Di Antara Menara dan Lonceng: Merawat Percakapan Lintas Iman di Tasikmalaya

Pagi di Tasikmalaya selalu dimulai dengan suara yang berlapis. Azan subuh menggema dari masjid-masjid kampung, disusul deru kendaraan dan langkah-langkah warga yang berangkat bekerja. Di beberapa sudut kota, lonceng gereja berdentang pelan pada hari Minggu, sementara dupa tipis mengepul di rumah-rumah ibadah umat lain. Kota yang kerap dijuluki "Kota Santri" ini sesungguhnya menyimpan mozaik keberagaman yang lebih rumit daripada stereotip yang melekat padanya.
Tasikmalaya bukan ruang hampa dari perbedaan. Ia adalah titik temu beragam keyakinan yang hidup berdampingan dalam jarak sosial yang rapat. Di pasar tradisional, pedagang Muslim dan non-Muslim saling tawar-menawar tanpa perlu menanyakan iman satu sama lain. Di sekolah negeri, siswa dari latar agama berbeda duduk di bangku yang sama, berbagi tugas kelompok, dan bercanda tentang hal-hal remeh khas remaja. Namun, di balik keseharian yang tampak cair itu, komunikasi lintas agama tidak selalu berjalan tanpa gesekan.
"Kadang kami memilih diam," ujar Maria (bukan nama sebenarnya), seorang guru non-Muslim di salah satu SMA negeri. Diam, baginya, adalah strategi bertahan. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya menahan diri, terutama ketika percakapan mulai menyentuh wilayah sensitif seperti keyakinan dan praktik ibadah. Dalam diam itu, ada kehati-hatian, sekaligus kekhawatiran akan salah tafsir di tengah mayoritas.
Namun Tasikmalaya juga punya kisah lain. Di forum-forum dialog lintas iman yang difasilitasi tokoh masyarakat dan pemuka agama, percakapan justru menjadi jembatan. Di sana, perbedaan tidak dipertajam, melainkan dipahami sebagai realitas sosial yang harus dikelola. Seorang kiai sepuh pernah berkata dalam sebuah diskusi, "Iman tidak perlu dipertandingkan, yang perlu dijaga adalah kemanusiaan." Kalimat sederhana itu kerap menjadi penutup yang menenangkan setiap dialog yang memanas.
Ruang komunikasi lintas agama di Tasikmalaya lebih sering tumbuh secara informal. Ia hadir dalam obrolan warung kopi, kerja bakti kampung, hingga forum orang tua murid. Tidak selalu terstruktur, tidak selalu terdokumentasi, tetapi nyata. Di situlah negosiasi makna berlangsung: tentang batas toleransi, tentang simbol keagamaan di ruang publik, tentang bagaimana saling menghormati tanpa merasa terancam.
Media sosial menambah lapisan baru dalam dinamika ini. Informasi dan disinformasi bergerak cepat, kadang lebih cepat dari klarifikasi. Satu unggahan provokatif bisa memicu prasangka, tetapi satu pesan damai dari tokoh lokal juga mampu meredam ketegangan. Tasikmalaya belajar, pelan-pelan, bahwa komunikasi lintas agama di era digital menuntut literasi, empati, dan kesabaran yang lebih besar.
Di kota ini, harmoni bukan sesuatu yang selesai, melainkan proses yang terus dirawat. Ia hidup dari percakapan kecil yang jujur, dari keberanian mendengar, dan dari kesediaan untuk tidak selalu menang dalam perdebatan. Tasikmalaya mengajarkan bahwa komunikasi lintas iman bukan tentang menghapus perbedaan, melainkan tentang menemukan cara hidup bersama di tengah perbedaan itu sendiri. -In'amul Hasan

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo