Dakwah Ramah di Era Digital_Artikel Opini

Di era digital saat ini, banyak orang belajar agama dari media sosial. Mulai dari video pendek, potongan ceramah, sampai live streaming pengajian. Polanya berubah sangat cepat, dan cara menyampaikan dakwah ikut berubah. Tidak semua orang punya waktu untuk duduk berjam-jam di majelis. Banyak yang hanya sempat menonton satu menit lewat TikTok atau Instagram.
Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengingatkan pentingnya dakwah yang santun. Imbauan ini disampaikan karena fenomena ceramah bernada kasar dan menghakimi semakin sering muncul di platform digital. Dalam sebuah keterangan resmi, MUI menegaskan bahwa dakwah tidak boleh memecah belah, melainkan harus mencerahkan dan membuat umat merasa dekat dengan ajaran Islam.
MUI juga menyebutkan bahwa sejak 2020 hingga 2025, sudah ada hampir 4.000 dai yang mengikuti program standardisasi dai. Program ini berisi pelatihan dakwah moderat, kemampuan komunikasi publik, hingga literasi digital. Tujuannya sederhana: dakwah mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi nilai Islam yang menenangkan.
Di ruang digital, konten yang keras memang sering lebih cepat viral. Kalimat yang memicu kemarahan atau perdebatan cenderung mendapat lebih banyak perhatian. Namun, masyarakat yang ingin belajar agama justru membutuhkan pendekatan yang lembut. Banyak orang datang dengan keresahan, dan mereka berharap menemukan ketenangan, bukan penilaian.
Dari komentar warganet di berbagai platform, terlihat bahwa banyak yang mulai jenuh dengan ceramah bernada marah-marah. Mereka lebih memilih konten dakwah yang menuntun pelan-pelan, menggunakan bahasa sederhana, dan memberikan contoh nyata tanpa harus mengintimidasi. Dakwah seperti itu dianggap lebih mudah diterima, terutama oleh generasi muda yang sering disebut generasi "serba cepat".
Perubahan pola dakwah ini sebenarnya bukan hanya soal gaya, tapi soal kebutuhan masyarakat. Media sosial sudah menjadi ruang baru bagi umat untuk mencari pengetahuan agama. Karena itu, pendakwah dituntut memahami bagaimana pesan disampaikan di ruang digital. Tantangannya bukan hanya soal viral, tetapi tentang bagaimana menjaga agar dakwah tetap membawa keteduhan.
Dakwah yang ramah tidak mengurangi nilai ajaran Islam. Justru, dari cara penyampaian yang lembut, orang lebih mudah memahami dan merenungkan pesan yang disampaikan. Di tengah gempuran informasi di internet, keramahan menjadi jembatan antara pendakwah dan umat.
Era digital memberikan banyak peluang bagi dakwah untuk menjangkau lebih banyak orang. Tapi agar pesan kebaikan benar-benar sampai, cara penyampaiannya perlu menenangkan, bukan memecah-belah. Umat membutuhkan dakwah yang mengajak, bukan menghakimi. Yang membimbing, bukan menakut-nakuti.
Pada akhirnya, dakwah ramah di era digital bukan hanya pilihan. Ia adalah kebutuhan agar pesan Islam tetap hidup dan relevan bagi semua orang yang mencarinya.

Reporter: Mila Aulia/KPI 5B


Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo