Vokaloka,
Bandung - Transformasi birokrasi telah dirasakan
langsung oleh Yuli Hapiah, S.Sos., M.A.P. sejak tahun 1998. Mengawali karier
sebagai CPNS dengan sistem ujian manual, ia melewati era mesin tik hingga
teknologi digital. Adaptasi panjang lintas zaman ini membentuk dedikasi dan
profesionalitasnya yang luar biasa.
Saat
ini, Yuli menjabat sebagai Ketua Tim Kelola Bidang E-Government Diskominfo Jawa
Barat. Di posisi strategis ini, ia berhasil menorehkan prestasi yang sangat
gemilang di tingkat nasional. Yuli dan timnya sukses menjadikan Sistem
Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Jawa Barat sebagai yang terbaik pertama
se-Indonesia.
Pencapaian
SPBE tersebut bukanlah hal yang mudah karena indeks yang diraih menembus angka
4,8 dari skala 5. Angka ini sangat membanggakan karena berhasil melampaui
target awal yang diberikan oleh pimpinan. Data yang dinilai pun sangat valid, terverifikasi
di lapangan, dan tanpa manipulasi dokumen.
Berkat
rekam jejak dan kerja keras tersebut, Yuli berhasil masuk sebagai kandidat
ajang penghargaan Employee of The Month (EOTM). Ia terpilih melalui
sistem vote dari rekan kerja dan tahapan penilaian sistem yang ketat.
Saat ini, ia tengah berjuang di tahap wawancara tingkat rumpun Asda (Asisten
Daerah).
Meski
prestasinya menjulang, sosok bersahaja ini menolak jika keberhasilan tersebut
diklaim sebagai jerih payahnya sendiri. "Kita bukan superman, tapi super
team," tegas Yuli merespons pencapaian tersebut. Ia sangat memegang
teguh prinsip orang Sunda yaitu "kudu pabarengan" atau segala
sesuatunya harus dikerjakan bersama-sama.
Prinsip
kebersamaan ini juga ia terapkan secara makro dalam membina 27 kabupaten dan
kota di Jawa Barat. Baginya, seluruh daerah di Jawa Barat berada di dalam satu
perahu pergerakan yang sama. Provinsi tidak boleh maju sendirian sementara
kabupaten atau kota lainnya tertinggal di belakang.
Dalam
mengelola tim inti, Yuli dihadapkan pada tantangan keberagaman latar belakang
budaya dan antargenerasi. Timnya terdiri dari berbagai suku serta gabungan
antara pegawai senior, generasi Milenial, hingga Gen Z. Ia sadar betul bahwa
setiap karakteristik orang membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda-beda.
Sebagai
pemimpin, Yuli selalu mengedepankan empati, kemanusiaan, serta tata titi
atau sopan santun. Ia tidak pernah memaksakan pekerjaan saat rekan kerjanya
sedang sibuk, gelisah, atau sakit. Kebiasaan kecil seperti meminta izin sebelum
berdiskusi selalu ia terapkan demi menjaga rasa saling menghargai (respect).
Walau
telah puluhan tahun mengabdi, semangat Yuli untuk terus belajar tidak pernah
padam termakan usia. Ia tidak segan bertanya kepada rekan yang lebih muda untuk
beradaptasi menggunakan Canva dan Google Drive. Baginya, perkembangan teknologi
digital yang begitu cepat mengharuskannya untuk terus menyesuaikan diri.
Di
luar perannya sebagai ASN dari pukul 08.00 hingga 16.00, Yuli tetap memikul
tanggung jawab penuh sebagai seorang ibu. Semua peran dan rintangan ia hadapi
dengan kedewasaan, sebab marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan
kolaborasi dan komitmen tanpa ego pribadi, ia membuktikan pekerjaan seberat apa
pun pasti bisa terselesaikan.
Reporter
: Selvi Selviana/KPI 5B

Tidak ada komentar
Posting Komentar