Vokaloka, Bandung – Pertunjukan longser Kabayan Ngalalana hadir di Gedung Kesenian Rumentang Siang sebagai upaya menghidupkan kembali seni tradisi Sunda yang mulai jarang ditemukan di masyarakat. Acara ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Sembilan Enam bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat melalui gerakan Longser Bandung (LOBA), Selasa (7/10/2025).
Penata Layanan Operasional Rumentang Siang, Yayat, mengungkapkan bahwa lahirnya pertunjukan ini berawal dari kekhawatiran terhadap kondisi teater tradisi di Kota Bandung yang semakin jarang ditampilkan. Melalui LOBA, para seniman berinisiatif membentuk wadah bersama bagi siapa pun yang rindu akan pertunjukan longser.
"Ini kepedulian kawan-kawan seniman yang memang berkeinginan untuk melakukan pembelajaran, penyampaian informasi, memperlihatkan kembali beginilah kira-kira pertunjukan seni tradisi yang namanya Longser," ujar Yayat.
Ia menambahkan, Kabayan Ngalalana merupakan naskah karya Rosyid E. Abby yang mengisahkan sosok Mang Kabayan sebagai Profesor Kabayan, penemu mesin waktu yang mampu menembus berbagai era. Melalui perangkat ciptaannya, Kabayan melakukan perjalanan lintas masa mulai dari kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Bandung Purba, menelusuri Batavia pada masa Kompeni, hingga tiba di tahun 2750 Masehi, ketika Tatar Sunda digambarkan kembali menjadi danau akibat bencana.
Menurut Teguh Rachmadi, selaku penanggung jawab pengelola Gedung Rumentang Siang, pemilihan tempat pertunjukan bukan tanpa alasan. Gedung Rumentang Siang memang sejak dulu dikenal sebagai rumah bagi seni peran dan teater tradisional di Jawa Barat.
"Rumentang Siang ini memang dari dulu aktif sebagai wadah untuk kesenian seni lakon, dan seni peran. Dan Longser ini termasuk adalah seni peran tradisional sehingga cocok ditempatkan di gedung Rumentang Siang yang sebenarnya rumahnya untuk seni-seni peran, teater tradisional," jelas Teguh.
Pertunjukan Kabayan Ngalalana melibatkan sekitar 12 komunitas seni dari berbagai bidang seperti teater, musik, dan tari. Hingga enam kali pementasan terakhir, antusiasme masyarakat tercatat sangat tinggi dengan jumlah penonton yang mencapai lebih dari 300 orang dalam satu kali penayangan.
Yayat menuturkan, tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan seniman, tetapi pada aspek manajemen dan pemasaran. Ia berharap ada kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian di bidang promosi agar pertunjukan ini dapat menjangkau audiens lebih luas.
Harapan ke depan, kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi gedung-gedung kesenian lain di Jawa Barat untuk menampilkan pertunjukan tradisi.
"Harapannya tidak hanya seniman yang dari Bandung bisa terlibat di sini. Seluruh Jawa Barat silahkan jika ingin memang berkontribusi," tambah Yayat.
Sementara itu, salah satu pengunjung, Jasa, guru Seni Budaya di SMP Negeri 7 Bandung menilai bahwa pertunjukan ini memiliki nilai edukatif bagi siswa. Menurutnya, selain memahami unsur pementasan, siswa juga dapat belajar tentang bahasa dan budaya Sunda secara langsung.
"Dari pertunjukan ini mereka belajar tahapan pembuatan sebuah penampilan, dari naskah sampai sutradara. Selain itu, karena ceritanya tentang Kabayan dan menggunakan bahasa Sunda penuh, ini bisa membantu mereka memahami pelajaran bahasa dan budaya Sunda di sekolah," ungkapnya.
Reporter: Fira Amarin, KPI /5B
2 komentar
keren banget.. tradisi sunda masih hidup ga termakan zaman
betull ikon terkenal sunda yaitu si kabayan, namun tidak sedikit yang mengenal lebih tentang si kabayan
Posting Komentar