Sebagai warga yang kerap beraktivitas di wilayah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, saya kembali dibuat prihatin dengan kondisi banjir yang seolah menjadi rutinitas setiap musim hujan. Hujan dengan intensitas sedang saja sudah cukup membuat sejumlah ruas jalan dan permukiman tergenang air. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa persoalan banjir di Dayeuhkolot seakan tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Banjir tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Banyak pekerja dan pelajar terpaksa terlambat atau bahkan tidak dapat beraktivitas karena akses jalan terendam. Air yang bercampur lumpur dan limbah rumah tangga juga meningkatkan risiko penyakit kulit dan gangguan kesehatan lainnya.
Permasalahan banjir di Dayeuhkolot sejatinya bukan semata akibat curah hujan tinggi. Pendangkalan sungai, saluran drainase yang tersumbat sampah, serta berkurangnya daerah resapan air turut memperparah kondisi. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali membuat air hujan tidak lagi terserap dengan baik, sehingga seluruh beban air mengalir ke sungai dan permukiman warga.
Saya memahami bahwa penanganan banjir membutuhkan waktu, biaya, dan kerja lintas sektor. Namun, solusi yang bersifat darurat tanpa disertai perencanaan jangka panjang hanya akan membuat masalah ini terus berulang. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, serta pengelolaan tata ruang yang lebih ramah lingkungan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan juga harus terus ditingkatkan.
Banjir di Dayeuhkolot seharusnya tidak dianggap sebagai hal biasa. Setiap genangan air membawa dampak nyata bagi kehidupan warga. Melalui surat pembaca ini, saya berharap semua pihak dapat lebih serius dan bersinergi agar Dayeuhkolot terbebas dari banjir yang selama ini menjadi beban tahunan.
Fikri Syahrul Mubarok
KPI/5A
Tidak ada komentar
Posting Komentar