Di tengah hiruk pikuk Lengkong, Bandung, sebuah kedai mungil menawarkan pengalaman kuliner yang tak biasa udon dengan sentuhan kopi lokal yang autentik.
Aroma kopi robusta berpadu dengan kuah kaldu dashi tercium begitu pintu Kopi Olid terbuka. Kedai yang terletak di kawasan Lengkong ini memang bukan sekadar warung kopi biasa. Di sini, pengunjung bisa menemukan menu andalan yang unik: Udon Kopi Olid, perpaduan mie udon ala Jepang dengan cita rasa kopi khas Nusantara.
Indah Kurnia, mahasiswa berusia 21 tahun yang kerap mengunjungi tempat ini, mengaku jatuh cinta pada keunikan menu tersebut. "Awalnya saya ragu, kok bisa sih udon dicampur kopi? Tapi begitu coba, rasanya beneran unexpected," ujarnya sambil menyeruput kuah udon hangatnya.
Mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual ini sudah tiga kali datang ke Kopi Olid dalam sebulan terakhir. Menurut Indah, yang paling menarik adalah bagaimana rasa pahit kopi tidak mendominasi, justru memberikan depth pada kuah kaldu yang gurih. "Ada layer rasa yang berbeda. Pertama kerasa gurih umami-nya, terus ada hint pahit dari kopi yang bikin nagih," jelasnya antusias.
Indah mengatakan bahwa dia pertama kali mengetahui tempat ini dari media sosial. Foto-foto udon dengan kuah berwarna cokelat kehitaman langsung menarik perhatiannya.
"Saya pikir ini bakal jadi spot yang instagrammable sekaligus nyobain sesuatu yang beda dari udon biasa," kata Indah.
Porsi udon yang disajikan cukup mengenyangkan dengan topping telur onsen, daun bawang, dan irisan daging sapi tipis. Harga yang ditawarkan juga ramah kantong mahasiswa, berkisar Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per mangkuk.
Bagi Indah, Udon Kopi Olid bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang keberanian bereksperimen. Ia mengaku terkesan dengan keberanian pemilik kedai menggabungkan dua budaya kuliner yang berbeda.
"Ini menunjukkan kalau kuliner lokal kita bisa dikolaborasikan dengan menu internasional. Gak harus ikut-ikutan, tapi bisa punya identitas sendiri," ungkap Indah.
Suasana Kopi Olid sendiri sederhana namun cozy. Dengan kapasitas sekitar 15-20 orang, kedai ini sering ramai dikunjungi anak muda, terutama pada sore hingga malam hari. Musik indie menemani pengunjung yang sebagian besar datang untuk nongkrong sambil mencicipi menu unik tersebut.
Indah berharap tempat-tempat seperti Kopi Olid semakin banyak bermunculan di Bandung. "Kota kita kan terkenal dengan kulinernya, jadi inovasi kayak gini harus didukung," pungkasnya sebelum melahap sisa udon dalam mangkuknya.
Bagi pencinta kuliner eksperimental dan ingin mencoba sensasi baru, Udon Kopi Olid di Lengkong bisa jadi pilihan menarik untuk dijelajahi. Siapa tahu, perpaduan yang tampak aneh ini justru akan menjadi comfort food favorit baru Anda.
Reporter : Cantika Maesto Octavia
Aroma kopi robusta berpadu dengan kuah kaldu dashi tercium begitu pintu Kopi Olid terbuka. Kedai yang terletak di kawasan Lengkong ini memang bukan sekadar warung kopi biasa. Di sini, pengunjung bisa menemukan menu andalan yang unik: Udon Kopi Olid, perpaduan mie udon ala Jepang dengan cita rasa kopi khas Nusantara.
Indah Kurnia, mahasiswa berusia 21 tahun yang kerap mengunjungi tempat ini, mengaku jatuh cinta pada keunikan menu tersebut. "Awalnya saya ragu, kok bisa sih udon dicampur kopi? Tapi begitu coba, rasanya beneran unexpected," ujarnya sambil menyeruput kuah udon hangatnya.
Mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual ini sudah tiga kali datang ke Kopi Olid dalam sebulan terakhir. Menurut Indah, yang paling menarik adalah bagaimana rasa pahit kopi tidak mendominasi, justru memberikan depth pada kuah kaldu yang gurih. "Ada layer rasa yang berbeda. Pertama kerasa gurih umami-nya, terus ada hint pahit dari kopi yang bikin nagih," jelasnya antusias.
Indah mengatakan bahwa dia pertama kali mengetahui tempat ini dari media sosial. Foto-foto udon dengan kuah berwarna cokelat kehitaman langsung menarik perhatiannya.
"Saya pikir ini bakal jadi spot yang instagrammable sekaligus nyobain sesuatu yang beda dari udon biasa," kata Indah.
Porsi udon yang disajikan cukup mengenyangkan dengan topping telur onsen, daun bawang, dan irisan daging sapi tipis. Harga yang ditawarkan juga ramah kantong mahasiswa, berkisar Rp 25.000 hingga Rp 35.000 per mangkuk.
Bagi Indah, Udon Kopi Olid bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang keberanian bereksperimen. Ia mengaku terkesan dengan keberanian pemilik kedai menggabungkan dua budaya kuliner yang berbeda.
"Ini menunjukkan kalau kuliner lokal kita bisa dikolaborasikan dengan menu internasional. Gak harus ikut-ikutan, tapi bisa punya identitas sendiri," ungkap Indah.
Suasana Kopi Olid sendiri sederhana namun cozy. Dengan kapasitas sekitar 15-20 orang, kedai ini sering ramai dikunjungi anak muda, terutama pada sore hingga malam hari. Musik indie menemani pengunjung yang sebagian besar datang untuk nongkrong sambil mencicipi menu unik tersebut.
Indah berharap tempat-tempat seperti Kopi Olid semakin banyak bermunculan di Bandung. "Kota kita kan terkenal dengan kulinernya, jadi inovasi kayak gini harus didukung," pungkasnya sebelum melahap sisa udon dalam mangkuknya.
Bagi pencinta kuliner eksperimental dan ingin mencoba sensasi baru, Udon Kopi Olid di Lengkong bisa jadi pilihan menarik untuk dijelajahi. Siapa tahu, perpaduan yang tampak aneh ini justru akan menjadi comfort food favorit baru Anda.
Reporter : Cantika Maesto Octavia
Tidak ada komentar
Posting Komentar