Bandung
- Akhir pekan biasanya identik dengan jalan-jalan atau nongkrong bersama teman.
Salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk sekadar melepas penat adalah Taman
Hutan Raya Ir. H. Djuanda atau yang lebih dikenal dengan Tahura Djuanda. Dari
perjalanan sampai masuk ke kawasan Tahura, suasananya sudah terasa berbeda
dibandingkan suasana kota yang biasanya ramai dan panas.
Perjalanan
menuju Tahura cukup menyenangkan karena semakin mendekati kawasan hutan, udara
yang dirasakan semakin sejuk. Pepohonan besar yang ada di sepanjang kawasan
membuat suasana terasa lebih teduh. Bahkan ketika hari mulai siang, panas
matahari tidak terlalu terasa karena banyak bagian jalan yang tertutup
pepohonan. Tahura sendiri berada di kawasan utara Bandung dan memiliki luas
sekitar 528,39 hektare dengan ketinggian kawasan sekitar 770 sampai 1.350 meter
di atas permukaan laut.
Sesampainya
di area parkir, suasananya bisa berbeda tergantung hari kita datang. Saat akhir
pekan, tempat parkir biasanya terasa jauh lebih ramai dan kendaraan pengunjung
cukup banyak. Sementara kalau datang pada hari biasa, suasananya lebih aman dan
tidak terlalu penuh. Setelah memarkirkan motor, perjalanan dilanjutkan dengan
berjalan kaki untuk menikmati kawasan hutan dan beberapa tempat yang ada di
dalamnya.
Pengalaman
serupa juga dirasakan oleh salah seorang pengunjung, Syamsa Munawwar, yang
mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Tahura Djuanda. Menurutnya, suasana
yang sejuk menjadi salah satu alasan untuk kembali mengunjungi tempat ini.
Meski begitu, kondisi yang terlalu ramai terkadang mengurangi kenyamanan,
terutama ketika area parkir dipenuhi kendaraan pengunjung.
“Saya
sudah beberapa kali ke sini dan tidak pernah bosan karena suasananya memang
adem dan sejuk. Namun, kalau sedang ramai banget, rasanya agak kurang nyaman
karena tempatnya padat dan parkir juga penuh,” ujar Syamsa.
Hal
yang cukup menarik selama perjalanan adalah keberadaan monyet yang cukup mudah
ditemui. Bukan hanya berada jauh di dalam hutan, beberapa monyet juga terlihat
di sekitar jalur yang dilewati pengunjung. Awalnya melihat monyet di perjalanan
terasa menarik karena bisa melihat hewan secara langsung di lingkungan yang
masih cukup alami. Tetapi tetap perlu berhati-hati dan tidak mengganggu atau
memberikan makanan sembarangan kepada mereka.
Semakin
masuk ke kawasan Tahura, suasana kota terasa semakin jauh. Jalan yang dilewati
didominasi pepohonan dan udara terasa lebih dingin. Perjalanan seperti ini juga
membuat kita tidak terlalu terburu-buru karena memang tujuan utamanya bukan
hanya sampai ke satu tempat, tetapi menikmati perjalanan selama berada di
kawasan hutan. Sesekali kami juga berhenti untuk istirahat atau melihat suasana
sekitar.
Salah
satu tempat yang bisa ditemui di Tahura adalah Gua Belanda. Gua ini merupakan
salah satu peninggalan sejarah yang ada di kawasan Tahura. Berdasarkan
informasi dari pengelola Tahura, pembangunan terowongan air yang kemudian
dikenal sebagai Gua Belanda dimulai pada 1918. Saat ini tempat tersebut menjadi
salah satu tujuan wisata sejarah yang bisa dikunjungi wisatawan.
Selain
Gua Belanda, ada juga Gua Jepang yang menjadi salah satu tempat yang cukup
menarik untuk didatangi. Gua tersebut dibangun sekitar 1942 pada masa
pendudukan Jepang dan pada masa itu digunakan sebagai tempat pertahanan serta
berbagai keperluan militer. Sekarang, gua tersebut menjadi salah satu objek
wisata sejarah di Tahura. Suasananya tentu berbeda dengan tempat wisata biasa
karena pengunjung bisa melihat langsung lorong-lorong yang menjadi bagian dari
sejarah masa lalu.
Perjalanan
di Tahura juga bisa dilanjutkan menuju kawasan Curug Omas. Untuk sampai ke
sana, pengunjung perlu melewati jalur yang dikelilingi pepohonan. Curug Omas
sendiri merupakan salah satu air terjun yang berada di kawasan Tahura dan
memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Setelah cukup lama berjalan, melihat air
terjun dan mendengar suara air menjadi salah satu bagian yang cukup
menyenangkan dari perjalanan.
Selain
tempat-tempat tersebut, Tahura juga memiliki kawasan yang menjadi habitat dan
tempat penangkaran rusa. Pengelola mencatat adanya Rusa Timur dan Rusa Tutul
sebagai bagian dari kawasan wisata fauna di Tahura. Melihat rusa menjadi
pengalaman lain selama berada di kawasan ini karena perjalanan yang awalnya
hanya ingin menikmati suasana hutan ternyata bisa menemukan beberapa jenis
tempat dan satwa dalam satu kawasan.
Pada
akhirnya, perjalanan ke Tahura Djuanda bukan Cuma soal datang ke tempat wisata
lalu pulang. Perjalanan menggunakan motor bersama teman, udara yang sejuk,
pepohonan yang masih banyak, monyet yang sesekali terlihat di jalan, sampai
berbagai tempat yang bisa dikunjungi membuat perjalanan terasa lebih lengkap.
Mungkin hal sederhana seperti jalan bersama teman dan menikmati suasana alam
justru menjadi bagian yang paling diingat setelah perjalanan selesai.
