Menanam Cinta dalam Pendidikan: Transformasi Kurikulum di Madrasah dan Sekolah

 Vokaloka, Bandung (2/10/2025) – Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) kini menjadi filosofi pendidikan yang menerapkan cinta kasih dan kegembiraan sebagai landasan. Kurikulum ini digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Hadirnya KBC bertujuan membentuk karakter siswa yang seimbang antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional. Pada dasarnya, KBC mengintegrasikan nilai cinta kepada Tuhan, tanah air, alam semesta, dan sesama manusia dalam setiap mata pelajaran.

 KBC merupakan pendekatan pembelajaran yang menanamkan nilai cinta kepada diri sendiri, sesama manusia, dan Allah SWT dalam seluruh proses pendidikan. Tujuannya bukan hanya untuk mencapai hasil akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang berempati, berakhlak, dan memiliki spiritualitas yang kuat. Program ini mulai diperkenalkan secara nasional pada tahun 2023 sebagai bagian dari upaya penguatan moderasi beragama dan pembentukan karakter peserta didik madrasah.

 Deni Sutisna, selaku Operator Madrasah dan Bagian Kurikulum di MTs Al Bashariah, mengungkapkan bahwa hadirnya KBC merupakan bentuk insersi ke dalam kurikulum sebelumnya. Dalam KBC, penekanan diberikan pada implementasi proses belajar mengajar antara guru dan siswa di lingkungan madrasah. KBC hadir sebagai solusi atas berbagai permasalahan sosial di lingkungan sekolah.
 "Lebih kepada insersi. Istilahnya insersi itu kalau dalam bahasa Inggris insert, artinya memasukkan. Jadi, bagaimana memasukkan nilai-nilai berbasis cinta ini ke dalam proses pembelajaran di kelas oleh guru-guru," ujarnya.

Pandangan mengenai tantangan dan adaptasi KBC pada sekolah umum disampaikan oleh Tuti, perwakilan Bagian Kurikulum SMA Guna Dharma. Ia menilai KBC sebagai inisiatif positif yang relevan dalam menyusun profil siswa SMA saat ini. Profil tersebut mencakup aspek kecerdasan, keimanan, kolaborasi, kreativitas, serta kesehatan—yang sejalan dengan upaya membentuk karakter siswa secara utuh. 

Tuti mengakui bahwa implementasi kurikulum tersebut menuntut adaptasi guru di lapangan, terutama dalam mencari metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Tuti menjelaskan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama keberhasilan inisiatif ini. "Perubahan kurikulum harus disikapi dengan pelatihan dan kesiapan guru agar tetap efektif meskipun sarana dan prasarana terbatas," ujar Tuti. 

Ia menambahkan bahwa kreativitas guru sangat penting dalam menyesuaikan pembelajaran, terutama ketika fasilitas terbatas. Penggunaan metode dan alat pembelajaran yang menarik serta pemanfaatan teknologi digital dan laboratorium dapat mendukung proses belajar yang praktis dan efektif. Secara keseluruhan, implementasi KBC menempatkan peran guru sebagai pihak yang sangat sentral. Guru dituntut untuk kreatif dan adaptif, baik di sekolah yang dinaungi Kemenag (MTs Al Basyariyah) maupun non-Kemenag (SMA Guna Dharma).Kedua lembaga pendidikan sepakat bahwa pelatihan dan lokakarya merupakan hal penting agar guru mampu mengintegrasikan nilai cinta dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Tujuan utamanya tetap sama: memastikan kecerdasan intelektual dan emosional siswa berkembang secara seimbang. 

Reporter : Hasan Nurwahid, Ayyasy Nurul (KPI 5A

Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo