Berawal dari Patah Hati, Seorang Pemuda Menemukan Hidupnya Kembali Lewat Lari

Minggu pagi di Gasibu selalu punya ritmenya sendiri. Di antara langkah kaki yang berpacu di lintasan dan aroma kopi dari pedagang kaki lima, tampak seorang pemuda berlari dengan earphone terpasang di telinga. Namanya Dimas, 22 tahun, Supervisor Sales di Mayora. Baginya, lari bukan sekadar olahraga, tapi cara paling jujur untuk berdamai dengan diri sendiri.

Kebiasaan itu bermula dari masa yang tidak mudah. "Jujur aja, dulu tuh saya diselingkuhin," ujarnya sambil tersenyum malu. Bukan perokok, bukan pula peminum, Dimas memilih lari sebagai pelarian dari rasa kecewa. Dari situ, setiap langkahnya bukan sekadar gerak tubuh, tapi perjalanan emosional yang mengantarnya pada versi dirinya yang lebih kuat.

Ia mulai rutin berlari sejak 2020, di masa pandemi saat banyak orang justru terjebak dalam diam dan tekanan pikiran. Sementara sebagian orang melampiaskan stres dengan rebahan, Dimas justru mencari udara segar lewat napas yang berkejaran dengan detak jantungnya. "Saya kerja dari pagi sampai malam, jadi lari tuh biar gak stres," katanya.

Gasibu menjadi pelariannya setiap akhir pekan. Di sana, ia sering berlari sendirian, kadang juga bareng orang baru yang ia temui di lintasan. "Kadang pas lari suka ketemu orang baru, kenalan, terus lanjut lari bareng. Dari situ nambah koneksi," ceritanya. Lari membuatnya sadar bahwa kadang, kesembuhan bisa datang dari hal sederhana, seperti berbagi langkah dengan orang asing.

Seiring waktu, lari bukan lagi sekadar rutinitas bagi Dimas. "Kalo gak lari tuh saya bisa anxiety," ucapnya jujur. Gerak tubuh yang konsisten setiap pagi ternyata membuat pikirannya lebih stabil. Lari menjadi semacam terapi pribadi yang ia jalani tanpa biaya, tanpa alat, tanpa aturan, cukup dengan niat dan sepatu yang setia menemaninya di setiap lintasan.

Bagi Dimas, momen paling berkesan bukan tentang rekor kecepatan, tapi tentang kedisiplinan. "Sehari aja gak lari, rasanya gak produktif," ujarnya. Lari mengajarkan konsistensi, bahwa hal besar sering lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang. Di balik peluh dan napas terengah, ada ketenangan yang hanya bisa ia temukan di antara derap langkah.

Gasibu kini jadi tempat yang lebih dari sekadar arena olahraga. Bagi banyak warga Bandung, tempat itu seperti ruang penyembuhan kolektif. Dari mahasiswa, pekerja kantoran, sampai ibu rumah tangga, semuanya berbaur dalam semangat yang sama yaitu mencari keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Di sinilah, gaya hidup sehat menjelma jadi budaya baru.

Tren ini pun ikut mewarnai media sosial. Banyak pelari muda yang kini menggunakan aplikasi seperti Strava, mengikuti tren lari di TikTok, atau membagikan hasil lari sebagai bentuk apresiasi diri. Namun, Dimas punya pandangan sederhana. "Yang penting mah mulai aja dulu, gak usah nunggu sepatu adidas mahal, kayak kata Nike, just do it," katanya sambil terkekeh.

Menurutnya, anak muda Bandung kini mulai sadar pentingnya menjaga diri, bukan cuma secara fisik, tapi juga mental. "Sekarang banyak yang mulai aware, apalagi gen z," ujarnya. Dalam rutinitas lari, Dimas menemukan cara baru untuk tetap waras di tengah hiruk pikuk kehidupan kota.

Saat matahari mulai meninggi di Gasibu, Dimas menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya. Dalam setiap jejak kakinya, ada kisah sederhana tentang kehilangan, keteguhan, dan upaya menemukan kembali makna hidup di tengah keramaian Bandung.


Reporter: Nadia Ardiyanti Mulyana, KPI 5/B


Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo