Saat sebagian besar warga terlelap, Kampung Cikoranji, justru mulai hidup dengan aroma kayu bakar yang samar. Tepat pukul 22.00 WIB, Mang Eheng menyalakan tungkunya. Di jam-jam sunyi itulah Surabi Mang Eheng hadir, menemani malam hingga dini hari.
Berjualan dari pukul 22.00 hingga 03.00 subuh sudah menjadi kebiasaan Mang Eheng selama bertahun-tahun. Waktu yang tak biasa bagi pedagang surabi, namun justru itulah yang membuat lapak sederhananya istimewa. Di tengah udara dingin malam Cikoranj, surabi hangat menjadi teman setia para pembeli mulai dari warga sekitar, pekerja malam, hingga anak muda yang sengaja berburu jajanan khas.
Adonan surabi dibuat dari bahan sederhana: tepung beras dan santan, tanpa campuran instan. Proses memasaknya pun masih tradisional. Wajan tanah liat dipanaskan di atas tungku kayu bakar, menghasilkan aroma khas yang langsung tercium bahkan dari kejauhan. Surabi matang perlahan, dengan bagian tengah yang lembut dan pinggiran kering yang renyah.
Pilihan rasanya tetap sederhana. Surabi polos dan surabi oncom menjadi menu andalan. Tanpa topping kekinian, cita rasa asli justru menjadi kekuatan utama. Setiap surabi disajikan hangat, langsung dari tungku, membuatnya terasa lebih nikmat di tengah dinginnya malam.
Banyak pembeli datang bukan hanya untuk rasa, tetapi juga suasana. Duduk sederhana sambil menunggu surabi matang, obrolan mengalir pelan, ditemani suara kayu terbakar. "Kalau malam rasanya beda," ujar salah seorang pelanggan yang kerap datang menjelang tengah malam.
Bagi Mang Eheng, menjaga rasa dan waktu berjualan adalah bagian dari prinsip. Resep tak pernah berubah, begitu pula jam operasional yang setia pada malam hari. Baginya, konsistensi adalah kunci agar surabi buatannya tetap dikenang.
Di tengah gempuran kuliner modern yang ramai siang hari, Surabi Mang Eheng memilih hadir saat malam sunyi. Dari Cikoranji Tanjungkerta Pagerageung, surabi ini membuktikan bahwa tradisi tetap bisa bertahan hangat, sederhana, dan setia menemani mereka yang terjaga hingga subuh. \
Reporter: Cantika Maesto Octavia
Berjualan dari pukul 22.00 hingga 03.00 subuh sudah menjadi kebiasaan Mang Eheng selama bertahun-tahun. Waktu yang tak biasa bagi pedagang surabi, namun justru itulah yang membuat lapak sederhananya istimewa. Di tengah udara dingin malam Cikoranj, surabi hangat menjadi teman setia para pembeli mulai dari warga sekitar, pekerja malam, hingga anak muda yang sengaja berburu jajanan khas.
Adonan surabi dibuat dari bahan sederhana: tepung beras dan santan, tanpa campuran instan. Proses memasaknya pun masih tradisional. Wajan tanah liat dipanaskan di atas tungku kayu bakar, menghasilkan aroma khas yang langsung tercium bahkan dari kejauhan. Surabi matang perlahan, dengan bagian tengah yang lembut dan pinggiran kering yang renyah.
Pilihan rasanya tetap sederhana. Surabi polos dan surabi oncom menjadi menu andalan. Tanpa topping kekinian, cita rasa asli justru menjadi kekuatan utama. Setiap surabi disajikan hangat, langsung dari tungku, membuatnya terasa lebih nikmat di tengah dinginnya malam.
Banyak pembeli datang bukan hanya untuk rasa, tetapi juga suasana. Duduk sederhana sambil menunggu surabi matang, obrolan mengalir pelan, ditemani suara kayu terbakar. "Kalau malam rasanya beda," ujar salah seorang pelanggan yang kerap datang menjelang tengah malam.
Bagi Mang Eheng, menjaga rasa dan waktu berjualan adalah bagian dari prinsip. Resep tak pernah berubah, begitu pula jam operasional yang setia pada malam hari. Baginya, konsistensi adalah kunci agar surabi buatannya tetap dikenang.
Di tengah gempuran kuliner modern yang ramai siang hari, Surabi Mang Eheng memilih hadir saat malam sunyi. Dari Cikoranji Tanjungkerta Pagerageung, surabi ini membuktikan bahwa tradisi tetap bisa bertahan hangat, sederhana, dan setia menemani mereka yang terjaga hingga subuh. \
Reporter: Cantika Maesto Octavia
Tidak ada komentar
Posting Komentar