Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Dorong Pencegahan dan Penanganan Stunting, Kecamatan Cibiru Gelar Rembuk Stunting


 Vokaloka, Bandung – Kecamatan Cibiru menggelar kegiatan Rembuk Stunting di Aula Kantor Kecamatan Cibiru, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Kecamatan, Mohamad Afghan Ridho, S.H., M.H. yang mewakili Camat Cibiru, anggota DPRD Kota Bandung Dapil 3, Bapak Aswan Asep Wawan, S.E, Lurah di wilayah Kecamatan Cibiru, Kepala UPT Puskesmas, serta perwakilan posyandu dari seluruh wilayah Kecamatan Cibiru.

Kegiatan tersebut menjadi forum untuk membahas upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui keterlibatan berbagai pihak, khususnya kader posyandu. Dalam kegiatan ini, para kader juga didorong untuk menyampaikan gagasan dan masukan terkait kebutuhan serta kondisi di wilayah masing-masing.

Dalam sambutannya, anggota DPRD Kota Bandung Dapil 3, Bapak Aswan, mendorong penguatan dukungan anggaran bagi PKK dan Posyandu. Ia menyampaikan bahwa dirinya akan memperjuangkan penganggaran bagi kedua lembaga tersebut pada 2027 sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan para kader di masyarakat.

“Insyaallah nanti saya berjuang untuk mengagendakan anggaran PKK dan Posyandu di 2027,” ujar Bapak Aswan.

Selain mendorong dukungan anggaran, Bapak Aswan berharap kegiatan Rembuk Stunting tidak hanya dilaksanakan di tingkat kecamatan, tetapi juga diagendakan hingga tingkat kelurahan. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu menghasilkan laporan perkembangan stunting di setiap wilayah agar upaya penanganan dapat dipantau dan dievaluasi.

“Jadi ini saya harap kegiatan ini tidak hanya skala kecamatan saja, kalau bisa di kelurahan juga agendakan Rembuk Stunting ini. Jadi hasilnya jelas berapa sih di setiap RW-nya dan di setiap kelurahannya,” ungkapnya.

Dari sisi peserta, Elia Astuti, Ketua Posyandu Mawar A RW 15 Cipadung, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kader posyandu, terutama dalam menambah informasi mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka stunting. Menurutnya, kegiatan ini juga memberikan tambahan pemahaman mengenai solusi pencegahan stunting.

“Iya cukup membantu. Setidaknya saya mendapatkan tambahan pemahaman mengenai langkah-langkah dan solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah serta menurunkan angka stunting,” ujar Elia.

Elia berharap berbagai upaya yang dilakukan melalui kegiatan tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik dan mendorong penurunan angka stunting. Ia juga menilai edukasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan karena pemahaman orang tua balita mengenai stunting masih beragam.

“Harapannya lebih baik lagi ya untuk penghapusan stunting, maunya sih begitu. Tapi ya bagaimana kondisi juga. Jadi harapannya ya minimal ada penurunan angka stunting,” pungkasnya.

Reporter: Idah Nurhamidah


Dorong UMKM Naik Kelas, DKP Gelar Bazar Ikan dan Pembinaan secara Gratis

 

Vokaloka, Bandung - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat menggelar bazar produk kelautan dan perikanan secara rutin setiap bulan pada Jumat pertama sebagai ruang pemasaran dan pembinaan gratis bagi UMKM di Jawa Barat (02/10/26). Kegiatan tersebut digelar untuk membantu pelaku usaha memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar.

 “Bazar Promosi Produk Kelautan dan Perikanan Ini untuk digelar rutin tiap hari Jumat pertama di setiap bulan guna memasarkan produk perikanan di Jawa Barat dan membantu usaha-usaha kecil agar bisa naik kelas,” ujar Analis Pasar Hasil Perikanan Ahli Pertama, Nur Sabani Komarudin.

Dalam pelaksanaannya, DKP menyediakan sekitar 30 stan untuk pelaku usaha perikanan dan 20 stan bagi pelaku usaha lainnya. Keikutsertaan serta fasilitas stan tersebut diberikan tanpa dipungut biaya. “Pelaku usaha kecil yang mengikuti bazar tidak perlu membayar,” jelas Sabani.

Selain menyediakan tempat pemasaran, DKP memberikan pembinaan terkait penanganan bahan baku, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga pencatatan usaha. Pendampingan juga dilakukan untuk memastikan produk yang dipasarkan memenuhi standar kualitas. “Tugas Kami hanya memfasilitasi dan mengawasi, memberikan pembinaan serta melakukan pemeriksaan,” ujar Sabani.

Salah satu pelaku UMKM, Apri Dwi Harini, telah mengikuti bazar tersebut dalam waktu yang cukup lama melalui kelompok usaha kecil perikanan. Ia menjual berbagai produk olahan perikanan, seperti makanan frozen, otak-otak dan bakso ikan. “Saya sudah lama ikut dan biasanya mendapat undangan melalui kelompok usaha kecil perikanan,” ujar Apri.

Menurut Apri, otak-otak menjadi produk yang paling banyak diminati pelanggan. Meskipun jumlah pengunjung belakangan lebih sedikit dibanding sebelumnya, penjualan tetap berlangsung melalui pemesanan setelah bazar. “Banyak yang pesan untuk nanti dikirim, ada juga yang membeli untuk dijual lagi ke komunitas atau kelompok mereka,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam bazar juga membantu produk Apri dikenal oleh konsumen dari sejumlah daerah, seperti Bekasi, Bandung dan Bogor. Ia mengatakan produknya juga kerap dibeli pelanggan untuk dijadikan oleh-oleh. “Alhamdulillah, ini sangat membantu saya, jadi seakan usaha saya ini jadi makin terkenal, dan ga hanya jualan, kami juga dibina dan diarahkan, dan itu semua tanpa dipungut biaya,” ujar Apri.

Sabani mengatakan bazar tidak hanya ditujukan untuk memperoleh keuntungan dari transaksi selama kegiatan berlangsung. Pelaku usaha didorong menggunakan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan produk dan membangun jaringan pelanggan. “Stan ini diberikan secara gratis, tetapi tujuannya bukan untuk mencari uang di sini, melainkan mencari pasar,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mulai berkembang menjadi agenda rutin bulanan sejak tahun 2015 setelah pelaku usaha meminta adanya kegiatan berkelanjutan untuk memasarkan produk mereka. Dalam salah satu pelaksanaan, total penjualan seluruh pelaku usaha disebut pernah mencapai sekitar Rp200 juta. “Kami yang menyelenggarakan kegiatannya, pendapatannya milik mereka, bukan kembali pemerintah, kami tidak pernah mengambil keuntungan sepeserpun karena tugas kami disini hanya memfasilitasi dan membantu membina” tegas Sabani.

Meski memberikan manfaat bagi UMKM, pelaksanaan bazar masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan lahan parkir, kualitas produk yang belum konsisten dari sebagian pelaku usaha baru, keterbatasan anggaran dan persoalan sampah. Bagi Apri, jarak dari rumahnya ke tempat bazar juga menjadi tantangan karena ia harus berangkat pada malam hari. “Kalau hambatan mungkin terkait jarak ya, karena saya dari Bekasi, jadi harus dari malam perjalanan menuju kesini,” ujarnya.

Apri berharap bazar tetap digelar setiap bulan dan tidak dihentikan karena kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan mendapatkan pelanggan baru. “Harapannya sih kegiatan bazar ini tetap ada setiap bulan, jangan sampai dihentikan, karena sangat membantu bagi kita para pengusaha kecil untuk bisa naik kelas” ujar Apri. 

Reporter: Muhammad Naufal Fathoni

DKP Jabar dan KKP Gandeng UMKM Perikanan Pasok Protein Ikan untuk Program MBG

 

Vokaloka, Bandung — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Direktorat Pemberdayaan Usaha Ditjen PDS PKP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar kegiatan kampanye jaminan mutu dan keamanan hasil kelautan dan perikanan, pada Jumat (2/10/2026) di Aula DKP Jawa Barat, Bandung.

Kegiatan ini mempertemukan langsung para pelaku UMKM perikanan lokal dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah ini dilakukan guna memperkuat rantai pasok protein ikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus mendongkrak angka konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat yang terbilang masih rendah.

Kepala DKP Provinsi Jawa Barat, Rini Cempaka, mengungkapkan bahwa pola konsumsi protein masyarakat Jawa Barat saat ini masih didominasi oleh telur dan daging ayam, sehingga tingkat konsumsi ikannya masih tertinggal jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian timur.

"Konsumsi ikan di Jawa Barat saat ini masih rendah. Kalau dibandingkan dengan Indonesia bagian timur, ini sangat jauh. Jawa Barat terkenal masyarakatnya senang makan telur, ayam, dan daging, sementara untuk ikan masih kurang," ujar Rini.

Melalui sinergi bersama SPPG, Pemprov Jabar menargetkan menu berbasis ikan segar dapat disajikan secara rutin kepada anak-anak sekolah setiap minggunya.

"Fungsi SPPG ini memastikan ikan hadir dan dimakan oleh anak-anak di piringnya setiap minggu," tambah Rini.

Untuk mengatasi keengganan anak-anak mengonsumsi ikan akibat takut tertelan duri, DKP Jabar mengimbau para pelaku UMKM dan dapur pengolah untuk memvariasikan bentuk olahan ikan, seperti penggunaan teknologi duri lunak (presto) hingga produk filet ikan nila dan patin yang kini mulai menjadi favorit di sejumlah dapur MBG.

Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen PDS PKP KKP, Ali Rahmat Iman Santoso, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk memfasilitasi UMKM perikanan agar mampu memenuhi kualifikasi standar rantai pasok nasional. 

Selain penerapan rantai dingin (cold chain) yang ketat, UMKM pemasok diwajibkan mengantongi sertifikasi mutu seperti HACCP atau Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).

"Nanti kita bisa berkolaborasi bersama-sama melihat keberhasilan UMKM. Kita dorong pembiayaan dan pendampingan agar pasokan ikan terjamin dan berkualitas," tegas Ali.

Melalui kegiatan ini, DKP Jabar dan KKP berharap pasokan bahan baku dari nelayan dan pembudidaya lokal dapat terserap secara optimal, sekaligus mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat dan cerdas lewat pemenuhan gizi protein ikan."Mari kita cerdaskan bersama, karena Jawa Baratnya saja sudah cerdas, insyaallah se-Indonesia pun ikut cerdas," tutup Rini .

Reporter: Muhammad Naufal Fathoni

Pemdes Cibiru Hilir Bahas Tupoksi dan Anggaran Bersama Lembaga Desa

 


Vokaloka, Bandung - Pemerintah Desa Cibiru Hilir menggelar rapat koordinasi bersama lembaga desa pada Rabu (7/10/2026), di Gedung Serba Guna Desa Cibiru Hilir. Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi dan sinergi dalam mendukung pembangunan desa.

Kasi Pemerintahan Desa Cibiru Hilir, Wahyu, menjelaskan bahwa rapat tersebut menjadi sarana untuk menyamakan persepsi antara pemerintah desa dan lembaga desa.

“Intinya koordinasi itu menyatukan persepsi antara pemerintah desa dan lembaga-lembaga desa, baik itu di bidang kemasyarakatannya, pembangunannya, dan lain sebagainya yang terkait dengan desa,” ujar Wahyu.

Agenda rapat meliputi penyampaian permohonan maaf kepala desa atas kekurangan koordinasi, penguatan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lembaga, serta pembahasan anggaran dalam Daftar Rincian Kegiatan (DRK). Wahyu menjelaskan bahwa pembahasan tupoksi bertujuan memperjelas tugas setiap lembaga desa.

“Kemudian, selanjutnya pemaparan kaitan tupoksi, penguatan lagi bahwasannya lembaga desa itu tupoksinya seperti apa,” jelas Wahyu.

Selain itu, pemerintah desa memaparkan alokasi anggaran kepada masing-masing lembaga agar pembagiannya diketahui secara jelas.

“Misalkan di lembaga A mendapat anggarannya segian, itu disampaikan ke lembaganya langsung, ke lembaga B mendapat sekian,” kata Wahyu.

Rapat tersebut melibatkan sejumlah lembaga, di antaranya PKK, LPMD, Puskesos, PSM, RDS, Pos KB, dan Karang Taruna. Setiap lembaga memiliki tugas berbeda dalam mendukung kegiatan desa. Wahyu menyebutkan bahwa peran lembaga disesuaikan dengan bidang masing-masing, mulai dari sosial hingga pembangunan.

“Puskesos di sosialnya, LPMD di pembangunannya, BUMDES di usahanya,” ungkap Wahyu.

Dalam pembahasan anggaran, perbedaan alokasi menjadi salah satu hal yang dibicarakan. Penentuan anggaran mempertimbangkan kewenangan desa dan skala prioritas, sehingga menurut Wahyu, kendala yang muncul tidak terlalu mendesak.

“Jadi kalau secara kendala lah, ya Alhamdulillah nggak begitu urgent,” tutur Wahyu.

Secara umum, mayoritas peserta menyetujui hasil pembahasan, meskipun beberapa hal masih perlu didiskusikan kembali. Melalui musyawarah dan koordinasi, pemerintah desa berharap seluruh lembaga dapat bersinergi dan berkolaborasi dalam membangun Desa Cibiru Hilir.

Reporter : Syifa Apiah Bilqis

Apel Pagi Bernuansa Sunda, Kantah Kota Bandung Perkuat Kedisiplinan dan Pelayanan

 


Vokaloka, Bandung– Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Bandung menggelar apel pagi dengan mengenakan pakaian adat Sunda pada Kamis (8/10/2026) di halaman kantor. Kegiatan ini dipimpin Kepala Kantor Pertanahan Kota Bandung, Yayat Ahadiat Awaludin, S.SiT., M.H., dan diikuti pegawai serta peserta magang.

Para pegawai laki-laki mengenakan pakaian Sunda lengkap dengan iket, sedangkan sejumlah pegawai perempuan memakai kebaya. Kegiatan rutin setiap Kamis ini menjadi salah satu upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan kerja.

Dalam arahannya, Yayat mengingatkan pegawai untuk bertanggung jawab dalam mengelola dokumen pertanahan, terutama saat menerima permintaan data atau keterangan dari pihak berwenang. Ia menegaskan pentingnya menjaga data yang dipercayakan masyarakat.

“Ingat, kita bukan sebagai saksi fakta, kita adalah saksi data, pengampu data amanat yang diberikan oleh masyarakat kepada kita,” tegas Yayat.

Selain itu, Yayat mengapresiasi dedikasi pegawai yang tetap berupaya menyelesaikan pekerjaan, termasuk ketika harus bekerja hingga malam hari. Menurutnya, kontribusi seluruh pegawai berperan penting dalam menghadapi berbagai persoalan pelayanan pertanahan.

“Saya ucapkan terima kasih banyak atas kontribusinya, atas dedikasinya dalam melaksanakan tugas,” ujarnya.

Melalui apel pagi tersebut, Yayat berharap seluruh pegawai terus meningkatkan kualitas pelayanan, menjaga tanggung jawab, serta menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan ketentuan yang berlaku.

Reporter : Silvi Angraini Piliang



Kepala Kantah Kota Bandung Tekankan Ketertiban Administrasi dan Pelayanan Publik

 

Vokaloka, Bandung – Kepala Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Bandung, Yayat Ahadiat Awaludin, S.SiT., M.H., menyampaikan sejumlah arahan dalam apel pagi pada Kamis (08-10-2026). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya ketertiban administrasi, penjagaan dokumen pertanahan, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Yayat mengingatkan pegawai agar segera menanggapi surat dan permintaan data yang berkaitan dengan tugas kantor, terutama yang berasal dari pemegang hak, kuasanya, maupun instansi pemerintah terkait. Ia menilai ketepatan dalam memberikan jawaban merupakan bagian dari tanggung jawab pelayanan.

“Saya berharap teman-teman, terutama para Kasi, Kasub, jika ada surat yang meminta jawaban, apalagi data, kalau misalnya yang bersangkutan adalah pemegang haknya atau kuasanya atau instansi pemerintah yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya, APH, segera jawab.”

Selain itu, Yayat mengingatkan bahwa dokumen pertanahan harus dijaga karena menjadi amanah yang dipercayakan kepada kantor. Warkah dan buku tanah merupakan bagian penting dari data pertanahan sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab.

“Ingat, kita bukan sebagai saksi fakta, kita adalah saksi data, pengampu data amanat yang diberikan oleh masyarakat kepada kita, ya, oleh instansi pemerintah, oleh badan hukum. Warkah dan buku tanah itu adalah amanah yang diberikan.”

Dalam arahannya, Yayat juga menyinggung penerapan kebijakan baru, termasuk penggunaan sistem geotagging. Ia memahami bahwa pelaksanaan kebijakan baru dapat menghadapi kendala pada tahap awal. Karena itu, persoalan yang muncul perlu disikapi dengan baik agar proses penerapannya dapat berjalan lebih lancar.

“Tidak apa-apa, sebenarnya itu hal yang biasa, gitu ya, dalam mengimplementasikan kebijakan baru pasti akan selalu ada... apa, ada guncangan sedikit, gitu. Dan itu pasti akan dialami.”

Yayat turut menekankan pentingnya kerja sama antara Kantah Kota Bandung dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam menghadapi kendala pelayanan. Menurutnya, komunikasi dan diskusi menjadi langkah penting untuk mencari penyelesaian bersama, dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.

“Kita sama-sama mitra, ya. Kami melayani, kami puas, Anda juga puas, gitu kan, masyarakat juga puas. Kalau misalnya ada kendala, kita diskusikan bersama-sama.”

Melalui arahan tersebut, Yayat mengingatkan agar pegawai tetap menjalankan tugas sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku. Ia berharap koordinasi yang baik, pengelolaan dokumen yang bertanggung jawab, serta komunikasi dengan pihak terkait dapat mendukung pelayanan pertanahan yang lebih baik kepada masyarakat.

Reporter : Silvi Angraini Piliang

Program SKB Beri Harapan Baru bagi Anak Putus Sekolah

 


Vokaloka, Cimahi – Ridwan (17), remaja putus sekolah asal Kelurahan Utama, bersama dua adiknya mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Sentra Abiyoso, Ridwan mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket A yang setara sekolah dasar (SD), Cimahi, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan itu dibuka Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono secara virtual. Mereka kembali belajar lewat jalur pendidikan kesetaraan setelah sekian lama berhenti sekolah, dan tawaran itu datang dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang mendatangi rumah mereka.

Ridwan sempat mengira jalannya kembali ke sekolah sudah tertutup. Ia pernah mengikuti pendidikan kesetaraan di sebuah PKBM di kampungnya. Setelah semua rampung, ijazahnya tak pernah diberikan, dan gurunya pun ikut menghilang. Ia berhenti dan tak tahu harus ke mana lagi.

Jalan menuju SKB tidak langsung mulus. Seorang kerabat pernah menawarinya masuk SKB, tetapi ia menolak. Alasannya sederhana: ia belum punya teman di sana. “Nanti aja, Pak,” begitu kira-kira jawabnya waktu itu. Belakangan ia berubah pikiran. “Sangat bahagia, senang,” katanya saat ditanya perasaannya bisa kembali bersekolah.

Soal masa depan, Ridwan tak berbelit. Ia ingin menjadi tentara dan membahagiakan orang tuanya. “Harapannya senang terus, bisa jadi cita-cita,” ujarnya.
Di balik semangat Ridwan ada ibunya, Asri Nova. Ia tak hanya mengantar Ridwan. Dua adik Ridwan, Riki Adhikara (14) dan Muhammad Abdul Rahman yang hampir berusia 7 tahun, juga ikut belajar di Paket A. Tiga anaknya kini bersekolah di tempat yang sama.

Asri Nova mengenal SKB dari pendamping PKH. Petugas itu datang ke rumah, bertanya apakah anak-anaknya benar tidak sekolah, lalu menawarkan mereka belajar di sentra. “Kebetulan anaknya mau, semangat,” kata Asri Nova.

Sebelumnya, anak-anaknya sempat rajin belajar bersama seorang pengajar di kelurahan. Setelah pengajar itu pindah, kegiatan belajar terhenti. Mereka sesekali ikut belajar seminggu sekali di pasar, tetapi tak bertahan lama. Karena itu tawaran SKB dianggapnya datang pada waktu yang tepat. “Ini kesempatan emas buat anak-anak untuk menggapai mimpi,” ujarnya.

Ibu delapan anak laki-laki ini tak muluk-muluk soal harapan. Ia ingin anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan cita-citanya tercapai. Baginya, akses pendidikan adalah hal yang sangat penting. Ia juga menitipkan terima kasih kepada Menteri Sosial karena program ini menyentuh anak-anak yang putus sekolah.

Dalam sambutannya, Wamensos Agus Jabo menyebut masih ada sekitar 4,1 juta anak di Indonesia yang belum bersekolah, menurut data BPS. SKB hadir untuk membantu mereka kembali belajar. “Tugas kita membantu mewujudkan impian anak-anak. Setelah didampingi, mereka bisa membanggakan dan mengangkat derajat orang tuanya,” katanya. Bagi Ridwan dan adik-adiknya, harapan itu kini mulai berjalan.

Reporter : Muhammad Aqila Diaurrahman


Petugas Kebersihan RW 09 Kecamatan Cibiru Jalankan Pengangkutan Sampah Setiap Pekan


 Vokaloka, Bandung – Di tengah meningkatnya jumlah sampah di lingkungan masyarakat, petugas kebersihan RW 09 Kecamatan Cibiru menjalankan tugas pengangkutan sampah pada Selasa (13/10/2026) sebagai upaya dalam menjaga kebersihan lingkungan warga.

Pengangkutan sampah dilakukan satu kali dalam seminggu dengan menyasar empat RT di wilayah RW 09. Sampah yang berasal dari rumah warga, kos-kosan, dan warung dikumpulkan menggunakan mobil pengangkut untuk kemudian dibawa ke tempat pembuangan akhir di Pangaritan.

Bayo, salah satu petugas kebersihan, mengatakan bahwa volume sampah saat ini semakin meningkat, terutama karena bertambahnya jumlah mahasiswa yang tinggal di wilayah tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kapasitas mobil tidak mencukupi sehingga sebagian sampah harus menunggu pengangkutan berikutnya.

“Sekarang kan sampahnya banyak, karena mahasiswanya juga banyak. Kadang yang lainnya enggak ke angkut semua. Kalau enggak ke angkut, berarti diangkutnya di minggu depannya lagi,” ujar Bayo.

Di sisi lain, Bayo berharap masyarakat mulai memiliki kesadaran untuk memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, pemisahan sampah basah dan kering serta organik dan anorganik dapat mempermudah pekerjaan petugas dan membuat proses pengangkutan lebih efektif.

“Harapan saya sebagai pengangkut sampah, masyarakat harus lebih paham mana sampah basah, mana sampah kering, organik dan nonorganik, harus dipilah. Jadi lebih memudahkan pengangkutan,” ungkap Bayo.

Saat ini, terdapat tiga petugas yang menangani pengangkutan sampah di RW 09, dengan pembagian satu orang sebagai sopir dan dua orang lainnya bertugas mengangkut sampah. Bagi Pak Bayo, pekerjaan tersebut juga menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Yang pertama karena kebutuhan. Terus yang kedua, karena enggak ada lagi orang yang mau di wilayah ini yang terjun angkut sampah, jadi itu intinya,” pungkasnya.

Reporter: Idah Nurhamidah


Menjalani Hari sebagai Siswa Sekolah Rakyat Inilah Cerita Murid SRMP 08 Abiyoso

 


Vokaloka, Cimahi - Bangun pukul 04.00 dan tidur setelah apel malam menjadi ritme harian Kinan, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 08 Abiyoso Cimahi. Selama sekitar satu tahun dua bulan tinggal di asrama, ia belajar mengurus dirinya sendiri, mulai dari mencuci baju hingga mengatur waktu antara belajar, ibadah, dan kegiatan mandiri.  Cerita itu disampaikan Kinan saat ditemui di Sentra Abiyoso Cimahi (18/9/2026).

Hari Kinan dimulai sebelum matahari terbit. Setelah bangun, ia minum air putih, mandi, dan mengenakan seragam sebelum berbaris di depan asrama menuju masjid untuk salat subuh. Di masjid, siswa biasanya mendengarkan ceramah singkat sebelum kembali ke asrama.

Sesampainya di asrama, Kinan menyiapkan perlengkapan sekolah dan ikut piket membersihkan asrama. Tas kemudian disimpan di kelas, lalu seluruh siswa sarapan bersama pukul 06.00. Setelah makan, siswa mengikuti operasi semut dan apel pagi. Pada hari tertentu ada senam, sedangkan setiap Senin diisi upacara.

Kegiatan belajar berlangsung sampai pukul 15.00 dengan dua kali istirahat, yakni pukul 10.00 dan 12.00. Makan siang dilakukan bersama saat istirahat kedua. Sepulang sekolah, siswa mengikuti apel sore, mandi, bersiap salat asar, lalu membersihkan diri dan lingkungan. Pukul 17.30, mereka kembali berbaris untuk salat magrib dan dilanjutkan mengaji di masjid sambil menerima makanan ringan. Malam hari diisi waktu mandiri, apel malam, dan tidur di asrama.

Dari seluruh kegiatan itu, Kinan paling menyukai waktu mandiri. Pada jam tersebut siswa boleh bermain atau berolahraga seperti lari dan jogging. Saat akhir pekan, mereka juga bisa meminta izin kepada wali asuh untuk menyalakan smartboard dan menonton film bersama.

“Yang aku suka itu kegiatan mandiri. Di situ kita bebas, tapi nggak sebebas itu juga, masih ada batasannya,” kata Kinan.

Kinan mengaku hari-hari awal di asrama terasa berat. Ia sempat sedih karena merindukan ibunya dan harus mengerjakan banyak hal sendiri.

“Biasanya dibantu Mama, sekarang harus sendiri. Awalnya memang belum bisa dan pengin pulang terus,” ujar Kinan.

Seiring waktu, pandangannya berubah. Kinan mulai memahami alasan ia belajar dan berlatih disiplin di sekolah. “Lama-kelamaan aku harus belajar di sini, berdisiplin, biar nanti pulang bisa banggain Mama. Dan udah lumayan betah juga,” tuturnya.

Perubahan itu terlihat dari keseharian Kinan. Sebelumnya, ia masih bingung menyetrika dan merapikan pakaian, dan barang-barangnya kerap berantakan. Kini ia sudah terbiasa mencuci baju sendiri sejak awal masuk sekolah. “Makin ke sini, makin berkembang, makin bisa,” katanya.

Ada dua momen yang paling diingat Kinan selama bersekolah. Pertama, kedatangan Menteri Sosial Saifullah Yusuf ke sekolah.

“Kata Bapak Menteri, kalian di sini jadi yang benar. Harus berusaha banggain orang tua, jangan sampai gagal. Itu yang sering aku ingat,” ujarnya.

Momen kedua adalah pelatihan selama satu pekan yang dibawakan para taruna dan taruni. Kegiatan berlangsung dari pagi hingga malam, dan para pelatih menginap di sekolah. Siswa berlatih push up, lari, sit up, dan plank, serta belajar cara menyetrika baju dan merawat sepatu dengan benar. “Latihannya benar-benar kayak TNI,” kata Kinan.

Soal masa depan, Kinan sudah punya cita-cita sejak sebelum masuk sekolah, yaitu menjadi polisi wanita. Ia mengatakan kerap melihat polisi di berita dan sejak kecil selalu menjawab hal yang sama ketika ditanya cita-citanya.

“Itu cita-cita terbesar aku dari kecil, dari sebelum aku sekolah. Aku suka lihat berita, ada polisi. Aku bilang, ‘Mah, nanti aku bakal kayak gitu,’” kata Kinan.

Untuk jenjang SMA, Kinan berencana melanjutkan ke Taruna Nusantara. Jika tidak lolos, ia ingin tetap bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).

Kinan berharap bisa membanggakan kedua orang tuanya dan melanjutkan ke jenjang berikutnya. “Semoga cita-cita aku tercapai, terus nanti bikin Mama bangga,” ujarnya.

 

Reporter : Muhammad Aqila Diaurrahman 

Peringati Hari Kesaktian Pancasila Sentra Abiyoso Cimahi Gelar Apel Pagi Bersama Siswa SRMP 08 dan Para Pegawai

 


Vokaloka, Cimahi – Kementerian Sosial melalui Sentra Abiyoso Cimahi menggelar apel pagi untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila (01/10/2026). Kegiatan ini diikuti para siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 08 Abiyoso dan para pegawai Abiyoso yang berbaris rapi di lapangan sentra sejak pagi.

Apel berlangsung khidmat. Para siswa dan pegawai mengenakan seragam lengkap dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib, mulai dari pembukaan hingga penutup. Rangkaian acara yang dimulai dari pembukaan, penghormatan kepada bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia raya dan halo-halo bandung, dan seterusnya.

Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap 1 Oktober untuk mengenang kegagalan upaya pengkhianatan terhadap ideologi bangsa lewat peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Peristiwa itu menewaskan sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa Pancasila telah teruji sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa, dan bahwa menjaganya adalah tugas seluruh generasi.

Melalui apel ini, pihak sentra ingin menanamkan kesadaran tersebut sejak dini kepada siswa khususnya. Peserta didik diharapkan tidak hanya mengetahui sejarah di balik peringatan ini, tetapi juga memahami mengapa Pancasila harus dijaga dan dipegang teguh.

Guru Pendidikan Pancasila SRMP 08 Abiyoso, Reja Nurul Pajri, menjelaskan bahwa pelibatan siswa dalam upacara bertujuan menumbuhkan rasa nasionalisme. "Untuk menemukan rasa nasionalisme dari peserta didik itu sendiri, dimana untuk memperingati hari kesaktian Pancasila ini terus digaungkan, dan mereka sebagai peserta didik merasa bahwa ideologi Pancasila ini penting untuk mereka gunakan di kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Reja, peringatan ini juga menjadi bahan pembelajaran di kelas. Siswa diajak mendalami ideologi Pancasila dan memahami pentingnya ideologi tersebut agar tidak mudah terpengaruh paham lain, termasuk komunisme. Ia menambahkan bahwa nilai Pancasila harus diamalkan, tidak berhenti di seremoni. "Pancasila itu bukan hanya teks, tetapi pengamalan," tegasnya.

Reja menyebut nilai-nilai tersebut mulai tampak dalam keseharian siswa, baik di kelas maupun di asrama. Ia berharap pendidikan Pancasila terus diberikan sebagai "fondasi bagi anak didik kita untuk masa depan".

Melalui kegiatan ini, Sentra Abiyoso berharap semangat Hari Kesaktian Pancasila tidak berhenti pada hari peringatan, tetapi terus hidup dalam sikap dan perilaku para siswa sebagai generasi penerus bangsa dan para pegawai Sentra Abiyoso itu sendiri.


Reporter : Muhammad Aqila Diaurrahman

Kepengurusan Baru RT dan RW 15 Desa Cibiru Hilir Resmi Dilantik

 


Vokaloka, Bandung - Pemerintah Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung, melantik lima Ketua RT dan RW 15 pada Kamis (01/10/2026) di Aula Serba Guna Desa Cibiru Hilir. Pelantikan tersebut dilakukan setelah proses pemilihan dan penetapan kepengurusan baru untuk mengesahkan ketua RT dan RW terpilih agar dapat menjalankan tugas di wilayahnya.

Wahyu, Kasi Pemerintahan Desa Cibiru Hilir, menjelaskan pelantikan merupakan bagian dari proses pengesahan bagi Ketua RT dan Ketua RW yang telah terpilih. Pengesahan dilakukan melalui penerbitan Surat Keputusan (SK) dan pelantikan oleh Kepala Desa.

"Ketika sudah terpilih, proses pengesahannya itu kan SK sama pelantikan. Jadi ketika dilantik sama Kepala Desa, itu otomatis dia sudah sah menjabat sebagai Ketua RT dan Ketua RW," ujar Wahyu.

Pelantikan kali ini hanya dilakukan untuk kepengurusan RT dan RW 15 karena masa jabatan kepengurusan sebelumnya telah berakhir pada 3 September 2026. Kepengurusan RT dan RW lainnya belum mengikuti pelantikan karena masa jabatannya masih berlangsung.

"Yang habis masa jabatannya cuma RW 15, Ketua RT sama RW 15. Jadi yang dilantik pada saat itu yang Ketua RT RW 15," kata Wahyu.

Lima orang yang dilantik terdiri atas Ketua RT 1, Ketua RT 2, Ketua RT 3, Ketua RT 4, dan Ketua RW 15. Sebelumnya, pemilihan Ketua RT dan Ketua RW 15 telah dilaksanakan pada 26 September 2026.

"Di pemilihan dulu, tanggal 26 September itu pemilihan Ketua RT sama Ketua RW. Terpilih Ketua RT sama Ketua RW, di SK kan tanggal 28 September," ujar Wahyu.

Setelah pemilihan, kepengurusan terpilih ditetapkan melalui SK bertanggal 28 September 2026. SK tersebut ditetapkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan pelaporan kepada DPMD dan pengajuan insentif yang batas waktunya tidak melewati September. Selanjutnya, para ketua mengikuti pelantikan pada 1 Oktober 2026.

"Masa jabatannya lima tahun. Terhitung dari SK terbit, SK terbit itu tanggal 28 September, berarti lima tahun berikutnya tanggal 28 September 2031," kata Wahyu.

Pelantikan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pengucapan sumpah, penandatanganan berita acara, sambutan Kepala Desa, sambutan Ketua RW lama dan Ketua RW baru, hingga serah terima jabatan.

"Sumpahnya menyatakan bahwasannya dia tuh bersedia untuk menjadi Ketua RT dengan sejujur-jujurnya, seadil-adilnya, berdasarkan undang-undang yang berlaku bagi negara, daerah sama desa," ujar Wahyu.

Masa jabatan para Ketua RT dan RW yang dilantik berlangsung selama lima tahun, terhitung sejak tanggal penerbitan SK pada 28 September 2026 hingga 28 September 2031. Ketentuan tersebut mengacu pada Permendagri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).

Setelah dilantik, para Ketua RT dan RW bertugas mengurus wilayah serta warga di lingkungan masing-masing. Pemerintah desa juga menempatkan RT dan RW sebagai bagian yang membantu Kepala Desa dalam urusan administrasi pada tingkat wilayah terkecil.

"Harapannya mudah-mudahan bisa sinergi, kolaborasi, bisa sama-sama membangun wilayah-wilayahnya di Desa Cibiru Hilir," kata Wahyu.


Repoter: Syifa Apiah Bilqis


Wali Asuh, Posisi Penting dalam Penyelenggaraan Sekolah Rakyat

 


Vokaloka, Cimahi - Wali asuh di Sekolah Rakyat Sentra Abiyoso Cimahi berperan dalam mendampingi dan membangun karakter anak, baik secara akademik maupun non akademik selama mengikuti program pendidikan dan tinggal di asrama. Pendampingan tidak hanya dilakukan dalam kegiatan belajar, tetapi juga mencakup pembentukan etika, ibadah, kegiatan ekstrakurikuler, serta aktivitas keseharian anak. Peran tersebut disampaikan Witri Pusian Ikhwayuni saat ditemui di Sentra Abiyoso Cimahi (18/9/2026).

Witri mengatakan setiap wali asuh bertanggung jawab mendampingi sejumlah anak selama berada di asrama. “Wali asuh itu ibaratnya kayak mengasuh. Kita mendidik sebanyak dua belas anak,” ujar Witri.

Menurut Witri, terdapat 89 anak yang tinggal di asrama Sekolah Rakyat Sentra Abiyoso. Pendampingan tersebut dilakukan bersama wali asuh lain dengan pembagian tanggung jawab terhadap kelompok anak yang telah ditentukan.

Dalam kesehariannya, Witri mengatakan peran wali asuh tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan anak selama berada di asrama, tetapi juga membangun karakter dan etika mereka. Wali asuh juga menjadi tempat bagi anak untuk menyampaikan keluhan maupun perasaan yang mereka alami selama mengikuti kehidupan di asrama.

“Lebih ke membangun karakter mereka sebenarnya. Karena wali asuh itu ibaratnya kayak ibu pengganti selama di sini,” kata Witri.

Pendampingan dilakukan melalui pembagian waktu pada pagi, sore, dan malam. Pada pagi hari, wali asuh mendampingi anak mengikuti kegiatan pembelajaran dari pukul 07.00 sampai 15.00 WIB. Setelah kegiatan belajar selesai, pendampingan berlanjut pada sore hingga malam dari pukul 15.00 sampai 23.00 WIB, mulai dari ibadah, makan, kegiatan, ekstrakurikuler, hingga waktu tidur.

Pada malam hari, pengawasan juga dilakukan melalui jadwal piket. Witri menjelaskan wali asuh bertugas mengawasi kondisi anak selama waktu istirahat dan memastikan kegiatan berjalan sesuai ketentuan yang telah diterapkan di asrama.

Bagi Witri, salah satu tantangan dalam menjalankan peran sebagai wali asuh adalah menghadapi anak yang masih tertutup ketika mengalami masalah. Karena itu, pendekatan kepada anak dilakukan secara bertahap dan konsisten melalui interaksi sehari-hari.

“Kita harus sabar, treatment-nya harus secara konsisten. Di sini juga ada program kumpul sama anak asuh. Dari situ kesempatan kita untuk lebih mendekat,” ujar Witri.

Witri yang baru menjalankan tugas sebagai wali asuh selama sekitar empat bulan mengaku masih terus belajar memahami karakter anak-anak. Sebelumnya, ia terbiasa mengajar di sekolah negeri umum sehingga perlu beradaptasi dengan kondisi anak-anak di Sekolah Rakyat.

Menurutnya, pengalaman tersebut juga mengajarkan pentingnya kesabaran dan kemampuan mengelola emosi ketika membangun kedekatan dengan anak. Ia berusaha memperlakukan anak asuh seperti anak sendiri dalam proses pendampingan sehari-hari.

“Selama ini saya ke anak asuh ya saya seperti ke anak sendiri. Karena kami basic bukan dari pekerja sosial, jadi selama ini pakai insting dulu,” kata Witri.

Keberadaan wali asuh dinilai penting karena anak-anak yang tinggal di asrama berada jauh dari keluarga. Witri mengatakan wali asuh berusaha memberikan rasa nyaman sekaligus menjadi sosok pengganti orang tua selama anak mengikuti kehidupan di Sekolah Rakyat.

“Sangat penting keberadaan wali asuh karena mereka ini perlu sosok pengganti orang tua di rumah,” ujar Witri.

Selain pendampingan di asrama, anak-anak juga tetap diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Witri mengatakan anak mendapat kesempatan menghubungi orang tua sekitar satu kali dalam sepekan. Kunjungan orang tua juga diberikan secara berkala.

Ke depan, Witri berharap anak-anak di Sekolah Rakyat tidak hanya berkembang dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki perilaku yang baik dan mampu memberikan dampak positif bagi keluarga serta lingkungan sekitarnya.

“Saya ingin anak-anak asuh saya termasuk anak-anak yang lain di sini semua sukses. Sukses itu bukan hanya dari segi ilmu, tapi dari segi perilaku mereka harus benar-benar bermanfaat untuk sekitarnya,” kata Witri.

Reporter : Mutiara Dalia Ulfa

Lewat Program Pengajian yang Interaktif, Mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung Tumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak-anak RW 17 Desa Tenjolaya

image.png

Vokaloka, Bandung – Pengajian khusus anak-anak kembali digelar melalui program Gerakan Mengajar Ngaji yang diinisiasi mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung Kelompok 2 Tirta Merta. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) di Masjid Jami Al-Furqon, RW 17, Desa Tenjolaya. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak RW 17 jenjang SD hingga SMP.

Program tersebut dilaksanakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat sebagai upaya menghadirkan kegiatan pengajian yang interaktif khusus bagi anak-anak di lingkungan RW 17. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, dan Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin.

Kegiatan diawali dengan doa bersama. Anak-anak kemudian dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu kelas 1–3 SD, kelas 4–6 SD, dan SMP. Pembagian tersebut dilakukan agar materi yang disampaikan dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing kelompok.

Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, storytelling, sesi tanya jawab, dan kuis. Materi keagamaan disisipkan dalam cerita agar pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami. Kuis juga diberikan untuk mendorong anak-anak lebih aktif berpartisipasi, dengan hadiah sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang berani menjawab.

Salah satu peserta, Salwa, mengaku senang dengan kehadiran mahasiswa KKN. Menurutnya, kuis yang diberikan saat mengaji membuat dirinya lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan, termasuk ketika berada di sekolah.

“Seneng ada kakak-kakak KKN, apalagi ada kuis pas ngaji jadi percaya diri di sekolah juga, yang awalnya takut kalau mau jawab,” ujarnya.

Ketua DKM Masjid Jami Al-Furqon, Muchsin, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN membuat kegiatan pengajian anak-anak kembali berjalan di masjid.

“Alhamdulillah, dengan adanya mahasiswa KKN bisa ada pengajian lagi untuk anak-anak. Terima kasih, semoga menjadi ladang pahala,” ungkapnya.

Ketua RW 17, Ahmad Shirojudin, turut mengapresiasi kegiatan yang diadakan mahasiswa KKN bagi anak-anak di wilayahnya.

“Alhamdulillah, terima kasih adik-adik KKN. Semoga berkah dan bermanfaat,” ujarnya.

Ketua Kelompok KKN Tirta Merta, Rahadian Sya Awwal, menjelaskan bahwa program tersebut digelar berdasarkan kondisi yang ditemukan mahasiswa selama menjalankan KKN di RW 17. Menurutnya, anak-anak perlu memiliki akses pembelajaran agama yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kami melihat di sini untuk akses belajar ilmu agama cukup jauh, harus ke RW tetangga. Oleh karena itu, program Gerakan Mengajar Ngaji menjadi proker pendukung yang penting untuk direalisasikan untuk memberikan dan menguatkan pemahaman agama adik-adik di sini,” jelasnya.

Menurut Rahadian, penggunaan metode interaktif menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kuis dan sesi tanya jawab digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong anak-anak agar lebih berani bertanya dan menjawab.

Setelah seluruh rangkaian pembelajaran dan kuis selesai, kegiatan ditutup dengan doa kafaratul majelis dan melaksanakan salat Isya berjamaah di Masjid Jami Al-Furqon.

Melalui Gerakan Mengajar Ngaji, mahasiswa KKN Tirta Merta UIN Bandung berharap kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman agama anak-anak RW 17, tetapi juga membantu mereka menjadi lebih berani bertanya, menjawab, dan menyampaikan pendapat dalam proses pembelajaran.

Reporter: Tantia Nurwina, Mahasiswi KKN Tirta Merta, UIN Bandung.
Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka