Baru saja pagi hari dimulai lalu lalu lintas di sekitar
Bundaran Cibiru sudah mulai padat. Kendaraan roda dua dan empat berdesakan satu
sama lain, sementara pengendara mereka berusaha mencari celah di antara
kendaraan yang padat. Bundaran Cibiru seperti menjadi titik pertemuan berbagai
aktivitas: mahasiswa yang menuju kampus, pekerja yang menuju tempat kerja,
pelajar yang menuju sekolah dan masyarakat yang menuju Bandung, Cileunyi dan lainnya.
Menurut berita detikjabar, pada bulan April 2026 jalan
Cileunyi-Cibiru sering mengalami kemacetan baik di pagi, sore maupun malam
hari. Dalam tanggapannya pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut bahwa
kemacetan yang ada di kawasan tersebut sudah lama berlangsung dan salah satu
masalah utamanya adalah pertemuan arus kendaraan dari dua jalan nasional yaitu
Jalan Soekarno-Hatta dan Surapati-AH Nasution.
Masalahnya bukan hanya semakin padatnya kendaraan. Tata
letak jalan di sekitar Cibiru juga menjadi faktor yang membuat aliran kendaraan
dengan mudah tersendat. Dalam pemantauan detikjabar pada bulan Maret 2026,
Bundaran Cibiru disebut sebagai simpul yang menghubungkan Jalan Soekarno-Hatta
dan Jalan AH Nasution menuju Cileunyi.
Setelah lewat kawasan tersebut kendaraan juga akan
mengalami penyempitan jalur. Ini akan menciptakan efek riak, dimana ketika satu
bagian jalan melambat lalu lintas kendaraan dengan cepat menjalar ke jalan
lain.
Masalah lain yang ditimbulkan adalah dari tingginya tingkat
aktivitas yang ada di sepanjang jalan Cibiru-Cileunyi. Jalan tersebut tidak
hanya dilalui kendaraan yang melakukan perjalanan jarak jauh tetapi juga
menjadi akses masyarakat untuk menuju permukiman, pusat perbelanjaan, sekolah
dan fasilitas lainnya.
Kemacetan tidak selalu disebabkan oleh masalah yang sama.
Insiden-Insiden kecil yang terjadi di satu bagian jalan pun dapat memberikan
dampak besar ketika volume kendaraan yang ada dalam situasi tersebut tinggi.
Misalnya saja pada bulan Februari 2026 terjadi insiden truk bermuatan pasir
yang terguling di kawasan Panyileukan setelah Bundaran Cibiru dan menyebabkan
penutupan jalur lambat Jalan Soekarno-Hatta.
Gita, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan
kemacetan di Bundaran
Cibiru memberi pengaruh besar pada aktivitas hariannya.
“Sangat besar dampaknya. Karena motor datang dari segala arah. Apalagi pada jam
kerja dan jam pulang kerja,” kata Gita. Menurutnya, waktu yang hilang karena
kemacetan sebenarnya bisa digunakan untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Kondisi itu juga memengaruhi pilihan transportasi
mahasiswa. Gita memilih memakai sepeda motor pribadi daripada angkutan umum
karena mempertimbangkan waktu tempuh. Menurutnya, angkot dan bus membutuhkan
waktu lebih lama karena harus berhenti untuk mengambil penumpang. “Jadi aku
lebih memilih naik motor yang bisa cepat sampai dan juga lebih efisien waktu,”
katanya.
Data Dinas Perhubungan Kota Bandung menunjukkan bahwa
kemacetan dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya jumlah kendaraan. Dalam
dokumen kinerja Dinas Perhubungan, beberapa penyebab yang dicatat antara lain
kendaraan angkutan umum yang berhenti sembarangan. Parkir di badan jalan,
aktivitas penyeberang jalan, pengaturan persimpangan, akses keluar-masuk kawasan
pendidikan dan pertokoan, pedagang kaki lima, kondisi jalan, dan volume lalu
lintas yang tinggi juga menjadi penyebab.
Pakar transportasi ITB Sony Sulaksono menyebut wacana
underpass Cibiru sudah pernah dibahas sebelumnya. Menurutnya, bentuk kawasan Cibiru
lebih memungkinkan untuk pembangunan terowongan sebagai salah satu alternatif.
Namun, rencana tersebut masih menghadapi persoalan pendanaan dan kewenangan
karena ruas jalan yang bersangkutan berstatus jalan nasional.
Pada akhirnya, akar persoalan kemacetan Bundaran Cibiru
tidak berasal dari satu penyebab saja. Pertemuan arus kendaraan, tingginya
mobilitas masyarakat, aktivitas keluar-masuk kawasan, penyempitan lajur, dan
berbagai hambatan insidental saling berkaitan. Semua ini membuat antrean mudah terbentuk.
Bagi mahasiswa seperti Gita, dampaknya terasa pada waktu
perjalanan yang semakin lama. Sementara bagi pengguna jalan lainnya, kemacetan
menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi hampir setiap hari. Bundaran
Cibiru bukan hanya titik tempat kendaraan berhenti dan bergerak lagi. Tempat
ini juga menunjukkan bagaimana pertumbuhan mobilitas butuh pengelolaan jalan
yang bisa mengikuti kebutuhan masyarakat.
Reporter: Zahra Bunga Zakiyyah KPI 5B

Tidak ada komentar
Posting Komentar