Vokaloka, Bandung- PENGURUS Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat menghadiri Doa Bersama Lintas Agama yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Bale Gemah Ripah (Aula Barat) Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22, Kota Bandung, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini digelar sebagai momentum pergantian tahun menuju 2026 dengan semangat memperkuat perdamaian, solidaritas, dan kerukunan umat beragama di Jawa Barat.
Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama ini juga dirangkaikan dengan agenda Pemantauan Malam Tahun Baru 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Acara dihadiri unsur FORKOPIMDA Provinsi Jawa Barat, pimpinan perangkat daerah Provinsi Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta berbagai organisasi masyarakat (ormas) Islam tingkat provinsi, di antaranya MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Mathlaul Anwar, Persatuan Islam, Syarikat Islam, Jam'iyatul Washliyah, Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Persatuan Umat Islam, Badan Amil Zakat Nasional, dan Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar.
Dari unsur lintas agama hadir perwakilan Keuskupan, PGI, PGPI, PGLII, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI), serta Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN).
Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menekankan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki potensi bencana cukup tinggi sehingga kewaspadaan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting.
Ia menegaskan bahwa penutupan tahun 2025 perlu diisi dengan refleksi, syukur, dan ikhtiar bersama untuk menyongsong 2026 dengan sikap lebih waspada sekaligus optimistis.
"Jawa Barat adalah provinsi yang rawan bencana. Di 27 kabupaten/kota terus kami pantau berbagai potensi kerawanan. Semoga dengan penutup tahun 2025 ini kita diberkahi atas seluruh aktivitas yang sudah dilaksanakan, dan menyambut tahun baru 2026 dengan kesabaran, kewaspadaan, serta semangat memperkuat kebersamaan," ujar Herman Suryatman.
Sekda Jabar juga menyampaikan refleksi singkat mengenai perkembangan Jawa Barat sepanjang 2025, setelah satu tahun periode kepemimpinan Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan menyinggung sejumlah capaian pembangunan dan penguatan layanan publik.
Pada kesempatan yang sama, Ustaz Asep Sudarman menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kolaborasi semua unsur masyarakat dalam menyelesaikan persoalan di Jawa Barat. Ia menilai, sinergi antara ulama, umara, kalangan dermawan, dan kelompok masyarakat kecil menjadi kunci terciptanya masyarakat yang lebih baik.
Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah hadits tentang peran empat kelompok dalam menguatkan peradaban.
"Hebatnya dunia karena empat hal: karena ilmunya para ulama, adilnya para umara, dermawannya orang-orang kaya, dan doanya orang-orang miskin," tutur Ustaz Asep.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama yang dipimpin tokoh agama dari enam agama resmi di Indonesia. Perwakilan dari kalangan Islam dipimpin oleh Ustaz Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua DKM Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat.
Dari unsur Al-Washliyah, hadir Sekretaris Pengurus Wilayah Al-Jam'iyatul Washliyah Jawa Barat, Dr. Dadan F. Ramdhan, M.Pd. Ia menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini yang dinilainya sebagai forum penting untuk menjaga kondusivitas sosial di Jawa Barat.
Menurutnya, kegiatan doa bersama lintas agama ini menunjukkan bahwa kerukunan dapat dibangun melalui ruang dialog spiritual yang inklusif.
"Kami mengapresiasi inisiatif Pemprov Jawa Barat yang mengundang berbagai unsur agama untuk berdoa bersama. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk merawat suasana kondusif, mencegah gesekan sosial, dan memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk," ungkap Dr. Dadan F. Ramdhan.
Sementara itu, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag., Ketua Bidang Dakwah PW Al-Jam'iatul Washliyah Jawa Barat, menyatakan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak berhenti pada seremoni pergantian tahun semata, tetapi menjadi tradisi yang mengiringi agenda pembangunan daerah.
Ia menekankan bahwa kebersamaan lintas agama merupakan modal sosial yang besar bagi pembangunan Jawa Barat.
"Kami berharap kegiatan doa lintas agama ini semakin memperteguh kebersamaan rakyat Jawa Barat dalam membangun daerahnya di tahun 2026. Perbedaan agama dan keyakinan bukan penghalang, tetapi justru kekuatan jika dikelola dengan bijaksana," ujar Dr. Uwes Fatoni.
Tidak ada komentar
Posting Komentar