Vokaloka, Bandung- Di sebuah sudut Kelurahan Pasir Biru, Kota Bandung, ada seorang lelaki yang lebih akrab dengan tanah, pohon, dan aliran sungai dibandingkan tumpukan berkas di meja kantor. Namanya Kunkun Kurnia. Secara struktural, ia menjabat sebagai Kasi Ekbang Kelurahan Pasir Biru. Namun dalam praktik hidupnya, ia adalah seorang penjaga alam, peran yang telah ia jalani jauh sebelum jabatan itu melekat pada namanya.
Ketertarikan Kunkun pada lingkungan tidak lahir secara tiba-tiba. Sejak akhir 1980-an, ketika ia menempuh pendidikan di bidang pemerintahan, hidupnya justru banyak tersedot ke ruang-ruang di luar kampus. Masa kuliahnya berlangsung panjang dan tidak selalu mulus. Ia sendiri mengakui, hampir saja tak pernah menyandang gelar sarjana. Di saat teman-teman seangkatannya melaju di jalur akademik dan birokrasi menjadi dekan, ketua jurusan, hingga pembantu rektor, Kunkun memilih jalan yang berbeda.
Alih-alih mengejar karier, ia mengejar makna. Tang dan paku menjadi alat hariannya, bukan sekadar buku dan catatan kuliah. Selama bertahun-tahun, ia memaku dan merawat pohon-pohon di Kota Bandung. Di kawasan Cibiru, ia mengaku pernah menanam sekitar 12 ribu pohon buah. Di Gunung Haruman, jumlahnya bahkan mencapai 15 ribu pohon. Semua dilakukan dengan cara sederhana, nyaris tanpa organisasi besar. "Sendiri aja. Paling sama Pak Hadi," ujarnya singkat, seolah menegaskan bahwa kepedulian tak selalu membutuhkan nama besar.
Pada tahun 1997, kecintaannya pada lingkungan menemukan wadah bernama Istana Tua, sebuah komunitas yang ia dirikan dengan fokus utama penghijauan, khususnya di wilayah Sumedang. Berbeda dengan organisasi lingkungan lain yang terpusat pada hutan atau gunung, Istana Tua berdiri di atas satu prinsip sederhana: apa pun yang bisa kita berikan ke alam, itulah yang kita lakukan. Mulai dari menanam pohon, merawat sungai, hingga membeli ikan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya.
Namun pengabdian Kunkun pada lingkungan tak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari manusia. Ia menyebut persoalan lingkungan di Indonesia bukan semata soal alam, melainkan krisis kesadaran sumber daya manusia. Dengan nada reflektif, ia kerap mengaitkan kerusakan alam dengan nilai-nilai keagamaan yang kehilangan makna praksis. "Muslimnya banyak, tapi Islamnya nggak ada," ucapnya. Baginya, konsep rahmatan lil alamin seharusnya terwujud nyata dalam sikap manusia terhadap alam.
Pengalaman paling membekas selama menjadi aktivis lingkungan terjadi pada tahun yang sama saat Istana Tua berdiri. Ia harus menurunkan jenazah seorang teman dari puncak gunung setelah mengalami kecelakaan fatal. "Itu teman sendiri, perempuan lagi," kenangnya lirih. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa alam bukan hanya indah, tetapi juga menuntut kesadaran dan tanggung jawab penuh.
Risiko lain datang ketika ia melakukan penanaman mangrove di kawasan Cirebon. Upaya tersebut dianggap mengganggu kepentingan lahan tertentu hingga membuatnya harus berhadapan langsung dengan penolakan warga. Namun bagi Kunkun, semua itu adalah konsekuensi dari pilihan hidup yang telah ia ambil.
Seiring waktu, jalan hidupnya membawanya masuk ke birokrasi. Ia menjadi PNS pada akhir 1990-an dan mulai bertugas di berbagai wilayah, dari Palasari hingga akhirnya menetap di Pasir Biru sejak 2017. Meski berada dalam struktur pemerintahan, semangat lingkungannya tak pernah padam. Ia bahkan sempat berinovasi mengolah limbah kotoran puyuh menjadi biogas dan pupuk, hingga mampu membagikan ribuan benih cabai secara gratis kepada masyarakat.
Uniknya, Kunkun pernah menanam cabai dan sayuran di pinggir jalan dengan tulisan sederhana: "Kalau perlu, silakan ambil sendiri." Meski tak jarang tanaman itu diambil beserta potnya, ia menganggapnya sebagai bagian dari proses berbagi. "Nggak apa-apa, manfaat tetap manfaat," katanya.
Kini, di usia yang semakin matang, harapan Kunkun hanya satu, yaitu kesadaran. Ia mengajak manusia untuk kembali berterima kasih pada bumi yang dipijak setiap hari, pada udara yang dihirup tanpa henti. Baginya, akar persoalan bangsa ini bertumpu pada empat hal yang harus dikembalikan: alam, keyakinan, budaya, dan bahasa. "Kalau empat itu kita pegang, Indonesia beres," tutupnya.
Di Pasir Biru, Kunkun Kurnia menanam lebih dari sekadar pohon. Ia menanam kesadaran; pelan, sunyi, dan terus tumbuh.
Reporter: Kahla Qolbiani Rasyad, KPI 5 B
2 komentar
Menginspirasi sekali
tulisannya sangat menginspirasi!! bisa jadi bahan refleksi juga
Posting Komentar