Vokaloka, Sumedang - Saya ingin mengangkat kembali persoalan wacana pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) di wilayah Jatinangor yang sampai hari ini belum menunjukkan perkembangan berarti. Sudah bertahun-tahun gagasan ini dibicarakan, terutama karena kawasan Jatinangor adalah pusat aktivitas ribuan mahasiswa dan warga yang setiap hari harus menyeberang jalan dengan arus kendaraan yang sangat padat.
Setiap kali ada pembahasan mengenai keselamatan pejalan kaki, pembangunan JPO selalu disebut sebagai solusi. Namun kenyataannya, tidak ada kejelasan kapan pembangunan itu dimulai. Sementara itu, risiko kecelakaan terus mengintai. Banyak mahasiswa, pelajar, dan warga terpaksa menyeberang langsung di jalan raya karena tidak ada fasilitas yang bisa memberi rasa aman. Kondisi ini kian berbahaya pada jam sibuk ketika kendaraan melaju cepat tanpa henti.
Sebagai warga yang rutin melintas, saya melihat kebutuhan JPO ini sudah mendesak. Jatinangor bukan lagi kawasan pinggiran yang sepi. Aktivitas kampus, pusat belanja, asrama, dan pemukiman membuat lalu lintas di sini semakin padat setiap tahun. Tanpa tindakan nyata, wacana pembangunan akan terus berulang tanpa ada perubahan bagi keselamatan pejalan kaki.
Saya berharap pemerintah daerah, bersama pihak terkait, bisa memberikan kejelasan jadwal dan memastikan wacana ini tidak berhenti pada rapat atau publikasi semata. Fasilitas penyeberangan yang aman adalah kebutuhan dasar, bukan sekadar pelengkap.
Semoga segera ada langkah konkret agar Jatinangor benar-benar memiliki JPO yang sudah lama dibutuhkan warga.
Penulis: Muhamad Alan Azizal
Setiap kali ada pembahasan mengenai keselamatan pejalan kaki, pembangunan JPO selalu disebut sebagai solusi. Namun kenyataannya, tidak ada kejelasan kapan pembangunan itu dimulai. Sementara itu, risiko kecelakaan terus mengintai. Banyak mahasiswa, pelajar, dan warga terpaksa menyeberang langsung di jalan raya karena tidak ada fasilitas yang bisa memberi rasa aman. Kondisi ini kian berbahaya pada jam sibuk ketika kendaraan melaju cepat tanpa henti.
Sebagai warga yang rutin melintas, saya melihat kebutuhan JPO ini sudah mendesak. Jatinangor bukan lagi kawasan pinggiran yang sepi. Aktivitas kampus, pusat belanja, asrama, dan pemukiman membuat lalu lintas di sini semakin padat setiap tahun. Tanpa tindakan nyata, wacana pembangunan akan terus berulang tanpa ada perubahan bagi keselamatan pejalan kaki.
Saya berharap pemerintah daerah, bersama pihak terkait, bisa memberikan kejelasan jadwal dan memastikan wacana ini tidak berhenti pada rapat atau publikasi semata. Fasilitas penyeberangan yang aman adalah kebutuhan dasar, bukan sekadar pelengkap.
Semoga segera ada langkah konkret agar Jatinangor benar-benar memiliki JPO yang sudah lama dibutuhkan warga.
Penulis: Muhamad Alan Azizal
Tidak ada komentar
Posting Komentar