Vokaloka. Bandung – Tiga kelurahan di Bandung Timur, yakni Cipadung Wetan, Pasirbiru, dan Cipadung Kidul, memberlakukan program budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) sejak dua tahun terakhir. Program yang dijalankan petugas kelurahan bersama warga ini ditujukan untuk mengurangi tumpukan sampah organik yang kian meningkat akibat kebijakan darurat sampah di Kota Bandung.
Di Kelurahan Cipadung Kidul, sampah organik dimanfaatkan menjadi pakan maggot sekaligus bahan kompos. Dari total sekitar 4,1 ton sampah rumah tangga per hari, sebagian dipilah dan diolah di rumah maggot yang berada di RW 3 Kelurahan Cipadung Kidul.
Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan Cipadung Kidul, Maulana mengatakan rumah maggot beroperasi rutin setiap Senin hingga Sabtu.
"Setiap Senin sampai Sabtu rumah maggot buka dari jam delapan pagi sampai jam dua siang, sampah organik dari warga dikumpulkan di RW lalu kami olah jadi makanan maggot," katanya saat di wawancarai di Kantor Kelurahan Cipadung Kidul, Kamis (25/9/2025).
Maulana menjelaskan, hasil budidaya di Cipadung Kidul dimanfaatkan secara langsung oleh warga, baik untuk kebutuhan pakan ternak maupun pengolahan kompos.
"Kalau untuk di RW 3 itu untuk pakan ikan nila dan lele, terus untuk kasgot (bekas maggot), jadi maggot yang udah mati itu dipakai untuk campuran kompos, jadi warga yang mau boleh ngambil" ujarnya.
Begitu juga dengan Kelurahan Cipadung Wetan, setiap harinya petugas mengumpulkan sekitar 150 kilogram sampah organik dari enam RW untuk kemudian diolah di rumah maggot.
Staff Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Kelurahan Cipadung Wetan, Rubiana Yusuf mengatakan sistem pengolahan dilakukan dengan pemilahan manual sebelum dimanfaatkan kembali.
"Sistemnya sampah organik diambil petugas, dipilah ulang, lalu sebagian dijadikan pupuk dan sebagian lagi untuk pakan maggot, hasil maggotnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele, sementara pupuk dipakai di kebun sekitar," katanya saat di wawancarai di Rumah Maggot Asri Kelurahan Cipadung Wetan, Senin (21/9/2025).
Rubi menjelaskan, untuk mempercepat produksi, kelurahan cipadung wetan sudah menggunakan mesin PTC (Positive Temperature Coefficient) pada tahap awal pemrosesan telur maggot.
"Kalau untuk pupuk, proses fermentasinya bisa memakan waktu satu sampai dua bulan sebelum bisa dipakai, saat ini pupuk hanya digunakan di sekitar kelurahan, misalnya untuk talas atau rencana tanam jagung, belum ada yang dijual karena memang belum ada minat pasar," ujarnya.
Di sisi lain, Kelurahan Pasir Biru, Hasil dari budidaya maggot tak hanya dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik, tetapi juga diolah menjadi produk turunan bernilai jual. Salah satunya adalah "maggot sangrai" yang dikemas dan dijual sebagai pakan ikan.
Pengurus Rumah Maggot Kelurahan Pasir Biru, Adi Ahmad menjelaskan pengolahan menjadi maggot kering atau sangrai membuka peluang pasar baru.
"Dan lumayan sih kalo maggot kering kan mahal, harga jualnya juga lumayan, perkilonya perkiraan dari harga 30 ribu sampai 35 ribu" katanya, Rabu (24/9/2025).
Adi menambahkan, pengelolaan maggot di Pasir Biru tidak hanya berhenti pada penjualan semata, melainkan juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan warga. Menurutnya, sistem ini berjalan cukup fleksibel karena hasil panen bisa dimanfaatkan sesuai kondisi yang ada.
"Kalau sampah membludak, kita serahkan sisanya ke pengolahan kompos, untuk maggot, pengolahannya disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya dipakai buat pakan ayam petelur, nah hasil telurnya nanti diperuntukkan bagi ibu hamil dan anak stunting, sementara sisa pengolahannya juga bisa dijadikan kompos," ujarnya.
Reporter: Kahla Qolbiani Rasyad, Mila Aulia, Zahwa Rizkiana Maulida (KPI 5/B)
5 komentar
keren
Informasi tulisannya bagus ini buat masyarakat
Postingan ini keren karena nunjukin solusi nyata buat masalah sampah organik. Budidaya maggot itu langkah cerdas, bukan cuma ngurangin sampah tapi juga punya nilai guna. Semoga bisa konsisten dan ditiru kelurahan lain.
Kerenn
wahh solusi yang bijak ni, makasih ya tulisannya membantu
Posting Komentar