pada sesi kedua, Ust. Asep Deni, M.Pd memaparkan peran tarekat dalam konteks sejarah dan sosial. Ia menekankan bahwa Idrisiyyah bukan hanya jalur spiritual individual, melainkan juga lembaga sosial keagamaan yang aktif membina masyarakat melalui pendidikan, pengajian, dan gerakan pemberdayaan.
3. Pemuda Qur'ani dan Kebangkitan Bangsa
Materi ketiga disampaikan kembali oleh Ust. Adang Nurdin, M.Pd, yang mengajak mahasiswa memahami hubungan antara akhlak Qur'ani, kemajuan bangsa dan peran pemuda Muslim sebagai agen perubahan.
Materi-materi ini memberikan wawasan kepada mahasiswa baru UPI Kampus Tasikmlaya bahwa spiritualitas dan pembangunan karakter tidak dapat dipisahkan dari tantangan generasi muda di era modern.
 
Hadroh, Mahalul Qiyam dan I'tikaf
Menjelang malam, suasana semakin syahdu. Hadroh santri kembali mengalun mengiringi pembacaan mahalul qiyam, sebuah tradisi khas pesantren yang menggugah semangat kecintaan kepada Rasulullah
SAW. Lantunan doa dan shalawat mengajak mahasiswa memasuki ruang perenungan yang lebih dalam. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan Malam Keakraban (MAKRAB) bersama DEMA dan HIMA Idrisiyyah. Momen ini menjadi forum pertukaran pengalaman antara mahasiswa dan Mahasantri mengenai kehidupan kampus, dinamika kepesantrenan, hingga perjalanan spiritual pribadi masing-masing.
Malam pertama ditutup dengan i'tikaf dan sesi refleksi diri, memberikan ruang bagi peserta untuk mengevaluasi kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka di tengah rutinitas perkuliahan.
 
Hari Kedua: Tahajud, Ziarah, dan Literasi Dakwah Digital
Hari kedua dimulai sejak pukul tiga dini hari melalui kegiatan tahajud dan subuh berjamaah, dilanjutkan tausiyah oleh Ust. Jalaluddin, S.Pd yang menekankan pentingnya kedisiplinan ibadah dalam membentuk karakter pemimpin masa depan.
 
Setelah sarapan dan persiapan penutupan, peserta mengikuti studi lapangan dan ziarah ke sejumlah titik penting di sekitar pesantren, dipandu oleh panitia dari Tim STC. Studi lapangan ini menghubungkan mahasiswa dengan realitas sosial dan budaya pesantren secara langsung.
 
Dakwah Digital: Tema Relevan untuk Mahasiswa Gen-Z
Materi berikutnya adalah sesi diskusi "Dakwah Digital", disampaikan oleh Ustadz Muhammad Abdullah, S.Kom, dan Ustadz Yudi Ginanjars, S.Si, selaku Tokoh Ahli Idrisiyyah di Bidang Dakwah Digital, didampingi Asisten Trainer yakti Tya Putri Aisyah dari Mahasantri semester 5 Program Tasawuf, Ma'had Aly Idrisiyyah.
 
Keduanya menjelaskan bagaimana dakwah dapat dikemas secara kreatif dan bertanggung jawab melalui platform digital. Mahasiswa baru diperkenalkan pada etika bermedia, strategi dakwah kontemporer dan tantangan ruang digital yang sering kali memunculkan hoaks, ujaran kebencian, hingga kekerasan simbolik.
 
Sesi ini menjadi salah satu yang paling relevan karena bersentuhan langsung dengan kehidupan mahasiswa di dunia maya.
 
Penutupan dan Harapan
Kegiatan diakhiri dengan sambutan panitia serta pesan penutup dari Bapak H. Anggi Maulana Rizki, yang menegaskan pentingnya kesinambungan kegiatan pembinaan ruhani bagi mahasiswa. Ia berharap MABIT bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengembangan program serupa yang lebih masif ke depan.
 
Seluruh rangkaian acara ditutup dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan antara kampus dan pesantren.

Lewat Pekan Literasi, SMK Bandung Timur Dorong Budaya Baca Siswa

Vokaloka, Bandung Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, SMK Bandung Timur menggelar Pekan Literasi pada Senin, 6/10/2025, sebagai bentuk nyata upaya menumbuhkan budaya membaca di lingkungan sekolah. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum Iis, dan menjadi pelaksanaan perdana yang diadakan secara khusus tahun ini.

Menurut Iis, tujuan utama dari pekan literasi adalah menanamkan kesadaran pentingnya membaca di kalangan siswa agar tidak kehilangan kemampuan memahami informasi secara mendalam.

"Tujuan pekan literasi agar anak-anak tidak kekurangan literasi, meningkatkan minat baca, dan rasa ingin tahu mereka supaya pemahaman dalam membaca semakin baik," ujarnya.

Ia menambahkan, kemampuan literasi menjadi dasar sebelum numerasi, sebab kemampuan berpikir logis dan memahami angka biasanya diawali dari kemampuan membaca dan menafsirkan teks.

"Kemampuan numerasi anak biasanya berawal dari literasi terlebih dahulu, sehingga literasi menjadi dasar penting sebelum numerasi," jelasnya.

Selama pelaksanaan pekan literasi, sekolah menerapkan sejumlah cara kreatif agar siswa lebih fokus membaca. Salah satunya dengan menyediakan kotak khusus di setiap kelas untuk menyimpan gadget. Dengan begitu, siswa bisa lepas sejenak dari layar ponsel dan menumbuhkan konsentrasi penuh saat membaca buku.

"Kami menyediakan box di setiap kelas untuk menyimpan gadget, supaya anak-anak benar-benar fokus membaca buku," tambahnya.

Kegiatan pekan literasi dilaksanakan setiap hari Senin selama Bulan Bahasa, menggantikan sebagian waktu upacara bendera dengan kegiatan membaca dan diskusi buku. Setiap pekan, sekolah menyiapkan berbagai jenis buku dari perpustakaan sekolah, mulai dari buku pelajaran seperti bahasa dan matematika, hingga buku umum seperti hukum, sains, hingga novel-novel ringan yang disesuaikan dengan minat siswa.

Setiap kelas mendapat giliran mengikuti kegiatan secara bergantian. Guru dan wali kelas bertugas sebagai pembina, sementara perwakilan siswa menjadi panitia pelaksana kegiatan. Siswa diminta membaca buku pilihan mereka selama waktu yang telah ditentukan, kemudian menuliskan resume atau ringkasan singkat isi buku. Beberapa perwakilan dari setiap kelas kemudian dipilih untuk mempresentasikan hasil bacaannya di depan teman-teman.

Kegiatan ini menjadi momen interaktif di mana siswa belajar mengungkapkan pendapat dan menyampaikan kembali isi bacaan dengan gaya mereka sendiri. Guru juga memberikan bimbingan agar siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami makna dan pesan dari setiap bacaan.

Dari sisi siswa, kegiatan ini mendapat tanggapan positif. Sofi, siswi kelas XI Akuntansi, mengatakan bahwa pekan literasi memberikan pengalaman baru yang seru sekaligus menantang.

"Seru banget, soalnya kita bukan cuma baca tapi juga ngeresum dan review buku yang dibaca. Jadi kayak tantangan, gimana caranya biar kita paham dan bisa nyeritain lagi isi buku itu," ungkapnya.

Sementara itu, Mutia, rekan satu kelasnya, mengaku kegiatan ini membuat siswa lebih semangat dan mengasah kemampuan berpikir kritis.

"Terasa banget manfaatnya. Jadi bisa ngembangin lagi literasi di sekolah, bisa ngasah otak biar cepat nyerap isi bacaan sebelum pembelajaran dimulai. Seru juga karena bisa sharing sama temen-temen tentang cerita yang dibaca," katanya.

Mutia menuturkan bahwa buku yang ia baca berjudul Bumi Murka, sebuah buku bertema sains yang bercerita tentang fenomena alam seperti gempa bumi dan tsunami. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tapi juga melatih keberanian siswa untuk berbicara di depan umum.

Melalui kegiatan ini, SMK Bandung Timur berharap siswa dapat membangun kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Iis menegaskan bahwa Pekan Literasi menjadi langkah awal untuk memperkuat Gerakan Literasi Sekolah yang selama ini sudah berjalan dalam kegiatan pembelajaran harian.

"Harapannya kegiatan ini bisa jadi budaya, bukan hanya di bulan bahasa, tapi juga di hari-hari biasa," tutupnya.

Dengan semangat Bulan Bahasa, Pekan Literasi di SMK Bandung Timur tidak hanya menjadi ajang membaca bersama, tetapi juga wadah untuk mengasah kemampuan berpikir, berbicara, dan menulis. Sekolah berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai sarana membangun generasi muda yang gemar membaca, kritis, dan berdaya pikir luas.

Reporter: Dhia Disti Salsabila, KPI 5/B


SMK Bandung Timur Tanamkan Nilai Disiplin Lewat Program PDKS

Vokaloka, Bandung –  SMK Bandung Timur menggelar kegiatan Pelatihan Dasar Kedisiplinan Siswa (PDKS) pada tanggal 11/10/2025. Kegiatan ini berbarengan dengan penerimaan rapor siswa oleh orang tua, sehingga suasana di sekolah terasa lebih semarak. Para siswa tampak antusias sejak pagi, mengenakan seragam rapi dan bersiap mengikuti rangkaian kegiatan yang dipandu langsung oleh instruktur dari TNI, yang dianggap ahli dalam hal kedisiplinan.

Kegiatan dimulai dengan apel pembukaan di lapangan sekolah. Terlihat para siswa berdiri rapi sambil mendengarkan arahan instruktur. Suasana menjadi hidup ketika instruktur memberikan simulasi kedisiplinan, mulai dari baris-berbaris hingga latihan fisik ringan. Beberapa siswa tampak semangat penuh, mengikuti setiap arahan dengan tekun, sementara beberapa siswa dengan kondisi fisik lemah harus meninggalkan latihan lebih awal. Namun, kegembiraan tetap terasa di seluruh lapangan, terlihat dari sorak-sorai siswa yang berhasil menyelesaikan setiap tantangan.

Salah satu siswa, Mutia, mengaku kegiatan ini sangat menarik sekaligus menantang.

"Awalnya saya sedikit terkejut karena ini pertama kali dididik langsung oleh TNI. Nada keras dan disiplin ketat membuat kaget, tapi kegiatan ini seru dan menantang. Rasanya berbeda banget dari pelajaran biasa di kelas," ungkapnya.

Selain kegiatan fisik, siswa juga diberikan pengarahan tentang pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Para instruktur menjelaskan bahwa disiplin bukan hanya soal fisik, tetapi juga menyangkut sikap, tanggung jawab, dan kesadaran diri.

Menurut Kepala Sekolah, Surya A.Md. Komp, SH, M.M, PDKS diadakan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter disiplin siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Program ini termasuk dalam kurikulum pendidikan dan dirancang selama satu tahun, dimulai dari tahap pra-PDKS, kemudian kegiatan inti selama tiga hari, dengan pemantauan disiplin setiap minggu dan laporan bulanan.

"Program ini dibuat karena disiplin merupakan salah satu pintu menuju kesuksesan. Kami ingin siswa memiliki kesadaran disiplin yang tumbuh, menjadi pribadi berkarakter baik, dan siap menghadapi tantangan lingkungan," jelasnya.

Surya menambahkan, siswa yang melanggar disiplin akan mendapatkan penanganan khusus, termasuk kerjasama dengan psikolog untuk menelusuri penyebab pelanggaran. Selain itu, nilai sikap siswa juga menjadi bagian dari penilaian rapor, sehingga pembentukan karakter siswa tidak hanya bersifat formal, tetapi juga diukur dan dipantau secara konsisten. Program ini juga merupakan implementasi dari kebijakan Panca Wulya provinsi, sebagai langkah nyata membentuk karakter siswa sejak dini.

Suasana kegiatan PDKS semakin hidup ketika siswa mengikuti simulasi situasi nyata, seperti latihan baris-berbaris sambil menjaga ketertiban dan disiplin. Beberapa siswa saling memberi semangat, sementara instruktur TNI menegur dengan nada tegas namun tetap memberi arahan yang jelas. Para orang tua yang hadir untuk menerima rapor juga menyaksikan kegiatan ini, memberi dukungan moral bagi anak-anak mereka.

Melalui kegiatan ini, SMK Bandung Timur berharap siswa dapat menjadi pribadi yang berkarakter baik, disiplin, hormat kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, dan mampu menghadapi lingkungan negatif dengan sikap bijak. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar kemandirian, kerja sama, dan keberanian dalam menghadapi tantangan fisik maupun mental. Dengan semangat membangun generasi muda yang disiplin dan berkarakter, PDKS di SMK Bandung Timur menjadi kegiatan penting yang tidak hanya menekankan fisik, tetapi juga pembentukan sikap, karakter, dan mental siswa.

Reporter: Dhia Disti Salsabila, KPI 5/B

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka