Trend Dakwah Instan di Media Sosial_ Artikel Opini

Perkembangan teknologi digital saat ini benar-benar mengubah cara berpikir, cara pandang dan cara belajar orang, khususnya dalam memahami agama. Sekarang, banyak orang mengenal Islam melalui konten singkat yaitu menonton video 30 detik sampai satu menit yang berseliweran di TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Fenomena ini sering disebut sebagai "dakwah instan". Konten dakwah instan ini dengan mudah memenuhi linimasa publik dan mendapat respons luas, terutama dari kalangan remaja dan mahasiswa.
Di satu sisi, cukup baik jika konten seperti ini cepat diterima. Gaya hidup generasi digital serba cepat dan serba praktis. Mereka lebih nyaman menonton ceramah pendek dibanding mengikuti kajian panjang. Banyak juga yang mengaku tersentuh atau termotivasi hanya dari potongan video satu menit. Media sosial memang membuka jalan baru untuk berdakwah, dari yang dulu hanya di masjid atau majelis taklim, kini bisa hadir di genggaman setiap orang.
Misalnya ketika ada pertanyaan sederhana tentang fikih, seperti hukum meninggalkan salat karena lupa. Jawaban singkat bisa langsung ditemukan lewat satu video pendek. Penyampaian yang santai dan mudah dipahami membuat dakwah instan terasa seperti solusi cepat di tengah rutinitas yang padat.
Tetapi, di balik tren positif ini, pasti ada masalah yang perlu diperhatikan. Konten yang terlalu singkat sering kali kehilangan konteks penting. Banyak video hanya menampilkan satu ayat, hadis, atau potongan nasihat tanpa penjelasan lengkap. Akhirnya, pemahaman agama berhenti di permukaan. Orang merasa sudah mengerti dan merasa "saya paham betul soal agama", padahal baru tahu sepotong kecil saja dari bagian keselurahan pemahaman agama. Dampaknya bisa fatal, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman, menilai sesuatu secara keliru, atau bahkan menyebarkan informasi salah soal agama.
Fenomena ini juga menggeser budaya belajar agama. Tradisi belajar yang seharusnya bertahap dan mendalam berubah menjadi serba cepat. Figur pendakwah pun dinilai dari jumlah followers, bukan dari kredibilitas ilmu. Hal-hal yang viral juga dianggap benar, tanpa mencari tahu asal usul kebenarannya. Jika agama dikonsumsi seperti konten hiburan, kualitas keberagamaan kita dikhawatirkan akan menjadi dangkal dan superfisial.
Tren dakwah instan sebenarnya dapat menjadi pintu awal untuk mengenalkan nilai-nilai keagamaan, namun tidak boleh berhenti di sana. Pendakwah perlu memastikan keabsahan materi, menguasai substansi, dan bertanggung jawab penuh atas pesan yang disampaikan. Sementara itu, audiens juga harus lebih hati-hati dan kritis dalam menyaring informasi, memeriksa kebenaran, dan melanjutkan pembelajaran melalui kajian yang lebih komprehensif.
Dakwah yang ringan memang bisa menjadi pengingat. Tetapi memahami agama tetap butuh proses yang Panjang, bahkan yang bahaya bukan durasi videonya, tapi kalau cara berpikir kita ikut menjadi instan.

Reporter: Mila Aulia/Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung/KPI 5B


4 komentar

cia aystn mengatakan...

Dakwah instan itu pedang bermata dua ya. Konten harus tetap berbobot dan kredibel! Semoga makin banyak konten islami yang profesional! 🙏

butterfly mengatakan...

Dakwah yang ringan memang bisa jadi pengingat, tapi jangan sampai cara berpikir kita ikut menjadi instan

postingan ini harus bnyak orang tauu sihh, karna sangat informatiff dan keren sekali mengatakan...

mantapp

dhia disti mengatakan...

pembahsan yang menarik untuk jadi bahan diskusi

© all rights reserved
made with by templateszoo