Tampilkan postingan dengan label Vokaagama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vokaagama. Tampilkan semua postingan

Ketika Perbedaan Bukan Masalah: Cerita Toleransi


Shasya Rajendra merupakan individu yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat yang majemuk. Lahir dan besar di Kota Bandung, Shasya menjalani proses pendidikan di institusi yang beragam, mulai dari SD Merdeka, SMP Negeri 28, SMA swasta BPI, hingga melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran melalui jalur diploma dan ekstensi di Widyatama. Lingkungan pendidikan dan sosial yang plural tersebut membentuk cara pandangnya terhadap keberagaman agama, budaya, dan nilai-nilai sosial.

Dalam pengalaman hidupnya, Shasya menyampaikan bahwa hingga saat ini ia tidak pernah merasakan konflik nilai agama secara langsung dalam relasi lintas agama. Perbedaan antara Islam, Kristen, Buddha, maupun keyakinan lainnya tidak pernah ia rasakan sebagai sumber pertentangan. Justru, relasi lintas agama berjalan secara harmonis dengan mengedepankan sikap saling menghormati dan toleransi. Bagi Shasya, perbedaan keyakinan merupakan kenyataan sosial yang wajar dan tidak perlu dipertentangkan.

Menariknya, menurut Shasya, konflik yang kerap muncul dalam masyarakat justru sering kali terjadi bukan antaragama, melainkan di dalam agama yang sama. Ia menyoroti adanya perbedaan praktik keagamaan, kebiasaan, maupun mazhab—seperti perbedaan penggunaan qunut, penyebutan tertentu dalam doa, dan tradisi ibadah lainnya—yang terkadang memicu ketegangan antar sesama pemeluk agama. Dalam pandangannya, konflik semacam ini menjadi ironi yang patut dikaji secara lebih mendalam, khususnya oleh kalangan akademisi, karena bertentangan dengan nilai dasar agama yang menjunjung perdamaian dan persaudaraan.

Dalam menyikapi keberagaman, Shasya memegang teguh nilai toleransi yang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Ia meyakini bahwa sebagai warga negara Indonesia, sikap toleran bukan hanya pilihan moral, melainkan tanggung jawab sosial. Ia menekankan pentingnya menghargai perbedaan agama, kepercayaan, budaya, dan bahasa sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia yang plural.

Komitmen Shasya terhadap nilai toleransi juga tercermin melalui keterlibatannya dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor, yang memiliki visi dan misi menegakkan toleransi demi persatuan. Melalui organisasi tersebut, Shasya terlibat langsung dalam praktik toleransi nyata di masyarakat, salah satunya dengan ikut menjaga dan mendukung kelancaran perayaan Natal di gereja bersama rekan-rekan yang berbeda keyakinan. Bagi Shasya, tindakan sederhana seperti saling membantu dan menjaga keamanan dalam perayaan keagamaan merupakan wujud toleransi yang paling nyata dan bermakna.
 

Oleh Sri Wahyuni
 

Penyuluh Agama Antapani Tekankan Ekoteologi dan Kerukunan di MTKD

Bandung – Penyuluh Agama Kecamatan Antapani, Kota Bandung, menggelar orientasi santri baru sekaligus silaturahim Majelis Taklim Konversi Diniyah (MTKD) di Masjid Nurul Huda pada Selasa, 7 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan bagi para warga dengan penekanan pada nilai ekoteologi dan kerukunan antarumat beragama sebagai bekal dakwah yang relevan dengan tantangan zaman.

Dalam arahannya, penyuluh agama menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah. Hal ini sejalan dengan gagasan ekoteologi yang menempatkan alam sebagai amanah Allah SWT yang harus dijaga keberlanjutannya. Para warga diajak untuk tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, penyuluh juga menggarisbawahi pentingnya merawat kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan bimbingan para mudaris, santri diarahkan untuk memiliki akhlak yang terbuka, toleran, dan mampu menjadi agen perdamaian. "Kita bukan hanya pewaris ilmu, tapi juga harus jadi teladan dalam menjaga harmoni sosial," tegas salah satu penyuluh.

Kegiatan ini turut menghadirkan pembicara dari kalangan tokoh agama dan pendidik MTKD. Mereka memperkuat pesan bahwa sinergi antar lembaga keagamaan perlu dibangun demi ketahanan moral masyarakat. Penyuluh berperan aktif dalam memfasilitasi dialog, diskusi, serta perumusan program yang selaras dengan visi Islam rahmatan lil 'alamin.

Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan itu ditutup dengan perumusan program kerja MTKD, salah satunya gerakan sadar lingkungan berbasis majelis taklim. Dengan pendampingan penyuluh Kemenag, agenda ini diharapkan mampu menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.


Reporter: Muhammad Natsir Saefudin, Rohmatika Denis Karina dan Sayyyidah Nafisa Almarwan

Rajab, Bulan Refleksi Spiritual bagi Umat Islam

Vokaloka, Bandung - Umat Islam memasuki bulan Rajab, salah satu dari empat bulan haram (mulia) dalam kalender Hijriah yang memiliki keutamaan khusus. Bulan Rajab menjadi penanda dimulainya rangkaian bulan penuh keberkahan sebelum datangnya Ramadan.

Rajab dikenal sebagai bulan yang dimuliakan Allah SWT, di mana umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah, memperbanyak istighfar, serta menjauhi perbuatan maksiat. Dalam tradisi Islam, bulan ini juga sering dimaknai sebagai waktu persiapan spiritual, baik secara mental maupun keimanan, menyambut bulan Sya'ban dan Ramadan.

Sejumlah tokoh agama menyampaikan bahwa bulan Rajab merupakan momentum yang tepat untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Nilai-nilai kesabaran, kejujuran, serta kepedulian sosial menjadi pesan penting yang relevan dengan kondisi kehidupan saat ini.

Selain itu, bulan Rajab juga memiliki nilai historis penting dalam Islam, salah satunya peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang menjadi dasar perintah salat lima waktu. Peristiwa tersebut mengingatkan umat Islam akan pentingnya salat sebagai fondasi utama dalam kehidupan beragama.

Di berbagai daerah, masyarakat menyambut bulan Rajab dengan beragam kegiatan keagamaan, seperti pengajian, doa bersama, dan kajian Islam. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keimanan, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga.

Dengan datangnya bulan Rajab, umat Islam diharapkan dapat menjadikannya sebagai sarana introspeksi diri, memperbaiki akhlak, serta mempersiapkan diri secara optimal untuk menyambut bulan suci Ramadan.

(Fikri Akmal Aufaa Fadhlurrahman)

Menenun Damai dari Tasikmalaya: Wacana Kolaborasi di Hari Sumpah Pemuda 2026

TASIKMALAYA – Tarekat Idrisiyyah Tasikmalaya menggelar sebuah pertemuan bersejarah yang berlangsung dengan hangat. Tidak ada debat teologis yang kaku, yang ada hanyalah diskusi ringan diiringi tawa renyah antara pengurus Tarekat Idrisiyyah, tokoh masyarakat, serta para pendeta dan romo dari berbagai gereja di Tasikmalaya.

Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di sana, sebuah visi besar sedang dirumuskan dengan tema menjadikan Tasikmalaya sebagai pelopor kota paling damai di Indonesia melalui kolaborasi nyata, bukan sekadar retorika.

Dialog lintas agama yang digelar baru-baru ini pada September lalu menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukanlah tembok, melainkan jembatan. Pengurus Tarekat Idrisiyyah bersama tokoh masyarakat setempat duduk satu ruangan di Resto Sultan Kebuli milik Idrisiyyah dengan perwakilan gereja-gereja di Tasikmalaya. 

 

"Kita tidak sedang berbicara tentang cara beribadah yang berbeda, tapi tentang bagaimana kita bisa bekerja sama membantu masyarakat yang sama-sama kita cintai," ujar Ustadz Asep Deni, M.Pd., salah satu perwakilan tokoh Idrisiyyah yang hadir.

Diskusi tersebut melahirkan sebuah kesepakatan besar. Mereka sepakat untuk merancang serangkaian kegiatan Kolaborasi Sosial Ekonomi Kemasyarakatan. Gerakan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh akar rumput, mulai dari pemberdayaan ekonomi umat hingga aksi sosial yang melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang agama.

 

Menariknya, seluruh rencana besar ini diproyeksikan akan memuncak pada momen Sumpah Pemuda tahun depan. Pemilihan waktu ini tentu bukan tanpa alasan. Sumpah Pemuda dianggap sebagai napas pemersatu bangsa yang paling relevan untuk membangkitkan kembali semangat toleransi di kalangan generasi muda Tasikmalaya.

 

Wacana kegiatannya pun beragam. Mulai dari festival UMKM lintas iman, pelayanan kesehatan gratis, aksi bersih kota bersama, hingga program berbagi pangan yang akan dikelola secara kolaboratif antara komunitas pesantren dan gereja.

 

"Ini adalah pintu gerbang awal. Kami ingin dunia melihat bahwa dari Tasikmalaya, kedamaian bisa dirajut melalui aksi nyata di bidang sosial dan ekonomi," ungkap Romo Hario seorang perwakilan dari pegiat Gereja Tasikmalaya dengan penuh optimisme.

Selama ini, Tasikmalaya sering kali dikenal dengan identitas religiusnya yang kuat. Melalui dialog ini, identitas tersebut diperluas maknanya menjadi religiusitas yang inklusif dan mendamaikan. Harapannya, inisiatif dari Tarekat Idrisiyyah dan perwakilan gereja ini bisa menjadi motor penggerak bagi Tasikmalaya untuk menyandang predikat sebagai Kota Paling Damai.

 

Langkah kecil dari meja dialog ini adalah sebuah lompatan besar bagi masa depan Tasikmalaya. Ketika pemuda-pemudi lintas agama nantinya berdiri bahu-membahu di momen Sumpah Pemuda tahun depan, mereka tidak hanya sedang merayakan sejarah, tetapi sedang menciptakan sejarah baru. Bahwa di Tasikmalaya, perbedaan bukan lagi soal "aku dan kamu", melainkan "kita" yang bekerja untuk kesejahteraan bersama. 

(Siti Nur Iffah Kamiladewi - @snikdewi)

Manfaatkan Prinsip Kepramukaan, KUA Ujung Berung Terapkan Inovasi Pendidikan di MTKD

VOKALOKA, Bandung – Imas Kurniasih salah satu Penyuluh KUA Ujung Berung sekaligus Pembina Pramuka di UIN Sunan Gunung Djati Bandung menerapkan metode pembelajaran yang berbeda dari biasanya di Majelis Taklim Konversi Diniyyah (MTKD). Tidak hanya ceramah, tetapi juga diskusi, praktik langsung, hingga permainan edukatif yang terinspirasi dari prinsip kepramukaan.

Program MTKD ini telah berjalan sejak 2018 dan mayoritas diikuti ibu-ibu dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga pensiunan guru. Penyuluh agama, Asep Saipuljaman, menyebut program ini menjadi solusi nyata bagi masyarakat untuk menambah ilmu agama. "Harapannya program ini terus berjalan karena selain menambah ilmu, juga menjadi solusi nyata di masyarakat. Bahkan ada wisuda setiap tahunnya bagi peserta tingkat tiga," ujarnya.

Salah satu pengajar, Imas Kinasih, menuturkan bahwa prinsip kepramukaan membantu suasana kelas lebih hidup. "Ice breaking, energizer, hingga praktik langsung membuat peserta lebih aktif. Misalnya, ibu-ibu diminta menulis dengan tangan kiri lalu tangan kanan untuk melatih fokus dan manajemen waktu. Dari permainan sederhana, mereka belajar motorik, kedisiplinan, serta kebersamaan," jelasnya.

Imas yang juga pembina Pramuka menambahkan, metode ini meningkatkan semangat belajar. "Kalau hanya duduk mendengar, semangat cepat turun. Dengan metode kepramukaan, ibu-ibu bisa berlatih kepemimpinan dan kerjasama," katanya.

Salah seorang peserta, Eliyani, mengaku nyaman belajar di MTKD. "Awalnya saya diajak teman, tapi lama-lama betah. Tempatnya strategis, ilmunya bermanfaat, dan suasananya penuh kebersamaan. Walaupun usia sudah tidak muda, di sini terasa muda kembali karena bisa belajar lintas generasi," ungkapnya.

Dengan kombinasi kurikulum terstruktur dan pendekatan kepramukaan, MTKD KUA Ujung Berung terus menjadi magnet bagi masyarakat. Program ini bukan sekadar ruang belajar agama, tetapi juga wadah interaksi sosial yang mempererat ukhuwah.

Reporter: Eva Alawiah
Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka