Kiprah Lely Mei Menghidupkan Museum dan Rumah Sejarah di Bandung

Vokaloka, Bandung – Pagi itu terasa lebih hangat di sudut lorong Museum Sri Baduga, Bandung. Ruang yang biasa dipakai untuk kegiatan Edukids berubah menjadi dunia kecil yang riuh. Cahaya lembut menyapu lantai kayu, disambut suara langkah-langkah mungil yang bersahutan dan pecah tawa anak-anak. Aroma kayu tua bercampur peluh anak-anak yang berlarian sambil menggenggam kertas gambar. Di tengah keramaian itu, Lely Mei berdiri dengan kerudung pastel bermotif bunga, membungkuk sedikit untuk menyapa satu per satu anak.


"Ayo, siapa yang mau mewarnai kura-kura?" katanya dengan suara lembut.


Lely Mei bukan sekadar pengelola kegiatan museum. Ia adalah pegiat budaya yang menjadikan museum bukan hanya tempat menyimpan benda, melainkan ruang hidup tempat manusia bertumbuh. Ketertarikannya pada dunia budaya tumbuh sejak kecil, dari lingkungan keluarga Sunda yang kental tradisi. Kakeknya memiliki padepokan. Sejak kecil, ia terbiasa mendengar percakapan tentang adat dan kebudayaan.


Titik baliknya terjadi pada 2009, saat ia mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika. Ia menyadari bahwa museum bukanlah tempat yang mati, melainkan ruang yang penuh cerita. Dua tahun kemudian, ia mendirikan Sahabat Museum KAA, lalu terlibat dalam berbagai pengelolaan museum dan rumah sejarah yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat, seperti Museum Konferensi Asia Afrika, Sri Baduga dan Rumah Sejarah Inggit Garnasih.


Ia melihat persoalan besar pada wajah museum yang kerap dianggap sunyi, menakutkan, berbau apek, dan tidak ramah. Bahkan, menurut pengalamannya, banyak petugas museum bersikap dingin kepada pengunjung.


"Kenapa sih museum itu tidak menarik buat anak-anak, buat anak muda? Kenapa orang tua lebih suka ngajak anaknya ke mall atau ke taman ketimbang ke museum? Padahal, buat saya pribadi, museum itu tempat yang luar biasa edukatif dan menyenangkan," katanya.


Keluhannya tidak berhenti pada kesan. Ia membuktikan sendiri lewat perjalanan.


"Saya keliling museum di Indonesia. Tidak hanya di Jawa Barat. Ke Kediri, Blitar, Jakarta. Sekitar 70 persen tidak ramah kepada pengunjung. Itu pengalaman pribadi saya," tegasnya.


Dari keresahan itu, ia memilih turun langsung. Ia menjadi relawan, lalu mengingat kembali jejaring pertemanan yang dimilikinya. Dari lingkar kecil itulah komunitas tumbuh.


"Saya mulai dari teman-teman terdekat. Dari satu orang bawa satu orang lagi, sampai akhirnya terbentuk komunitas. Kami bikin Sahabat Museum Sri Baduga, tapi namanya Balad Sri Baduga. Itu tahun 2017, setelah Sahabat Museum KAA," tuturnya.


Salah satu cara yang paling khas darinya adalah pertunjukan monolog. Di Rumah Sejarah Inggit Garnasih pada tahun 2014, Lely bukan lagi pemandu. Ia menjadi "Inggit". Dengan busana tempo dulu, ia menyambut tamu seolah rumah itu miliknya. Ia bercerita tentang perjuangan sunyi seorang perempuan yang berdiri di balik sejarah besar bangsa.


"Ada perempuan Sunda, orang Banjaran, orang Bandung, yang tinggal di rumah ini. Dengan cara yang tenang, dengan energinya yang lembut tapi kuat, ia ikut menopang lahirnya kemerdekaan Indonesia," tuturnya.


Baginya, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya adalah bentuk kesadaran tertinggi manusia tentang bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Kebudayaan, baginya, tidak cukup disimpan. Ia harus dihidupkan.


"Berkebudayaan adalah level tertinggi dari sebuah kesadaran," tegasnya.


Namun, perjalanan kebudayaannya tidak berhenti di ruang pamer atau rumah sejarah. Ia mulai menyadari bahwa budaya juga hidup di piring makan manusia.


Ia memandang manusia hidup karena budaya, dan makanan adalah bagian paling dasar dari itu. Ia melihat bagaimana karakter suatu daerah tumbuh dari apa yang dimakan warganya. Daun-daunan segar, sambal, lauk asin bukan sekadar menu, melainkan pola pikir yang diwariskan.


Dari sanalah ia mulai mendalami ilmu gastronomi ilmu yang mempelajari bagaimana makanan membentuk tubuh, hormon, dan cara berpikir manusia.


"Makanan itu nutrisi. Nutrisi itu bukan cuma untuk badan, tapi untuk pikiran juga," katanya.


Kini, Lely Mei aktif mengembangkan Sanara Foundation, yayasan yang dipimpinnya dan bergerak di bidang kesehatan mental. Di sana, ia menggabungkan kebudayaan, pola hidup, dan kebiasaan makan sebagai cara membaca luka batin manusia.


"Budaya membentuk karakter. Pola hidup membentuk pola pikir," ujarnya.


Lewat yayasan itu, ia tidak hanya berbicara tentang trauma atau stres, tetapi juga tentang teh temulawak, kayu manis, dan ritme hidup yang sering dianggap sederhana. Baginya, semua itu adalah bahasa tubuh yang ditanamkan oleh kebudayaan.


Lely Mei terus menghidupkan ruang-ruang yang dulu dianggap sunyi. Lewat kegiatan edukasi anak-anak, dongeng, permainan, dan cerita sejarah, hingga kesadaran akan tubuh dan makanan, ia menanamkan satu hal yaitu mengingat bukan sekadar menghafal, melainkan merasakan. Reporter: Fira Amarin KPI/5B


Tidak ada komentar

© all rights reserved
made with by templateszoo