Bukan Sekadar Liwetan, Walikota Bandung Jadikan Hari Tani Nasional Titik Balik Lawan Krisis Pangan


Vokaloka, Bandung – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menggelar liwetan bersama di halaman Pendopo Kota Bandung, pada Selasa (24/9/2025), sebagai pembuka peringatan Hari Tani Nasional ke-65 yang dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan sekaligus momentum pencanangan langkah strategis melawan krisis pangan.


"Hari Tani ini harus kita maknai sebagai titik balik. Tanpa pangan yang aman dan berkelanjutan, kedaulatan bangsa akan terancam," tegas Farhan. 


Ia menyoroti tiga tantangan besar yang harus segera dijawab, yaitu stunting yang masih tinggi, fluktuasi harga pangan yang memengaruhi psikologi warga, serta ketergantungan Kota Bandung terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Tantangan tersebut dijawab dengan peluncuran Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030 serta penguatan urban farming melalui program Buruan SAE , sebuah komunitas tani kota dinilai mampu menjadi benteng ketahanan pangan perkotaan dan menjadi contoh inovasi bagi daerah lain.


Kepala DKPP, Gin Gin Ginanjar, menyebut Hari Tani Nasional kali ini bersejarah karena bertepatan dengan peluncuran kebijakan penting. Ia menilai peringatan tersebut bukan hanya acara seremonial, melainkan momentum dimulainya Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030 sekaligus soft launching aplikasi Kita Berbagi. 


"Dua langkah ini menjadi tonggak sejarah untuk Bandung yang lebih tangguh menghadapi krisis pangan global," ujarnya.


Ia menambahkan, Buruan SAE yang sudah berjalan lima tahun terbukti memperkuat ketahanan pangan sekaligus sosial ekonomi warga, bahkan ia diberi bocoran bahwa Buruan SAE ini akan mendapat penghargaan internasional di Milan, dan menjadikan Hari Tani jadi panggung penghormatan bagi inovasi pangan warga kota Bandung.


Ketua HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmaja, menilai hadirnya rencana induk tersebut sebagai langkah cerdas. 

Menurutnya, kebijakan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012.


"Jawa Barat saja belum punya rencana induk. Bandung bisa jadi pelopor dan pintu masuk bagi perencanaan pangan yang lebih terarah di masa depan," ujarnya. 


Sementara itu, Ketua AHI Rochadi Tawaf menyoroti pentingnya susu lokal dalam menekan stunting. Ia menilai program makan sekolah sebaiknya menggunakan susu segar dalam negeri. Menurut Rochadi, kebijakan itu bisa membuat anak lebih sehat sekaligus menghidupkan kembali peternak sapi perah di Bandung.


"Kalau pun ada rasio impor, paling tidak 50 banding 50, sehingga peternak kita tetap sejahtera, " katanya.


Selain penghargaan dan peluncuran Rencana Induk 2025–2030, DKPP Kota Bandung juga memperkenalkan aplikasi Kita Berbagi, platform berbagi makanan untuk mengurangi food waste. Booth makanan, minuman, serta pembagian bibit ikan dan tanaman melengkapi kegiatan. Farhan menutup acara dengan pesan bahwa Bandung tidak hanya harus unggul dalam arsitektur, tapi juga tangguh dalam pangan. 


"Bandung harus sehat lingkungannya, sejahtera warganya, dan kokoh menghadapi tantangan global", pungkasnya.


Reporter: Seli Siti Amaliah Putri (KPI/5 B)


1 komentar

Tantia mengatakan...

Luar biasaaa!!! program Buruan SAE patut diapresiasi karena sudah terbukti bermanfaat bagi warga Kota Bandung. Semoga ke depannya program ini bisa dikembangkan menjadi program reguler nasional, karena konsepnya relevan untuk menjawab tantangan ketahanan pangan di berbagai daerah di Indonesia.

© all rights reserved
made with by templateszoo