Menunda Demi Stabilitas: Rasionalitas Gen Muda dalam Memilih Kapan Menikah

( Source Gambar : Kompas Lifestyle) 


Di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan zaman , generasi muda sering mendapat label "malas menikah". Tuduhan itu beredar dari media sosial hingga obrolan meja makan keluarga. 

Namun jika ditelisik lebih dalam, keputusan Generasi muda saat ini menunda pernikahan bukanlah bentuk kemalasan, melainkan wujud rasionalitas baru yang dipengaruhi realitas hidup modern yang menjadi prioritas utama seperti tentang ekonomi, psikologis, dan perubahan nilai.

 Bagi generasi yang lahir di tengah krisis dan tumbuh saat dunia sedang tidak pasti, stabilitas menjadi kebutuhan primer. Bukan hanya stabilitas finansial, tetapi juga stabilitas emosi moral dan identitas diri. Generasi muda zaman sekarang dibesarkan dengan narasi tentang pentingnya kesehatan mental, urgensi self-healing, dan kemampuan mengelola hubungan yang sehat. Karena itu, bagi mereka, menikah ketika belum siap bukan hanya berisiko, tapi juga dianggap tidak bertanggung jawab.

 Generasi sebelumnya mungkin berpegang pada prinsip "menikah dulu, mapan kemudian". Namun bagi Generasi muda zaman sekarang , logika ini tidak lagi relevan. , melihat harga kebutuh hidup yang semakin tinggi memilih opsi menikah dulu mungkin menjadi pilihan akhir. Faktor lain yang memengaruhi sebagian dari mereka tumbuh melihat pernikahan orang tuanya yang penuh konflik atau isu tentangan perceraian yang semakin meningkat . Ketidakstabilan yang mereka saksikan secara langsung turut membentuk ketakutan baru: takut mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Dari sinilah muncul sikap lebih berhitung dan berhati-hati.

 Dilansir dari website Kemenag Povinsi Jakarta disebutkan jika angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013, dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi hanya sekitar 1,5 juta pernikahan pada 2023. Penurunan ini diperkirakan masih berlanjut hingga 2025. Hal ini menunjukan bahwa angka pernikahan setiap tahunnya semakin menurun dan akan terus berlanjut. 

Fenomena tentang " Marriage is Scary " turut menjadi pemicu tentang rasionalitas generasi muda tentang pernikahan. Selain faktor ekonomi dan psikologis, perubahan pandangan  terhadap tujuan hidup juga sangat memengaruhi. Banyak anak muda masa kini yang menjadikan pendidikan, karier, dan pengembangan diri sebagai prioritas utama. Bagi mereka, menikah bukan lagi tanda kedewasaan atau pencapaian hidup, melainkan pilihan dalam hidup. Karena itu, keputusan menikah Generasi muda sekarang harus datang dari kesiapan bukan tekanan sosial.

Namun bukan berarti Generasi muda sekarang menolak pernikahan. Mereka hanya ingin hubungan yang sudap siap dari sisi finasial, mental, dan kesiapan untuk menjalan rumah tangga yang stabil. Bagi generasi muda zaman sekarang menikah bukan lagi kompetensi usia melainkan kesiapan komitmen jangka panjang.

 Pada akhirnya, sikap Generasi muda menunda pernikahan bukan sekadar tren, melainkan tanda bahwa di zaman sekarang mereka mulai berpikir lebih jauh tentang masa depan. Mereka ingin memastikan bahwa ketika akhirnya memilih menikah, keputusan itu lahir dari kematangan bukan keterpaksaan, bukan menikah dengan waktu yang cepat tapi menikah di waktu yang tepat

Penulis : Devita Maharani, Komunikasi Penyiaran Islam , Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung





1 komentar

bayu mengatakan...

genz zaman sekarang unik unik ya baguss tulisan nyaa..

© all rights reserved
made with by templateszoo