Keberadaan jembatan penyeberangan orang (JPO) di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, masih menjadi sorotan. Hingga kini, hanya terdapat satu JPO yang berdiri di ruas jalan tersebut, padahal Soekarno-Hatta dikenal sebagai salah satu jalur utama dengan volume kendaraan yang padat dan kecepatan lalu lintas yang relatif tinggi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan pejalan kaki yang harus menyeberang jalan.
Jalan Soekarno-Hatta merupakan akses vital yang menghubungkan berbagai kawasan industri, permukiman, hingga pusat aktivitas ekonomi. Setiap harinya, kendaraan besar seperti truk, bus, serta kendaraan pribadi melintas tanpa henti. Kecepatan kendaraan yang cenderung tinggi membuat penyeberangan langsung di badan jalan menjadi sangat berisiko, terutama bagi warga sekitar, pelajar, dan pekerja.
JPO yang ada saat ini terlihat berdiri kokoh di salah satu titik jalan, namun jaraknya yang jauh dari beberapa pusat aktivitas masyarakat membuat keberadaannya kurang efektif menjangkau seluruh kebutuhan penyeberang. Akibatnya, masih banyak warga yang memilih menyeberang secara langsung di bawah JPO atau di titik lain yang dianggap lebih dekat, meskipun hal tersebut membahayakan keselamatan mereka.
"Sangat taku dan ngeri sekali ketika saya menyebrangi jalan ini, semua kendaraan sangat cepet dan terburu-buru, apalagi saya setiap hari harus menyebrangi jalan ini buat ke kampus, harapan saya ke pemerintah terkait untuk segera memfasilitasi JPO ini sebelum adanya korban yang berjatuhan " Ujar Rifqi Mahasiswa UIN Bandung
Minimnya fasilitas penyeberangan ini menunjukkan belum optimalnya perhatian terhadap aspek keselamatan pejalan kaki di kawasan tersebut. Di tengah upaya pemerintah kota untuk menata transportasi dan menciptakan kota yang ramah bagi semua pengguna jalan, kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Pejalan kaki, yang seharusnya mendapat prioritas perlindungan, justru berada dalam posisi paling rentan.
Ke depan, penambahan JPO di beberapa titik strategis di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta menjadi kebutuhan mendesak. Selain pembangunan fisik, diperlukan pula edukasi dan penataan lalu lintas yang lebih berpihak pada keselamatan publik. Dengan begitu, jalan protokol ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur cepat kendaraan, tetapi juga menjadi ruang yang aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
1 komentar
Isu yang bagus untuk diangkat
Posting Komentar