Indah Kurnia Pulungan punya dua akun Instagram. Yang pertama, @indahkurniaplg, dengan 1.030 followers penuh foto aesthetic, caption bijak, dan momen-momen "instagrammable". Yang kedua, @ndhwolfhrd, hanya 49 followers: teman dekat dan keluarga. Di sini, ia posting foto-foto jelek, rant panjang lebar, meme receh, dan video nangis setelah putus cinta.
"Akun utama itu kayak CV ku di dunia digital. Akun kedua? Itu diary ku," ujarnya sambil tertawa. "Di akun utama, aku harus jaga image. Di akun kedua, aku bisa jadi diri sendiri yang berantakan."
Indah bukan anomali. Fenomena memiliki dua akun Instagram atau lebih—yang populer disebut "Finsta" (fake Instagram) dan "Rinsta" (real Instagram) telah menjadi tren besar di kalangan Gen Z. Ironisnya, akun "palsu" justru berisi kehidupan yang lebih nyata, sementara akun "asli" dipenuhi kepalsuan yang dikurasi rapi.
Rinsta adalah akun utama wajah publik seseorang di dunia digital. Foto-fotonya dipilih dengan cermat, diedit dengan aplikasi mahal, caption-nya inspiratif atau humoris dengan porsi yang pas. Followers-nya ratusan hingga ribuan: teman sekolah, teman kantor, kenalan, bahkan orang asing. Rinsta adalah panggung, dan kita adalah aktor yang mementaskan versi terbaik dari diri kita.
Finsta adalah kebalikannya akun privat dengan followers sangat terbatas, biasanya hanya inner circle. Isinya? Foto-foto unflattering, rant tentang bos yang menyebalkan, keluhan tentang mantan, screenshot percakapan awkward, video joget gak jelas tengah malam, atau sekadar foto selfie bangun tidur dengan rambut kusut dan jerawat meradang.
"Finsta itu ruang aman," ungkap Raka, mahasiswa 21 tahun. "Aku bisa ngeluh, bisa posting sesuatu yang 'cringe', bisa jadi vulnerable tanpa takut di-judge sama orang-orang yang nggak terlalu kenal aku."
Ada beberapa alasan mengapa Gen Z merasa perlu memilah kehidupan digital mereka menjadi dua atau lebih persona.
Pertama, tekanan perfeksionisme. Instagram telah menciptakan standar yang tidak realistis tentang bagaimana hidup seharusnya terlihat. Semua orang pamer momen terbaik mereka, dan Gen Z merasa harus melakukan hal yang sama setidaknya di akun utama. Finsta menjadi pelarian dari tekanan ini, tempat mereka bisa "tidak sempurna" tanpa konsekuensi sosial.
Kedua, audience yang berbeda. Di akun utama, followers-nya campur aduk: orang tua, dosen, calon employer, teman lama yang sudah tidak dekat, bahkan crush. Mustahil bersikap otentik ketika audience-nya sedemikian beragam dengan ekspektasi berbeda-beda. Finsta memungkinkan mereka untuk "memilih" siapa yang boleh melihat sisi "real" mereka.
Ketiga, kontrol atas narasi hidup. Dengan dua akun, Gen Z bisa mengontrol image publik mereka sambil tetap punya outlet untuk mengekspresikan diri secara autentik. Ini seperti punya dua kehidupan paralel: satu untuk konsumsi publik, satu untuk konsumsi pribadi.
Keempat, proteksi privasi. Di era di mana segala sesuatu yang di-post bisa menjadi amunisi untuk cyberbullying atau cancel culture, memiliki akun privat dengan audience terbatas adalah bentuk self-protection. Mereka bisa mengekspresikan pendapat kontroversial, curhat tentang masalah pribadi, atau sekadar posting sesuatu yang "memalukan" tanpa takut viral dan menjadi bahan ejekan massal.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah memiliki dua identitas digital ini sehat atau justru problematik? Di satu sisi, Finsta bisa dilihat sebagai coping mechanism yang positif. Ia memberi ruang aman bagi Gen Z untuk mengekspresikan emosi mereka, untuk tidak selalu "on" dan sempurna. Dalam dunia yang terus menuntut kita untuk personal branding dan curate kehidupan, Finsta adalah bentuk resistensi kecil pengakuan bahwa hidup tidak selalu instagrammable, dan itu okay.
Psikolog juga mencatat bahwa memiliki outlet untuk mengekspresikan sisi "tidak sempurna" diri bisa mengurangi tekanan mental. Daripada menekan semua emosi negatif demi menjaga image, lebih baik ada ruang meski terbatas untuk melepaskannya.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga mengkhawatirkan. Ia menunjukkan bahwa Gen Z tidak merasa aman untuk menjadi diri sendiri di ruang publik digital. Mereka merasa harus "berpura-pura" di akun utama, dan hanya bisa "jujur" di ruang yang sangat terbatas. Ini adalah gejala dari budaya media sosial yang toxic di mana autentisitas adalah luxury yang hanya bisa dinikmati di balik pintu tertutup.
Ada juga bahaya dari terus-menerus switching between personas. Ketika kita terbiasa memilah diri menjadi "versi publik" dan "versi privat", batas antara keduanya bisa kabur. Kita bisa kehilangan sense of self yang koheren, atau merasa bahwa "diri yang sebenarnya" adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Fenomena second account bukan hanya tentang Instagram atau media sosial. Ia adalah cerminan dari kondisi psikososial Gen Z yang tumbuh di era digital hyperconnected. Mereka adalah generasi pertama yang entire hidupnya terdokumentasi online, yang setiap tindakannya berpotensi menjadi konten publik.
Mereka belajar sejak dini bahwa apa yang mereka post bisa berdampak pada reputasi mereka, pada peluang kerja mereka, bahkan pada keselamatan mereka. Mereka melihat teman-teman mereka di-bully karena satu tweet, di-cancel karena satu foto, atau kehilangan kesempatan karena sesuatu yang mereka post tahun lalu.
Jadi mereka beradaptasi. Mereka menciptakan sistem dua pintu: satu pintu untuk dunia, satu pintu untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Ini bukan hanya tentang Instagram—ini tentang survival di dunia digital yang kejam dan judgmental.
Second account Gen Z adalah fenomena yang kompleks bukan sekadar tren, tapi simptom dari dunia digital yang menuntut kesempurnaan sambil mengklaim menghargai autentisitas. Finsta adalah ruang aman yang Gen Z ciptakan untuk diri mereka sendiri di tengah tekanan media sosial. Ia adalah pengakuan jujur bahwa hidup terlalu berantakan untuk dipamerkan sepenuhnya di publik, namun terlalu berharga untuk tidak dibagikan sama sekali.
Tapi dalam prosesnya, kita juga harus bertanya: mengapa kita merasa perlu membagi diri kita menjadi dua? Mengapa "diri yang sebenarnya" harus disembunyikan di balik akun privat? Dan bagaimana kita bisa menciptakan dunia digital dan dunia nyata di mana orang bisa menjadi diri mereka sendiri sepenuhnya, tanpa perlu akun kedua sebagai tameng? Sampai saat itu tiba, Finsta akan tetap ada. Dan mungkin, itu tidak sepenuhnya buruk. Setidaknya, di suatu tempat di internet, ada 49 orang yang tahu siapa diri kita yang sebenarnya berantakan, tidak sempurna, dan sangat manusiawi.
Oleh : Cantika Maesto Octavia
"Akun utama itu kayak CV ku di dunia digital. Akun kedua? Itu diary ku," ujarnya sambil tertawa. "Di akun utama, aku harus jaga image. Di akun kedua, aku bisa jadi diri sendiri yang berantakan."
Indah bukan anomali. Fenomena memiliki dua akun Instagram atau lebih—yang populer disebut "Finsta" (fake Instagram) dan "Rinsta" (real Instagram) telah menjadi tren besar di kalangan Gen Z. Ironisnya, akun "palsu" justru berisi kehidupan yang lebih nyata, sementara akun "asli" dipenuhi kepalsuan yang dikurasi rapi.
Rinsta adalah akun utama wajah publik seseorang di dunia digital. Foto-fotonya dipilih dengan cermat, diedit dengan aplikasi mahal, caption-nya inspiratif atau humoris dengan porsi yang pas. Followers-nya ratusan hingga ribuan: teman sekolah, teman kantor, kenalan, bahkan orang asing. Rinsta adalah panggung, dan kita adalah aktor yang mementaskan versi terbaik dari diri kita.
Finsta adalah kebalikannya akun privat dengan followers sangat terbatas, biasanya hanya inner circle. Isinya? Foto-foto unflattering, rant tentang bos yang menyebalkan, keluhan tentang mantan, screenshot percakapan awkward, video joget gak jelas tengah malam, atau sekadar foto selfie bangun tidur dengan rambut kusut dan jerawat meradang.
"Finsta itu ruang aman," ungkap Raka, mahasiswa 21 tahun. "Aku bisa ngeluh, bisa posting sesuatu yang 'cringe', bisa jadi vulnerable tanpa takut di-judge sama orang-orang yang nggak terlalu kenal aku."
Ada beberapa alasan mengapa Gen Z merasa perlu memilah kehidupan digital mereka menjadi dua atau lebih persona.
Pertama, tekanan perfeksionisme. Instagram telah menciptakan standar yang tidak realistis tentang bagaimana hidup seharusnya terlihat. Semua orang pamer momen terbaik mereka, dan Gen Z merasa harus melakukan hal yang sama setidaknya di akun utama. Finsta menjadi pelarian dari tekanan ini, tempat mereka bisa "tidak sempurna" tanpa konsekuensi sosial.
Kedua, audience yang berbeda. Di akun utama, followers-nya campur aduk: orang tua, dosen, calon employer, teman lama yang sudah tidak dekat, bahkan crush. Mustahil bersikap otentik ketika audience-nya sedemikian beragam dengan ekspektasi berbeda-beda. Finsta memungkinkan mereka untuk "memilih" siapa yang boleh melihat sisi "real" mereka.
Ketiga, kontrol atas narasi hidup. Dengan dua akun, Gen Z bisa mengontrol image publik mereka sambil tetap punya outlet untuk mengekspresikan diri secara autentik. Ini seperti punya dua kehidupan paralel: satu untuk konsumsi publik, satu untuk konsumsi pribadi.
Keempat, proteksi privasi. Di era di mana segala sesuatu yang di-post bisa menjadi amunisi untuk cyberbullying atau cancel culture, memiliki akun privat dengan audience terbatas adalah bentuk self-protection. Mereka bisa mengekspresikan pendapat kontroversial, curhat tentang masalah pribadi, atau sekadar posting sesuatu yang "memalukan" tanpa takut viral dan menjadi bahan ejekan massal.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah memiliki dua identitas digital ini sehat atau justru problematik? Di satu sisi, Finsta bisa dilihat sebagai coping mechanism yang positif. Ia memberi ruang aman bagi Gen Z untuk mengekspresikan emosi mereka, untuk tidak selalu "on" dan sempurna. Dalam dunia yang terus menuntut kita untuk personal branding dan curate kehidupan, Finsta adalah bentuk resistensi kecil pengakuan bahwa hidup tidak selalu instagrammable, dan itu okay.
Psikolog juga mencatat bahwa memiliki outlet untuk mengekspresikan sisi "tidak sempurna" diri bisa mengurangi tekanan mental. Daripada menekan semua emosi negatif demi menjaga image, lebih baik ada ruang meski terbatas untuk melepaskannya.
Namun di sisi lain, fenomena ini juga mengkhawatirkan. Ia menunjukkan bahwa Gen Z tidak merasa aman untuk menjadi diri sendiri di ruang publik digital. Mereka merasa harus "berpura-pura" di akun utama, dan hanya bisa "jujur" di ruang yang sangat terbatas. Ini adalah gejala dari budaya media sosial yang toxic di mana autentisitas adalah luxury yang hanya bisa dinikmati di balik pintu tertutup.
Ada juga bahaya dari terus-menerus switching between personas. Ketika kita terbiasa memilah diri menjadi "versi publik" dan "versi privat", batas antara keduanya bisa kabur. Kita bisa kehilangan sense of self yang koheren, atau merasa bahwa "diri yang sebenarnya" adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Fenomena second account bukan hanya tentang Instagram atau media sosial. Ia adalah cerminan dari kondisi psikososial Gen Z yang tumbuh di era digital hyperconnected. Mereka adalah generasi pertama yang entire hidupnya terdokumentasi online, yang setiap tindakannya berpotensi menjadi konten publik.
Mereka belajar sejak dini bahwa apa yang mereka post bisa berdampak pada reputasi mereka, pada peluang kerja mereka, bahkan pada keselamatan mereka. Mereka melihat teman-teman mereka di-bully karena satu tweet, di-cancel karena satu foto, atau kehilangan kesempatan karena sesuatu yang mereka post tahun lalu.
Jadi mereka beradaptasi. Mereka menciptakan sistem dua pintu: satu pintu untuk dunia, satu pintu untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Ini bukan hanya tentang Instagram—ini tentang survival di dunia digital yang kejam dan judgmental.
Second account Gen Z adalah fenomena yang kompleks bukan sekadar tren, tapi simptom dari dunia digital yang menuntut kesempurnaan sambil mengklaim menghargai autentisitas. Finsta adalah ruang aman yang Gen Z ciptakan untuk diri mereka sendiri di tengah tekanan media sosial. Ia adalah pengakuan jujur bahwa hidup terlalu berantakan untuk dipamerkan sepenuhnya di publik, namun terlalu berharga untuk tidak dibagikan sama sekali.
Tapi dalam prosesnya, kita juga harus bertanya: mengapa kita merasa perlu membagi diri kita menjadi dua? Mengapa "diri yang sebenarnya" harus disembunyikan di balik akun privat? Dan bagaimana kita bisa menciptakan dunia digital dan dunia nyata di mana orang bisa menjadi diri mereka sendiri sepenuhnya, tanpa perlu akun kedua sebagai tameng? Sampai saat itu tiba, Finsta akan tetap ada. Dan mungkin, itu tidak sepenuhnya buruk. Setidaknya, di suatu tempat di internet, ada 49 orang yang tahu siapa diri kita yang sebenarnya berantakan, tidak sempurna, dan sangat manusiawi.
Oleh : Cantika Maesto Octavia
Tidak ada komentar
Posting Komentar