Vokaloka - Pagi baru saja menyentuh Desa Cileunyi Kulon ketika Iwan, 55 tahun sudah lebih dulu berada di sawah. Pecinya yang sudah pudar menahan sinar matahari, sementara tangannya sibuk menyeleksi daun yang mulai menguning pada tanaman sawi. Gerakannya perlahan tapi pasti. Di tengah lahan yang terhampar luas, Iwan menjadi salah satu sosok yang paling konsisten memperjuangkan pertanian organik di kampungnya. Ia mulai mengenal sistem ini lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika hasil panen warga mulai menurun akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.
"Kalo pake pestisida itu kurang baik buat tanah juga tanamannya, saya sudah merasakannya sejak sepuluh tahun lalu sejak saya gagal panen sejak saat itu saya mencoba beralih ke bahan organik sampai sekarang" ujar Iwan.
Perubahan tidak datang begitu saja. Iwan memulai dari hal kecil, ia membuat kompos sendiri di belakang rumahnya. Ia bereksperimen dengan limbah dapur, kotoran ternak, dan dedaunan kering. Tidak semua percobaannya berhasil. Beberapa kali komposnya terlalu basah, kadang terlalu panas. Tapi ia terus mencoba.
"Awalnya saya ngumpulin itu sampah organik lalu saya campurkan juga dengan kotoran hewan sampai jadi pupuk organik" sambungnya.
Setelah hasil panennya membaik, Iwan mulai mengajak tetangga untuk ikut mencoba. Ia mendatangi mereka satu per satu, membawa contoh daun sehat dari kebunnya. Di balai desa ia sering menjadi narasumber dadakan. Dengan bahasa yang sederhana, ia menjelaskan mengapa tanah harus kembali diberi ruang untuk bernapas.
"Iya sejak panen saya hasilnya lumayan masyarakat jadi banyak yang pengen juga, saya juga suka diundang buat jadi pelatih untuk membuat pupuk organik" tutur Iwan.
Semangat mengedukasi itu tidak padam meski usianya terus bertambah. Setiap minggu, ia membuka waktu khusus bagi pemuda desa yang ingin belajar cara membuat pestisida alami. Mereka duduk melingkar di halaman rumahnya, menonton saat Iwan meracik bahan dari sampah organik. Ia tidak sekadar mengajar teknik, tapi juga menanamkan cara pandang bahwa bertani bukan semata soal hasil panen, melainkan tentang menjaga keseimbangan.
Disamping itu perjalanan Iwan tidak selalu mulus. Beberapa warga meragukan metode organik karena dianggap lebih lama dan lebih rumit. Iwan tidak pernah memaksakan. Ia hanya menunjukkan contoh, sabar menjawab pertanyaan, dan tetap membantu siapa pun yang ingin mencoba.
"Ya kalo awalnya sih mereka pada gak mau untuk pake organik, tapi setelah liat hasil panen saya dan mungkin juga karena lama kelamaan mereka pada mau" ujar Iwan.
Kini, hasil kerja kerasnya mulai terasa. Sebagian lahan di Cileunyi Kulon beralih ke sistem organik, dan panennya lebih stabil. Tanah yang dulu keras mulai gembur kembali. Beberapa warga bahkan berhasil menjual sayuran organik ke pasar dengan harga lebih baik. Iwan tidak pernah menyebut ini sebagai keberhasilannya.
"Ya ini kan keberhasilan bersama bukan saya aja a" ujar Iwan.
Di usia 55 tahun, ketika banyak orang mulai mengurangi aktivitas berat, Iwan justru merasa hidupnya semakin bermakna. Baginya, bertani organik bukan hanya pekerjaan, tetapi amanah. Amanah untuk menjaga tanah, mengajari generasi muda, dan memastikan kampungnya tetap punya masa depan.
Saat matahari semakin tinggi, Iwan berdiri sambil memandangi deretan tanaman sayurnya. Di wajahnya terselip rasa bangga yang tenang.
"Alhamdulilah sekarang tinggal nunggu hasil a, apa yang dulu saya tanam sekarang saya tuai" pungkas Iwan.
Penulis: Muhamad Alan Azizal
"Kalo pake pestisida itu kurang baik buat tanah juga tanamannya, saya sudah merasakannya sejak sepuluh tahun lalu sejak saya gagal panen sejak saat itu saya mencoba beralih ke bahan organik sampai sekarang" ujar Iwan.
Perubahan tidak datang begitu saja. Iwan memulai dari hal kecil, ia membuat kompos sendiri di belakang rumahnya. Ia bereksperimen dengan limbah dapur, kotoran ternak, dan dedaunan kering. Tidak semua percobaannya berhasil. Beberapa kali komposnya terlalu basah, kadang terlalu panas. Tapi ia terus mencoba.
"Awalnya saya ngumpulin itu sampah organik lalu saya campurkan juga dengan kotoran hewan sampai jadi pupuk organik" sambungnya.
Setelah hasil panennya membaik, Iwan mulai mengajak tetangga untuk ikut mencoba. Ia mendatangi mereka satu per satu, membawa contoh daun sehat dari kebunnya. Di balai desa ia sering menjadi narasumber dadakan. Dengan bahasa yang sederhana, ia menjelaskan mengapa tanah harus kembali diberi ruang untuk bernapas.
"Iya sejak panen saya hasilnya lumayan masyarakat jadi banyak yang pengen juga, saya juga suka diundang buat jadi pelatih untuk membuat pupuk organik" tutur Iwan.
Semangat mengedukasi itu tidak padam meski usianya terus bertambah. Setiap minggu, ia membuka waktu khusus bagi pemuda desa yang ingin belajar cara membuat pestisida alami. Mereka duduk melingkar di halaman rumahnya, menonton saat Iwan meracik bahan dari sampah organik. Ia tidak sekadar mengajar teknik, tapi juga menanamkan cara pandang bahwa bertani bukan semata soal hasil panen, melainkan tentang menjaga keseimbangan.
Disamping itu perjalanan Iwan tidak selalu mulus. Beberapa warga meragukan metode organik karena dianggap lebih lama dan lebih rumit. Iwan tidak pernah memaksakan. Ia hanya menunjukkan contoh, sabar menjawab pertanyaan, dan tetap membantu siapa pun yang ingin mencoba.
"Ya kalo awalnya sih mereka pada gak mau untuk pake organik, tapi setelah liat hasil panen saya dan mungkin juga karena lama kelamaan mereka pada mau" ujar Iwan.
Kini, hasil kerja kerasnya mulai terasa. Sebagian lahan di Cileunyi Kulon beralih ke sistem organik, dan panennya lebih stabil. Tanah yang dulu keras mulai gembur kembali. Beberapa warga bahkan berhasil menjual sayuran organik ke pasar dengan harga lebih baik. Iwan tidak pernah menyebut ini sebagai keberhasilannya.
"Ya ini kan keberhasilan bersama bukan saya aja a" ujar Iwan.
Di usia 55 tahun, ketika banyak orang mulai mengurangi aktivitas berat, Iwan justru merasa hidupnya semakin bermakna. Baginya, bertani organik bukan hanya pekerjaan, tetapi amanah. Amanah untuk menjaga tanah, mengajari generasi muda, dan memastikan kampungnya tetap punya masa depan.
Saat matahari semakin tinggi, Iwan berdiri sambil memandangi deretan tanaman sayurnya. Di wajahnya terselip rasa bangga yang tenang.
"Alhamdulilah sekarang tinggal nunggu hasil a, apa yang dulu saya tanam sekarang saya tuai" pungkas Iwan.
Penulis: Muhamad Alan Azizal
Tidak ada komentar
Posting Komentar