TASIKMALAYA – Tarekat Idrisiyyah Tasikmalaya menggelar sebuah pertemuan bersejarah yang berlangsung dengan hangat. Tidak ada debat teologis yang kaku, yang ada hanyalah diskusi ringan diiringi tawa renyah antara pengurus Tarekat Idrisiyyah, tokoh masyarakat, serta para pendeta dan romo dari berbagai gereja di Tasikmalaya.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di sana, sebuah visi besar sedang dirumuskan dengan tema menjadikan Tasikmalaya sebagai pelopor kota paling damai di Indonesia melalui kolaborasi nyata, bukan sekadar retorika.
Dialog lintas agama yang digelar baru-baru ini pada September lalu menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukanlah tembok, melainkan jembatan. Pengurus Tarekat Idrisiyyah bersama tokoh masyarakat setempat duduk satu ruangan di Resto Sultan Kebuli milik Idrisiyyah dengan perwakilan gereja-gereja di Tasikmalaya.
"Kita tidak sedang berbicara tentang cara beribadah yang berbeda, tapi tentang bagaimana kita bisa bekerja sama membantu masyarakat yang sama-sama kita cintai," ujar Ustadz Asep Deni, M.Pd., salah satu perwakilan tokoh Idrisiyyah yang hadir.
Diskusi tersebut melahirkan sebuah kesepakatan besar. Mereka sepakat untuk merancang serangkaian kegiatan Kolaborasi Sosial Ekonomi Kemasyarakatan. Gerakan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menyentuh akar rumput, mulai dari pemberdayaan ekonomi umat hingga aksi sosial yang melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang agama.
Menariknya, seluruh rencana besar ini diproyeksikan akan memuncak pada momen Sumpah Pemuda tahun depan. Pemilihan waktu ini tentu bukan tanpa alasan. Sumpah Pemuda dianggap sebagai napas pemersatu bangsa yang paling relevan untuk membangkitkan kembali semangat toleransi di kalangan generasi muda Tasikmalaya.
Wacana kegiatannya pun beragam. Mulai dari festival UMKM lintas iman, pelayanan kesehatan gratis, aksi bersih kota bersama, hingga program berbagi pangan yang akan dikelola secara kolaboratif antara komunitas pesantren dan gereja.
"Ini adalah pintu gerbang awal. Kami ingin dunia melihat bahwa dari Tasikmalaya, kedamaian bisa dirajut melalui aksi nyata di bidang sosial dan ekonomi," ungkap Romo Hario seorang perwakilan dari pegiat Gereja Tasikmalaya dengan penuh optimisme.
Selama ini, Tasikmalaya sering kali dikenal dengan identitas religiusnya yang kuat. Melalui dialog ini, identitas tersebut diperluas maknanya menjadi religiusitas yang inklusif dan mendamaikan. Harapannya, inisiatif dari Tarekat Idrisiyyah dan perwakilan gereja ini bisa menjadi motor penggerak bagi Tasikmalaya untuk menyandang predikat sebagai Kota Paling Damai.
Langkah kecil dari meja dialog ini adalah sebuah lompatan besar bagi masa depan Tasikmalaya. Ketika pemuda-pemudi lintas agama nantinya berdiri bahu-membahu di momen Sumpah Pemuda tahun depan, mereka tidak hanya sedang merayakan sejarah, tetapi sedang menciptakan sejarah baru. Bahwa di Tasikmalaya, perbedaan bukan lagi soal "aku dan kamu", melainkan "kita" yang bekerja untuk kesejahteraan bersama. (Siti Nur Iffah Kamiladewi - @snikdewi)
Tidak ada komentar
Posting Komentar