Saya ingin mengapresiasi dan menanggapi artikel opini berjudul "Memuliakan Anak dengan Lagu Anak-anak" yang ditulis oleh Danan Murdyantoro (Kompas, 22/11/2025). Tulisan tersebut tidak hanya membuka kembali ingatan kolektif masa kecil, tetapi menyoroti isu penting yang jarang dibahas, yaitu hilangnya ruang bagi lagu anak-anak dalam industri musik Indonesia.
Sebagai bagian dari generasi Z, saya tumbuh ketika lagu anak-anak masih mudah ditemukan, dinyanyikan di sekolah, diputar di televisi, hingga menjadi bagian dari permainan sehari-hari. Lagu seperti "balonku", "cicak di dinding" atau bahkan lagu "nina bobo" bukan sekadar hiburan atau lagu pengantar tidur, tetapi bagian dari memori yang membentuk rasa gembira, polos, dan aman dalam masa kecil kami.
Sependapat dengan penulis, saya melihat anak-anak kini lebih akrab menyanyikan lagu bertema percintaan atau kedewasaan emosional yang sebenarnya belum perlu mereka pahami. Akses media digital yang memberi kebebasan, juga membuat filter usia dalam konsumsi hiburan menjadi kabur. Tanpa pendampingan dan kurasi konten, anak-anak justru kehilangan ruang pendidikan musikal yang sesuai dengan perkembangan psikologis mereka.
Saya merasa kehilangan ini bukan hanya urusan nostalgia, tetapi juga persoalan perkembangan sosial dan emosional anak. Musik merupakan bagian penting dalam pertumbuhan karena ia membantu anak mengembangkan kosakata, rasa percaya diri, imajinasi, dan nilai-nilai moral. Ketika konten hiburan untuk anak semakin sedikit, maka ada bagian dari masa kecil yang ikut menghilang.
Harapan saya, gerakan revitalisasi lagu anak dapat dimulai melalui pembuatan lagu baru yang relevan dengan zaman, pelibatan musisi modern untuk menciptakan karya ramah anak, serta kolaborasi sekolah, komunitas seni, dan platform digital untuk menyediakan ruang yang aman dan bernilai bagi anak. Karena memuliakan anak berarti juga memuliakan apa yang mereka dengar, lihat, dan pelajari.
Semoga semakin banyak pihak yang tergerak untuk menghadirkan kembali lagu berkualitas bagi anak-anak Indonesia.
Hormat saya,
Nadia Ardiyanti Mulyana
1 komentar
Iya benar, sekarang udah jarang terdengar juga lagu anak-anak, semoga bisa dimuliakan kembali
Posting Komentar