Trotoar Bukan Jalur Alternatif

Trotoar sejatinya dibangun sebagai ruang aman bagi pejalan kaki. Namun dalam praktiknya, fungsi tersebut kerap terabaikan. Di berbagai sudut kota, trotoar justru dipenuhi lapak pedagang dan kerap dilintasi sepeda motor, terutama pada jam-jam ramai. Kondisi ini tentu mengganggu kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.

Sebagai pejalan kaki, saya sering kali harus berhenti, berputar arah, bahkan turun ke badan jalan karena akses yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki telah beralih fungsi. Situasi ini bukan hanya menyulitkan, tetapi juga berisiko, terlebih bagi anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Yang disayangkan, kondisi tersebut seolah menjadi pemandangan biasa dan dibiarkan terjadi berulang. Padahal, keberadaan trotoar bukan sekadar pelengkap kota, melainkan bagian penting dari sistem transportasi yang ramah dan berkeadilan bagi semua pengguna jalan.

Melalui surat pembaca ini, saya berharap pihak terkait dapat menertibkan penggunaan trotoar agar kembali sesuai fungsinya. Penataan lapak yang lebih tertib serta pengawasan terhadap kendaraan yang melintas di trotoar perlu dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, pejalan kaki dapat kembali menggunakan haknya dengan aman dan nyaman.

Trotoar semestinya menjadi ruang yang melindungi, bukan justru meminggirkan pejalan kaki.

Penulis: Nam Desti Fitriah

1 komentar

Rayna Aina Putri mengatakan...

Setuju kak karena trotoar di sini tidak berfungsi dengan baik

© all rights reserved
made with by templateszoo