Vokaloka.com, Bandung - Lurah Cipadung Kulon mengadakan mediasi bersama sejumlah perwakilan wilayah terdampak saluran air, bertempat di kantor Kelurahan Cipadung Kulon, pada Selasa (23/9/2025). Mediasi ini dilakukan guna mencegah konflik antarwarga serta mencari solusi bersama terkait permasalahan saluran air yang telah berlangsung cukup lama. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Wakil Kepala Sekolah SMPN 56 Kota Bandung, RW 10, RW 07, dan RT 04. Lurah berharap pertemuan ini menjadi sarana terbuka bagi seluruh pihak untuk menyampaikan keluhan dan mencari jalan keluar bersama. Permasalahan saluran air dianggap semakin mendesak karena dampaknya mulai mengganggu lingkungan dan aktivitas masyarakat.
Mediasi dibuka oleh perwakilan kelurahan yang menjelaskan pokok masalah saluran air, mulai dari penyumbatan hingga penyempitan aliran. Setelah itu, Lurah Cipadung Kulon memberi kesempatan kepada setiap perwakilan untuk menyampaikan keluhannya secara langsung. Pihak SMPN 56 mengeluhkan genangan air yang memasuki lingkungan sekolah dan menyebabkan banyaknya jentik nyamuk. Mereka mengusulkan pengerukan saluran dan penambahan jalur air baru sebagai solusi jangka pendek. Keluhan dari pihak sekolah dianggap penting karena menyangkut kenyamanan dan kesehatan siswa.
Dari RW 10, keluhan datang terkait banjir yang sering terjadi di salah satu RT saat hujan turun. Warga menilai penyebab utama banjir adalah bangunan liar yang berdiri tanpa izin, mengganggu aliran air yang seharusnya lancar. Mereka juga menyebut bahwa masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun namun belum pernah ditangani secara serius. Penambahan bangunan tanpa perencanaan menjadi penyebab utama penyempitan saluran. RW 10 berharap adanya penanganan cepat dari kelurahan sebelum masalah semakin meluas.
Menanggapi hal tersebut, Lurah Cipadung Kulon mengidentifikasi tiga faktor utama penyebab masalah saluran air, yaitu: sentimen (kurangnya pemeliharaan), penyempitan (karena bangunan liar), dan alih fungsi lahan. Ia juga menyoroti adanya kecenderungan arogansi sektoral di mana masing-masing pihak hanya menyampaikan kepentingan kelompoknya tanpa mencari solusi bersama. Menurutnya, beberapa solusi yang diajukan belum menyentuh inti masalah dan cenderung reaktif. Lurah mengingatkan bahwa masalah lingkungan seperti ini seharusnya ditangani secara kolektif dan terencana. Dialog harus menjadi jalan utama dalam menyelesaikan konflik, bukan adu kepentingan antarwilayah.
Sebagai tindak lanjut, Lurah Cipadung Kulon berjanji akan meninjau langsung lokasi-lokasi terdampak untuk melihat kondisi sebenarnya. Jika ditemukan bagian saluran yang masih bisa diperbaiki, pihak kelurahan akan segera melakukan perbaikan teknis. Ia juga menekankan bahwa kunjungan ke lapangan akan membantu membedakan mana yang benar-benar masalah dan mana yang hanya pertahanan wilayah semata. Di akhir mediasi, ia berpesan agar semua pihak menghindari perdebatan dan lebih mengutamakan solusi bersama. "Dari pembelajaran hari ini, persoalan itu jangan mengedepankan perdebatan karena kalau ada perdebatan mereka mempunyai misi masing-masing," ucap Pak Lurah.
Reporter: Nadya Maghfiroh Noor Diswa/5B
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar
Adanya tulisan ini kita bisa tahu keluhan apa saja yang ada di dapatkan di kelurahan, keren 🤩
perlu diatasi, semoga segera ada jalan keluar
Posting Komentar