Saatnya Alam Mengingatkan Kita Lewat Bencana

Redaksi Vokaloka yang saya hormati,

Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menyisakan duka mendalam. Berdasarkan laporan terkini, peristiwa tersebut telah menyebabkan lebih dari 164 korban jiwa dan puluhan korban lainnya yang hilang, serta memaksa ribuan warga untuk mengungsi akibat rumah yang rusak dan akses yang terputus. Banyak jembatan, jalan, dan juga fasilitas umum turut terdampak sehingga penanganan darurat pun berlangsung tidak mudah.

Di tengah tragedi ini, kita tak bisa terus-menerus menganggap bencana sebagai fenomena alam semata. Para peneliti mengingatkan bahwa curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, namun kerusakan hutan dan degradasi lingkungan turut memperparah besarnya dampak. Di beberapa daerah, hilangnya tutupan vegetasi membuat tanah tidak lagi mampu menahan air, sehingga longsor dan banjir bandang tak terhindarkan.

Saya berharap pemerintah pusat dan daerah memperkuat langkah pencegahan, bukan hanya sekedar respons setelah kejadian. Pembenahan tata ruang, pengetatan izin pembukaan lahan, serta rehabilitasi hutan di titik-titik rawan harus dilakukan dengan serius. Tanpa langkah struktural seperti ini, kita hanya akan terjebak dalam siklus yang sama, yakni bencana datang, korban berjatuhan, publik berduka, lalu semuanya terlupakan.

Masyarakat juga perlu lebih waspada dan turut mengawasi aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan, karena menjaga alam bukanlah sekadar seruan moral, tetapi kebutuhan nyata untuk melindungi kehidupan bersama dengan menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Hormat saya,

Salsabiil Firdaus
Jl. Babakan Sari, Pasir Biru, Kec. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat 40615

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo