Belajar Fikih Minoritas dari Mahasiswa Muslim di Kampus UNAI


Menjadi Muslim di lingkungan mayoritas non-Muslim sering kali dibayangkan penuh tekanan. Banyak orang khawatir akan sulit beribadah, terasing secara sosial, atau bahkan kehilangan identitas keislaman. Namun, pengalaman mahasiswa Muslim di Universitas Advent Indonesia (UNAI), Jawa Barat, justru menunjukkan cerita yang berbeda.

Berdasarkan wawancara dengan lima mahasiswa Muslim dari berbagai program studi, penelitian ini menemukan bahwa posisi sebagai minoritas tidak selalu berarti terpinggirkan. Hampir semua informan mengaku sempat merasa takut dan canggung di awal perkuliahan. Jumlah Muslim yang sedikit dan kuatnya budaya kampus Advent menjadi tantangan tersendiri. Namun, rasa khawatir itu perlahan hilang seiring interaksi sehari-hari.

Para mahasiswa Muslim di UNAI menjalani identitas keislaman secara wajar. Mereka tetap memakai kerudung, melaksanakan salat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menjaga makanan halal. Identitas tersebut tidak disembunyikan, tetapi juga tidak ditampilkan secara berlebihan. Inilah praktik nyata fikih minoritas, yaitu menjalankan ajaran Islam secara utuh dengan cara yang sesuai konteks sosial.

Menariknya, hubungan dengan teman-teman non-Muslim justru berjalan hangat. Beberapa informan menceritakan bahwa mereka sering diingatkan waktu salat oleh teman sekelas. Saat Ramadan, teman-teman non-Muslim menghormati dengan tidak makan di depan mereka. Bahkan, ada dosen yang meminta mahasiswa Muslim memimpin doa dengan tata cara Islam di kelas. Pengalaman ini menunjukkan bahwa toleransi hadir dalam tindakan, bukan sekadar slogan.

Dari sisi institusi, kampus menyediakan musala dan memberi ruang bagi mahasiswa Muslim dalam kegiatan kampus yang bersifat religius. Pada kegiatan tertentu seperti Week of Prayer, mahasiswa Muslim ditempatkan dalam kelompok khusus agar dapat beribadah sesuai keyakinan masing-masing. Ini menunjukkan adanya upaya kampus menjaga kenyamanan mahasiswa minoritas.

Meski demikian, penelitian ini juga menemukan tantangan. Sebagian mahasiswa belum merasakan adanya komunitas Muslim yang kuat dan berkelanjutan. Akibatnya, identitas keislaman lebih banyak dijaga secara pribadi dan melalui relasi pertemanan. Namun, mahasiswa yang tergabung dalam kelompok kecil Muslim merasakan manfaat besar, seperti saling menguatkan iman dan berbagi pengalaman sebagai minoritas.

Jika dilihat melalui Teori Identitas Komunikasi Michael Hecht, identitas Muslim di UNAI terbentuk melalui tiga lapisan. Pertama, identitas personal, yaitu kesadaran diri sebagai Muslim. Kedua, identitas relasional, yang dibangun melalui komunikasi dan interaksi lintas agama. Ketiga, identitas komunal, yang masih membutuhkan penguatan melalui wadah bersama.

Pengalaman mahasiswa Muslim di UNAI memberi pelajaran penting bagi masyarakat Jawa Barat. Toleransi tidak berarti melepas identitas agama. Sebaliknya, identitas yang dijalani dengan tenang, komunikasi yang santun, dan sikap saling menghormati justru menjadi kunci hidup berdampingan secara harmonis.

Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan jarak. Dengan pendekatan fikih minoritas dan komunikasi yang baik, keberagaman bisa menjadi ruang belajar, bukan sumber konflik.

Farhan Dimas Subagja

Mahasiswa Pascasarjana, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo