Kopi Lengkuran: Penghasilan Cerdas Masyarakat Muara Pinang.

Muara Pinang, 15 Juli 2025,- Sebuah desa dengan kekayaan ekonomi yang khas dihasilkan dari biji kopi dan semangat juang oleh para perantaunya. Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, seringkali dijuluki desa pemborong oleh para owner Showroom otomotif, kerap muncul pertanyaan dari khalayak "bagaimana cara mereka mengatur keuangan?", "apa saja penghasilan mereka?". 

Pada saat era kepemimpinan presiden Soeharto, tanah ini banjir emas dan uang ketika negara sedang dilanda krisis moneter dan kemiskinan. kopi lengkuran-lah yang menjadi penyokong ekonomi masyarakat Muara Pinang pada saat itu. Tahun 1998 tepatnya ketika krisis moneter terjadi banyak pula para perantau dari tanah Jawa yang datang untuk merajut kembali ekonomi demi kehidupan yang layak.

Masyarakat Muara Pinang menjadikan Kopi Lengkuran sebagai penghasilan sampingan mereka, mengingat bahwa musim kopi hanya terjadi sekitar 2-4 bulan dalam satu tahun, dan tidak menentu penuh pula dalam sebulan setiap musimnya, tergantung kondisi ilklim dan lokasi geografis, karena kopi cenderung lambat matang dan bertumbuh pada tanah dengan kondisi kering dibanding dengan yang basah. namun hasil dari pertanian tersebut sangatlah cukup untuk penghidupan sampai satu musim kedepan. 

Harga kopi cenderung mahal ketika pasokan dari para pengepul minim, harga yang diterima para petani juga bergantung pada fluktuasi nilai tukar mata uang, namum para petani Muara Pinang memiliki cara cerdas dalam menyikapi kondisi tersebut, para petani kopi tanah Muara Pinang seringkali mengumpulkan dan memutir biji kopi lengkuran ini dalam sistem yang bertahap, ketika harga minim, para petani kopi fokus pada kualitas biji melalui cara penjemuran, umunya biji kopi dijemur ketika buah suda diproses dalam mesin penggilingan, sehingga terkelupas dan tinggal biji lalu dijemur.

Dalam kondisi harga turun, petani kopi fokus pada final kualitas melalui sistem penjemurannya, kopi lengkuran dengan biji yang lebih baik, dijemur utuh dalam kondisi segar putiran sampai dengan kering tanpa melewati mesin penggilingan, sistem tersebut membantu hasil biji lebih pekat dan sedap aromanya, kualitas ini disebut "grade A" dalam dunia kopi lengkuran, namun proses penjemuran utuh buah memakan waktu yang cukup lama, tergantung kondisi cuaca, apabila hujan seringkali turun, penjemuran kopi utuh bisa memakan waktu sampai satu bulan, namun ketika kondisi cuaca kering penjemuran bisa lebih cepat yakni sekitar 8-10 hari, setelah buah utuh kering total, barulah dimasukkan kedalam mesin penggiling dan menghasilkan biji dengan grade yang lebih tinggi.

Dengan sistem penjemuran utuh biji tersebut, petani akan mendapat harga yang lebih tinggi meskipun kondisi kopi sedang murah dan fluktuasi nilai tukar mata uang sedang terjadi, karena hasil biji mereka mendapat "grade A" dan ditimbang layak untuk menjadi supplier pabrik dan layak pula untuk diekspor, harga yang didapat oleh petani perkilonya mencapai 50-80.000 rupiah apabila "Grade A" dan sampai 100.000 rupiah apabila ekspor, hal tersebut menjadi penghasilan cerdas masyarakat Muara Pinang. Musim buah kopi yang terbatas namun penghasilannya cukup untuk kehidupan satu tahun sampai musim mendatang.


Reporter: Muhammad Rizal Nuruzzaman









Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo