Vokaloka.com, Bandung – Kelurahan Cipadung Kulon mengadakan Pelatihan Pengolahan Sampah Organik dan Penguatan Program Buruan Sae, bertempat di aula kantor kelurahan pada Rabu (23/9/2025). Kegiatan ini digelar sebagai tindak lanjut dari edaran Wali Kota Bandung mengenai penanganan sampah di tingkat kewilayahan. Pelatihan tersebut dihadiri oleh para ketua RT/RW, kader posyandu, serta perwakilan bank sampah yang ada di Cipadung Kulon.
Menurut Kasi Ekbang Kelurahan Cipadung Kulon, Yan Marianti, agenda ini penting untuk memastikan setiap RW mampu mengolah sampah secara mandiri, khususnya sampah organik yang jumlahnya mencapai 60 persen dari total sampah rumah tangga. "Sekarang itu bukan waktunya hanya sosialisasi, tapi action," ujarnya. Ia menegaskan bahwa tanpa gerakan nyata di lapangan, sampah tidak akan berkurang meski berkali-kali disosialisasikan.
Dalam pemaparannya, bahwa untuk sampah anorganik, sebagian besar wilayah Cipadung Kulon telah terbantu oleh keberadaan Bank Sampah Kampung KB dan Bank Sampah Sindang Sari di RW 4. Namun tantangan terbesar justru berada pada sampah organik yang selama ini langsung dikirim ke TPA tanpa dipilah. Akibatnya, TPA mengalami penumpukan dan wilayah kota semakin terbebani.
Melalui pelatihan ini, pihak kelurahan menekankan pentingnya penerapan buruan sae dan Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang akan menjadi kewajiban tiap RW pada tahun depan. Setiap RW minimal harus memiliki satu buruan sae sebagai wadah pengolahan sampah organik sekaligus pendukung ketahanan pangan keluarga. "Kalau buruan sae berjalan, KBS berjalan, insya Allah masalah sampah bisa berkurang," kata Yan.
Yan menjelaskan sedang menjalankan aksi perubahan hasil Diklat PKP di LAN RI tentang pengolahan sampah organik terintegrasi dengan buruan sae. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi sampah, tetapi juga sebagai media tanam, pembuatan kompos, hingga pemasaran komersial. Kompos atau sayuran organik yang dihasilkan dapat dijual atau dimanfaatkan untuk membantu keluarga yang terindikasi stunting melalui posyandu.
Tantangan terbesar terletak pada membangun komitmen masyarakat. Meski sosialisasi terus dilakukan, termasuk door-to-door oleh ASN Kecamatan Panyileukan, sebagian warga masih sulit diterapkan untuk memilah sampah dari sumber. Ia mengibaratkan imbauan soal pemilahan sampah seperti azan yang perlu terus diulang agar masyarakat terbiasa. "Kalau sudah menjiwai, membuang sampah tanpa memilah itu kayak dosa," ujarnya.
Yan berharap komitmen itu tumbuh dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Ketika satu keluarga terbiasa memilah sampah, kebiasaan itu akan menular kepada tetangga, RT, RW, hingga menjadi budaya di tingkat kelurahan. Dalam jangka panjang, ia ingin pengelolaan sampah di Cipadung Kulon mencapai standar kedisiplinan seperti di negara maju.
Di akhir kegiatan, Yan menyampaikan pesan agar masyarakat tidak lagi menunggu pemerintah, tetapi mulai berkomitmen memilah dan mengolah sampah secara mandiri. "Pemerintah pun kalau masyarakatnya tidak komitmen memilah dari sumber, susah," tutupnya.
Reporter: Nadya Maghfiroh Noor Diswa/5B
2 komentar
saya harap tidak ada lagi timbunan sampah
Ini sangat mengedukasi para masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat sampah
Posting Komentar