kelelahan emosional, mental, dan fisik yang muncul akibat tekanan berkepanjangan dari tuntutan akademik, pekerjaan, maupun sosial. Masalah ini tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga berimplikasi serius terhadap kesehatan mental jangka panjang.
Data kesehatan mental generasi muda menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey mencatat bahwa sebanyak 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta anak muda. Meski ini bukan angka burnout spesifik, kondisi kesehatan mental yang tinggi berpotensi memperbesar risiko burnout bila tidak ditangani.
Selain itu, studi karyawan global yang dikutip oleh Naker News menunjukkan bahwa 91% pekerja muda menghadapi tantangan kesehatan mental, dengan 35% diantaranya mengalami depresi sebagai indikator yang sering berkaitan erat dengan burnout di tempat kerja.
Survei dari Jurnal Psikologi Psycho Aksara dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia perilaku generasi Z di Indonesia juga memberi gambaran tentang gejala burnout pada kelompok ini, yakni 27% selalu merasa lelah, 21% merasa tidak berguna, dan 15% mengalami kesulitan tidur, sementara kecemasan tetap menjadi masalah signifikan sebesar 28,3%.
Faktor faktor di balik meningkatnya burnout generasi muda sangat kompleks dan saling terkait. Beban akademik dan tuntutan prestasi membuat pelajar dan mahasiswa terus berjuang mempertahankan performa terbaik, sementara di sisi lain, mereka juga menghadapi ekspektasi sosial yang tinggi, seperti kebutuhan untuk selalu tampil produktif di media sosial yang memperkuat fear of missing out (takut ketinggalan), perbandingan diri dengan orang lain, serta ketidakpastian ekonomi dan kesempatan karir yang kompetitif.
Di tempat kerja, Gen Z yang baru memasuki dunia profesional harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang dinamis, serba cepat, dan seringkali tanpa batasan jelas antara waktu kerja dan istirahat. Hal ini menunjukkan sebuah kombinasi yang mudah menjadi pemicu stres berkepanjangan yang berujung pada burnout.
Dampak burnout tidak bisa dianggap enteng karena melampaui kelelahan sementara. Kondisi ini berkontribusi pada penurunan motivasi, kreativitas, dan kepuasan hidup, meningkatkan risiko depresi, gangguan tidur, kesulitan dalam hubungan interpersonal, serta penurunan performa di akademik maupun pekerjaan. Data tingkat kelelahan kerja dan tekanan mental yang tinggi di lingkungan Gen Z Indonesia menunjukkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dapat berlanjut menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang yang merusak kesejahteraan generasi muda secara menyeluruh.
Penulis opini: Aulia Evawani Larissa
Data kesehatan mental generasi muda menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey mencatat bahwa sebanyak 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, setara dengan 15,5 juta anak muda. Meski ini bukan angka burnout spesifik, kondisi kesehatan mental yang tinggi berpotensi memperbesar risiko burnout bila tidak ditangani.
Selain itu, studi karyawan global yang dikutip oleh Naker News menunjukkan bahwa 91% pekerja muda menghadapi tantangan kesehatan mental, dengan 35% diantaranya mengalami depresi sebagai indikator yang sering berkaitan erat dengan burnout di tempat kerja.
Survei dari Jurnal Psikologi Psycho Aksara dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia perilaku generasi Z di Indonesia juga memberi gambaran tentang gejala burnout pada kelompok ini, yakni 27% selalu merasa lelah, 21% merasa tidak berguna, dan 15% mengalami kesulitan tidur, sementara kecemasan tetap menjadi masalah signifikan sebesar 28,3%.
Faktor faktor di balik meningkatnya burnout generasi muda sangat kompleks dan saling terkait. Beban akademik dan tuntutan prestasi membuat pelajar dan mahasiswa terus berjuang mempertahankan performa terbaik, sementara di sisi lain, mereka juga menghadapi ekspektasi sosial yang tinggi, seperti kebutuhan untuk selalu tampil produktif di media sosial yang memperkuat fear of missing out (takut ketinggalan), perbandingan diri dengan orang lain, serta ketidakpastian ekonomi dan kesempatan karir yang kompetitif.
Di tempat kerja, Gen Z yang baru memasuki dunia profesional harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang dinamis, serba cepat, dan seringkali tanpa batasan jelas antara waktu kerja dan istirahat. Hal ini menunjukkan sebuah kombinasi yang mudah menjadi pemicu stres berkepanjangan yang berujung pada burnout.
Dampak burnout tidak bisa dianggap enteng karena melampaui kelelahan sementara. Kondisi ini berkontribusi pada penurunan motivasi, kreativitas, dan kepuasan hidup, meningkatkan risiko depresi, gangguan tidur, kesulitan dalam hubungan interpersonal, serta penurunan performa di akademik maupun pekerjaan. Data tingkat kelelahan kerja dan tekanan mental yang tinggi di lingkungan Gen Z Indonesia menunjukkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dapat berlanjut menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang yang merusak kesejahteraan generasi muda secara menyeluruh.
Penulis opini: Aulia Evawani Larissa
2 komentar
ohh ternyata itu penyebabnyaa
wah jadi tahu nih masalah burnout
Posting Komentar