Sartika dan Wajah Gelap Eksploitasi Perempuan di Indonesia

Di tengah wacana tentang perempuan dan kemandirian, ada satu kenyataan yang kerap luput dari perhatian yaitu tidak semua perempuan memiliki kemewahan untuk memilih hidupnya sendiri. Pangku, film debut Reza Rahadian sebagai sutradara, menghadirkan satu potret yang jarang dibicarakan secara jujur tentang bagaimana kemiskinan, patriarki, dan stigma sosial saling berkaitan, menjepit perempuan marjinal hingga tubuhnya sendiri menjadi alat bertahan hidup, semuanya terjalin dalam satu perjalanan yang sunyi namun menghantam.

Sartika, tokoh utama film ini, bukan digambarkan sebagai perempuan yang ingin "petualangan baru". Ia adalah sosok yang terjepit keadaan. Tekanan ekonomi memaksanya keluar dari rumah, menyusuri Pantura dengan perut yang membesar dan masa depan yang tidak pasti. Di titik ini, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: kemiskinan bukan hanya soal ketiadaan uang, melainkan hilangnya kebebasan untuk menentukan arah hidup. Pilihan yang diambil bukan lagi soal keinginan, melainkan kemungkinan paling realistis untuk bertahan.

Fenomena "kopi pangku" yang kerap dianggap sensasional justru memperlihatkan persoalan yang jauh lebih struktural. Tubuh perempuan menjadi sumber ekonomi ketika sistem gagal menyediakan alternatif yang adil. Eksploitasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan terang-terangan ia kerap muncul dengan wajah ramah, seolah-olah memberi pertolongan. Relasi kuasa yang timpang ini menunjukkan bagaimana perempuan miskin sering kali dipaksa bernegosiasi dengan martabatnya sendiri demi bertahan hidup.

Namun Pangku tidak berhenti di eksploitasi tubuh. Ia juga membawa kita pada isu yang lebih halus tapi tak kalah penting yaitu stigma terhadap ibu tunggal. Sartika bukan hanya berjuang untuk hidup, ia berjuang untuk memulihkan harga dirinya sebagai ibu. Dalam masyarakat kita, ibu tunggal sering dipandang sebagai "gagal", "kurang lengkap", atau bahkan "penyebab masalah". Padahal, mereka adalah korban dari situasi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar keputusan personal. Film ini mengingatkan bahwa ibu tunggal bukanlah label moral, tetapi manusia yang sedang bertahan hidup.

Lingkungan sosial di sekitar Sartika, termasuk figur laki-laki tidak ditampilkan sebagai hitam-putih. Mereka adalah bagian dari sistem yang sama, ada yang membantu, ada yang memanfaatkan, ada yang sekadar bertahan. Namun perbedaan mendasarnya terletak pada posisi sosial. Dalam tekanan ekonomi yang serupa, laki-laki tetap memiliki kelonggaran yang tidak dimiliki perempuan. Ketimpangan inilah yang membuat beban hidup perempuan menjadi berlapis.

Yang membuat Pangku relevan sebagai medium refleksi adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman personal tanpa terjebak pada penghakiman moral. Kisah Sartika membuka ruang empati, bukan dengan memaksa rasa iba, melainkan dengan memperlihatkan bagaimana kompromi demi kompromi diambil dalam situasi yang tidak ideal. Penonton diajak menyadari bahwa persoalan perempuan marjinal bukan soal karakter individu, melainkan akibat dari struktur sosial yang timpang.

Pada akhirnya, Sartika mungkin adalah tokoh fiksi, tetapi realitas yang ia representasikan sangat nyata. Perempuan-perempuan seperti Sartika hidup di sekitar kita di jalanan, di tempat kerja informal, di ruang-ruang yang jarang disorot. Jika pengalaman menonton Pangku membuat kita lebih sadar bahwa eksploitasi sering kali dilegalkan oleh sistem, maka film ini telah menjalankan fungsi sosialnya sebagai medium kritik.

Pertanyaannya kini bukan lagi tentang film itu sendiri, melainkan tentang kita, sejauh mana negara, masyarakat, dan individu benar-benar menyediakan ruang aman dan adil bagi perempuan marjinal? Atau jangan-jangan, kita masih nyaman menikmati cerita mereka tanpa pernah berusaha mengubah struktur yang menindas?

Reporter: Kahla Qolbiani Rasyad, KPI 5B

 

2 komentar

Mingg mengatakan...

Bagus ini berita kaya gini emang harus di bahas

lasya iah mengatakan...

Tulisannya enak dibaca. Isunya berat, tapi dibawain dengan bahasa yang santai jadi nggak bikin capek. Ceritanya bikin mikir, apalagi soal realitas perempuan yang sering dinilai dari permukaannya aja. Bacanya berasa relate dan cukup nusuk.

© all rights reserved
made with by templateszoo