Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) kerap dipandang hanya sebagai komunitas yang gemar mendaki gunung, menjelajah hutan, atau menaklukkan tebing. Padahal, di balik aktivitas luar ruang tersebut, MAPALA memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih besar: menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam dan menyuarakan kepedulian lingkungan di tengah krisis ekologi yang kian nyata.
Keberadaan MAPALA tidak bisa dilepaskan dari realitas kerusakan lingkungan yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Deforestasi, pencemaran sungai, eksploitasi kawasan konservasi, hingga perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan alam. Dalam konteks ini, MAPALA memiliki posisi strategis karena anggotanya bersentuhan langsung dengan alam dan menyaksikan dampak kerusakan tersebut secara nyata di lapangan.
Namun, menjaga kelestarian alam tidak cukup hanya dengan slogan "cinta alam". MAPALA dituntut untuk menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tindakan konkret. Kampanye etika berpetualang, penerapan prinsip leave no trace, kegiatan rehabilitasi lingkungan, hingga edukasi masyarakat menjadi bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan secara konsisten. Tanpa itu, MAPALA berisiko terjebak dalam romantisme petualangan yang justru bertolak belakang dengan semangat pelestarian.
Selain aksi lapangan, peran MAPALA sebagai agen perubahan di lingkungan kampus juga sangat penting. MAPALA dapat menjadi motor penggerak diskusi kritis tentang isu lingkungan, mengawal kebijakan kampus yang ramah lingkungan, serta membangun kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa. Dengan basis intelektual yang dimiliki, MAPALA seharusnya mampu menggabungkan idealisme, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata.
Di sisi lain, MAPALA juga perlu terus melakukan refleksi internal. Eksklusivitas, budaya senioritas berlebihan, atau orientasi prestasi semata dapat menjauhkan MAPALA dari tujuan utamanya. Regenerasi yang sehat dan pembinaan karakter yang menekankan etika lingkungan menjadi kunci agar MAPALA tetap relevan dan tidak kehilangan ruh perjuangannya.
Pada akhirnya, MAPALA bukan sekadar organisasi pencinta alam, melainkan simbol kesadaran ekologis mahasiswa. Dalam situasi alam yang semakin terancam, MAPALA dituntut untuk hadir bukan hanya di puncak gunung atau derasnya sungai, tetapi juga di ruang-ruang advokasi, edukasi, dan pengambilan kebijakan. Menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama, dan MAPALA memiliki peran penting untuk memastikan bahwa tanggung jawab itu tidak sekadar menjadi wacana, melainkan gerakan nyata.
Penulis : Ziaulhaq Farras Ismail
Tidak ada komentar
Posting Komentar