Vokaloka, Bandung – Pukul 12.00, Senin (14/9/2026), ruang rapat di Gedung Sate masih sepi. Empat orang sibuk menarik kabel, memeriksa laptop, dan mengatur posisi kamera. Satu jam lagi, perwakilan kampus se-Jawa Barat dan Kementerian Kesehatan akan duduk di ruangan itu untuk membahas evaluasi KKN Tematik Berdampak dan program Kampus Sehat. Sebagian lainnya akan bergabung lewat Zoom.
Peralatan
itu sudah disiapkan sejak pagi. Yang melakukannya adalah Divisi IT Support dan
Jaringan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat.
Kerja
mereka jarang terlihat. Setiap rapat, forum, atau kegiatan kedinasan Pemprov
Jabar yang digelar hybrid, di sanalah tim ini bekerja: memastikan sinyal ada,
layar menyala, dan siaran langsung berjalan. Sebagian besar pekerjaannya baru
diperhatikan orang ketika terjadi gangguan.
"Karena
rapat dilaksanakan secara hybrid, barang yang diperlukan lumayan banyak, mulai
dari perkabelan, kamera, laptop, dan perlengkapan lainnya. Tujuannya supaya
acara berjalan tanpa gangguan," ujar Gasik, anggota tim.
Hari
itu pembagian tugasnya jelas. Peserta magang memasang kabel dan mengatur
kamera. Gasik dan rekannya, Rizki, memegang operasional selama acara
berlangsung. Menyediakan dan memasang jaringan untuk kegiatan pemerintah
provinsi memang sudah jadi tugas rutin divisi ini.
Tugas
itu tidak berhenti di Gedung Sate. Jumat (9/10/2026), tim yang sama bekerja di
Youth Center Arcamanik, Kota Bandung, untuk kegiatan Jabar Kabisa atas permintaan
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Acaranya juga hybrid. Peserta
memadati area di bawah tenda, sebagian menyimak talk show lewat Zoom, siaran
langsung berjalan di media sosial, dan jalannya acara tampil di layar LED.
Untuk
kebutuhan sebesar itu, tim memilih Starlink. Antenanya dipasang di atas
pengeras suara dekat panggung. Pilihan ini punya syarat, kata salah satu
anggota tim.
"Starlink
ini opsi yang lebih mudah dan simpel. Kekurangannya, kita harus tahu titik
penempatan yang tepat agar sinyalnya tidak terhalang benda," tuturnya.
Rintangan
di sekitar antena terbaca di aplikasi Starlink sebagai titik merah. Siang itu
titik merah dominan di sisi barat dan selatan, sementara sistem masih
dikalibrasi, proses yang biasanya memakan waktu sekitar satu jam. Hasil uji
kecepatan tetap memadai: unduh 183 Mbps, unggah 50 Mbps, latensi 18 milidetik.
Menurut anggota tim, angka itu cukup untuk banyak perangkat sekaligus, dari
Zoom dan rapat virtual sampai siaran langsung dan unggahan konten.
Di
luar acara, ada pekerjaan lain yang lebih sunyi, yaitu menjaga jaringan kantor
dinas tetap hidup. Gangguan terbesar belakangan ini datang dari penataan kabel
udara oleh Pemerintah Kota Bandung. Kabel dipindahkan ke bawah tanah, dan serat
optik udara di sejumlah titik ikut terputus. Program ini baru dimulai pada
semester pertama 2026 karena terhambat perizinan, dan berlanjut hingga semester
kedua.
Pranata
Komputer Diskominfo Jabar, Erik Sandika, mengatakan penataan baru menjangkau
empat sampai lima ruas jalan, di antaranya Jalan Merdeka, kawasan Kopo, dan
Buah Batu. Di Jalan Merdeka, gangguan masih berlanjut karena perizinan belum
tuntas.
"Padahal
sekarang internet sangat dibutuhkan. Kalau di kantor tidak ada internet,
pekerjaan sangat terhambat," kata Erik.
Dampaknya
luas karena sebagian besar kantor dinas berada di Kota Bandung. Jaringan di
sekitar Gedung Sate dan Sekretariat DPRD di kawasan Diponegoro sempat putus
satu sampai dua jam. Gangguan kecil biasanya selesai kurang dari satu jam,
sedangkan jalur yang belum siap bisa memakan waktu berhari-hari.
Sebagai
cadangan, Diskominfo menyiagakan modem seluler yang disambungkan ke router,
serta Starlink. Kantor yang terputus berhari-hari mendapat prioritas. Jumlah
perangkatnya terbatas, sehingga tidak semua kantor bisa memakai Starlink.
Perbaikan
di lapangan pun bukan dikerjakan Diskominfo. Infrastruktur jaringan yang
dipakai berstatus sewa dari tiga sampai empat penyedia layanan internet, jadi
teknisi Engineer Onsite (EOS) milik vendor yang turun tangan.
"Kami
melakukan supervisi, monitoring, dan analisa. Perbaikannya harus seperti apa,
yang melakukan teknisinya, yaitu EOS," ujar Erik.
Dengan
begitu, tim ini bekerja di dua lapis. Mereka turun langsung menyiapkan jaringan
untuk acara, dan mengawasi serta menilai hasil kerja vendor untuk jaringan
kantor.
Dari
ruang rapat Gedung Sate, tenda Youth Center Arcamanik, hingga ruas-ruas jalan
di Bandung yang kabelnya sedang dipindah ke bawah tanah, pekerjaan Divisi IT
Support dan Jaringan Diskominfo Jabar bertumpu pada hal yang sama: memastikan
koneksi tidak putus. Sering kali mereka menyiapkannya sebelum acara dimulai,
dan sebagian besar kerja itu baru disadari orang ketika gangguan terjadi.
Selama acara pemerintah masih digelar hybrid dan kantor dinas masih bergantung
pada internet, tugas mereka akan terus berjalan di belakang layar.
Reporter:
Mia Maulidina KPI/5B

Tidak ada komentar
Posting Komentar