Pagi itu, di tepian jalan yang tak jauh dari aliran sungai Citarik, aroma kopi hitam perlahan bercampur dengan udara lembap khas pedesaan. Seorang pria tampak sibuk menata bangku di sebuah warung sederhana berwarna kuning pucat. "Warung Biloeng," begitu tulisan yang tercantum di spanduknya. Di balik warung itu, berdiri sosok Iwan Rismawan, seorang yang oleh warga Cibodas dikenal bukan hanya sebagai Ketua Seksi Pelayanan, tetapi juga sebagai penggerak yang menyalakan semangat peduli lingkungan di desanya.
Siapa sangka, sosok yang kini menjadi tumpuan masyarakat itu dulu adalah anak jalanan yang pernah tidur di trotoar kota Bandung. Iwan lahir di Bandung, pada 19 Januari 1978. Masa kecilnya dihabiskan dengan berpindah-pindah sekolah dari SD Sukasari, berpindah ke SD Pagarsih, kemudian kembali lagi, hingga akhirnya melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Solokanjeruk. Ia sempat duduk dibangku SMA Negeri 1 Majalaya, namun hanya beberapa bulan. Sejak itu, jalanan menjadi rumah keduanya. "Dulu saya hidup di jalanan, terus kerja di pabrik, ikut organisasi buruh. Hidup keras, tapi justru di situ saya belajar banyak hal," kenangnya.
Perjuangannya di organisasi buruh membuatnya peka terhadap ketimpangan sosial dan kebijakan yang sering kali tidak berpihak pada masyarakat kecil. Dari situlah muncul tekad untuk memahami pemerintahan dari dalam. Tahun 2005, Iwan bergabung dengan karang taruna desa Cibodas. Meski sempat ditentang oleh rekan-rekan aktivisnya, ia tetap melangkah. "Saya ingin agar kegiatan pemerintah bisa benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya. Konsistensi itu menjadi prinsip hidup yang ia pegang hingga kini.
Tahun 2019 menjadi titik balik. Kepala Desa Cibodas memintanya bergabung dalam pemerintahan desa, dan Iwan menerima amanah sebagai Ketua Seksi Pelayanan. Baginya, jabatan bukan sekadar posisi, melainkan bentuk pengabdian. "Ketika saya berikrar membantu desa, berarti badan saya sudah saya wakafkan 70 persen untuk masyarakat," tuturnya dengan senyum tenang.
Salah satu langkah nyata yang ia lakukan adalah menghidupkan kembali saluran air atau parit kecil yang menjadi sumber pengairan utama para petani. Sejak 2015, parit itu sempat mati akibat tumpukan sampah dan kurangnya perhatian. Iwan menginisiasi gotong royong bersama warga pada 2020. "Air itu sumber kehidupan. Setelah paritnya hidup lagi, para petani bisa menanam dua kali setahun," ujarnya bangga.
Selain itu, ia juga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah dan pemberdayaan pekerja lokal. Program itu bahkan menginspirasi desa tetangga untuk meniru sistem serupa. Namun, Iwan sadar bahwa perubahan tidak terjadi instan. "Edukasi masyarakat itu nggak bisa sekali datang. Kadang harus lima sampai enam kali baru mereka mau paham," ucapnya, menegaskan pentingnya ketelatenan dalam bekerja di lapangan.
Dari semangat itulah, Warung Biloeng lahir. Dulunya, kawasan Bilung dikenal sebagai daerah gelap dan rawan. Iwan melihat potensi di balik kesuraman itu. Ia berkoordinasi dengan pemerintah desa dan Balai Besar Sungai untuk memanfaatkan lahan di pinggir sungai sebagai ruang produktif. Hasilnya, sebuah warung sederhana berdiri, menjadi tempat berkumpulnya petani, warga, dan mahasiswa.
Kini, Warung Biloeng bukan hanya tempat singgah, tapi juga wadah belajar. Mahasiswa dari Universitas Indonesia, Unpad, ITB, bahkan Monash University pernah melakukan penelitian di sana. Mereka tertarik pada gerakan lingkungan seperti sanitasi, pengelolaan sampah, dan pengelolaan pangan yang digagas Iwan. "Bagi saya, yang penting warung itu hidup. Di situ orang bisa belajar, bisa saling berbagi," katanya.
Kepedulian Iwan terhadap lingkungan dan masyarakat seolah menyatu dalam kehidupannya. Ia menolak disebut pahlawan, tapi menganggap apa yang dilakukan sebagai bagian dari rasa syukur. "Saya tidak merasa bangga, hanya bersyukur masih sehat dan bisa terus berbuat," ujarnya merendah.
Di akhir percakapan, Iwan menyampaikan harapan sederhana: agar masyarakat Cibodas semakin sadar pentingnya pendidikan dan kebersihan lingkungan. "Kalau SDM-nya baik, ekonomi juga ikut baik. Semua nyambung," ucapnya pelan. Dari warung kecil di tepi sungai itu, ia terus menyalakan semangat pelayanan, membuktikan bahwa dari jalanan sekalipun, seseorang bisa tumbuh menjadi cahaya bagi desanya.
Reporter: Nadia Ardiyanti Mulyana, KPI 5/B
Tidak ada komentar
Posting Komentar