Ustadz Rizal Ramdhani melangkah masuk ke kelas dengan tenang. Peci dan kemeja yang ia kenakan tampak rapi, sementara celana kompang silat memberi kesan santai. Ia duduk, menaruh tas, dan memandang murid-muridnya sejenak. Kelas belum benar-benar dimulai, tapi perhatian sudah terikat.
Ia tidak langsung membuka buku. Tidak ada perintah membaca atau menulis. Ia justru mulai bercerita, seolah ingin memastikan satu hal lebih dulu: bahwa belajar bukan hanya soal materi, tetapi juga soal kesiapan batin.
Di Pondok Pesantren Riyadlul 'Ulum Wadda'wah, Ustadz Rizal dikenal sebagai ustadz pengabdian dengan keahlian bahasa Inggris. Ia juga menguasai bahasa Thailand, kemampuan yang ia peroleh sejak mengikuti program pertukaran pelajar ke Thailand beberapa tahun lalu. Sepulang dari sana, bahasa itu melekat kuat dalam kesehariannya, hingga murid-muridnya memberi julukan Krugep—gabungan dari nama panggilannya, Ugep, dan kata kru dalam bahasa Thailand yang berarti guru.
Julukan itu tidak pernah diminta. Ia tumbuh begitu saja dari relasi yang dekat dan cair antara guru dan murid.
Cara mengajarnya sering tidak konvensional. Di kelas reading, ia bisa saja tidak membahas teks sama sekali, melainkan mengajak murid-muridnya berbincang tentang pengalaman, kegagalan, dan cara berpikir. Namun keilmuannya tidak pernah diragukan. Justru dari cerita-cerita itulah, pelajaran bahasa masuk perlahan, lebih membekas karena dipahami dalam konteks kehidupan.
Kedekatannya dengan murid-murid terasa nyata. Ia mudah diajak berdiskusi, terbuka, dan empatik. Ketika menegur, ia menyesuaikan dengan situasi. Nada suaranya bisa meninggi jika kesalahan terulang tanpa tanggung jawab, tetapi lebih sering ia memilih penjelasan yang rasional, menyertakan sebab dan akibat agar teguran menjadi pelajaran.
Suatu ketika, saat seorang muridnya merasa kewalahan dan menangis karena tidak mampu mengelola kegiatan kepanitiaan, Ustadz Rizal tidak datang dengan penghiburan klise. Ia justru berkata, " Aya dua tipikal jelema, men. Anu indit bari nyiduh jeung nu datang bari butuh. " Kalimat itu dibiarkan menggantung, memberi ruang bagi muridnya untuk mencerna maknanya sendiri.
Di kesempatan lain, menjelang ujian sekolah, ia mengumpulkan satu angkatan di depan kantor administrasi pesantren. Ia bercerita tentang seorang anak kelaparan yang pada hari pertama diberi ikan, dan pada hari berikutnya diberi alat pancing. Cerita itu sederhana, tetapi ia gunakan untuk menekankan pentingnya kemandirian dan proses belajar jangka panjang.
Perjalanan pengabdian Ustadz Rizal di pesantren berjalan beriringan dengan pilihan hidup yang tidak selalu mudah. Ia mendampingi santri dari kelas awal hingga tingkat akhir, menunda melanjutkan studi demi memastikan anak didiknya lulus dan tumbuh dengan baik. Pilihan itu tidak banyak dibicarakan, tetapi terasa dalam kehadirannya yang konsisten.
Kekuatan Ustadz Rizal terletak pada kebersamaan dan empatinya. Ia memilih dekat, memilih terlibat, meski itu berarti memikul beban emosional yang lebih besar. Namun dari kedekatan itulah, murid-murid merasa dilihat sebagai manusia, bukan sekadar peserta didik.
Ustadz Rizal, atau Krugep bagi murid-muridnya, mungkin tidak selalu mengajar dengan garis lurus. Tetapi dari kelas-kelasnya, banyak yang belajar bahwa ilmu bukan hanya tentang jawaban benar, melainkan tentang cara berpikir, bertanggung jawab, dan tumbuh bersama.
Esa Albi Sabila Husna, KPI 5B
Tidak ada komentar
Posting Komentar