Di kawasan Riau ada sebuah kedai kecil yang sering dibicarakan para pencinta matcha. Tempatnya tidak besar namun suasananya hangat. Baristanya meracik matcha dengan kesabaran yang tidak dibuat buat. Bubuk hijau itu disaring halus lalu diaduk perlahan agar aromanya keluar utuh. Tidak ada tambahan pemanis atau perasa lain. Mereka percaya bahwa karakter matcha yang baik cukup berbicara sendiri. Ketika kamu menyesapnya kamu bisa menangkap rasa hijau yang bersih sedikit rumput sedikit laut dan manis yang hanya terasa di ujung lidah.
Bergerak sedikit ke daerah Sukajadi kamu akan menemukan kafe yang lebih eksperimental. Di sini matcha diperlakukan seperti bahan yang bisa diajak bermain. Ada matcha dengan susu oat yang terasa ringan ada matcha bercampur cokelat pekat yang lebih berani ada juga yang diberi sentuhan madu hutan sehingga aromanya lebih hangat. Tidak semuanya puritan tetapi justru itu yang mencerminkan Bandung. Kota ini senang mencoba hal baru dan kadang menemukan perpaduan yang mengejutkan namun enak dinikmati tanpa penjelasan panjang.
Di Setiabudi ada bakery yang membuat matcha menjadi bagian dari karya adonan mereka. Kamu bisa mencium aroma matcha begitu membuka pintu. Croissant berlapis lembut diisi ganache matcha yang tidak terlalu manis. Chiffon cake yang teksturnya ringan namun meninggalkan kesan hijau yang menenangkan. Setiap menu tampak seperti hasil percobaan yang dilakukan dengan rasa hormat pada bahan dasarnya. Matcha tidak diposisikan sebagai warna saja tetapi sebagai penanda rasa yang memberi kedalaman.
Yang menarik bukan hanya perkembangan menunya tetapi juga cara warga Bandung menikmatinya. Banyak orang memesan matcha sebagai teman kerja sore hari atau sebagai jeda kecil sebelum pulang. Ada yang menyesapnya sambil memandang hujan pelan. Ada yang menjadikannya teman ngobrol ringan. Kota ini memang punya irama yang lebih lambat. Udara dingin dan jalanan yang rimbun membuat minuman hangat terasa lebih personal.
Semua itu membuat matcha di Bandung terasa seperti cerita yang tumbuh organik. Tidak perlu banyak dekorasi tidak perlu banyak gimik. Matcha hadir sebagai rasa yang menenangkan dan Bandung memberinya panggung yang pas. Ketika kota lain berubah cepat Bandung memilih berjalan pelan dan di antara langkah pelan itu matcha menemukan tempatnya sendiri.
Sabrina Nurbalqis KPI 5/B
Tidak ada komentar
Posting Komentar