Nasi bakar menjadi salah satu hidangan yang lekat dengan keseharian masyarakat Jawa Barat. Sajian nasi yang dibungkus daun pisang lalu dibakar ini dikenal karena aromanya yang khas serta bumbu rempah yang meresap hingga ke dalam nasi.
Cita rasa tersebut dapat ditemukan di Nasi Bakar Abah, warung sederhana yang beroperasi sejak pagi sampai sore di kawasan Cipadung Wetan, tepatnya di seberang Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati, dekat halte. Warung ini menawarkan tiga varian nasi bakar, yakni tongkol, ayam, dan cumi, dengan harga Rp8.000 per porsi.
Jangan bayangkan isian seadanya. Begitu bungkusan daun pisangnya dibuka, uap panas membawa wangi rempah khas Sunda yang medok yaitu bawang merah, bawang putih, serai, daun jeruk, dan cabai yang ditumis sampai bumbunya benar-benar meresap ke setiap butir nasi. Rasanya gurih, pedasnya nempel, dan ada sentuhan smokey dari proses bakarnya yang bikin ketagihan sejak suapan pertama.
Varian cuminya jadi favorit banyak pelanggan. Potongan cumi yang melimpah, empuk, dan sama sekali tidak amis. Bumbunya menempel pekat, berpadu dengan nasi panas yang dibakar perlahan sampai bagian luarnya sedikit kering namun tetap pulen di dalam. Untuk yang suka pedas, tingkat kepedasan bisa dipesan sesuai permintaan pelanggan mau dari sekadar hangat di lidah sampai pedas yang bikin dahi berkeringat.
Menariknya, dengan harga Rp8.000 per porsi, rasa yang ditawarkan jauh dari kata murah. Tapi kalau merasa satu porsi belum cukup, Nasi Bakar Abah juga melayani porsi lebih besar sesuai permintaan dengan harga menyesuaikan. Tinggal bilang saja.
Kalau sedang melintas atau pulang kuliah lewat Cipadung Wetan, sempatkan berkunjung. Buka daun pisangnya, hirup aromanya, lalu biarkan bumbu khas racikan Abah pelan-pelan memanjakan lidah. Satu porsi mungkin cukup untuk kenyang, tapi rasanya sering kali bikin ingin tambah.
Reporter: Aulia Evawani Larissa, Komunikasi Penyiaran Islam/5B, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Cita rasa tersebut dapat ditemukan di Nasi Bakar Abah, warung sederhana yang beroperasi sejak pagi sampai sore di kawasan Cipadung Wetan, tepatnya di seberang Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati, dekat halte. Warung ini menawarkan tiga varian nasi bakar, yakni tongkol, ayam, dan cumi, dengan harga Rp8.000 per porsi.
Jangan bayangkan isian seadanya. Begitu bungkusan daun pisangnya dibuka, uap panas membawa wangi rempah khas Sunda yang medok yaitu bawang merah, bawang putih, serai, daun jeruk, dan cabai yang ditumis sampai bumbunya benar-benar meresap ke setiap butir nasi. Rasanya gurih, pedasnya nempel, dan ada sentuhan smokey dari proses bakarnya yang bikin ketagihan sejak suapan pertama.
Varian cuminya jadi favorit banyak pelanggan. Potongan cumi yang melimpah, empuk, dan sama sekali tidak amis. Bumbunya menempel pekat, berpadu dengan nasi panas yang dibakar perlahan sampai bagian luarnya sedikit kering namun tetap pulen di dalam. Untuk yang suka pedas, tingkat kepedasan bisa dipesan sesuai permintaan pelanggan mau dari sekadar hangat di lidah sampai pedas yang bikin dahi berkeringat.
Menariknya, dengan harga Rp8.000 per porsi, rasa yang ditawarkan jauh dari kata murah. Tapi kalau merasa satu porsi belum cukup, Nasi Bakar Abah juga melayani porsi lebih besar sesuai permintaan dengan harga menyesuaikan. Tinggal bilang saja.
Kalau sedang melintas atau pulang kuliah lewat Cipadung Wetan, sempatkan berkunjung. Buka daun pisangnya, hirup aromanya, lalu biarkan bumbu khas racikan Abah pelan-pelan memanjakan lidah. Satu porsi mungkin cukup untuk kenyang, tapi rasanya sering kali bikin ingin tambah.
Reporter: Aulia Evawani Larissa, Komunikasi Penyiaran Islam/5B, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
2 komentar
wahh informatiff bangettt buat mahasiiwa sekitar cibiru
Andalan mahasiswa kampus 1 nih wajib coba
Posting Komentar