VOKALOKA.ONLINE, Bandung – Di tengah tren pernikahan megah yang mulai memudar, mengapa semakin banyak pasangan di Cileunyi kini memilih menikah dengan cara sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) Cileunyi? Pada Jumat, 12 September 2025, fenomena ini muncul sebagai jawaban atas kebutuhan akan proses yang mudah, suasana yang tenang, dan penghematan biaya. Siapa dan bagaimana hal ini mengubah paradigma masyarakat tentang makna pernikahan? Simak perubahan signifikan yang mengedepankan kesederhanaan dan kebermaknaan dalam setiap langkah menuju ikatan suci tersebut.
Kepala KUA Cileunyi, Bapak Suryana, dalam prakatanya menyampaikan bahwa belakangan ini semakin banyak pasangan yang memilih akad nikah langsung di kantor KUA. "Akhir-akhir ini menikah di KUA Cileunyi sudah menjadi tren, bahkan pernah lebih dari 50% pasangan melangsungkan akad di sini. Biasanya setelah akad, pasangan langsung pergi ke rumah makan bersama keluarga inti. Model pernikahan sederhana seperti ini kini jadi tren positif, karena lebih praktis dan intimate," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa menikah di KUA tidak dikenakan biaya PNBP, berbeda dengan menikah di luar KUA yang dikenakan tarif resmi sebesar Rp. 600.000. "Kalau di KUA, pengesahannya nol rupiah. Jadi masyarakat bisa terbantu dari sisi ekonomi. Namun tetap, semua calon pengantin wajib mengikuti bimbingan pernikahan setiap hari Rabu di KUA Cileunyi sebelum resmi menikah," ungkapnya.
Menariknya, setiap pasangan yang menikah di KUA Cileunyi juga diarahkan untuk mengikuti program ramah lingkungan bernama "Pepeling" (Pengantin Peduli Lingkungan). Program ini dari pak Dedi Mulyadi menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial dari pasangan yang menikah. "Kami di KUA bekerja sama dengan pihak kehutanan. Jadi setiap pasangan yang menikah akan diberikan bibit pohon untuk ditanam kembali di lingkungan," ujar Suryana. Ia menegaskan bahwa pepeling bukan sekadar simbol, melainkan langkah nyata mengajak pengantin baru untuk menumbuhkan kepedulian sejak awal membina keluarga.
Salah satu pengantin yang baru saja melangsungkan akad nikah di KUA Cileunyi mengaku bahagia dengan kesederhanaan yang dijalani. "Menikah di KUA itu lebih praktis, tidak perlu banyak persiapan. Dari awal pendaftaran sampai hari ini, semua berjalan lancar tanpa dipersulit. Setelah akad, kami langsung pulang dan makan bersama keluarga sederhana saja," ungkapnya.
Menurutnya, dana yang biasanya dihabiskan untuk pesta besar lebih bermanfaat jika dialihkan untuk kehidupan rumah tangga ke depan. Pengantin lainnya menambahkan bahwa makna kesederhanaan dalam pernikahan jauh lebih penting daripada kemewahan. Ia mengatakan, "Yang terpenting adalah syariatnya terlaksana. Soal biaya, setiap orang punya ukuran masing-masing, jadi tidak perlu membandingkan." Sementara mempelai wanita yang turut diwawancarai menuturkan rasa syukurnya. "Alhamdulillah, menikah di KUA lebih khidmat. Tidak perlu menunggu lama karena penghulu sudah siap di tempat. Jangan malu menikah di KUA, yang penting sah di agama dan negara. Tidak harus mewah, karena niatnya ibadah," jelasnya.
Pandangan positif juga datang dari orang tua kedua mempelai. Salah seorang ayah mengungkapkan bahwa keputusan anaknya menikah di KUA jauh lebih efisien. "Lebih baik sederhana, toh yang penting sah. Kemewahan lebih baik dipersiapkan untuk masa depan setelah menikah," ucapnya.
Seorang ibu menambahkan harapannya agar rumah tangga anaknya menjadi sakinah, mawaddah, warahmah. Menurutnya, nilai penting dari pernikahan sederhana adalah sah secara agama dan negara tanpa terbebani biaya besar.
Dari pihak saksi, seorang kerabat menilai pernikahan di KUA sangat membantu terutama dalam kondisi ekonomi yang beragam. Ia bahkan baru mengetahui bahwa menikah di hari kerja di KUA tidak dipungut biaya. "Cukup keluar ongkos transportasi saja, sudah sah dan membahagiakan. Banyak pelajaran dari sini, bahwa menikah tidak harus mahal," tuturnya.
Dari berbagai tanggapan yang muncul, baik dari pasangan pengantin, orang tua, saksi, maupun pihak KUA, terlihat jelas bahwa kesederhanaan dalam pernikahan bukan lagi dianggap sebagai keterbatasan, melainkan sebagai pilihan yang penuh makna. Menikah di KUA menghadirkan prosesi yang sah secara hukum agama dan negara, efisien dari segi biaya, serta memberikan suasana khidmat yang tak kalah berkesan dibanding pesta mewah. Dengan demikian, tren menikah di KUA Cileunyi bukan sekadar fenomena, melainkan cerminan kesadaran baru masyarakat bahwa inti dari pernikahan adalah ibadah, kepedulian, dan komitmen jangka panjang, bukan sekadar kemewahan dan pesta sesaat.
Reporter: Shakira Putri Anisa
Tidak ada komentar
Posting Komentar