Autoclave BPP Jabar: Cerita Ketelatenan Petugas Laboratorium

 

Bekerja di laboratorium mikrobiologi bukan sekadar tentang rumus dan tabung reaksi. Bagi para petugas di Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) Jawa Barat, ini adalah tentang ketelatenan dan kesabaran tanpa kompromi.

Setiap harinya, jemari mereka menari di antara timbangan digital, nyala api, dan uap panas mesin sterilisasi. Salah sedikit saja, kerja keras berhari-hari bisa sirnah diserbu kontaminasi.

Ketelitian itu tampak jelas saat proses menimbang bahan media tumbuh jamur. Angka di layar timbangan digital diperhatikan dengan mata teliti.

"Satu gram dulu ya, Bu... Pelan-pelan. Oh, itu kelebihan," celetuk salah satu petugas saat memandu rekannya menakar yeast extract.

Kecepatan tangan diatur, embusan napas dijaga. Pengalaman bertahun-tahun membuat mereka paham bahwa perbedaan beberapa desimal gram saja bisa menentukan nasib pemadatan agar.

Ketelatenan berlanjut saat media cair mulai dituangkan ke dalam tabung-tabung reaksi steril. Hanya sekitar 5 hingga 7 mililiter per tabung, tidak boleh kurang ataupun lebih.

Bukan tanpa alasan takaran itu diatur begitu ketat. Ketinggian media agar harus dipastikan tidak menyentuh sumbat kapas di mulut tabung saat dimiringkan nanti.

"Takutnya nanti ketika dimiringkan menyentuh kapas, itu jadinya bisa menyebabkan kontaminasi," ungkapnya pelan sambil cekatan melipat kapas penyumbat.

Puncak dari ujian kesabaran ini ada di sudut ruangan: sebuah mesin tabung stainless steel berukuran besar bernama autoclave.

Di mesin sterilisasi bertekanan tinggi inilah seluruh media dibakar uap panas 121 derajat Celsius. Petugas harus setia menunggu proses yang memakan waktu hingga 1,5 jam.

Sinyal suara "tit... tit... tit..." dari mesin autoclave menjadi penanda lega. Namun, tugas belum usai. Media yang baru keluar harus segera dimiringkan satu per satu secara manual dengan tangan.

Bagi para petugas BPP Jabar, ketelitian rumit ini adalah makanan sehari-hari. Dari ketelatenan tangan mereka di ruang steril, ribuan jamur penjaga tanaman perkebunan siap dilahirkan.

Reportes: Shabrina Salsabila/KPI5B

Hangatnya Sate Maranggi di Bawah Rintik Hujan

 

Cianjur - Siapa sangka, perjalanan pulang dari Bandung ke Cianjur justru menghadirkan pengalaman kuliner yang berkesan. Setelah menjemput saya di Stasiun Cianjur, ayah mengajak mampir ke Sate Maranggi Guna Sabar Aki Umar di Jalan Raya Pacet, Ciherang, Kabupaten Cianjur. Hujan yang turun malam itu membuat kami memutuskan untuk berteduh sekaligus menikmati sate maranggi yang ternyata begitu nikmat.

Tempat makan ini terletak di pinggir jalan, berbentuk saung kayu dengan tempat duduk lesehan. Suasananya sederhana dan terbuka, membuat pengunjung bisa menikmati hidangan sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang, terlebih saat hujan turun pada malam hari.

Salah satu hal menarik di sini adalah pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pembakaran sate. Daging yang dipanggang di atas bara api mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera, membuat waktu menunggu pesanan terasa menyenangkan.

Saat sate mulai dicicipi, tekstur dagingnya yang empuk menjadi salah satu daya tariknya. Sate dibakar hingga matang dengan pas sehingga mudah dikunyah. Dengan harga Rp3.000 per tusuk, pengunjung bisa menikmati sate maranggi tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya.

Tak lengkap rasanya jika sate maranggi tidak ditemani ketan. Dengan harga yang sama, yaitu Rp3.000 per porsi, ketan bertekstur lembut ini menjadi pilihan pendamping yang mengenyangkan dan cocok disantap bersama sate.

Bagi yang lebih suka makan dengan nasi, tempat ini juga menyediakan pilihan tersebut. Bumbu oncom disajikan secara terpisah sehingga pengunjung bisa menambahkan sesuai selera, baik sedikit maupun lebih banyak.

Pilihan hidangan lainnya pun cukup beragam. Ada sop iga dan paket ayam kremes dengan nasi yang bisa menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati menu selain sate maranggi.

Untuk minuman, tersedia berbagai pilihan, mulai dari air mineral, the manis, kopi, Pop Ice, hingga minuman seduhan. Kerupuk juga tersedia sebagai pelengkap, sehingga pengunjung dapat menyesuaikan santapan dengan selera masing-masing.

Pengalaman menikmati sate maranggi di sini terasa semakin berkesan saat hujan turun, terlebih setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Berteduh sambil menyantap sate hangat menjadi cara sederhana untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Bagi pencinta kuliner yang melintas di kawasan Pacet, Sate Maranggi Guna Sabar Aki Umar bisa menjadi pilihan untuk singgah. Perpaduan sate yang empuk, ketan yang lembut, harga yang terjangkau, dan suasana saung di pinggir jalan menawarkan pengalaman bersantap sederhana yang layak dicoba.

Reporter : Dwi Yani Susanti/KPI 5B


Belajar Berwirausaha Lewat Photobooth, Siswa SMKN 3 Jajaki Pengalaman di Jabar Kabisa 2026


Vokaloka, Bandung - Di antara deretan tenant yang meramaikan Jabar Kabisa 2026, ada hal menarik dari sekelompok siswa SMKN 3 yang turut menjajakan produk mereka. Tak hanya menjual produk, para siswa ini juga menghadirkan layanan photobooth yang menjadi bagian dari usaha yang mereka kelola dalam kegiatan tersebut.

Wildan dan Syabir, siswa SMKN 3 yang terlibat dalam usaha photobooth itu, mengaku keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar berjualan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar mengelola usaha secara langsung.

Wildan menjelaskan bahwa mereka mengikuti Jabar Kabisa bersama siswa lainnya dengan didampingi siswa kelas 12. Para siswa mendapat kesempatan untuk menjalankan usaha di salah satu tenant yang telah disediakan dalam kegiatan tersebut.

“Kalau buat kami sendiri yang bagian photobooth , kami termotivasi mencari pengalaman tentang bagaimana mengatur atau manajemen usaha. Kami juga bisa merasakan langsung di lapangan bagaimana menjalankan penjualan photobooth seperti ini,” ujar Wildan.

Dalam menjalankan usahanya, para siswa tidak hanya menunggu pengunjung datang. Mereka juga berupaya mengenalkan layanan photobooth melalui promosi langsung di sekitar lokasi kegiatan. Salah satunya dengan berkeliling sambil membawa kertas bergambar contoh photobooth untuk menarik perhatian calon pelanggan.

“Tadi kita udah nyobain promosi keliling-keliling. Kita bawa-bawa kertas, contoh bilang ' photobooth kaka', gitu,” ungkap Wildan.

Meski demikian, Wildan mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung yang datang ke tenant mereka belum terlalu banyak. Menurutnya, layanan photobooth yang mereka tawarkan lebih menyasar kalangan anak muda, sedangkan pengunjung yang berada di sekitar tenant saat itu didominasi oleh orang dewasa.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi mereka dalam mengenalkan layanan photobooth kepada calon pelanggan. Meski begitu, para siswa tetap berupaya mempromosikan layanan mereka agar lebih banyak pengunjung mengetahui keberadaan tenant tersebut.

Wildan berharap usaha photobooth yang mereka jalankan dapat berkembang dan menarik lebih banyak pengunjung. Ia juga berharap mereka bisa menghadirkan inovasi baru agar usaha tersebut semakin diminati.

Pengalaman di Jabar Kabisa 2026 pun menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal proses berwirausaha secara langsung, mulai dari mempromosikan layanan hingga menghadapi calon pelanggan. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya belajar menawarkan produk, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menjalankan usaha di tengah lingkungan yang sesungguhnya.

Reporter : Dwi Yani Susanti/KPI 5B

Dukung Jabar Kabisa, Diskominfo Jabar Fasilitasi Jaringan Starlink di Youth Center Arcamanik

 

BANDUNG, Vokaloka - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat memfasilitasi jaringan internet untuk kegiatan Jabar Kabisa di Youth Center Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (9/10/2026). Fasilitasi ini diberikan atas permohonan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat.

Jaringan tersebut disiapkan agar acara yang digelar secara hybrid berjalan lancar. Selain peserta yang hadir langsung, sebagian peserta menyimak talk show melalui Zoom Meeting, sementara acara juga disiarkan langsung di media sosial. Kegiatan berskala besar seperti ini membutuhkan kapasitas jaringan yang besar.

Pantauan di lokasi, peserta memadati area acara di bawah tenda, sementara kru dokumentasi merekam jalannya talk show yang juga ditampilkan di layar LED. Antena Starlink dipasang di atas pengeras suara di dekat area panggung.

Anggota Divisi IT Support dan Jaringan Diskominfo Jabar, mengatakan jaringan yang kuat diperlukan agar acara berjalan tanpa hambatan. Karena itu, Diskominfo menggunakan Starlink.

“Starlink ini opsi yang lebih mudah dan simpel. Kekurangannya, kita harus tahu titik penempatan yang tepat agar sinyalnya tidak terhalang benda,” Ujarnya.

Menurutnya, posisi perangkat sangat memengaruhi kualitas jaringan. Rintangan di sekitar antena akan terdeteksi di aplikasi Starlink sebagai titik berwarna merah. Pada pemeriksaan di lokasi, titik merah tampak dominan di sisi barat dan selatan, sementara sistem masih dalam proses kalibrasi yang biasanya memakan waktu sekitar satu jam.

Meski demikian, hasil uji kecepatan (speed test) di lokasi menunjukkan jaringan Starlink mencapai kecepatan unduh 183 Mbps dan unggah 50 Mbps dengan latensi 18 milidetik.

“Kecepatan ini cukup untuk mendukung banyak perangkat yang terhubung bersamaan, mulai dari Zoom, rapat virtual, hingga siaran langsung dan unggahan konten digital,”Ungkap salah satu anggota IT Support dan Jaringan

Reporter: Mia Maulidina KPI/5B


Akar Masalah Macet Bundaran Cibiru yang Tak Kunjung Usai


 

Baru saja pagi hari dimulai lalu lalu lintas di sekitar Bundaran Cibiru sudah mulai padat. Kendaraan roda dua dan empat berdesakan satu sama lain, sementara pengendara mereka berusaha mencari celah di antara kendaraan yang padat. Bundaran Cibiru seperti menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas: mahasiswa yang menuju kampus, pekerja yang menuju tempat kerja, pelajar yang menuju sekolah dan masyarakat yang menuju Bandung, Cileunyi dan lainnya.

Menurut berita detikjabar, pada bulan April 2026 jalan Cileunyi-Cibiru sering mengalami kemacetan baik di pagi, sore maupun malam hari. Dalam tanggapannya pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut bahwa kemacetan yang ada di kawasan tersebut sudah lama berlangsung dan salah satu masalah utamanya adalah pertemuan arus kendaraan dari dua jalan nasional yaitu Jalan Soekarno-Hatta dan Surapati-AH Nasution. 

Masalahnya bukan hanya semakin padatnya kendaraan. Tata letak jalan di sekitar Cibiru juga menjadi faktor yang membuat aliran kendaraan dengan mudah tersendat. Dalam pemantauan detikjabar pada bulan Maret 2026, Bundaran Cibiru disebut sebagai simpul yang menghubungkan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan AH Nasution menuju Cileunyi. 

Setelah lewat kawasan tersebut kendaraan juga akan mengalami penyempitan jalur. Ini akan menciptakan efek riak, dimana ketika satu bagian jalan melambat lalu lintas kendaraan dengan cepat menjalar ke jalan lain.

Masalah lain yang ditimbulkan adalah dari tingginya tingkat aktivitas yang ada di sepanjang jalan Cibiru-Cileunyi. Jalan tersebut tidak hanya dilalui kendaraan yang melakukan perjalanan jarak jauh tetapi juga menjadi akses masyarakat untuk menuju permukiman, pusat perbelanjaan, sekolah dan fasilitas lainnya.

Kemacetan tidak selalu disebabkan oleh masalah yang sama. Insiden-Insiden kecil yang terjadi di satu bagian jalan pun dapat memberikan dampak besar ketika volume kendaraan yang ada dalam situasi tersebut tinggi. Misalnya saja pada bulan Februari 2026 terjadi insiden truk bermuatan pasir yang terguling di kawasan Panyileukan setelah Bundaran Cibiru dan menyebabkan penutupan jalur lambat Jalan Soekarno-Hatta. 

Gita, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan kemacetan di Bundaran

Cibiru memberi pengaruh besar pada aktivitas hariannya. “Sangat besar dampaknya. Karena motor datang dari segala arah. Apalagi pada jam kerja dan jam pulang kerja,” kata Gita. Menurutnya, waktu yang hilang karena kemacetan sebenarnya bisa digunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

Kondisi itu juga memengaruhi pilihan transportasi mahasiswa. Gita memilih memakai sepeda motor pribadi daripada angkutan umum karena mempertimbangkan waktu tempuh. Menurutnya, angkot dan bus membutuhkan waktu lebih lama karena harus berhenti untuk mengambil penumpang. “Jadi aku lebih memilih naik motor yang bisa cepat sampai dan juga lebih efisien waktu,” katanya. 

Data Dinas Perhubungan Kota Bandung menunjukkan bahwa kemacetan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya jumlah kendaraan. Dalam dokumen kinerja Dinas Perhubungan, beberapa penyebab yang dicatat antara lain kendaraan angkutan umum yang berhenti sembarangan. Parkir di badan jalan, aktivitas penyeberang jalan, pengaturan persimpangan, akses keluar-masuk kawasan pendidikan dan pertokoan, pedagang kaki lima, kondisi jalan, dan volume lalu lintas yang tinggi juga menjadi penyebab. 

Pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut wacana underpass Cibiru sudah pernah dibahas sebelumnya. Menurutnya, bentuk kawasan Cibiru lebih memungkinkan untuk pembangunan terowongan sebagai salah satu alternatif. Namun, rencana tersebut masih menghadapi persoalan pendanaan dan kewenangan karena ruas jalan yang bersangkutan berstatus jalan nasional.

Pada akhirnya, akar persoalan kemacetan Bundaran Cibiru tidak berasal dari satu penyebab saja. Pertemuan arus kendaraan, tingginya mobilitas masyarakat, aktivitas keluar-masuk kawasan, penyempitan lajur, dan berbagai hambatan insidental saling berkaitan. Semua ini membuat antrean mudah terbentuk.

Bagi mahasiswa seperti Gita, dampaknya terasa pada waktu perjalanan yang semakin lama. Sementara bagi pengguna jalan lainnya, kemacetan menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi hampir setiap hari. Bundaran Cibiru bukan hanya titik tempat kendaraan berhenti dan bergerak lagi. Tempat ini juga menunjukkan bagaimana pertumbuhan mobilitas butuh pengelolaan jalan yang bisa mengikuti kebutuhan masyarakat.

Reporter: Zahra Bunga Zakiyyah KPI 5B

Pasir Kunci, Tempat Santai Setelah Berolahraga


 Hilmy Faishal Dzaky

Kampung Wisata Pasir Kunci menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk mencari suasana berbeda di Bandung. Berada di kawasan Ujungberung, tempat ini menawarkan suasana yang lebih tenang dengan pemandangan dari wilayah yang berada di dataran lebih tinggi. Pengunjung dapat menikmati area terbuka sambil beristirahat dari aktivitas sehari-hari.

Suasana di Pasir Kunci mulai terasa berbeda ketika pengunjung datang pada pagi atau sore hari. Kawasan ini tidak hanya didatangi untuk berwisata, tetapi juga menjadi tempat masyarakat melakukan aktivitas ringan. Ada pengunjung yang datang untuk berjalan-jalan, berolahraga, maupun sekadar duduk menikmati suasana.

Jalur menuju kawasan Pasir Kunci juga menjadi bagian dari perjalanan. Letaknya yang berada di kawasan perbukitan membuat perjalanan menuju lokasi terasa berbeda dibandingkan perjalanan menuju tempat wisata yang berada di pusat kota. Setelah sampai, pengunjung bisa melihat suasana Bandung dari kawasan yang lebih tinggi.

Aktivitas olahraga menjadi salah satu hal yang cukup mudah ditemui di sekitar kawasan tersebut. Beberapa pengunjung datang dengan pakaian olahraga, sementara yang lainnya membawa sepeda. Setelah beraktivitas, Pasir Kunci bisa menjadi tempat untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Hal tersebut juga dirasakan oleh salah satu pengunjung bernama Adhya. Menurutnya, Pasir Kunci cocok untuk melepas penat setelah melakukan aktivitas olahraga.

“Tempat ini seger buat refreshing, apalagi biasanya yang ke sini tuh sambil jogging atau bawa sepeda. Ya, tempat yang cocok lah buat istirahat habis olahraga,” ujar Fadlan.

Selain aktivitas olahraga, suasana sekitar menjadi alasan lain bagi pengunjung untuk datang. Kawasan yang lebih terbuka membuat pengunjung dapat menghabiskan waktu tanpa harus melakukan banyak kegiatan. Duduk santai, mengobrol, atau menikmati pemandangan menjadi aktivitas sederhana yang bisa dilakukan di tempat ini.

Pasir Kunci juga memberikan pilihan bagi pengunjung yang ingin mencari tempat untuk beristirahat dari suasana kota yang cukup padat. Perjalanan menuju lokasi membuat pengunjung perlahan meninggalkan kawasan perkotaan dan masuk ke lingkungan yang lebih tenang. Hal tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang yang ingin mencari suasana berbeda tanpa harus pergi terlalu jauh dari Bandung.

Bagi pengunjung yang datang bersama teman, kawasan ini juga bisa menjadi tempat untuk menghabiskan waktu bersama. Tidak harus ada kegiatan khusus, karena suasana sekitar sudah cukup untuk membuat waktu berkunjung terasa santai. Pengunjung bisa menikmati pemandangan sambil berbincang atau beristirahat setelah melakukan aktivitas.

Keberadaan pengunjung yang datang untuk olahraga juga membuat suasana Pasir Kunci tidak hanya berisi kegiatan wisata. Tempat ini menjadi ruang yang digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari berolahraga sampai sekadar mencari udara segar. Hal tersebut membuat Pasir Kunci memiliki suasana yang berbeda dari tempat wisata yang hanya dikunjungi untuk melihat objek tertentu.

Pasir Kunci pada akhirnya bukan hanya tentang pemandangan yang bisa dinikmati dari ketinggian. Kawasan ini juga menjadi tempat bagi masyarakat untuk beristirahat, berolahraga, dan menghabiskan waktu di luar rutinitas. Dengan suasana yang lebih tenang dan aktivitas pengunjung yang beragam, Pasir Kunci bisa menjadi salah satu pilihan untuk mencari tempat refreshing di Bandung.

Menikmati Sejuknya Perjalanan di Tahura Djuanda

 

Bandung - Akhir pekan biasanya identik dengan jalan-jalan atau nongkrong bersama teman. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk sekadar melepas penat adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda atau yang lebih dikenal dengan Tahura Djuanda. Dari perjalanan sampai masuk ke kawasan Tahura, suasananya sudah terasa berbeda dibandingkan suasana kota yang biasanya ramai dan panas.

Perjalanan menuju Tahura cukup menyenangkan karena semakin mendekati kawasan hutan, udara yang dirasakan semakin sejuk. Pepohonan besar yang ada di sepanjang kawasan membuat suasana terasa lebih teduh. Bahkan ketika hari mulai siang, panas matahari tidak terlalu terasa karena banyak bagian jalan yang tertutup pepohonan. Tahura sendiri berada di kawasan utara Bandung dan memiliki luas sekitar 528,39 hektare dengan ketinggian kawasan sekitar 770 sampai 1.350 meter di atas permukaan laut.

Sesampainya di area parkir, suasananya bisa berbeda tergantung hari kita datang. Saat akhir pekan, tempat parkir biasanya terasa jauh lebih ramai dan kendaraan pengunjung cukup banyak. Sementara kalau datang pada hari biasa, suasananya lebih aman dan tidak terlalu penuh. Setelah memarkirkan motor, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk menikmati kawasan hutan dan beberapa tempat yang ada di dalamnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung, Syamsa Munawwar, yang mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Tahura Djuanda. Menurutnya, suasana yang sejuk menjadi salah satu alasan untuk kembali mengunjungi tempat ini. Meski begitu, kondisi yang terlalu ramai terkadang mengurangi kenyamanan, terutama ketika area parkir dipenuhi kendaraan pengunjung.

“Saya sudah beberapa kali ke sini dan tidak pernah bosan karena suasananya memang adem dan sejuk. Namun, kalau sedang ramai banget, rasanya agak kurang nyaman karena tempatnya padat dan parkir juga penuh,” ujar Syamsa.

Hal yang cukup menarik selama perjalanan adalah keberadaan monyet yang cukup mudah ditemui. Bukan hanya berada jauh di dalam hutan, beberapa monyet juga terlihat di sekitar jalur yang dilewati pengunjung. Awalnya melihat monyet di perjalanan terasa menarik karena bisa melihat hewan secara langsung di lingkungan yang masih cukup alami. Tetapi tetap perlu berhati-hati dan tidak mengganggu atau memberikan makanan sembarangan kepada mereka.

Semakin masuk ke kawasan Tahura, suasana kota terasa semakin jauh. Jalan yang dilewati didominasi pepohonan dan udara terasa lebih dingin. Perjalanan seperti ini juga membuat kita tidak terlalu terburu-buru karena memang tujuan utamanya bukan hanya sampai ke satu tempat, tetapi menikmati perjalanan selama berada di kawasan hutan. Sesekali kami juga berhenti untuk istirahat atau melihat suasana sekitar.

Salah satu tempat yang bisa ditemui di Tahura adalah Gua Belanda. Gua ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang ada di kawasan Tahura. Berdasarkan informasi dari pengelola Tahura, pembangunan terowongan air yang kemudian dikenal sebagai Gua Belanda dimulai pada 1918. Saat ini tempat tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang bisa dikunjungi wisatawan.

Selain Gua Belanda, ada juga Gua Jepang yang menjadi salah satu tempat yang cukup menarik untuk didatangi. Gua tersebut dibangun sekitar 1942 pada masa pendudukan Jepang dan pada masa itu digunakan sebagai tempat pertahanan serta berbagai keperluan militer. Sekarang, gua tersebut menjadi salah satu objek wisata sejarah di Tahura. Suasananya tentu berbeda dengan tempat wisata biasa karena pengunjung bisa melihat langsung lorong-lorong yang menjadi bagian dari sejarah masa lalu.

Perjalanan di Tahura juga bisa dilanjutkan menuju kawasan Curug Omas. Untuk sampai ke sana, pengunjung perlu melewati jalur yang dikelilingi pepohonan. Curug Omas sendiri merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan Tahura dan memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Setelah cukup lama berjalan, melihat air terjun dan mendengar suara air menjadi salah satu bagian yang cukup menyenangkan dari perjalanan.

Selain tempat-tempat tersebut, Tahura juga memiliki kawasan yang menjadi habitat dan tempat penangkaran rusa. Pengelola mencatat adanya Rusa Timur dan Rusa Tutul sebagai bagian dari kawasan wisata fauna di Tahura. Melihat rusa menjadi pengalaman lain selama berada di kawasan ini karena perjalanan yang awalnya hanya ingin menikmati suasana hutan ternyata bisa menemukan beberapa jenis tempat dan satwa dalam satu kawasan.

Pada akhirnya, perjalanan ke Tahura Djuanda bukan Cuma soal datang ke tempat wisata lalu pulang. Perjalanan menggunakan motor bersama teman, udara yang sejuk, pepohonan yang masih banyak, monyet yang sesekali terlihat di jalan, sampai berbagai tempat yang bisa dikunjungi membuat perjalanan terasa lebih lengkap. Mungkin hal sederhana seperti jalan bersama teman dan menikmati suasana alam justru menjadi bagian yang paling diingat setelah perjalanan selesai.

Hilmy Faishal Dzaky

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka