Bahasa Sunyi Toleransi dari Vihara Widhi Sakti di Kota Sukabumi


Di tengah Kota Sukabumi yang mayoritas penduduknya beragama Islam, berdiri Vihara Widhi Sakti, sebuah vihara tua yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama lebih dari satu abad. Keberadaan vihara ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Buddha, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menunjukkan bagaimana komunikasi lintas agama dapat terjalin secara alami dan berkelanjutan. Gambaran ini terungkap dari hasil wawancara dengan Pa Lilim, Ketua Yayasan Vihara Widhi Sakti, yang telah lama terlibat dalam pengelolaan dan pembinaan umat di vihara tersebut.

Dalam wawancaranya, Pa Lilim menjelaskan bahwa Vihara Widhi Sakti menganut aliran Buddha Theravada dan secara rutin menyelenggarakan ibadah umum setiap hari Minggu. Ibadah dipimpin oleh seorang biksu yang mengenakan jubah kuning, sementara umat atau petugas yang masih dalam tahap pembelajaran mengenakan pakaian putih. Menurut Pa Lilim, perbedaan pakaian ini memiliki makna spiritual dan edukatif, yaitu sebagai penanda kedisiplinan dan proses pembelajaran dalam ajaran Buddha. Di sisi lain, simbol-simbol tersebut juga berfungsi sebagai bentuk komunikasi non-verbal yang menunjukkan ketertiban, ketenangan, dan kesederhanaan kepada masyarakat sekitar.

Pa Lilim menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, vihara selalu berupaya menjaga hubungan baik dengan warga di sekitarnya. Prinsip utama yang dipegang adalah toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Bentuk toleransi ini, menurutnya, tidak diwujudkan melalui keterlibatan dalam ritual agama lain, melainkan melalui sikap tidak saling mengganggu dan menjaga ketertiban bersama. Pola komunikasi sosial semacam ini dinilai lebih efektif dalam menjaga keharmonisan jangka panjang.

Selain menjalankan fungsi ritual, Vihara Widhi Sakti juga aktif dalam kegiatan sosial. Pa Lilim menjelaskan bahwa setiap perayaan Waisak, vihara secara rutin menyelenggarakan pembagian sembako dan bantuan kepada masyarakat sekitar tanpa membedakan latar belakang agama. Kegiatan ini dipahami sebagai pengamalan ajaran karuna atau belas kasih, yang menjadi nilai fundamental dalam Buddhisme. Melalui kegiatan sosial tersebut, vihara tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan sosial dengan masyarakat lintas agama.

Wawancara dengan Pa Lilim juga mengungkap adanya pemahaman yang jelas mengenai perbedaan antara ajaran agama dan tradisi budaya. Ia menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh bukan merupakan bagian dari ajaran inti agama Buddha, melainkan tradisi budaya Tionghoa yang dirayakan secara sosial. Sementara itu, Waisak dipahami sebagai perayaan keagamaan yang sakral. Pemisahan ini, menurut Pa Lilim, penting untuk menjaga pemahaman yang benar tentang ajaran agama sekaligus menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat yang beragam.

Sebagai rumah ibadah minoritas, Vihara Widhi Sakti menerapkan pola komunikasi yang adaptif dan tidak konfrontatif. Pa Lilim menyampaikan bahwa vihara selalu berusaha menyesuaikan diri dengan norma sosial dan budaya masyarakat sekitar tanpa harus menghilangkan identitas keagamaannya. Kepemimpinan biksu yang tenang dan sikap terbuka pengurus vihara menjadi faktor penting dalam membangun suasana damai dan inklusif di lingkungan vihara.

Temuan hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa komunikasi lintas agama di sekitar Vihara Widhi Sakti tidak dibangun melalui wacana besar atau dialog formal, melainkan melalui praktik keseharian yang konsisten. Simbol keagamaan, ketertiban ibadah, sikap saling menghormati, serta kegiatan sosial menjadi bahasa bersama yang dapat dipahami oleh semua pihak. Melalui pendekatan ini, vihara mampu menjalankan perannya sebagai ruang ibadah sekaligus agen harmoni sosial.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, pengalaman Vihara Widhi Sakti memberikan pelajaran penting bahwa keberagaman agama dapat dikelola secara damai melalui komunikasi yang sederhana, terbuka, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan. Kisah ini menunjukkan bahwa toleransi tidak selalu harus disuarakan dengan lantang, tetapi dapat tumbuh dari praktik nyata yang dijalankan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.




Vieta Destiawati
Mahasiswi Pascasarjana, Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Bandung

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo