Pemprov Jabar Luncurkan Peta Jalan Ekonomi Sirkular Tekan Darurat Sampah

Bagikan :
X

 

Vokaloka, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi meluncurkan Peta Jalan Ekonomi Sirkular dan Program FLOWER di Bandung pada Selasa (29/9/2026). Langkah strategis ini diambil guna merespons status darurat sampah yang kini melanda 23 dari 27 kabupaten dan kota di wilayah tersebut. 


Deputi Bidang Pangan, SDA, LH Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyatakan peluncuran ini bertepatan dengan International Day of Awareness of Food Loss and Waste. Bappenas memproyeksikan pemborosan pangan Indonesia bisa melonjak hingga 344 kg per kapita pada 2045. 


Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Jabar, Sumasna, mengungkapkan bahwa 45 hingga 50 persen tumpukan sampah di Bandung Raya didominasi sisa makanan. Penerapan ekonomi sirkular diharapkan mampu menekan angka tersebut sekaligus mendongkrak PDB nasional. 


Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Surat Komitmen Provinsi Jawa Barat oleh Sumasna yang diserahkan kepada perwakilan Bappenas. Prosesi simbolis juga dilakukan dengan melepaskan produk dari tujuh sektor prioritas ekonomi sirkular ke dalam kotak khusus.

 

Tujuh sektor prioritas yang menjadi fokus implementasi ekonomi sirkular di Jawa Barat meliputi industri pangan, plastik, dan elektronik. Selain itu, sektor konstruksi, tekstil, otomotif, serta kertas juga menjadi target utama pembenahan. 


Perwakilan Bappeda Jabar, Eka Jatnika Sundana, menegaskan target pertumbuhan ekonomi daerah ditargetkan mencapai 7,95 persen pada 2029. Namun, ia mengingatkan pertumbuhan tersebut harus seiring dengan upaya menekan emisi industri Jawa Barat yang saat ini mencapai 34,5 persen. 


Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat mencatat timbulan sampah harian mencapai 25.000 ton. Maria Dian Nurani dari DLH menyebut pengelolaan sampah organik menggunakan maggot terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca secara terukur. 


Di sektor industri, perwakilan Disperindag Jabar, Doni Ravian, menyoroti tingginya konsumsi energi industri tekstil. Merespons hal tersebut, Beta Safitrie dari PT Jababeka Infrastruktur memastikan kawasannya telah menerapkan konsep Eco Industrial Park dan pengolahan sampah organik. 


Akademisi ITB, Prof. Emenda Sembiring, memvalidasi pendekatan sirkular ini melalui hukum kekekalan massa. Ia menjelaskan bahwa simulasi tumpukan sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat dikonversi menjadi data terukur terkait besaran emisi karbon. 


Implementasi nyata turut dipamerkan oleh inovator lokal dalam pameran mini di akhir acara. Risma Indriyani mengolah pelepah pisang menjadi material bernilai, sementara Adi Reza Nugroho dari MYCL memamerkan sepatu berbahan kulit jamur dan tas dari rumput laut. 


Reporter : Selvi Selviana/KPI5B

Tidak ada komentar

Iklan Vokaloka
Iklan Vokaloka
Iklan Kiri Vokaloka
Iklan Kanan Vokaloka