Keluhan Kemacetan Di Bunderan Cibiru

Saya mewakili mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang tinggal di daerah sekitar Cibiru yang rutin bolak-balik ke Kampus 2 yang berada di Jl. Cimincrang, Saya ingin menyampaikan keluhan sekaligus kritik terkait kondisi kemacetan di Bundaran Cibiru, Bandung Timur, yang semakin mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kami para mahasiswa yang setiap hari melintasi kawasan tersebut menuju kampus.

Saya merasakan langsung dampak kemacetan yang terjadi hampir setiap hari, terutama akibat banyaknya angkutan umum yang berhenti (ngetem) di sekitar bundaran. Kondisi ini yang membuat arus kendaraan tersendat dan sering kali menimbulkan kemacetan panjang.

Padahal dalam visi dan misi Pemerintah Kota Bandung dinyatakan bahwa pemerataan pembangunan, peningkatan layanan transportasi publik, serta penataan infrastruktur perkotaan menjadi prioritas, termasuk pemerataan pembangunan wilayah Bandung Timur. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kawasan Bundaran Cibiru masih menjadi titik macet dan tidak ada penataan angkutan umum yang jelas.

Saya berharap pemerintah kota melalui dinas terkait dapat menindaklanjuti persoalan ini dengan penertiban angkutan umum, penataan titik pemberhentian, serta rekayasa lalu lintas yang lebih sistematis, sehingga arus kendaraan dapat mengalir dengan tertib dan aman. Langkah tersebut diharapkan dapat sejalan dengan visi Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas transportasi perkotaan dan pelayanan publik bagi masyarakat.

Demikian catatan ini saya sampaikan sebagai aspirasi warga sekaligus mahasiswa yang berharap adanya perhatian lebih terhadap persoalan mobilitas di Bandung Timur.

Hormat saya,
Mutiara Putri Nurrohmah
Bandung, 13 Desember 2025


Pada Sen, 6 Okt 2025, 21.27, mutiaratugas <mutiaratugas8@gmail.com> menulis:

 Sumber : Humas Dinas Sosial Kota Bandung


Vokaloka.Bandung — Ancaman potensi bencana akibat aktivitas Sesar Lembang menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak di Kota Bandung. Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Sosial kota Bandung, H. Yorisa Sativa, M.Kes., menyatakan sekitar 60 persen wilayah Kota Bandung terdampak potensi pergerakan sesar tersebut pada Kamis, (06/10/2025). 

"Angkanya itu kurang lebih 60 persen, ya daerah Kota Bandung terdampak Sesar Lembang. Potensi yang kita takutkan itu kan bencana yang sesungguhnya," ungkap Yorisa

Ia menjelaskan bahwa secara teknis kebencanaan dan evakuasi, koordinasi telah banyak dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan seperti BNPB dan BPBD. Namun, dari sisi Dinas Sosial, fokus utamanya adalah pada pemberdayaan masyarakat agar lebih siap dan tanggap menghadapi kemungkinan bencana.

"Dengan begitu banyaknya potensi bencana yang bisa terjadi di Kota Bandung dan sekitarnya, keluarga masyarakat dihimbau untuk mulai waspada dan peduli terhadap kejadian bencana yang mungkin terjadi di sekitar kita," tambahnya.

Kepala Dinas Sosial sendiri mendorong masyarakat untuk aktif dalam program Kampung Siaga Bencana (KSB) di masing-masing kecamatan. Program ini dinilai menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana di lingkungannya sendiri.

"Melalui KSB, keluarga bisa belajar bagaimana mengantisipasi dan menangani bencana di wilayahnya sendiri," tutupnya.

Reporter : Mutiara Putri Nurrohmah

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo